Oleh: Muhammad Abe*

Di lobi gedung Societet Militer Taman Budaya Yogyakarta, 18 Juni 2009 pukul 19.30 penonton telah banyak berkumpul, sebagian mengantri tiket pertunjukan yang dijual seharga Rp 10.000, sebagian lagi berdiri sambil ngobrol atau menikmati kudapan ringan yang disediakan panitia. Di situ pula sekelompok pemuda berkostum kaos putih bertuliskan “KUP” dengan font warna merah, celana batik, dan peci menyenandungkan lagu-lagu berbahasa Arab. Nampaknya ini adalah penampilan marawis seperti tertulis dalam publikasi pertunjukan. Pukul 19.45 pintu masuk gedung pertunjukan dibuka, dan berduyun-duyun penonton mulai masuk.

Setelah perkenalan oleh dua orang pembawa acara, dua sambutan dari Ketua Dinas Kebudayaan Yogyakarta dan ketua seksi teater Festival Kesenian Yogyakarta 2009, pertunjukan KUP oleh komunitas teater Sego Gurih dimulai.

Lampu mulai menyala terang. Di atas panggung terlihat dua orang pemuda yang sedang berbincang, WC umum semi permanen yang penuh corat-coret, baju-baju yang tergantung pada tali jemuran, bangku kosong, dan lantai yang kotor dan penuh sampah. Kesemuanya itu terletak di belakang papan reklame besar yang kosong. Rombongan penari jathilan masuk diiringi musik, seorang gadis kecil berusaha menirukan gerakan yang dibuat rekan-rekannya yang menari dengan gagah. Tidak selalu berhasil memang, tapi usaha gadis kecil itu terlihat lucu dan membuat penonton tertawa. Lalu gadis itu menangis karena Ayahnya yang pimpinan rombongan memaksa dia agar ikut rombongan mengamen di perempatan. Gadis itu tetap tidak mau, ia ingin belajar di rumah. Ayahnya tambah memaksa, alasannya kalau mereka tidak punya uang maka si anak tak bisa sekolah. Akhirnya gadis itu menurut, tapi meminta jaran kepang. Rombongan ini ternyata tak punya jaran kepang, maka pimpinan rombongan meminta salah seorang pemuda yang sedang berbincang tadi menjadi kuda untuk anaknya. Pemuda itu ternyata juga tidak bisa njathil, “durung tau njajal..” (belum pernah mencoba) katanya, tapi pimpinan rombongan membujuk dengan menjanjikan bagian dari hasil ngamen di perempatan. Pemuda dengan rambut berdiri tegak itu akhirnya mau juga.

Seperti tertulis dalam buku pertunjukan, KUP adalah pertunjukan berbahasa Jawa yang menceritakan kondisi sosial masyarakat saat ini, di tengah berbagai perubahan dan arus globalisasi yang membuat semua orang menjadi hampir seragam dan serupa. KUP berusaha mengangkat kehidupan sehari-hari masyarakat kota yang terpinggirkan. Dengan kemiskinan yang menekan, kehidupan mereka tidak jauh dari judi, tebak nomer, mencuri, dan guyon saling mengejek. Tapi di dalam kehidupan yang keras itu mereka tetap saling menghormati dan peduli satu sama lain.

Ketika Mbah Sardju mendapati uang hasil berjudi hilang, ia hanya bisa marah dan menuduh tetangga-tetangganya─yang tentu saja tidak mau mengakui perbuatan itu. Namun di adegan berikutnya, Mbah Sardju ternyata sudah lupa pada kemarahannya, dan berinteraksi seperti biasa dengan para tetangga yang lain. Atau ketika Edi Bakso menginjak kotoran manusia di dekat WC Umum, ia langsung marah-marah dan menuduh Mbokdhe Wijil yang buang kotoran sembarangan, mereka berdua berdebat dan saling menyalahkan. Namun ketika Gombloh, preman pelindung kampung, marah-marah dan mengumpulkan warga, Mbokdhe Wijil dan Edi Bakso juga berbincang-bincang seperti biasa dan tidak terlihat seperti sedang bermusuhan.

Kehidupan para warga sedang terancam. Isu yang beredar di antara mereka mengatakan kalau sebentar lagi perkampungan mereka akan digusur, atau dihanguskan, demi kebersihan dan keindahan wilayah kota. Permasalahan ini justru tidak pernah dibicarakan bersama-sama oleh warga. Hanya Gombloh yang sepertinya memikirkan hal ini, sampai-sampai ketika ia sedang mabuk ia berhalusinasi kalau kampung tersebut sedang terbakar. Hal ini justru malah membuat para warga semakin kalut dan satu per satu memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Apalagi kemudian mereka mendapati Genjik, salah seorang warga, mati tanpa diketahui penyebabnya. Edi Bakso yang pertama pergi, lalu rombongan jathilan, Joni Kutil dan Kancil temannya, serta Pak Sapar lajang tua yang setia menemani Mbah Sarju. Akhirnya hanya tinggal Gombloh, yang masih mabuk, dan Mbokdhe Wijil yang katanya janjian ngeroki Mbah Sarju. Ketika Mbokdhe Wijil masuk ke rumah Mbah Sarju, ia berteriak histeris lalu keluar dan menangis menyuruh Gombloh melihat kondisi Mbah Sarju. Sementara Mbokdhe Wijil terus menangis, lampu pertunjukan perlahan padam. Tangis Mbokdhe Wijil yang nggegirisi itu meninggalkan banyak pertanyaan, apakah Mbah Sarju meninggal? Apakah ia dibunuh atau bunuh diri? Apakah Mbokdhe Wijil akan terus tinggal di sana nanti? Mungkin terlalu banyak pertanyaan, dan barangkali Komunitas Sego Gurih akan memberikan jawaban lewat pertunjukan lain.

* Muhammad Anis Ba’asyin, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 10, Juli-November 2009)

*****

penulis naskah Wage Daksinarga aktor Ibnu Gundhul (Mbah Sarju) Nurul Jamilah (Mbokdhe Wiji) Elyandra (Pak Sapar) Yusuf (Edi Bakso) Toni Steve (Kancil) Yayan (Jono Kutil) Wahid (Gombloh) Grup Jathilan (Mas Kadir, Tubi, Nanik dkk) penata cahaya Duwek & Komeng penata artistik Panggung Beni Mata Emprit & Dhani Brain penata rias Dhani Brain penata iringan Muji Cino dan Teater Payung Imogiri pemusik marawis El-Batavi (IRSYAD KPMB) dokumentasi Erson Janlemu-Tenan & Dian-e Toni