Oleh: Muhammad Abe*

Bagaimana merangkai pertunjukan teater hari ini, saat kehidupan telah berubah menjadi begitu cepat dan karena itu menjadi keras? Segalanya menjadi begitu cepat, dan bisa lebih cepat melalui bantuan berbagai piranti teknologi. Waktu luang, sela di mana para pekerja teater membangun karya-karya dalam hitungan bulan, dan mungkin juga tahun, tentu kini makin sulit ditemukan. Waktu luang bagi anggota masyarakat, penonton yang menjadi penikmat teater juga kini makin sempit. Tapi kesenian tak mungkin hilang begitu saja, kehidupan yang cepat dan keras ini ternyata masih membutuhkan keindahan, atau perenungan, atau apa saja yang membuatnya jadi lebih berarti.

Malam tanggal 22 Oktober 2009 di Auditorium Lembaga Indonesia Perancis, Gunawan Maryanto mempresentasikan karyanya “Bocah Bajang” bersama para aktor dari Actor Studio 2009 (program belajar keaktoran yang diadakan oleh Teater Garasi, red.). Gunawan Maryanto mendapatkan ide pertunjukannya atas pemberitaan media perihal kasus Ponari di Jawa Timur. Siapa yang tidak mengakses media hari ini? Gunawan, aktor-aktornya, dan semua penonton kemungkinan besar telah mengakrabi berita-berita tentang Ponari, dan karena itu mungkin punya pendapat sendiri tentangnya. Atas cerapan dan penelusuran Gunawan bersama teman-teman aktor hingga menyambangi desa tempat tinggal Ponari di Jombang itulah, pertunjukan “Bocah Bajang” dikerjakan.

Penonton mulai datang, berkumpul di luar auditorium saling menyapa dan berbincang. Mereka tentu sudah mengatur waktunya sedemikian rupa hingga malam itu mereka mendapatkan waktu luang untuk menyempatkan diri menonton pertunjukan “Bocah Bajang”. Dengan begitu, mereka bertemu pula dengan teman-teman yang lain, atau mungkin bertemu dengan teman baru.

Lalu pertunjukan dimulai. Penonton duduk memperhatikan dengan seksama sambil membawa sebotol air mineral yang dibagikan untuk para pembeli tiket, seperti orang-orang yang datang meminta berkah atau obat ke “dukun cilik” di Jombang itu. Cerita seperti halnya cerita Ponari mungkin menarik bagi banyak orang. Ia sempat dibicarakan secara luas, baik yang membahas segi kebenaran mistisnya, atau bahaya air Ponari dari sisi kesehatan, bagaimana desa tempat tinggal Ponari menjadi maju karena sumbangan para pasien, juga bagaimana Ponari bisa dilihat sebagai korban eksploitasi anak oleh orangtuanya, dan mungkin masih ada banyak sisi lainnya. Lalu di mana kesenian—dalam hal ini teater—berada di antara sekian banyak fakta, pendapat, serta mungkin fiksi yang berlalu-lalang perihal Ponari dan “kesaktiannya”?

Mungkin teater, seperti juga bentuk kesenian lain, sama sekali tidak punya hak untuk menentukan satu kebenaran tertentu. Soal itu tentu milik para ilmuwan atau mungkin otoritas negara. Maka malam itu sebenarnya bukan hanya Ponari yang diceritakan di atas panggung, melainkan bagaimana proses penciptaan pertunjukan ini berlangsung. Mungkin karena itu pertunjukan ini diawali dengan perkenalan para aktor, termasuk pendapat-pendapat mereka tentang Ponari. “Saya tidak percaya sama Ponari,” ucap salah satu aktor.

Tidak ada drama yang berbelit. Malam itu “Bocah Bajang” seakan-akan menjadi pintu masuk untuk menceritakan biografi proses pertunjukan ini. Ada bu Lurah yang selalu meminta maaf dan tidak mau membuka aib Ponari, tapi sebenarnya dia selalu menceritakan keburukan-keburukan Ponari. Ada tetangga Ponari yang mengaku menemukan batu yang menurutnya sangat berkhasiat, bisa membuat orang sakit jadi sembuh. Ada Ponari yang gemar bermain game, dan bandel kalau disuruh ibunya mandi. Ada para pasien Ponari yang datang dari jauh dan rela menginap untuk menunggu mendapat berkah dari batu Ponari. Mungkin orang-orang di atas benar-benar ada, dan peristiwa-peristiwa di dalam pertunjukan malam itu adalah semacam reka ulang peristiwa-peristiwa yang mereka alami di Jombang, dan juga di Jogja selama proses ini berlangsung.

Semuanya berlangsung di dalam satu ruang, dilatarbelakangi potongan-potongan berita Ponari dalam ukuran besar yang disusun seakan-akan membentuk tembok yang menjadi batas ruang pertunjukan. Para aktor masuk dari dua sisi, bergantian menuturkan cerita mereka masing-masing, tidak selalu sinkron, tapi menunjukkan banyak cerita tentang Ponari dan batu ajaibnya. Teater menjadi ruang untuk berdiskusi atas berbagai ide dan kenyataan di sekitar kita. Penonton boleh memilih mana yang mereka percayai, atau tidak. Mana yang mereka anggap sebagai fakta atau fiksi, toh kini tak ada batas jelas yang bisa memilah keduanya dengan tepat.

Ada satu dialog yang diucapkan salah satu aktor, “…… melihat Ponari kini adalah melihat sisa-sisa Jawa dari masa lalu.” Jawa  selalu identik dengan berbagai selubung yang mendampingi atau menutupi kenyataan memang. Pada awalnya adalah para raja yang mencari pengakuan atas kekuasaannya, namun di kemudian hari rakyat juga punya fiksinya sendiri. Kuntowijoyo pernah menyebutnya sebagai “budaya tanding”, ketika rakyat membentuk fiksi dan dongeng tentang kekuatan untuk melawan hegemoni kultural yang dijalankan para penguasa. Kuntowijoyo melihatnya lebih dari satu abad lalu di Solo. Kini Gunawan Maryanto mencermati fenomena ini kembali di Jombang. Mungkin saat ini kondisinya tak jauh berbeda dengan kondisi yang dicermati Kuntowijoyo pada awal abad ke-20: kita butuh fiksi tentang kehidupan yang lebih baik, kisah-kisah kekuatan yang melebihi kemampuan manusia biasa yang mampu mengintervensi kenyataan.

Kembali ke pertanyaan di awal, mungkin teater bisa berada di depan, menyatakan sesuatu; menghadirkan kenyataan di sekitar kita kembali. Atau kalau kenyataan terlalu “gagah”, mungkin teater bisa berada di depan mengajak masyarakat berbicara, tentang hal-hal sederhana yang mungkin sudah banyak dilupakan orang. Hal sederhana seperti, apakah sesuatu yang dipercaya itu fakta atau sekadar rekaan.

* Muhammad Anis Ba’asyin, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 11, Januari-Mei 2010)


*****

Tim Kerja Bocah Bajang

sutradara Gunawan Maryanto aktor Budi Harto, Darmanto Setiawan, M. Bahar Sukoco, M. Qomaruddin, Siti Fauziah, Tita Dian Wulansari research & text development Nailil Muna penata musik Yennu Ariendra ilustrasi Andi Seno Aji penata cahaya Sugeng Utomo manajer panggung Nur Kholis ‘Brekele’ manajer produksi Reni Karnila Sari

Komentar penonton:

Secara teknis ada beberapa kesalahan (telat) lampu dan suara. Dari cerita termasuk bisa mengangkat hal yang sudah lama tenggelam dan memberi sudut pandang baru tentang Ponari dengan menceritakan Ponari dari sisi mistis dan ilmiah. Dari artistik, bayanganku akan ada banyak olah tubuh ternyata ini lebih mendekati riil. (Airani, mahasiswa pasca sarjana Ilmu Budaya dan Religi, USD)