Oleh: Ibed Surgana Yuga*

Indra Tranggono (Kompas, 9 Agustus 2009) menyebut pentas Kintir (Anak-anak Mengalir di Sungai) sebagai “teater imajis”. Pentas yang digelar oleh Seni Teku di Pendopo Blumbang Garing, Nitiprayan, 4-5 Agustus 2009, dalam rangkaian Festival Teater Jogja 2009 ini dinilai memunculkan impresi luluhnya teater dengan ruang/lingkungan alam/sosial. Dalam penilaiannya pula, teks pentas ini bukanlah “majikan” bagi aktor, melainkan keduanya memiliki posisi yang setara dalam membangun jagat teater melalui berbagai peristiwa dramatik-teaterikal.

Pada dasarnya, teater memang lahir dari penyikapan terhadap ruang, baik ruang geografis, sosial, budaya. Sejarah teater dunia yang terbentang panjang memaparkan kepada kita tentang bagaimana aliran demi aliran teater lahir sebagai respon terhadap ruang yang terus berkembang. Realisme lahir dari ruang modernisme, ketoprak dari ruang agraris. Perubahan bentuk atau konsep teater, bahkan kematiannya, merupakan konsekuensi dari perubahan ruang yang terjadi.

Demikian pula yang terjadi pada kami, Seni Teku, sejak didirikan pada 1 Maret 2005. Pada satu saat ruang adalah benturan keras terhadap proses penciptaan, di saat yang lain ia adalah dorongan yang kuat. Namun kami tidak berangkat dari ruang yang luas, sebagaimana contoh ruang yang melatarbelakangi realisme dan ketoprak di atas. Kami berproses dengan ruang yang sengaja “disempitkan” yaitu tempat pertunjukan, yang akan mewujud menjadi panggung, yang tidak mesti panggung pertunjukan konvensional.

“Penyempitan” ruang, yang merupakan bagian tak terlepaskan dari bangunan besar teater, bukanlah laku menafikan keluasan ruang itu. Bagi Seni Teku, ini hanya masalah pengkerucutan titik keberangkatan proses. Dalam perjalanan menuju peristiwa pertunjukan, ruang yang “sempit” itu akan meluas dengan sendirinya, melalui sentuhan-sentuhan berbagai konsep dan elemen artistik dari penulis teks, sutradara, performer, penata artistik dan lainnya. Sebab mereka adalah insan-insan yang hidup dalam ruang zaman mutakhir, maka sentuhan-sentuhan mereka adalah juga sentuhan ruang zaman, yang tentu saja kompleks.

Pendopo Blumbang Garing yang “Mengecewakan”

Ketika teks awal dari Kintir selesai ditulis—tak lebih dari dua halaman ketik—pada April 2009, sama sekali belum ada bayangan tentang ruang macam apa yang akan digunakan untuk pemanggungannya. Tantangan ruang pertama muncul ketika Festival Teater Jogja 2009 menawarkan konsep kurasi tentang ruang pemanggungan yang tidak konvensional, artinya bukan ruang standar gedung pertujukan. Tantangan kedua datang dari tawaran Bapak Ong Hari Wahyu untuk menggelar pertunjukan di Pendopo Blumbang Garing miliknya.

Memasuki Pendopo Blumbang Garing bagi kami adalah keterperangahan sekaligus kekecewaan. Terperangah oleh sebuah bangunan yang sebenarnya bersahaja, namun memiliki nilai artistik dan arsitektur yang luar biasa. Dan yang lebih penting lagi, Pendopo Blumbang Garing memiliki daya sosial dan budaya yang kuat. Ia tidak eksklusif  —berada di tengah-tengah kampung. Secara fisik ia sangat terbuka ke segala arah, tak berpintu, tak berpagar. Keterbukaan fisik ini rupanya menjadi penanda keterbukaan sosial dan budaya. Satu-satunya kamar mandi di sana dipakai oleh banyak sekali masyarakat sekitar. Anak-anak memakai hampir seluruh bagian dari bangunan ini untuk bermain setiap sore, bahkan hingga malam. Para remaja sepulang sekolah menggunakannya sebagai tempat nongkrong. Demikian juga para pembeli angkringan Pak Wongso di depannya. Belum lagi keterbukaannya terhadap berbagai kegiatan komunitas, seperti macapatan dan pendidikan alternatif untuk anak-anak.

Pendopo Blumbang Garing sepertinya tidak dirancang khusus untuk ruang pertunjukan. Inilah yang “mengecewakan”. Kami berhadapan dengan masalah keruangan pertunjukan yang sangat fundamental. Kami kebingungan di bagian mana mesti menggelar pertunjukan, di mana menempatkan penonton. Tentu saja bisa, dan menjadi menarik, membaurkan pertunjukan dengan penonton. Namun tidak semudah bahasanya, hal demikian mesti juga memiliki garis-garis batas yang jelas, walau imajiner.

Kendala pertama adalah kondisi fisik bangunan. Ruang-ruang yang ada serba sempit, kecuali hamparan sawah yang ketika proses tidak memungkinkan digunakan karena padinya belum dipanen. Tiang-tiang bangunan yang terbuat dari batang pohon kelapa utuh sangat banyak dan tentu saja mengganggu keluasan pandang. Ini hanya mungkin untuk pertunjukan monoplay, demikian hipotesis kami ketika itu. Sedangkan, Seni Teku memiliki minimal empat orang performer. Semuanya pasti main, berapa pun jumlah tokoh yang ada dalam teks, demikian tradisi “wagu” kami. Lagi, teks Kintir akan sangat lemah jika disiasati dengan pola permainan monoplay secara bergantian, misalnya.

Huh …! Setiap hari, dalam dua minggu pertama memasuki Pendopo Blumbang Garing, yang terjadi adalah keterperangahan demi keterperangahan, juga kekecewaan demi kekecewaan, terhadap tempat yang sudah terlanjur kami pilih itu. Secara perlahan, dan dengan sendirinya, kami melepas teks Kintir. Untuk sementara, ia hilang dari kepala kami. “Teks” Pendopo Blumbang Garing mengambil alih ruang kepala kami dan menyibukkan diri di dalamnya. Lalu kami mencoba memotong sedikit demi sedikit jarak antara kami dan Pendopo Blumbang Garing. Kami mencoba mengakrabinya.

“Kintir” di Pendopo Blumbang Garing

Marya Yulita Sari memanjat tiang-tiang batang kelapa sambil sesekali perosotan. Andika Ananda melompat tiba-tiba dari lantai atas ke panggung kecil di bawahnya, lalu turun ke lantai tanah dan merayap di antara debu-debu yang mengepul. Pranorca Reindra teriak-teriak sambil ngolet di pematang sawah. Joe DN menari-nari di atas beton pembatas blumbang sambil memuntahkan teriakannya yang melengking khas. Agus Salim Bureg mengutak-atik bohlam 10 watt dan bermain-main dengan api. Lintang Radittya membuat trompet dari pelepah pepaya dan sedotan es teh. Miftakul Efendi bermain-main dengan jerami dan pelepah pisang.

Demikianlah beberapa cara kami mengakrabi Pendopo Blumbang Garing, tentunya tanpa kesertaan teks Kintir. Di dalamnya kami bertemu beberapa hal yang lalu disimpan, dan harus diakui lebih banyak hal yang “tak berguna” dan mesti dibuang. Di dalamnya kami menemukan keakraban, dan juga kejenuhan yang menjengkelkan. Di sela-selanya, kami bermain-main ke sawah Pak Kasiran di sebelah selatan, ikut menyiram sayuran dan bawang merah. Makan nasi kucing dan sate bekicot di angkringan Pak Wongso. Sholat, setelah azan magrib dan isya memanggil. Bermain petasan bersama anak-anak. Kami benar-benar kintir (hanyut) di Pendopo Blumbang Garing, di kubangan tak berair itu. Ah, di sinilah makna teater yang sebenarnya kami temukan.

Perlahan, teks Kintir kami sambangi kembali. Sungguh perubahan yang luar biasa terjadi ketika kami membacanya kembali. Padahal ia tak beranjak, tetap tak lebih dari dua halaman ketik. Kami menduga, bahwa perubahan itu karena “teks” Pendopo Blumbang Garing telah merasuki kami. Kelanjutan teks Kintir kemudian ditulis bukan saja sebagai lanjutan dari yang tak lebih dari dua halaman ketik itu, namun dengan menorehkan “teks” Pendopo Blumbang Garing ke dalamnya, sesublim mungkin. Di sanalah kemudian kami disadarkan (kembali) pada konsekuensi ruang tehadap teks dan peristiwa teater.

Teks sebagai Konsensus Bersama

Dengan berjalannya proses penulisan teks bersamaan dengan proses latihan, teks kemudian hadir bukan sebagai pandangan subjektif penulis teks—atau paling tidak—meminimalisir subjektivitas penulis teks. Banyak bagian di dalamnya yang merupakan hasil pencatatan atau pengembangan dari eksplorasi para performer atau pekerja artistik lainnya yang dicapai saat latihan. Dalam bagian ini penulis teks benar-benar sebagai penulis, hanya menuliskan hasil eksplorasi ke dalam wujud teks, tentu saja dengan proses seleksi. Siasat yang demikian sama sekali tidak menciptakan teks yang ambyar, setidaknya menurut penilaian kami, namun justru ia mewujud sebagai suatu konsensus bersama.

Menurut hemat kami, teks yang demikian adalah teks yang bukan hanya berbicara dengan bahasa (dalam arti luas) penulis saja, namun juga bahasa seluruh kreator yang ada. Ia bukan kitab suci yang semena-mena mendikte para performer (dan pekerja artistik lainnya), atau seturut bahasa Indra Tranggono, bukanlah “majikan” bagi aktor. Bahasa kerennya, ia bisa lebih menubuh. Walaupun sebenarnya semua teks bisa ditubuhkan dengan baik, namun apa yang kami lakukan adalah cara yang menurut penilaian kami lebih cocok, lebih demokratis, setidaknya dalam lingkup Seni Teku. Dengan demikian, memang, teks akhirnya memiliki posisi yang setara dengan unsur artistik lainnya.

Bagaimana jika teks Kintir ini kemudian digarap oleh orang atau kelompok di luar Seni Teku? Masalah ini sempat mengemuka dalam sesi workshop penulisan naskah yang juga diselenggarakan dalam Festival Teater Jogja 2009, bahwa teks Kintir akan sulit direalisasikan menjadi pertunjukan oleh orang atau kelompok di luar Seni Teku. Barangkali benar. Dan ini memang konsekuensi yang telah kami sadari. Sebagaimana juga beberapa teks terakhir Arifin C Noer. “Terkadang saya pun tidak yakin, akan kemungkinan seorang sutradara lain dari grup teater lain yang sangat jauh dari teater Arifin untuk mementaskan Tengul, yang naskahnya diselesaikan selama proses latihan menjelang pementasan …,” tulis Goenawan Mohamad (1973).

Namun sulit bukan berarti mustahil. Ketidakyakinan Goenawan Mohamad pun masih bisa diperdebatkan. Suatu teks pertunjukan teater atau naskah drama yang dilempar ke publik bisa diposisikan sebagai karya yang otonom. Ia tidak mesti dikembalikan lagi ke tungku dapur penciptaannya terdahulu. Juga dari ruang yang pernah mengakrabinya di masa lalu. Ia bisa akrab dengan ruang demi ruang baru, konsensus-konsensus baru, dengan mandiri dan leluasa.

* Ibed Surgana Yuga, Sutradara dan penulis teks Kintir (Anak-anak Mengalir di Sungai)

(terbit di skAnA volume 11, Januari-Mei 2010)