Jagongan Wagen 24 Oktober 2009

Oleh: Agnesia Linda

Petang itu, 24 Oktober, hujan cukup deras menguyur komplek Padepokan Seni Bagong Kussudiardja hingga membuat orang-orang yang sedang mempersiapkan Jagongan Wagen sedikit tergopoh-gopoh menyelamatkan peralatan elektronik dari air hujan. Jam setengah delapan kurang, beberapa motor sudah terparkir di belakang kantor YBK (Yayasan Bagong Kussudiardja). Itu melegakan bagi pihak penyelenggara karena cuaca agaknya tidak menjadi persoalan bagi orang-orang untuk datang ke Jagongan Wagen. Malam itu Jagongan Wagen bertajuk „Dance Energi“ mengundang dua koreografer Jogja dari dua generasi yang berbeda untuk mempresentasikan karya terbarunya. Mereka adalah Sutopo Tedjo Baskoro dan Satriyo Ayodya.

Dalam wawancara sesaat sebelum tampil, Satrio menyatakan bahwa melalui karyanya yang berjudul REMOVE, ia bersama tiga penari pria dan satu wanita hendak mengungkapkan pikir dan rasanya tentang komunitas seni tari Jogja yang terkotak-kotak spirit energinya. Masing-masing warna energi komunitas, yaitu tari tradisi, kontemporer, dan kerakyatan, baginya mengkotak-kotakkan diri seolah tidak mau saling bersinggungan.

Pada pertunjukan pertama ini, sosok tubuh Satrio muncul di bawah sorotan back light, rambut gondrongnya yang merah nampak seperti bara api. Keempat penari dengan mulut terbungkam plester dan kedua kaki terikat tali kain, menari meliuk-liukkan tubuhnya dalam kotak kardus. Tanpa kesulitan beberapa adegan akrobatik mereka lakukan. Hal itu menimbulkan kesan bahwa kotak kardus yang mereka kenakan tidak diperlakukan sebagai kostum melainkan sebagai organ tubuh. Beberapa saat kemudian seorang penari mulai terlepas dari kotak kardus dan jeratan tali di kakinya, membuka bungkaman plester di mulut, kemudian disusul oleh ketiga penari lainnya. Ketika itu ekspresi mereka seolah-olah baru terbebas dari sebuah belenggu yang luar biasa. Kemudian gerakan-gerakan rampak dengan power yang penuh mulai memenuhi ruang pangung.

Tarian karya Satriyo Ayodya

Bila Satriyo membawa kotak-kotak kardus, lain halnya dengan koreografer yang kedua, Sutopo Tedjo Baskoro (pak Topo),  koreografer senior dari Pusat Latihan Tari Bagong Kussudiardja yang dulu adalah asisten utama alm.Bagong Kussudiardja. Ia membawa empat kayu berdiameter kurang lebih 20 cm dan panjang 3 m dengan bambu-bambu runcing bak duri raksasa terpasang di sekujur batangnya. Keempat kayu itu di gantung pada ketinggian 1,2 m dengan posisi horizontal. Sempat terpikir bagaimana cara para penari nantinya bergerak dengan panggung yang demikian penuh dengan batang pohon berduri raksasa itu.

Sebelum pertunjukan kedua dimulai sembari menunggu pergantian setting, MC dan pak Topo ngobrol tentang karya yang akan dipentaskan. Karya pak Topo ini berjudul KAWALAHAN. Inspirasi digali dari Langen Wandra Wanara, sebuah reportoar tari klasik Yogyakarta. Salah satu kekuatan Langen Wandra Wanara terletak pada teknik menarinya. Dalam reportoar ini penari menari pada level rendah di sepanjang tarian,  dengan cara berjongkok, jengkeng, duduk, dll. Judul KAWALAHAN sendiri mewakili kisah masyarakat bawah yang senantiasa bergerak, menunjukkan kemampuan dan kekuatan diri sebagai manusia yang tidak ingin/tidak mau di-BAWAH-kan. Kemudian MC meminta pak Topo untuk menunjukkan beberapa gerak level bawah yang menginspirasi karyanya itu. Pak Topo pun memeragakan beberapa ragam gerak. Sungguh memukau, warna klasik nan anggun ia gerakkan dengan penuh energi. Dengan demikian terjawab sudah pertanyaan awal tentang bagaimana nantinya para penari akan menari di antara batang kayu berduri raksasa tersebut.

Tiga penari pria muncul dengan baju berwarna kuning kusam, gerakan mereka relatif bervolume besar namun senantiasa berada di level bawah. Meskipun sama sakali tidak berdiri, mereka mampu menguasai pangung. Kemudian tiga penari perempuan masuk dari sisi kanan belakang panggung. Mereka juga memakai baju yang berwarna sama, terlihat kusam dan pucat namun anggun. Komposisi gerak-gerak rampak dan bebas level bawah membuat pola lantai sangat dinamis. Hal itu menjadikan petunjukan tidak terasa monoton, walaupun warna yang mendominasi efek visual baik dari kostum yang dikenakan maupun batang-batang berduri raksasa itu begitu pucat. Justru warna itu memunculkan nuansa kontemplatif. Tatanan panggung, make up dan kostum tidak hanya dihidupkan oleh energi gerak tubuh namun juga ekspresi wajah para penari. Hal itu sangat kuat terasa pada adegan di mana keenam penari berteriak tanpa suara, mereka membuka mulut lebar-lebar dengan mata terbelalak dan mengeliat kesana kemari. Ragam gerak klasik memang nampak pada beberapa adegan namun tidak banyak. Karya Pak Topo ini sangat-sangat kontemporer, sangat paradok dengan sosok Pak Topo yang nampak begitu mentradisi, begitu juga dengan ilustrasi gerak klasik yang ia peragakan di sesi wawancara tadi.

Tarian karya Sutopo Tedjo Baskoro

Seusai pertunjukan seperti bisanya para penonton turun ke pelataran depan studio Kua Etnikan untuk menikmati minuman (malam itu tersedia teh, kopi, dan setup jambu) yang telah disediakan oleh tuan rumah. Minuman-munuman hangat itu menemani semua orang untuk ngobrol atau sekedar duduk di suasana yang dingin selepas hujan dan Jagongan Wagen malam itu pun  tampak begitu hidup.

(terbit di skAnA volume 11, Januari-Mei 2010)