Oleh: Nunung Deni Puspitasari

Awal bulan September 2009 lalu, saya dihubungi Andy SW (sutradara dan manajer Bengkel Mime Theatre) lewat SMS. Inti pesannya adalah mengajak saya untuk ikut proses sebuah pementasan puisi. Meski belum yakin, saya kesampingkan keraguan yang sempat mampir di dalam pikiran dan mengiyakan ajakan tersebut karena kerinduan saya untuk kembali pentas dan berproses. Keraguan yang sempat muncul itu karena belum pernah satu kali pun saya mementaskan sebuah puisi secara serius di atas panggung. Kalau toh membaca puisi, paling hanya saya lakukan di kamar mandi, di depan teman-teman yang terbatas, panggung tujuh belasan, atau pun di depan anak-anak.

Keraguan yang tadinya muncul, perlahan memudar setelah pertemuan pertama kami di Sanggar Bengkel Mime Theater, di Nitiprayan. Dengan jelas Andy memaparkan harapan dan keinginannya dalam pementasan tersebut. Lewat pementasan nanti, ia ingin mengangkat kehidupan keluarga dengan jujur. Pementasan puisi tersebut ternyata juga tidak berupa pembacaan puisi murni, namun ada unsur teaterikalnya. Ia juga ingin mencari bentuk baru, yaitu sebuah pementasan puisi yang tidak hanya sekadar mengajak penonton menemukan makna pada puisi yang disampaikan, melainkan juga bagaimana memaknai dua bentuk dalam pementasan (teater dan puisi) sebagai satu kesatuan yang utuh. Bukan teater sebagai alat pemanis puisi atau sebaliknya.

Sepintas, beberapa gambaran yang disampaikan Andy terkesan sangat konyol bagiku; bagaimana ia berandai-andai seorang Willy Rendra yang kharismatik tengah membaca puisi dengan serius, tiba-tiba terhenti karena amukan ibunya yang terganggu suara Rendra. Awalnya, begitulah, terkesan konyol. Tapi kemudian, ide itu justru menggelitik pikiranku. Adakah orang lain pernah memikirkannya? Aku sendiri tidak, selama ini aku hanya menerima begitu saja pakem yang telah disepakati bersama. Konsep pertunjukan ini memang berangkat dari kegelisahan Andy atas ”pakem” yang selama ini dia tahu dan percayai. Mungkin, hal itu salah satu yang menjadikannya dikenal sebagai seniman yang memiliki ide-ide segar.

Proses yang kami jalani sangat natural. Andy tidak serta merta menyodorkan sebuah naskah puisi kepada saya. Andy hanya menawarkan tema keluarga sebagai koridor eksplorasi kami. Kami lebih banyak mengobrolkan pikiran masing-masing dalam bentuk sharing bersama. Misalnya, gambaran aktivitas apa yang muncul dalam kehidupan keluarga, kemungkinan-kemungkinan konflik yang muncul, bahkan kekonyolan kehidupan keluarga yang jarang dipaparkan dalam sebuah pementasan. Secara pribadi sebagai pemain teater yang terbiasa menekuni naskah, mempelajari baru kemudian mengeksplorasinya, saya sempat merasa kesulitan. Banyak perbedaan yang  menjadikan proses kami berjalan tersendat. Dengan tegas Andy menyatakan bahwa hal justru tersebut yang ingin ia munculkan dalam proses ini; bukan sekadar mendiskusikan pentas tersebut namun juga menjembatani perbedaan persepsi kami sebagai individu yang memiliki pengalaman proses berbeda. What a lovely and new thing for me.

Pada pertemuan kedua dan selanjutnya kami lebih banyak mengeksplorasi bentuk. Andy memberi saya kebebasan dalam menemukan bentuk yang akan saya mainkan nanti. Lucunya, dalam proses ini saya membayangkan sebuah acara seperti Indonesian Idol, Indonesia Mencari Bakat, dan acara lain sejenisnya. Bagaimana tidak, ia membebaskan saya menemukan dan mengeksplorasi bentuk. Kemudian bentuk yang sudah terkumpul disaring, diambil yang diinginkan dan bentuk yang tidak mewakili tema, dibuang. Otoritas Andy sebagai sutradara bukan sebagai center idea melainkan sebagai penentu bentuk yang ingin dicapai. Bukan tidak mungkin bagi saya menyisipkan ide-ide kreatif yang menambah kekayaan pentas ini. Bahkan, Andy sebagai sutradara sering mendiskusikan idenya dan saya sebagai aktor memiliki kekuasaan untuk memutuskan apakah ide itu akan dipakai atau ditinggalkan. Andy tidak mendesain alur pementasan di awal proses, namun alur tersebut benar-benar muncul dari pembicaraan, sharing, dan eksplorasi kami.

Pada 9 Oktober 2009 kami memberanikan diri mementaskan ”Uh Kamu Nyebelin” di Teater Ruang Solo. Di luar dugaan, sambutan dari komunitas tersebut sangat hangat. Bahkan, dalam sesi diskusi usai pementasan, mas Joko Bibit Santoso sebagai pengelola dan sutradara Teater Ruang mengompori kami untuk menyebarkan ”new style” (begitu dia menyebut gaya pementasan kami) ini seluas-luasnya. Beliau  menyebutkan beberapa tempat dan nama untuk memancing kami mementaskan lagi pertunjukan ini.  Hal itu menimbulkan semangat dalam diri kami untuk menyebarkan bentuk pementasan ini di Yogyakarta. Apa sih yang tidak mungkin? Darah mudaku mengalir cepat. Secepat hembusan angin malam yang keras menggoyang pepohonan di samping rumah joglo Teater Ruang malam itu.

Awal Januari, lagi-lagi Andy mengirim SMS yang menyatakan ingin berbincang-bincang sejenak tentang pertunjukan kemarin. Dari pertemuan tersebut Andy menyampaikan keinginannya untuk mementaskan puisi ini keliling kampus. Tanpa berpikir panjang, ajakan tersebut saya sanggupi. Andy ingin kami berdua bisa menambahkan atau mengubah beberapa adegan. Jadi, intinya ia ingin proses ini dimulai lagi dari awal. Memori bentuk jadi dari proses kemarin harus benar-benar hilang. Mulailah kami pun mencari, mengeksplorasi hal-hal baru tersebut. Lagi-lagi kami sering tidak nyambung. Sehingga dalam latihan sering kami gunakan sebagai ajang curhat, menceritakan pengalaman pribadi masing-masing. Bahkan sempat mas Jamal (aktor Teater Garasi) yang sedang berproses dengan Ari Dwianto (aktor Bengkel Mime Theatre) nyeletuk, ”Latihan po curhat?” Namun di luar dugaan, curhat dan obrolan yang awalnya kami gunakan untuk menetralisir perbedaan, malah memunculkan potongan puzzle yang selama ini kami cari. Maka, mulailah kami menata sebuah bentuk baru. Memilah, membuang, menambahkan. Kalau toh ada bentuk-bentuk lama yang muncul dan hal-hal baru disisipkan sana-sini, namun proses yang kami alami benar-benar baru.

Hasil dari proses itulah yang kemudian kami pentaskan di hall Teater Gadjah Mada Yogyakarta pada 20 Februari 2010 dan di kantin Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada 25 Februari 2010. Rencana awal kami memang ingin mementaskan pertunjukan ini di 5 kampus. Hanya saja kami baru mementaskannya di 2 kampus itu, sedangkan yang lain masih tertunda karena kesibukan kami masing-masing.

***

Seorang ibu tampak sedang menyuapi anaknya yang sedang asyik bermain bola. Selesai menyuapi, si ibu meminta anaknya mandi. Namun, si anak menolak. Ibu bersikeras agar anaknya mau mandi hingga akhirnya ibu marah besar. Lampu mati. Ketika lampu dinyalakan tampak ibu dan anak di sudut yang berbeda. Ibu dengan mesin jahitnya, dan anak asyik dengan puisinya.

Mak…. Mak… Aku datang malam ini, Mak. Bukakan pintu, Mak. Duh… jangan bobok dulu. Di sela puisi, emak masih asyik menjahit bajunya. Hingga suara mesin jahit yang digunakan emak mengiringi dialog mereka berdua. Judul puisi tersebut adalah Sebuah Prolog untuk Emak. Anak: ”Cukup Mak, sudah hampir pagi, sebentar lagi rumah kita akan meledak, jangan berlari Mak! Kita takkan pernah mati kan, Mak? Kita abadi kan? Kita keren kan? Setelah meledak nanti kita akan melihat jendela-jendela terbuka dan kita kan terbang ke sebuah rumah tanpa sumpah serapah”. Emak menjawab, ”Sudah, pergilah! Biarkan emak menjahit baju untuk melupakan musim semi dari bapakmu. Pergilah, bersama nafasku dan 500 tahun tanpa dosa-dosa di tubuhmu. Lekas lari! Sudah tak ada rumah untukmu.”

Itulah sekelumit puisi yang kami pentaskan. Dan pementasan pun ditutup dengan teriakan si anak dari puisi yang berjudul Epilog untuk Emak. ”Mak, 3000 tahun lagi aku boleh kembali, Mak?” Emak dengan tegas menjawab, ”Tidak boleh.”

* Nunung Deni Puspitasari, aktor di Teater Amarta Bantul Yogyakarta

(terbit di skAnA volume 12, Mei-September 2010)