>> sebuah pertunjukan teater sebagai presentasi ujian akhir skenografi Rio Aldanto*

Oleh: Hindra Setya Rini**

Suara ledakan bom dan rentetan tembakan menggelegar. Teriakan dan hentakan kaki orang-orang lari kejar-mengejar memburu seseorang. Ledakan bom yang paling keras berdentam menghantam gendang telinga, menggetarkan jendela-jendela apartemen, meruntuhkan debu dan kotoran dari langit-langit  ruangan.

Seorang laki-laki dan seorang perempuan begitu panik mendengar suara tembak-menembak dan situasi gaduh di luar apartemen. Mereka lari ke sana-kemari mencari tempat untuk bersembunyi. Setelah suara tembakan reda, mereka perlahan keluar dari persembunyiannya. Namun sebentar kemudian kegaduhan yang lain segera menyusul. Begitu berulang kali.

Saat situasi tenang, mereka saling menyalahkan satu sama lain dengan nada-nada tinggi—hampir bisa dibilang marah-marah terus—sehingga sering kali tak bisa ditangkap dengan jelas apa yang mereka ucapkan. Samar-samar yang terdengar hanyalah laki-laki dan perempuan itu meributkan kura-kura dan bekicot. Mereka berselisih paham; apakah kura-kura dan bekicot adalah binatang yang sama atau berbeda.

Begitulah peristiwa yang terjadi di atas panggung; di sebuah apartemen—bangunan megah tapi terkesan tua—yang di dalamnya hidup dua orang yang tak henti berbicara dengan nada tinggi, cepat, dan tak jelas artikulasinya, tak ada yang mau mengalah. Jika dentuman bom menggelegar, seketika mereka berhenti lalu panik menyelamatkan diri. Pola pengadeganan: perdebatan, bom, sembunyi, terus berulang sepanjang pertunjukan. Tone nada dan emosi kedua aktor juga sama dari awal sampai akhir. Hal ini membuat suasana permainan di atas panggung terasa monoton dan datar.

Terlepas dari permainan aktor, satu hal yang menarik dari pementasan ini adalah tata artistiknya. Bangunan yang menjadi latar pementasan Kura-Kura dan Bekicot begitu kuat. Gedung tua dengan jendela-jendela ditampilkan sangat detil mendekati  kenyataannya. Terkesan wajar dan tidak sekedar tempelan; jendela-jendela itu dihadirkan lengkap beserta kaca jendela betulan.  Cahaya yang ditembakkan dari balik kaca jendela (artinya ada ruang kosong di belakang bangunan) membuat gedung apartemen itu hidup. Suara tapak-tapak kaki, bunyi rentetan senjata, dan dentuman bom yang diatur jauh-dekatnya membuat ruang semacam bunker itu serasa berada di lantai tiga sebuah bangunan apartemen bertingkat lima.

Bangunan gaya Rokoko, begitu Rio Aldanto—penata artistik Kura-Kura dan Bekicot—menyebut gedung tua yang dia hadirkan di atas panggung, adalah bangunan tua pada abad ke-18 di Perancis yang menonjolkan garis lengkung pada pintu, jendela, dan atap bangunan. Rokoko adalah hasil penelusuran Rio atas naskah serta rasa penasarannya yang tinggi pada si penulis naskah, Eugene Ionesco. Butuh observasi yang cukup panjang untuk menemukan latar belakang kejadian dan menemukan konteks pada tata artistiknya. Dalam proses ini Rio seperti menemukan titik temu antara kegelisahannya pada naskah Kura-Kura dan Bekicot dengan kecintaannya pada bangunan-bangunan tua yang sejak lama menjadi perhatiannya di wilayah artistik.

Konsep sederhana namun tak seadanya yang ditekankan Rio dalam penataan artistik menuntutnya untuk memperhatikan detil dalam penggarapan karyanya. Seperti misalnya, dia memilih menggunakan gabus/sterofoam untuk membuat set dinding (bukan triplek seperti yang biasa digunakan untuk membuat setting dinding) ditambah eksplorasi pewarnaan dengan cat yang dicampur lem sehingga menghasilkan kesan bangunan tua yang megah lengkap dengan detil cat dan tembok yang mengelupas di sana-sini. Ia juga memperhatikan pencahayaan sampai pada efek cahaya yang melewati jendela dan pintu, serta getar bom yang meruntuhkan debu dari langit-langit ruangan. Bahkan, Rio mengatur kru berlarian di atas balkon untuk memunculkan efek suara dari atas bangunan sehingga menimbulkan kesan setting ruang berada di lantai tengah sebuah gedung bertingkat tinggi. Hal itu bisa tersampaikan dengan jelas kepada penonton, ditambah tata bunyi yang pas. Pendek kata, Rio berhasil mewujudkan ide artistiknya malam itu, dalam pementasan Kura-Kura dan Bekicot yang dimainkan di Auditorium Teater ISI Yogyakarta, 17 Juni 2009.

* Rio Aldanto, penggagas ide dan penata artistik pertunjukan Kura-Kura dan Bekicot, mahasiswa angkatan 2004 ISI Yogyakarta, jurusan teater dengan minat utama pada disain artistik

** Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor Teater Garasi

(terbit di skAnA volume 10, Juli-November 2009)

*****

Tim Kerja

Sutradara Ida Bagus Eka Darmadi Ass. Sutradara Marya Yulitasari Skenografer Rio Aldanto Aktor Jamal, Joanna, Andika Stage Manager Ali As’ad Stage Crew Eko, Jibna, Tio, Lean, Didik, Wahyu, Krisna Setting Mas Peyi, Gajah, Ujang, dkk Set Builder Tembong, Kuntet Lighting Bureq Tata Bunyi Lintang Radiya, Yayan Kriwil Make Up & Kostum Dhani Brain Pimpinan Produksi Febrian Eko Mulyono Pelaksana produksi Wheni, Nila, Jona.

Komentar Penonton

“Hm… Secara keseluruhan sudah bagus, tapi aku masih rada belum bisa nangkep karakter yang dibangun sama aktor. Aku ngerasa ada yang nggak pas. Masalah artistik, settingnya asik banget. Tapi sayang pas adegan pintunya dibobol ada tangan yang kelihatan, jadinya rada keganggu. Aku suka sama lightingnya…” (Tine, 18 tahun, Mahasiswi Sastra Inggris Universitas Sanata Dharma Yogyakarta)

“Tata ruangnya pas, pencahayaan oke, musik cukup heboh… Rangkaian penataan artistiknya sudah komunikatif. Pelisanan keaktoran yang belum tampak jelas: banyak teks yang hilang. Tapi pemilihan pengaturan adegan, gaya teaternya, menurutku malah bikin teksnya sampai dengan cara yang agak datar. Dan, juga terlalu banyak kejutan di awal.” (Doni Agung S, 23 tahun, fasilitator artistik dan sutradara Teater Seriboe Djendela)