January 2010


Oleh: Mohammad Qomaruddin*

bocah bajang nggiring angin

anawu banyu segara

ngon-ingone kebo dhungkul

sasisih sapi gumarang


Satu sore di bulan Juni. Dalam sebuah percakapan yang hangat, Gunawan Maryanto menawarkan kepada seluruh peserta Actor Studio 2009 dua buah teks yang akan menjadi pijakan gagasan proses penciptaan karya yang kemudian diberi judul “Bocah Bajang” itu. Dua teks tersebut adalah fenomena dukun cilik Ponari dan suluk Bocah Bajang.

Kenapa dan ada apa dengan Bocah Bajang dan Ponari? Bukankah Bocah Bajang adalah sebuah suluk (nyanyian/tembang dalang yang dilakukan ketika akan memulai suatu adegan/babak dalam pertunjukan wayang, red.) sedangkan fenomena Ponari adalah realitas, bukan fiksi? Ah, barangkali ini hanyalah kebiasaanku yang selalu patuh pada logika sebab akibat. Kuredam bisikan-bisikan itu lalu hening.

Pertemuan selanjutnya kembali membicarakan dua teks tersebut, tentu saja setelah membekali diri dengan bacaan dan informasi hasil browsing dari internet. Dari percakapan tentang Ponari memuncul pertanyaan dan pernyataan bahwa fenomena Ponari adalah perihal hak anak, kuasa media, relasi kepercayaan orang Jawa terhadap mistik dan tradisi, kemiskinan, pelayanan kesehatan, dan lain sebagainya. Perihal suluk Bocah Bajang kami mendapatkan lebih sedikit bahan, hanya seputar apa itu suluk Bocah Bajang dan siapa itu Bocah Bajang, serta rekaman suluk yang dinyanyikan sinden dan dalang. Tak sebanyak tentang Ponari. Namun kemudian kami mendapatkan cerita panjang dari Gunawan Maryanto tentang suluk tersebut. Ia terkait dengan  munculnya Semar dalam babak goro-goro pada pertunjukan wayang. Kami juga mendapat banyak cerita perihal sejarah Semar, serta pemaknaannya secara filosofi (yang tentunya tak bisa kujelaskan dalam tulisan ini). Singkat cerita kemudian aku semacam menemukan jawaban dari pertanyaanku. Ada hal yang sama dari keduanya: sebuah ketidakmungkinan dan sebuah harapan, seorang bocah; paling tidak itu yang sementara dapat kusimpulkan kenapa dua teks tersebut dipilih menjadi pijakan proses ini. Kemudian kami juga bersepakat  menggunakan tubuh dan kata sebagai alat komunikasi atau bentuk pertunjukannya.

Selanjutnya sebagai bagian dari proses penciptaan kami melakukan observasi terkait dengan dugaan-dugaan personal yang muncul tentang fenomena Ponari. Ada yang pergi ke dukun menjadi pasien, mengunjungi tempat-tempat peziarahan, wawancara dengan anak jalanan, wawancara dengan pasien rumah sakit. Hasilnya kami percakapkan bersama Ugoran Prasad (fasilitator kelas observasi dalam rangkaian program belajar keaktoran Actor Studio Teater Garasi 2009) yang membantu kami menyiapkan, melakukan, dan mengolah hasil observasi, sebelum akhirnya kami benar-benar pergi ke Jombang.

Ziarah Fiksi

Tempat Ponari dan kesaktiannya dibesarkan berada di dusun Kedungsari, desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Jombang. Tak ada angkot menuju dusun itu, hanya ada ojek dari Megaluh. Dusun kecil yang sebagian besar penduduknya sehari-hari bekerja sebagai petani itu―seturut cerita penduduk setempat―telah berkembang pesat menjadi desa wisata berkat Ponari dan batunya. Banyak penduduk yang kemudian berganti profesi menjadi pedagang. Menjadi pedagang tentulah lebih menguntungkan mengingat setiap harinya, ribuan orang tak mendatangi dusun Ponari, dari pagi buta hingga larut malam. Namun, sejak terjadinya peristiwa pasien meninggal akibat mengantri begitu panjang dan berdesak-desakan, praktek pengobatan Ponari hanya dibuka sejak pukul dua siang hingga empat sore setiap harinya.

Kusiapkan  kostum sebuah jas dan celana kain serta kupluk―layaknya seorang santri yang mondok di pesantren―dan berperan sebagai seorang pasien, dengan sasaran mengetahui dan mengalami prosesi pengobatan. Teman yang lain pun telah menyiapkan skenario masing-masing. Dalam observasi ini, aktor sebagai observer diminta untuk secara fisik berada di dan mengalami lingkungan obyek observasi, mencari data dan mengumpulkan cerita apa saja yang berkait dengan Ponari.

Kami bersebelas berada di Jombang selama tiga hari. Waktu yang sebentar tetapi banyak sekali cerita yang diperoleh dan situasi yang dialami. Mulai dari cerita seram Ibu Lurah tentang warga dusun Ponari, cerita asal-usul batu yang berbeda-beda versinya, hingga penelusuran pasien yang tak berujung.

Perjalanan kami lebih mirip dengan Ziarah ke makam Wali. Hanya ada jejak peristiwa dan cerita. Cerita-cerita itu seolah-olah meyakinkan betapa yang selama ini kulihat di televisi dan kubaca di koran-koran itu sungguh benar adanya. Ribuan orang pernah berdesakan dan mengantri untuk mendapatkan air celupan batu sakti, di sepanjang jalan yang kulewati  itu.

Saat aku mengunjungi dusun itu, Ponari sedang membangun rumah baru, masjid, taman kanak-kanak, jalan, hingga pagar tembok kuburan. Semuanya dikerjakan secara bersama dan bergotong-royong―menghancurkan cerita Bu Lurah tentang seramnya warga dusun itu. Cerita yang kami dengar dan realitas yang berlangsung saling bertabrakan, membingungkan. Seorang pasien yang menurut cerita penduduk sembuh setelah minum air Ponari―yang kemudian kami temui―ternyata sama sekali belum pernah berobat ke Ponari. Belum lagi, banyak orang yang mengaku masih kerabat Ponari menawarkan fasilitas ritual berobat, penginapan, serta cerita-cerita lain tentang khasiat batu Ponari.

Tapi apapun yang sebenarnya berlangsung, Ponari telah menjelma wali―bahkan lebih―bagi orang-orang yang keadaan ekonominya berubah setelah dibukanya praktek Ponari tersebut. Percaya atau tidak bukan lagi hal yang penting. Bagi mereka, lebih penting bagaimana agar pembangunan kampung bisa terus berjalan, dan keberlangsungan hidup serta kebersamaan mereka tetap terjaga.

Dari Observasi Menuju Presentasi

Sepulang dari Jombang, kami beranjak menuju camp selama tiga hari dan bergulat dengan penciptaan bentuk lewat praktik, diskusi, menonton video, dan menonton pameran lukisan. Kali ini kami bergelut dengan tubuh kami sebagai aktor, benda, dan ruang, sebagai konsekuensi dari gagasan dan bentuk teater yang telah kami sepakati sebelumnya. Dalam tiga hari kami mencoba mengolah apa yang kami cerap, alami, dan temui di Jombang (meskipun tidak menutup kemungkinan adanya pantulan pengalaman lain) melalui improvisasi. Gunawan Maryanto sebagai sutradara kemudian memilih beberapa peristiwa yang berlangsung dalam improvisasi tersebut, dan membawanya dalam rehearsal.

Sebulan kemudian, kami melakukan presentasi awal pada penonton terbatas atas pertunjukan yang sedang kami kerjakan (work in progress) dengan harapan mendapat masukan tentang pertunjukan yang hendak kami sajikan. Diskusi pun bergulir, catatan menempel di sana-sini. Sebuah catatan terbaca: “presentasi kalian sama sekali tidak mencerminkan bahwa kalian pernah pergi ke Jombang, banyak cerita yang hilang”. Sudah benarkah yang kulakukan?

Presentasi 'Bocah Bajang' di Studio Teater Garasi

Berkumpullah  seluruh tim, mengutak-atik dan mencari tahu apa yang sebenarnya berlangsung. Tak ada yang salah, hanya soal waktu dan seberapa berusahakah kami dalam memecahkan soal yang ada. Akhirnya sebuah dekrit turun dari sutradara kepada aktor: “Kembali baca catatan dan ingat kembali perjalanan dan peristiwa yang kalian alami di Jombang.”

Setelah libur selama dua minggu, kami kembali bertemu. Terkumpullah teks-teks dan semangat baru. Masing-masing aktor berhasil menuliskan teks dan menggarapnya, sutradara kemudian memberi arahan dan stimulan. Rasanya seperti baru saja terbangun dari tidur yang panjang. Mendapati semuanya telah berubah.

Proses Penciptaan – Observasi – Aktor

Salah satu peran yang kumainkan dalam pertunjukan “Bocah Bajang” adalah Pak Kardi, teksnya kutulis sendiri dan diedit oleh sutradara. Aku benar-benar pernah bertemu dengannya, bercakap langsung, dalam sebuah percakapan yang impresif. Ia lincah berbicara tentang Tuhan dan hal-hal gaib, ia juga mengaku sebagai paman Ponari.  Gaya bicaranya merubah pandanganku tentang penduduk desa tersebut. Aku menemukan dan mengingatnya setelah betul-betul membaca kembali catatan personalku atas observasi di Jombang. Ia membuatku teringat bahwa aku bukan wisatawan.

Dari situlah aku belajar tentang bagaimana aktor tidak hanya melakukan tapi juga membikin dan menghitung apa yang akan ia lakukan dan tawarkan sebagai bagian dari tim kerja. Percayalah, observasi sangat membantu aktor untuk mengalami dan atau berada dalam lingkungan dan peran yang akan ia mainkan. Maka saat kita tersesat ia akan menuntun kita, paling tidak membawa kita kembali ke jalan semula.

Sebagai sebuah terminal proses, “Bocah Bajang” dan observasi ke Jombang memberiku gambaran tentang bagaimana keaktoran sebagai sebuah disiplin dapat ditatap dengan berbagai macam jalan.  Bahwa keaktoran merupakan disiplin pengetahuan dan dapat kita pelajari. Bahwa dalam kenyataan di sekitar kita banyak hal, ihwal, dan ide.

Aktor adalah kreator, tidak melulu hanya medium. Barangkali ini bukan satu-satunya tetapi salah satu jalan yang bisa kuceritakan. Karena fiksi telah berelasi dengan kenyataan. Kenyataan diurai, dihancurkan, lalu ditata ulang menjadi fiksi, menjadi kenyataan yang lain. Suluk itu kemudian dinyanyikan, peristiwa-peristiwa itu ditubuhkan, digerakkan.

* Mohammad Qomaruddin, peserta Actor Studio 2006 dan 2009, aktor di Teater Tangga

Oleh: Muhammad Abe*

Bagaimana merangkai pertunjukan teater hari ini, saat kehidupan telah berubah menjadi begitu cepat dan karena itu menjadi keras? Segalanya menjadi begitu cepat, dan bisa lebih cepat melalui bantuan berbagai piranti teknologi. Waktu luang, sela di mana para pekerja teater membangun karya-karya dalam hitungan bulan, dan mungkin juga tahun, tentu kini makin sulit ditemukan. Waktu luang bagi anggota masyarakat, penonton yang menjadi penikmat teater juga kini makin sempit. Tapi kesenian tak mungkin hilang begitu saja, kehidupan yang cepat dan keras ini ternyata masih membutuhkan keindahan, atau perenungan, atau apa saja yang membuatnya jadi lebih berarti.

Malam tanggal 22 Oktober 2009 di Auditorium Lembaga Indonesia Perancis, Gunawan Maryanto mempresentasikan karyanya “Bocah Bajang” bersama para aktor dari Actor Studio 2009 (program belajar keaktoran yang diadakan oleh Teater Garasi, red.). Gunawan Maryanto mendapatkan ide pertunjukannya atas pemberitaan media perihal kasus Ponari di Jawa Timur. Siapa yang tidak mengakses media hari ini? Gunawan, aktor-aktornya, dan semua penonton kemungkinan besar telah mengakrabi berita-berita tentang Ponari, dan karena itu mungkin punya pendapat sendiri tentangnya. Atas cerapan dan penelusuran Gunawan bersama teman-teman aktor hingga menyambangi desa tempat tinggal Ponari di Jombang itulah, pertunjukan “Bocah Bajang” dikerjakan.

Penonton mulai datang, berkumpul di luar auditorium saling menyapa dan berbincang. Mereka tentu sudah mengatur waktunya sedemikian rupa hingga malam itu mereka mendapatkan waktu luang untuk menyempatkan diri menonton pertunjukan “Bocah Bajang”. Dengan begitu, mereka bertemu pula dengan teman-teman yang lain, atau mungkin bertemu dengan teman baru.

Lalu pertunjukan dimulai. Penonton duduk memperhatikan dengan seksama sambil membawa sebotol air mineral yang dibagikan untuk para pembeli tiket, seperti orang-orang yang datang meminta berkah atau obat ke “dukun cilik” di Jombang itu. Cerita seperti halnya cerita Ponari mungkin menarik bagi banyak orang. Ia sempat dibicarakan secara luas, baik yang membahas segi kebenaran mistisnya, atau bahaya air Ponari dari sisi kesehatan, bagaimana desa tempat tinggal Ponari menjadi maju karena sumbangan para pasien, juga bagaimana Ponari bisa dilihat sebagai korban eksploitasi anak oleh orangtuanya, dan mungkin masih ada banyak sisi lainnya. Lalu di mana kesenian—dalam hal ini teater—berada di antara sekian banyak fakta, pendapat, serta mungkin fiksi yang berlalu-lalang perihal Ponari dan “kesaktiannya”?

Mungkin teater, seperti juga bentuk kesenian lain, sama sekali tidak punya hak untuk menentukan satu kebenaran tertentu. Soal itu tentu milik para ilmuwan atau mungkin otoritas negara. Maka malam itu sebenarnya bukan hanya Ponari yang diceritakan di atas panggung, melainkan bagaimana proses penciptaan pertunjukan ini berlangsung. Mungkin karena itu pertunjukan ini diawali dengan perkenalan para aktor, termasuk pendapat-pendapat mereka tentang Ponari. “Saya tidak percaya sama Ponari,” ucap salah satu aktor.

Tidak ada drama yang berbelit. Malam itu “Bocah Bajang” seakan-akan menjadi pintu masuk untuk menceritakan biografi proses pertunjukan ini. Ada bu Lurah yang selalu meminta maaf dan tidak mau membuka aib Ponari, tapi sebenarnya dia selalu menceritakan keburukan-keburukan Ponari. Ada tetangga Ponari yang mengaku menemukan batu yang menurutnya sangat berkhasiat, bisa membuat orang sakit jadi sembuh. Ada Ponari yang gemar bermain game, dan bandel kalau disuruh ibunya mandi. Ada para pasien Ponari yang datang dari jauh dan rela menginap untuk menunggu mendapat berkah dari batu Ponari. Mungkin orang-orang di atas benar-benar ada, dan peristiwa-peristiwa di dalam pertunjukan malam itu adalah semacam reka ulang peristiwa-peristiwa yang mereka alami di Jombang, dan juga di Jogja selama proses ini berlangsung.

Semuanya berlangsung di dalam satu ruang, dilatarbelakangi potongan-potongan berita Ponari dalam ukuran besar yang disusun seakan-akan membentuk tembok yang menjadi batas ruang pertunjukan. Para aktor masuk dari dua sisi, bergantian menuturkan cerita mereka masing-masing, tidak selalu sinkron, tapi menunjukkan banyak cerita tentang Ponari dan batu ajaibnya. Teater menjadi ruang untuk berdiskusi atas berbagai ide dan kenyataan di sekitar kita. Penonton boleh memilih mana yang mereka percayai, atau tidak. Mana yang mereka anggap sebagai fakta atau fiksi, toh kini tak ada batas jelas yang bisa memilah keduanya dengan tepat.

Ada satu dialog yang diucapkan salah satu aktor, “…… melihat Ponari kini adalah melihat sisa-sisa Jawa dari masa lalu.” Jawa  selalu identik dengan berbagai selubung yang mendampingi atau menutupi kenyataan memang. Pada awalnya adalah para raja yang mencari pengakuan atas kekuasaannya, namun di kemudian hari rakyat juga punya fiksinya sendiri. Kuntowijoyo pernah menyebutnya sebagai “budaya tanding”, ketika rakyat membentuk fiksi dan dongeng tentang kekuatan untuk melawan hegemoni kultural yang dijalankan para penguasa. Kuntowijoyo melihatnya lebih dari satu abad lalu di Solo. Kini Gunawan Maryanto mencermati fenomena ini kembali di Jombang. Mungkin saat ini kondisinya tak jauh berbeda dengan kondisi yang dicermati Kuntowijoyo pada awal abad ke-20: kita butuh fiksi tentang kehidupan yang lebih baik, kisah-kisah kekuatan yang melebihi kemampuan manusia biasa yang mampu mengintervensi kenyataan.

Kembali ke pertanyaan di awal, mungkin teater bisa berada di depan, menyatakan sesuatu; menghadirkan kenyataan di sekitar kita kembali. Atau kalau kenyataan terlalu “gagah”, mungkin teater bisa berada di depan mengajak masyarakat berbicara, tentang hal-hal sederhana yang mungkin sudah banyak dilupakan orang. Hal sederhana seperti, apakah sesuatu yang dipercaya itu fakta atau sekadar rekaan.

* Muhammad Anis Ba’asyin, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 11, Januari-Mei 2010)


*****

Tim Kerja Bocah Bajang

sutradara Gunawan Maryanto aktor Budi Harto, Darmanto Setiawan, M. Bahar Sukoco, M. Qomaruddin, Siti Fauziah, Tita Dian Wulansari research & text development Nailil Muna penata musik Yennu Ariendra ilustrasi Andi Seno Aji penata cahaya Sugeng Utomo manajer panggung Nur Kholis ‘Brekele’ manajer produksi Reni Karnila Sari

Komentar penonton:

Secara teknis ada beberapa kesalahan (telat) lampu dan suara. Dari cerita termasuk bisa mengangkat hal yang sudah lama tenggelam dan memberi sudut pandang baru tentang Ponari dengan menceritakan Ponari dari sisi mistis dan ilmiah. Dari artistik, bayanganku akan ada banyak olah tubuh ternyata ini lebih mendekati riil. (Airani, mahasiswa pasca sarjana Ilmu Budaya dan Religi, USD)

Oleh: Ari Dwianto*

Perlahan tirai terbuka.

Para pemain sudah berada di atas panggung dengan kostum warna-warni. Mereka melakukan berbagai aktifitas: latihan tai chi, latihan silat, tidur, menghitung uang, dan membaca buku. Ada juga yang cuma berdiri ataupun duduk-duduk. Pokoknya rame dech. Kemudian, seorang Dalang dengan pakaian beskap Jawa muncul membuka cerita.

Cerita dimulai dengan penyamaran Engtay menjadi laki-laki penagih hutang. Ia mengelabui ayahnya untuk segera membayar hutang-hutangnya. Akibat kelakuannya itu ayahnya jatuh pingsan sehingga Engtay panik dan segera melepas penyamarannya. Mengetahui penyamarannya sebagai laki-laki cukup berhasil, maka Engtay meminta kepada orang tuanya agar disekolahkan di Jogja. Pada waktu itu hanya anak laki-laki yang diperbolehkan bersekolah dan tentu saja orang tua Engtay tidak menyetujui permintaannya. Engtay berusaha meyakinkan orang tuanya bahwa penyamarannya sebagai laki-laki akan berhasil hingga akhirnya ia diijinkan bersekolah di Jogja.

Dengan surat pengantar dari ayah Engtay yang kebetulan teman lama seorang guru di sekolah tersebut maka Engtay langsung diterima sebagai murid Sekolah Putera Bangsa. Engtay ditempatkan satu kamar dengan Sampek di asrama. Engtay mulai menjalani hari-hari sebagai murid laki-laki dan mempelajari budi pekerti. Suatu hari, agar penyamarannya tidak diketahui, Engtay membuat ulah yang membuat geger―ia mengotori tembok WC sekolah dengan air kencing. Akibat ulahnya itu, guru menetapkan peraturan baru yaitu Dilarang Kencing Berdiri.

Selama mereka bersama, Sampek tidak menyadari bahwa Engtay sebenarnya seorang perempuan. Sampai suatu hari ketika liburan sekolah tiba, di asrama hanya tinggal Sampek dan Engtay. Engtay mengajak Sampek pergi ke sebuah taman untuk melihat angsa, kupu-kupu, dan bunga-bunga. Di taman itulah Engtay melepas penyamarannya dan barulah Sampek mengetahui bahwa Engtay seorang perempuan. Cinta mereka pun tumbuh bersemi. Aih aih…

Namun tragedi mulai terjadi. Engtay diminta untuk pulang karena hendak dikawinkan dengan putera saudagar kaya asal Magelang. Sebelum pergi, Engtay memberikan tusuk rambutnya kepada Sampek dan meminta Sampek untuk datang menemuinya pada 2 dan 8, 3 dan 7, 4 dan 6 hari setelah hari perpisahan itu. Angka-angka itu merupakan sandi hari pertemuan mereka.

Karena keluguannya, Sampek menjumlahkan angka-angka yang disebut Engtay sehingga jumlahnya menjadi 30. Ternyata hari yang dimaksudkan Engtay adalah 10 hari setelah hari perpisahan itu. Maka terlambatlah Sampek, sementara Engtay telah menerima lamaran, dan hari pernikahan Engtay dengan putera saudagar kaya itu telah ditentukan. Duh Gustiiii!

Betapa pilu hati Sampek karena kekasihnya akan menikah dengan orang lain. Sampek semakin larut dalam kesedihan yang menyayat perasaan, hingga dia jatuh sakit dan meninggal. Sampek dimakamkan di suatu tempat yang akan dilalui rombongan pengantin Engtay. Ketika melewati tempat pemakaman Sampek, Engtay mengenali kuburan Sampek dari tulisan dan tusuk rambut yang pernah dia berikan, yang sekarang tergeletak di atas kuburan. Kesedihan Engtay begitu dalam. Ia menggali kuburan Sampek dengan tusuk rambut itu hingga kuburan Sampek terbelah, lalu masuk ke dalamnya. Ketika anggota rombongan mencoba menggali kembali kubur itu, mereka hanya menemukan sebuah batu.

BERMAIN-MAIN

Kisah Sampek–Engtay sudah sangat dikenal seperti halnya kisah Romeo dan Juliet, ataupun Pranacitra dan Roro Mendut. Penonton sudah mengetahui alur ceritanya, dengan akhir cerita yang romantis-tragis. Tapi yang menarik dari pementasan Sampek–Engtay oleh Teater De Britto dan Teater Bendhe Stella Duce I di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta pada 29 Agustus 2009  ini adalah cara mereka bermain-main dalam pertunjukan tersebut.

Pertunjukan ini mengangkat naskah Sampek-Engtay yang ditulis Nano Riantiarno, dengan plesetan di sana-sini. Walaupun unsur koreografi dan nyanyian sudah lekat dalam karya-karya Nano Riantiarno (Teater Koma), namun mereka tidak menghadirkannya pada pertunjukan ini. Sampakan, model yang mereka pilih dalam pertunjukan ini justru memberi mereka banyak ruang untuk dapat menyampaikan cerita dengan cara yang khas. Mereka mampu menghibur ratusan penonton yang hadir dengan celotehan dan “gojek kere”-nya. Para pemain dengan bebas saling memberi komentar saat adegan berlangsung atau melepas sebentar peran mereka untuk menanggapi komentar lawan main dan tawa penonton, kemudian kembali lagi ke perannya dan melanjutkan adegan.

Kebermainan mereka bukan hanya pada celotehan dan “gojek kere”, tetapi juga pada naskah yang telah diubah sedemikian rupa. Agaknya mereka mencoba melepas logika dalam cerita. Misalnya seperti hadirnya penyanyi dangdut yang menyanyikan Kopi Dangdut dalam adegan pasar malam; seseorang yang menelepon menggunakan handphone; seseorang yang melintas dengan Honda 70-nya; iringan  musik ensamble dengan lagu-lagu masa kini, padahal latar kejadian menunjukkan jaman baheula, di mana orang-orang keturunan Tionghoa di Indonesia masih memakai pakaian tradisionalnya.

Hal lain yang saya catat adalah banyaknya adegan yang sengaja dihilangkan. Adegan-adegan tersebut hanya diceritakan oleh Dalang. Oleh karenanya peran Dalang menjadi sangat penting untuk merangkai keseluruhan cerita. Akan tetapi hal ini menyebabkan beberapa adegan kehilangan alasan dan kisah cinta Sampek–Engtay pun menjadi kurang mengena.

Ah, namun dalam pertunjukan yang disutradarai oleh Antonius Didik Kristantohadi ini kita bisa melepas semua logika dan melupakan kekurangan yang terjadi di panggung, dan hanya menikmati mereka merayakan kebermainan mereka dalam menuturkan kisah cinta ini. Menurut saya, mereka cukup berhasil menghibur penonton yang memenuhi gedung Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta malam itu.

* Ari Dwianto, Aktor dan sutradara di Bengkel Mime Theatre

(terbit di skAnA volume 11, Januari-Mei 2010))

« Previous Page