Oleh Muhammad Abe*

Sebelum Pertunjukan

Malam tanggal 4 Agustus 2009,  Rendra Bagus, salah satu aktor Kelompok Seni Teku berdiri di pinggir jalan di depan Pendopo Blumbang Garing milik Ong Harry Wahyu, di kampung Nitiprayan. Tangannya memegang kentongan. Dia membunyikannya, dan dengan Bahasa Jawa halus yang baik dia mengundang warga yang tinggal di sekitar pendopo untuk datang menonton pertunjukan yang akan segera dilangsungkan. Dengan ramah Rendra menjawab celotehan warga kampung yang menimpali kata-katanya, sembari tetap berusaha mengajak mereka untuk melihat “tontonan” di Pendopo Blumbang Garing itu.

Saya masih ingat Rendra tidak menggunakan kata “teater” untuk mengundang penonton, melainkan “tontonan”. Begitu pula dia tidak menyebutkan bahwa pertunjukan tersebut digelar dalam rangkaian Festival Teater Jogja yang diselenggarakan oleh Yayasan Umar Kayam dan Taman Budaya Yogyakarta. Dia hanya mengajak penduduk sekitar untuk menonton lakon yang akan disajikan Kelompok Seni Teku malam itu. Mungkin, teater dan berbagai macam istilah dan kegiatan di dalamnya, tetap saja sesuatu yang janggal dan asing bagi warga sekitar pendopo, meskipun di sana sudah sering berlangsung pertunjukan atau latihan untuk pertunjukan.

Saat pertunjukan

Pertunjukan berlangsung di pendopo bertingkat tiga. Tingkat dasar berada lebih rendah dari tempat penonton berupa blumbang (kolam) yang sudah tidak dipakai (garing, tidak terisi air), tingkat kedua berada sejajar dengan penonton berupa lantai di atas blumbang, sementara tingkat ketiga berupa ruangan tertutup berdinding bambu. Ruang di tingkat tiga ini digunakan sebagai backstage.  Sementara itu, penonton berada di pendopo yang lain, tepat di depan tempat pertunjukan, duduk di atas bilih-bilih bambu beralaskan tikar. Ada sekitar 150 penonton malam itu. Mereka yang tidak kebagian tempat duduk berdiri di rerumputan di samping pendopo, atau duduk agak ke belakang di dekat angkringan.

Pertunjukan ini membawakan naskah yang ditulis Ibed Surgana Yuga berjudul Kintir; Anak-anak Mengalir di Sungai. Ada beberapa kisah di dalamnya yang tidak selalu bersangkut-paut —berupa fragmen-fragmen terpotong di satu sisi, tapi secara tematis bersinggungan di sisi yang lain. Satu kisah bertutur tentang Dewi Gangga yang dikutuk turun ke bumi untuk melahirkan tujuh manusia, yang kesemuanya kelak akan dihanyutkan ke sungai kecuali satu anak yang kelak dikenal sebagai Bisma. Kisah tersebut bersanding dengan kisah seorang pelacur dan ketujuh anaknya yang hanyut ke sungai, serta beberapa kisah lain yang muncul di tengah pertunjukan.

Kintir bercerita tentang ibu, tentang bagaimana dia bekerja keras merawat keluarga dan anak-anaknya. Bila tak ada uang tersisa, maka tubuhnya yang ia jual untuk semangkuk nasi dan lauk bagi anak-anaknya hingga ia lupa siapa sebenarnya ayah dari anak-anaknya. Tapi anak-anak, tetaplah anak-anak, mereka hanya bermain dan terus bermain. Di tempat yang terlarang pun mereka tertawa terbahak-bahak, berlarian ke sana ke mari tanpa peduli, hingga seorang anak tidak sengaja jatuh dari jembatan, dan hanyut terbawa aliran sungai. Satu persatu anak-anak itu hanyut hingga tinggal satu anak tersisa, Bisma, yang harus menghadapi takdirnya —maju ke medan perang untuk membela nama baik ibunya. Perang Kurusetra, peperangan yang ia ragukan kegunaannya, kecuali untuk membuktikan rasa terima kasihnya pada ibu yang sudah melahirkan dan menjaganya.

Usai Pertunjukan

Penonton beringsut dari tempat duduknya, pulang ke rumah masing-masing. Para aktor beristirahat sambil menemui penonton yang tersisa. Orang-orang yang terlibat dalam pertunjukan sibuk membersihkan panggung, esok malam mereka akan melakukan pentas sekali lagi. Malam itu ada hiburan bagi warga sekitar Pendopo Blumbang Garing. Malam itu teater mencuri kesempatan untuk mengalihkan perhatian warga dari televisi, paling tidak untuk satu jam.

* Muhammad Anis Ba’asyin, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 11, Januari-Mei 2010)

*****

Tim Kerja Kintir; Anak-anak Mengalir di Sungai

Penulis Teks & Sutradara: Ibed Surgana Yuga Pelaku: Pranorca Reindra, Joe DN, Marya Yulita Sari, Andika Ananda, Jibna Sudiryo, Cahyo, Sarinah Penata Bunyi: Lintang Radittya  Penata Cahaya: Agus Salim Bureg Penata Gerak: Rahmad Fuadi Pewujud Seting & Properti: Miftakul Efendi  Manajer Latihan & Panggung: Ade Puraindra  Produksi: Febrian Eko Mulyono, Dina Triastuti, Riski Pamulanita, Dimas, Rozita

Biografi Singkat Kelompok Seni Teku

Kelompok Seni Teku didirikan oleh Rendra Bagus dan Ibed Surgana Yuga, keduanya mahasiswa Jurusan Teater ISI Yogyakarta. Pertunjukan pertama Kelompok Seni Teku adalah Nama-nama Yang Anonim (sebuah monoplay) dipentaskan pada 1 April 2005 atas undangan Panitia Festival Monolog Se-Bali.

Selama tahun 2005-2009 Kelompok Seni Teku telah memproduksi enam karya pertunjukan, yaitu: Sri 4 Me, Dongeng Yang Tak Pernah Diceritakan, Rare Angon dan Lubangkuri, Rare Angon, dan yang terakhir adalah Kintir yang dipentaskan dalam rangkaian Festival Teater Jogja I tahun 2009 kemarin. Karya-karya tersebut telah dipentaskan ke beberapa kota di Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, serta Sumatera. Dalam empat tahun perjalanan mereka, Kelompok Seni Teku justru baru dua kali memanggungkan karya di Yogyakarta, yang pertama adalah Rare Angon yang dipentaskan pada pertengahan tahun 2008 untuk tugas akhir penyutradaraan Ibed Surgana Yuga di Jurusan Teater ISI.

Dalam keenam karya mereka, Kelompok Seni Teku selalu mengangkat dongeng-dongeng yang berkembang dalam tradisi lisan masyarakat, terutama dongeng-dongeng yang sudah lama dilupakan orang-orang. Tidak ada alasan khusus atas pilihan ini, namun Rendra Bagus mengaku proses untuk menuju pertunjukan Kelompok Seni Teku biasanya diawali atau diikuti dengan ingatan-ingatan mereka terhadap masa kanak-kanak.