Oleh: Mohammad Qomaruddin*

bocah bajang nggiring angin

anawu banyu segara

ngon-ingone kebo dhungkul

sasisih sapi gumarang


Satu sore di bulan Juni. Dalam sebuah percakapan yang hangat, Gunawan Maryanto menawarkan kepada seluruh peserta Actor Studio 2009 dua buah teks yang akan menjadi pijakan gagasan proses penciptaan karya yang kemudian diberi judul “Bocah Bajang” itu. Dua teks tersebut adalah fenomena dukun cilik Ponari dan suluk Bocah Bajang.

Kenapa dan ada apa dengan Bocah Bajang dan Ponari? Bukankah Bocah Bajang adalah sebuah suluk (nyanyian/tembang dalang yang dilakukan ketika akan memulai suatu adegan/babak dalam pertunjukan wayang, red.) sedangkan fenomena Ponari adalah realitas, bukan fiksi? Ah, barangkali ini hanyalah kebiasaanku yang selalu patuh pada logika sebab akibat. Kuredam bisikan-bisikan itu lalu hening.

Pertemuan selanjutnya kembali membicarakan dua teks tersebut, tentu saja setelah membekali diri dengan bacaan dan informasi hasil browsing dari internet. Dari percakapan tentang Ponari memuncul pertanyaan dan pernyataan bahwa fenomena Ponari adalah perihal hak anak, kuasa media, relasi kepercayaan orang Jawa terhadap mistik dan tradisi, kemiskinan, pelayanan kesehatan, dan lain sebagainya. Perihal suluk Bocah Bajang kami mendapatkan lebih sedikit bahan, hanya seputar apa itu suluk Bocah Bajang dan siapa itu Bocah Bajang, serta rekaman suluk yang dinyanyikan sinden dan dalang. Tak sebanyak tentang Ponari. Namun kemudian kami mendapatkan cerita panjang dari Gunawan Maryanto tentang suluk tersebut. Ia terkait dengan  munculnya Semar dalam babak goro-goro pada pertunjukan wayang. Kami juga mendapat banyak cerita perihal sejarah Semar, serta pemaknaannya secara filosofi (yang tentunya tak bisa kujelaskan dalam tulisan ini). Singkat cerita kemudian aku semacam menemukan jawaban dari pertanyaanku. Ada hal yang sama dari keduanya: sebuah ketidakmungkinan dan sebuah harapan, seorang bocah; paling tidak itu yang sementara dapat kusimpulkan kenapa dua teks tersebut dipilih menjadi pijakan proses ini. Kemudian kami juga bersepakat  menggunakan tubuh dan kata sebagai alat komunikasi atau bentuk pertunjukannya.

Selanjutnya sebagai bagian dari proses penciptaan kami melakukan observasi terkait dengan dugaan-dugaan personal yang muncul tentang fenomena Ponari. Ada yang pergi ke dukun menjadi pasien, mengunjungi tempat-tempat peziarahan, wawancara dengan anak jalanan, wawancara dengan pasien rumah sakit. Hasilnya kami percakapkan bersama Ugoran Prasad (fasilitator kelas observasi dalam rangkaian program belajar keaktoran Actor Studio Teater Garasi 2009) yang membantu kami menyiapkan, melakukan, dan mengolah hasil observasi, sebelum akhirnya kami benar-benar pergi ke Jombang.

Ziarah Fiksi

Tempat Ponari dan kesaktiannya dibesarkan berada di dusun Kedungsari, desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Jombang. Tak ada angkot menuju dusun itu, hanya ada ojek dari Megaluh. Dusun kecil yang sebagian besar penduduknya sehari-hari bekerja sebagai petani itu―seturut cerita penduduk setempat―telah berkembang pesat menjadi desa wisata berkat Ponari dan batunya. Banyak penduduk yang kemudian berganti profesi menjadi pedagang. Menjadi pedagang tentulah lebih menguntungkan mengingat setiap harinya, ribuan orang tak mendatangi dusun Ponari, dari pagi buta hingga larut malam. Namun, sejak terjadinya peristiwa pasien meninggal akibat mengantri begitu panjang dan berdesak-desakan, praktek pengobatan Ponari hanya dibuka sejak pukul dua siang hingga empat sore setiap harinya.

Kusiapkan  kostum sebuah jas dan celana kain serta kupluk―layaknya seorang santri yang mondok di pesantren―dan berperan sebagai seorang pasien, dengan sasaran mengetahui dan mengalami prosesi pengobatan. Teman yang lain pun telah menyiapkan skenario masing-masing. Dalam observasi ini, aktor sebagai observer diminta untuk secara fisik berada di dan mengalami lingkungan obyek observasi, mencari data dan mengumpulkan cerita apa saja yang berkait dengan Ponari.

Kami bersebelas berada di Jombang selama tiga hari. Waktu yang sebentar tetapi banyak sekali cerita yang diperoleh dan situasi yang dialami. Mulai dari cerita seram Ibu Lurah tentang warga dusun Ponari, cerita asal-usul batu yang berbeda-beda versinya, hingga penelusuran pasien yang tak berujung.

Perjalanan kami lebih mirip dengan Ziarah ke makam Wali. Hanya ada jejak peristiwa dan cerita. Cerita-cerita itu seolah-olah meyakinkan betapa yang selama ini kulihat di televisi dan kubaca di koran-koran itu sungguh benar adanya. Ribuan orang pernah berdesakan dan mengantri untuk mendapatkan air celupan batu sakti, di sepanjang jalan yang kulewati  itu.

Saat aku mengunjungi dusun itu, Ponari sedang membangun rumah baru, masjid, taman kanak-kanak, jalan, hingga pagar tembok kuburan. Semuanya dikerjakan secara bersama dan bergotong-royong―menghancurkan cerita Bu Lurah tentang seramnya warga dusun itu. Cerita yang kami dengar dan realitas yang berlangsung saling bertabrakan, membingungkan. Seorang pasien yang menurut cerita penduduk sembuh setelah minum air Ponari―yang kemudian kami temui―ternyata sama sekali belum pernah berobat ke Ponari. Belum lagi, banyak orang yang mengaku masih kerabat Ponari menawarkan fasilitas ritual berobat, penginapan, serta cerita-cerita lain tentang khasiat batu Ponari.

Tapi apapun yang sebenarnya berlangsung, Ponari telah menjelma wali―bahkan lebih―bagi orang-orang yang keadaan ekonominya berubah setelah dibukanya praktek Ponari tersebut. Percaya atau tidak bukan lagi hal yang penting. Bagi mereka, lebih penting bagaimana agar pembangunan kampung bisa terus berjalan, dan keberlangsungan hidup serta kebersamaan mereka tetap terjaga.

Dari Observasi Menuju Presentasi

Sepulang dari Jombang, kami beranjak menuju camp selama tiga hari dan bergulat dengan penciptaan bentuk lewat praktik, diskusi, menonton video, dan menonton pameran lukisan. Kali ini kami bergelut dengan tubuh kami sebagai aktor, benda, dan ruang, sebagai konsekuensi dari gagasan dan bentuk teater yang telah kami sepakati sebelumnya. Dalam tiga hari kami mencoba mengolah apa yang kami cerap, alami, dan temui di Jombang (meskipun tidak menutup kemungkinan adanya pantulan pengalaman lain) melalui improvisasi. Gunawan Maryanto sebagai sutradara kemudian memilih beberapa peristiwa yang berlangsung dalam improvisasi tersebut, dan membawanya dalam rehearsal.

Sebulan kemudian, kami melakukan presentasi awal pada penonton terbatas atas pertunjukan yang sedang kami kerjakan (work in progress) dengan harapan mendapat masukan tentang pertunjukan yang hendak kami sajikan. Diskusi pun bergulir, catatan menempel di sana-sini. Sebuah catatan terbaca: “presentasi kalian sama sekali tidak mencerminkan bahwa kalian pernah pergi ke Jombang, banyak cerita yang hilang”. Sudah benarkah yang kulakukan?

Presentasi 'Bocah Bajang' di Studio Teater Garasi

Berkumpullah  seluruh tim, mengutak-atik dan mencari tahu apa yang sebenarnya berlangsung. Tak ada yang salah, hanya soal waktu dan seberapa berusahakah kami dalam memecahkan soal yang ada. Akhirnya sebuah dekrit turun dari sutradara kepada aktor: “Kembali baca catatan dan ingat kembali perjalanan dan peristiwa yang kalian alami di Jombang.”

Setelah libur selama dua minggu, kami kembali bertemu. Terkumpullah teks-teks dan semangat baru. Masing-masing aktor berhasil menuliskan teks dan menggarapnya, sutradara kemudian memberi arahan dan stimulan. Rasanya seperti baru saja terbangun dari tidur yang panjang. Mendapati semuanya telah berubah.

Proses Penciptaan – Observasi – Aktor

Salah satu peran yang kumainkan dalam pertunjukan “Bocah Bajang” adalah Pak Kardi, teksnya kutulis sendiri dan diedit oleh sutradara. Aku benar-benar pernah bertemu dengannya, bercakap langsung, dalam sebuah percakapan yang impresif. Ia lincah berbicara tentang Tuhan dan hal-hal gaib, ia juga mengaku sebagai paman Ponari.  Gaya bicaranya merubah pandanganku tentang penduduk desa tersebut. Aku menemukan dan mengingatnya setelah betul-betul membaca kembali catatan personalku atas observasi di Jombang. Ia membuatku teringat bahwa aku bukan wisatawan.

Dari situlah aku belajar tentang bagaimana aktor tidak hanya melakukan tapi juga membikin dan menghitung apa yang akan ia lakukan dan tawarkan sebagai bagian dari tim kerja. Percayalah, observasi sangat membantu aktor untuk mengalami dan atau berada dalam lingkungan dan peran yang akan ia mainkan. Maka saat kita tersesat ia akan menuntun kita, paling tidak membawa kita kembali ke jalan semula.

Sebagai sebuah terminal proses, “Bocah Bajang” dan observasi ke Jombang memberiku gambaran tentang bagaimana keaktoran sebagai sebuah disiplin dapat ditatap dengan berbagai macam jalan.  Bahwa keaktoran merupakan disiplin pengetahuan dan dapat kita pelajari. Bahwa dalam kenyataan di sekitar kita banyak hal, ihwal, dan ide.

Aktor adalah kreator, tidak melulu hanya medium. Barangkali ini bukan satu-satunya tetapi salah satu jalan yang bisa kuceritakan. Karena fiksi telah berelasi dengan kenyataan. Kenyataan diurai, dihancurkan, lalu ditata ulang menjadi fiksi, menjadi kenyataan yang lain. Suluk itu kemudian dinyanyikan, peristiwa-peristiwa itu ditubuhkan, digerakkan.

* Mohammad Qomaruddin, peserta Actor Studio 2006 dan 2009, aktor di Teater Tangga