Oleh: Ficky Tri Sanjaya *

Orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Itulah tema yang diusung Jemek Supardi dalam pementasan pantomimnya berjudul Jangan Biarkan Aku Sendiri. Malam itu, tanggal 31 Mei, Jemek menggelar pertunjukan di bawah jembatan Gondolayu tepatnya di daratan yang berada di tengah sungai Code. Artistik panggung berupa instalasi keranjang bambu yang ditata berbentuk pita─simbol peduli HIV/AIDS─yang di dalamnya terdapat nyala api. Di sekitarnya, ditempatkan beberapa obor dan sentir (lampu minyak). Malam itu menjadi malam istimewa bagi penghuni sekitar sungai Code dan para penikmat seni. Tempat yang biasanya tampak sepi itu, mendadak menjadi ramai. Banyak orang dari luar kampung berdatangan ingin menyaksikan pertunjukan dari Jemek Supardi. Tidak hanya muda-mudi dan orang tua, anak-anak juga tidak mau kalah ikut berkumpul di sana karena penyelenggara acara juga mengadakan permainan untuk anak-anak sebelum pertunjukan dimulai. Banyak juga wartawan lalu-lalang mengambil gambar. Beberapa orang panitia juga modar-mandir  menyodorkan selebaran tentang HIV/AIDS  dan daftar hadir.

Mendekati waktu pertunjukan, semakin banyak orang berdatangan. Sekitar pukul 19.45 panitia mempersilakan penonton untuk berkumpul di sisi timur talud sungai Code.  Panitia memberikan lilin untuk dinyalakan sebelum pementasan dimulai, dan mengingatkan penonton untuk tidak bertepuk tangan selama pertunjukan belangsung. Tampak pasangan muda-mudi dan banyak penonton lain menonton pertunjukan tersebut dari atas jembatan, sambil melongok ke bawah. Hal itu menarik perhatian saya─yang kemudian beranjak menuju jembatan untuk bergabung dengan mereka, menonton dari atas jembatan Gondolayu.

Pertunjukan dimulai. Musik mengalun pelan. Tampak dari atas, lilin-lilin yang dibawa oleh penonton bergerak, membuat irama gerak sendiri di pinggir talud. Suara aliran sungai menambah semarak, membuat suasana menyatu dengan alam sekitar sungai Code. Beberapa saat kemudian, persis dari bawah jembatan, dari arah utara, Jemek Supardi keluar dengan kostum dan make up putih dengan tali-tali tambang meliliti tubuhnya. Ia berjalan pelan mengikuti arus sungai dengan membawa daun pisang menutupi kepalanya, menjangkau daratan di tengah sungai. Kemudian dia mulai bergerak merespon daun pisang, menarik dan mengulur daun pisang hingga akhirnya terlepas dari tangan, terbawa arus sungai yang mengalir ke selatan. Jemek kembali terjun ke dalam arus sungai menyeberang tertatih-tatih ke daratan yang lain. Ia berusaha mengambil lampu sentir untuk menyelamatkan cahayanya dengan membawanya ke atas bebatuan kali.  Ia berusaha keras untuk naik ke atas batu hingga kadang jatuh kembali ke bawah, namun tetap berusaha melindungi agar cahaya tersebut tidak padam.

Ia berhasil naik ke atas batu dan menaruh sentir di atasnya kemudian berusaha keras melepas lilitan tali tambang pada tubuhnya. Setelah lilitan tambang tersebut lepas, Jemek menghempaskan dirinya ke dalam arus sungai. Ia ingin menjangkau cahaya lain yang lebih jauh, berusaha melawan arus untuk menyelamatkan cahaya ke daratan tempat keranjang bambu diletakkan, namun usahanya gagal! Ia terpeleset dan terjerembab ke air sehingga cahaya sentir tersebut padam. Sementara itu, salah satu keranjang bambu terbakar oleh api sentir. Jemek berusaha menyelamatkan keranjang bambu tersebut, mungkin agar api tidak membakarnya, ia menghempaskan keranjang itu ke dalam arus sungai. Pertunjukan usai diikuti tepuk tangan penonton.

Dari segi kemasan, pertunjukan pantomim ini lebih kaya dalam bentuk pementasan dan gesture tubuh, karena tidak hanya menggunakan medium mimik wajah dan gerak slapstick seperti yang biasa kita lihat dalam pertunjukan pantomim pada umumnya. Ternyata, pantomim juga bisa dibentuk dari atmosfir peristiwa yang tercipta saat itu. Yang juga menarik di sini adalah pemilihan tempat pertunjukan. Saya kira pertunjukan eksperimental dari Jemek Supardi ini menjadi langkah yang menarik untuk membuka ruang seni pertunjukan, sehingga tidak terbatas pada kantong-kantong seni dan gedung pertunjukan. Saya melihat pemilihan tempat yang tidak biasa ini patut mendapat apresiasi. Perlu kiranya jika pertunjukan semacam ini terfasilitasi dan tergagas dalam sebuah festival seni pertunjukan. Pementasan-pementasan di ruang alternatif juga pernah dilakukan beberapa kelompok seni, antara lain Teater Gardanalla, kelompok Performace Club, Debur 21, dan koreografer tari Fitri Setyaningsih. Dalam Festival Kesenian Yogyakarta tahun 2008 yang lalu diselenggarakan festival Babad Kampung yang digelar di kampung masing-masing peserta. Hal ini─pertunjukan di ruang pertunjukan alternatif─akan menarik perhatian tidak hanya dari publik penikmat seni pertunjukan saja, tapi juga masyarakat awam untuk mengapresiasi seni pertunjukan. Jika tempat-tempat alternatif tersebut semakin ramai, dunia kesenian kita akan lebih hidup.

* Ficky Tri Sanjaya, Pantomimer, aktif di Bengkel Mime Theatre Yogyakarta

(terbit di skAnA volume 10, Juli-November 2009)

Advertisements