Oleh: Muhammad Abe*

Panggung gelap. Enam korek api menyala. Sebentar kemudian cahaya dari korek api itu mati, lalu enam korek api menyala lagi. Dari cahaya yang ditimbulkan oleh keenam batang korek api itu penonton dapat melihat enam sosok tangan yang menyalakan korek api, beberapa di antaranya terlihat seukuran tangan bocah kecil. Enam sosok ini terlihat bergerak, berubah posisi dalam koreografi yang teratur. Cahaya redup dari korek api itu bergantian menyinari tangan dan kaki para aktor dari berbagai usia itu.

Adegan awal pertunjukan Plencung Two yang dibawakan Teater Ruang (Surakarta) di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja dalam program Jagongan Wagen pada tanggal 27 April yang lalu itu membuat sebagian penonton terkejut. Mungkin karena terbiasa menyaksikan pertunjukan yang menggunakan intensitas cahaya lebih besar, tangan atau kepala yang muncul dari api korek yang terbakar itu pada awalnya memang terlihat seperti potongan-potongan tubuh yang tercerai berai.

Di tengah pertunjukan, sosok lain muncul. Duduk di tengah-tengah ruangan di antara penonton, ia menyalakan korek api.  Dari ukuran tubuhnya dapat diperkirakan bocah perempuan itu seusia anak kelas 5 SD. Ia kemudian berdiri dan menyanyikan Suluk Plencung, tembang tentang hantu-hantu yang menakutkan di sekitar kita. Bocah itu lalu berjalan menuju panggung, sambil terus bernyanyi. Di atas panggung ia menyalakan pelita yang sudah berada di tengah-tengah ketujuh aktor yang lain. Seorang laki-laki (yang sekilas terlihat) tanpa kepala tiba-tiba berdiri di atas pelita tersebut. Kemunculan laki-laki ini membuat sebagian penonton menutupi wajahnya karena terkejut dan takut. Laki-laki itu menyanyikan sebuah tembang, permintaan tolong dari seseorang yang telah tenggelam ke dalam sumur yang dalam.

*****

Dalam wawancara yang dipandu oleh Besar Widodo sebelum pertunjukan berlangsung, Joko Bibit, sutradara pertunjukan menjelaskan karya ini didasarkan pada pengamatan atas kebiasaan orang-orang yang ia rasa terlalu konsumtif; membeli HP, perhiasan, kendaraan, dan berbagai macam pernak-pernik lain. Sementara, ia dan kawan-kawan di Teater Ruang mempertanyakan apakah barang-barang tersebut benar-benar dibutuhkan; jangan-jangan, mereka telah diperbudak oleh ide tentang modern yang mungkin sekali didapat dari apa yang mereka lihat di televisi.

Pertunjukan ini—seperti disebutkan dalam undangan dari penyelenggara­—berangkat dari sebuah tembang yaitu Suluk Plencung, berisi nama-nama setan yang menghuni Pulau Jawa. Plencung sendiri adalah alat yang terbuat dari bilah bambu yang di atasnya diberi gumpalan tanah merah lalu dilecutkan. Alat ini biasanya digunakan untuk mengusir burung di area persawahan. Dalam undangan juga disebutkan bahwa pertunjukan ini akan menonjolkan eksplorasi tubuh sebagai medium utama pertunjukan; sedangkan konsep pencahayaan didesain khusus untuk membangun suasana natural, magis, dan meditatif.

Memang benar, penggunaan cahaya yang terbatas itu menghadirkan kesan bayangan tubuh yang tidak sempurna, tidak lengkap, terkadang tercerai-berai. Didukung dengan koreografi yang teratur dan kompak dari aktor-aktornya—yang semuanya bisa split, berguling-guling, dan salto—pertunjukan Plencung Two mampu mencekam penonton yang hadir malam itu.

Di saat teknologi merambah ke keseharian manusia, lewat Plencung Two Teater Ruang berusaha untuk mengambil jarak pada teknologi, dan juga berarti pada modernitas. Nampaknya dalam usaha mengambil jarak tersebut, pertunjukan ini tidak menghadirkan banyak set atau tata cahaya terang benderang, yang kesemuanya mensyaratkan kemampuan memahami dan menguasai teknologi. Teater Ruang berusaha kembali ke kesederhanaan tubuh manusia, ke kesegaran tubuh di masa kecil yang lentur dan liar (meski menurut Helmi, salah satu aktor Teater Ruang, beberapa aktor yang masih bocah itu malah lebih kesulitan melakukan gerak split dibanding dirinya). Mungkin karena itu juga beberapa anak kecil dilibatkan dalam karya ini. Gerak tubuh dan celotehan mereka menghadirkan keluguan dan kelucuan yang meredakan suasana mencekam dalam pertunjukan. Lewat kesederhanaan, Teater Ruang memberikan kekuatan pada pertunjukan ini. Mereka mencoba bersikap kritis pada percepatan modernitas yang saat ini sudah merambah hingga pelosok-pelosok desa―tak terkecuali desa di mana Teater Ruang hidup dan berkarya.

*****

Laki-laki yang seolah tanpa kepala yang telah muncul di awal, mengakhiri pertunjukan dengan kembali menyanyikan tembang yang sama dan tetap membuat sebagian penonton terkejut. Segera setelah penonton bertepuk tangan, lampu-lampu dinyalakan dan kini terlihat tubuh-tubuh bocah yang menjadi aktor dalam pertunjukan tadi. Salah seorang di antara mereka berpotongan rambut mohawk, model yang menjadi tren bagi anak-anak muda masa kini. Jadi, siapa bilang tukang protes harus menolak segala sesuatu yang diprotesnya? Apalagi bila ia masih muda dan lugu tentu saja.

* Muhammad Anis Ba’asyin, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 10, Juli-November 2009)

*****

Komentar Penonton:

“Mrinding,.. gelap… mistis,banjir dan anak-anak membuatku teringat pad pengalaman-pengalam pribadi di masa lalu” (Heri Sudarmanto, 28 tahun, staff Yayasan Bagong Kussudiardja)

“Gelap sekali. Lagunya bikin takut, kok bisa ya. Kelihatannya ceritanya tentang hantu-hantu yang menakutkan gitu yah.” (Disti, 21 tahun, Mahasiswa)

“Menarik ya teater. Minimalis tapi bisa menghadirkan peristiwa yang mencekam, terkadang lucu juga.” (Nora, 24 tahun)