Oleh: Muhammad Abe*

Oh iya Mas, main aja ke rumah saya di Wonosari, soalnya sekarang saya sudah gak tinggal di Jogja. Nanti sms aja dulu sebelum berangkat, jaga-jaga kalau saya lagi gak di rumah”, begitu jawab Wage Daksinarga ketika skAnA menelepon untuk membuat janji wawancara. Hari Minggu tanggal 29 Juni yang lalu, skAnA bertandang ke rumah Wage Daksinarga di Trowono, kelurahan Karangasem, Paliyan, Gunungkidul, sekitar satu jam perjalanan dari Yogyakarta.

Wage Daksinarga adalah salah satu pendiri Komunitas Sego Gurih yang pada bulan Juni lalu  menggelar pertunjukan KUP di Societet  Militer Taman Budaya Yogyakarta dan di dusun Malangjiwo, Imogiri, Bantul. Kini ia mengaku tidak banyak aktif lagi di dalam Komunitas Sego Gurih karena tempat tinggalnya yang jauh dari Yogyakarta serta kesibukan mengurus rumah tangga bersama istri tercinta dan anak semata wayangnya. Di tengah kesibukannya tersebut ia menulis naskah KUP. “Sebenarnya masih belum selesai. Yang dipentaskan kemarin belum sampai puncak, masih agak panjang lagi seharusnya biar jelas kenapa judulnya KUP”, jawabnya menjelaskan pilihan judul naskahnya.

Wawancara dilakukan di ruang tamu rumah Wage Daksinarga. Di sana tersimpan buku-buku koleksi pribadi Wage, draft naskah karyanya, dan drawing profil dirinya yang disandarkan ke dinding, di atas rak buku. Pertunjukan KUP adalah kemunculan pertama bagi Komunitas Sego Gurih setelah vakum beberapa tahun. Kevakuman itu disebabkan oleh kesibukan Wage dan personil Sego Gurih yang lain dalam pekerjaannya masing-masing

Asal mula Komunitas Sego Gurih itu gimana ceritanya, Mas?

Awal berdirinya saat saya sekolah di SMKI. Ya, dulu kayak ada semacam kecemburuan. Anak-anak jurusan teater itu kan selalu dikalahke sama jurusan tari, pedalangan, dan karawitan; termasuk saat ujian pementasan. Lha lama-lama kita kurang puas dengan pementasan-pementasan di kampus, terus mulai pentas di luar dengan sangat sederhana. Awalnya ya pentas di pinggir rumah, di pinggir sawah, di acara pernikahan, di perpisahan KKN. Prinsipnya temen-temen punya ruang untuk bermain, gitu aja…Di awal-awal Sego Gurih yang terjadi seperti itu. Itu sekitar tahun 1996. Yang sedari awal di Sego Gurih ya saya dan Gundul. Kebetulan juga rumah Gundul di daerah Imogiri menjadi tempat berlatih dan berkumpul Komunitas Sego Gurih.

Gundul, adik kelas Wage di Jurusan Teater Institut Seni Indonesia/ISI (Wage sempat kuliah setengah semester di sana kemudian masuk jurusan Psikologi Universitas Ahmad Dahlan). Ia dikenal sebagai vokalis Sri Redjeki, grup musik humor yang kemunculannya berawal dari ospek ISI tahun 1998. Menurut Wage kemunculan Sri Redjeki erat kaitannya dengan Komunitas Sego Gurih. Sri Redjeki sering tampil mengawali pertunjukan Komunitas Sego Gurih, menjadi semacam hiburan pembuka. Gundul sangat banyak berperan dalam pertunjukan-pertunjukan Sego Gurih, sebagai aktor maupun dalam hal mencari sponsor pertunjukan. Wage menyebutnya sebagai anak muda dengan dandanan punk yang punya kepedulian pada lingkungan sekitarnya.

Selain saya sama Gundul, ada Yusuf, Wahid, Elyandra, Nanik. Kalau kita pentas dulu biasanya anak-anak Sri Redjeki juga ikut terlibat, terus ada Mata Emprit yang membantu artistik. Dengan teater Payung Imogiri pun kita juga sudah bekerjasama sejak dulu. Mereka itu hitungannya ya lahir dan tumbuh bersama Sego Gurih. Kalau kita pentas banyak teman-teman yang membantu, di pertunjukannya, di musik, atau di artistik. Ya sebenarnya sederhana saja alasannya, karena Sego Gurih itu isinya ya aktor, pemain thok. Kalau disuruh cari uang buat pentas ya kita juga bingung, tapi ya untungnya ada Gundul yang pergaulannya luas.

Kenapa namanya kok Komunitas Sego Gurih?

Nggak ada alasan khusus. Sego gurih itu kan nasi uduk. Kalau pun tidak ada lauk, makan sego gurih atau nasi uduk saja sudah enak. Filosofinya itu; jadi misalnya terpaksa nggak ada lampu pun pentas tetap bisa berjalan.

Sejak kapan Sego Gurih memakai Bahasa Jawa dalam pertunjukan-pertunjukannya?

Dari berdiri sampai sekarang. Pernah sekali dipaksa pentas berbahasa Indonesia untuk festival, tapi ya wagu dan akhirnya juga nggak dapet apa-apa. Kita memang memilih memakai bahasa Jawa. Di Solo dulu ada Teater Gapit yang memakai bahasa Jawa. Saya mengakui kalau saya banyak terpengaruh sama pertunjukan dan naskah-naskah Teater Gapit.

Kami dulu selalu mementaskan naskah Teater Gapit (Bambang Widoyo SP, alm). Sampai sekarang semua naskah Gapit sudah kami pentaskan kecuali Reh sama Tuk. Sebenarnya naskah KUP itu dibuat juga karena itu, karena Sego Gurih selalu mementaskan karya-karya Gapit, dan mereka sudah bubar sekarang. Terus teman-teman mengusulkan pada saya untuk menulis naskah sendiri yang juga memasukkan logat Gunungkidul, kaya “neh”, “gek”, ya idiom-idiom kecil kayak gitu untuk memunculkan ciri khas kami. Ya terus saya tulis KUP.

Sebenarnya obrolan untuk pentas lagi itu sudah sangat lama, tapi dulu bukan KUP. Rencananya mau pentas Malam Jahanam yang diadaptasi jadi bahasa Jawa, judulnya “Sedulur Mulur Tangga Eco”. Nah, waktu itu karena satu-satunya aktor wanita yang harusnya main lulus audisi  sinetron atau film di Jakarta ya dengan sangat terpaksa kita batal pentas. Terus kebetulan KUP waktu itu sudah mulai saya tulis tapi belum tahu mau dipentaskan kapan. Ya terus kemarin dipentaskan di Bantul dan di Gedung Societet TBY, sutradaranya Wahid, aktornya sebagian dari Sego Gurih lawas sebagian lagi kita dibantu sama anak-anak Jurusan Teater ISI teman kita dulu. Kita juga sebenarnya gak pernah ngimpi bisa pentas di gedung pertunjukan kaya Societet sebelum ini. Ya sudah disyukuri aja.

Ending KUP menggambarkan ada seseorang yang bunuh diri, ada kaitannya sama latar belakang Mas Wage sebagai orang Gunungkidul?

Ya ending-nya itu Mbah Sarju nggantung. Itu kan kelihatannya kalah tapi sebenarnya menang. Karena apa? Karena persiapan untuk menggantung itu kan membutuhkan keberanian yang luar biasa. Siapa yang berani gantung diri, nah kui sing wani menang. Ending itu kunci dan identitas saya sebagai orang Gunungkidul asli. Orang gantung diri itu berarti dia punya privasi yang luar biasa, butuh ruang  yang benar-benar tidak terlihat, sendirian, dan kemudian memutuskan berani untuk nggantung. Itu yang sebenarnya ingin saya tekankan dalam pertunjukan kemarin. Cuma memang di atas panggung itu belum tertegaskan. Harusnya ada siluet yang menggambarkan orang gantung diri, tapi pas pentas di Societet itu belum begitu kelihatan.

Sebenarnya KUP mau dipentaskan keliling ke beberapa kota, tapi karena sponsornya mundur ya pentas itu dibatalkan. Wong kita sudah biasa main di halaman rumah orang, dengan perlengkapan seadanya kok, masak kali ini kita gak bisa. Makanya saya juga agak kaget pas diberitahu mau main di Societet, ya itu tadi disyukuri aja. Ya tapi masih banyak yang harus diperbaiki dari pentas kemarin.

Pendapat Mas Wage soal teater Jogja sekarang?

Teater itu arep dikapakke meneh yo? Tahun-tahun ini nek aku ngarani kaya matinya teater. Ya terus arep apa meneh yo teater saiki? Kalau dulu kampus-kampus itu kan masih banyak yang pentas, tapi sekarang kok ya sulit ya. Mungkin ada banyak teater kampus ya, mereka juga katanya sering pentas, tapi kok gak kelihatan hasilnya. Aku ki yo sok anyel nek ketemu cah teater kampus, mereka kui kok ora duwe tujuan melu teater. Nah itu kan motivasinya gak jelas tho. Sebenarnya gampang lho, kita masuk teater itu gak harus jadi aktor, atau pemain, atau harus jadi apa. Kalau ikut teater itu yang penting yakinlah dan percayalah bahwa teater ada manfaat dan kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari kita dalam banyak hal. Nah itu yang pasti. Tapi ya itu yang sulit; membuat teman-teman paham soal itu.

Disuguh dengan teh hangat dan klethikan khas Gunungkidul, wawancara berlangsung hangat selama lebih dari dua jam. Wage juga sempat menunjukkan koleksi perpustakaan pribadi miliknya, yang terdiri dari kliping majalah-majalah lama hingga novel karya terbaru rekan-rekannya. Wage yang kini menghidupi keluarganya dengan menjadi sopir truk, sebenarnya juga sedang mengerjakan novel yang, menurutnya, masih belum selesai juga setelah beberapa tahun ditulis. Ia mengaku masih terus berusaha untuk menjaga semangat berkesenian dengan menyempatkan diri membaca-baca buku kalau lagi istirahat di rumah. Di truknya, ia menyimpan Kitab Injil yang selalu ia baca sembari menunggu barang angkutannya diturunkan.

Hmm, sepertinya Wage meninggalkan pertanyaan yang sulit untuk dijawab, “Apakah teater benar-benar akan mati?” Tentunya publik teater Yogyakarta yang berhak memberikan jawaban dengan pertunjukan-pertunjukan teater yang menunjukkan teater masih dan bisa terus hidup. Kebetulan penulis sempat membaca tulisan Arifin C. Noer beberapa hari setelah wawancara dan ingin mengutipnya sebagai penutup di sini; “Hidup itu seru, karena itu teater dibuat.” Mungkin ini bisa membantu kita membuat jawaban atas pertanyaan Wage Daksinarga.

* Muhammad Anis Ba’asyin, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 10, Juli-November 2009)