Oleh: Resyifa L.*

“Pekerjaan tersulit di bumi adalah salesman!” demikian Teater Toedjoeh membuat pernyataan dalam pementasan Bukan Mesin! di panggung yang disoroti lampu monokrom. Pentas dibuka dengan percakapan negosiasi antara seorang salesman tua bernama Selo dan Jenny, manajernya yang pilih kasih. Selo meminta buku petunjuk penjualan yang berisi daftar informasi orang-orang yang potensial untuk menjadi pembeli. Mereka hadir di panggung bagian paling depan duduk di kursi, di hadapannya segelas jus dan secangkir minuman terhidang di atas meja layaknya sedang istirahat siang di kantin. Negosiasi yang alot disertai sogokan seolah menunjukkan betapa mencari uang dengan berbagai cara, halal ataupun tidak halal, adalah tidak mudah.

Pementasan “Bukan Mesin!” diadaptasi dari naskah teater Glengarry Glen Ross karya David Mamet. Pertunjukan ini mengisahkan kepelikan dunia bisnis properti dengan latar kota Yogyakarta, dimana kapitalisme memberi jalan lapang bagi mereka yang bermodal kuat untuk menguasai harkat hidup mereka yang kurang beruntung; ketidakberuntungan empat orang salesman yang bekerja di perusahaan penjualan Hutama Property. Empat salesman itu adalah Selo (Alex Suhendra), Rhoma (Ricky Setiawan), Mus (Guntur Yudho), dan Joko (Otho Sebastian), yang dipimpin oleh manajer Jenny (Tita Dian Wulansari). Kecuali Rhoma, ketiga salesman pecundang tadi selalu mendapat tugas lebih berat untuk menjual real estate yang tidak diminati dengan harga yang tidak masuk akal. Alhasil, sampai akhir bulan ketiga salesman tadi tetap gagal mendapatkan pembeli. Untuk memacu kinerja mereka, pemilik perusahaan membuat sandiwara kompetisi berat sebelah. Kompetisi ini bertujuan menyingkirkan generasi tua yang diangggap sudah tidak produktif dan menggantinya dengan generasi muda yang lebih enerjik. Agar tidak terkesan menyingkirkan, pemilik perusahaan berkonspirasi dengan Jenny untuk menugaskan para salesman tua itu menjual properti yang tak laku dijual. Untuk mengontrol mereka, dipajanglah papan daftar penjualan para salesman di kantor layaknya papan klasemen sepakbola. Dua salesman peringkat teratas akan bertahan dan mendapatkan hadiah, sementara dua terbawah akan dipecat tanpa pesangon.

Pada babak kedua, Mus yang (merasa) lebih beruntung mencoba meyakinkan Joko yang jujur dan polos untuk terlibat dalam rencana pencurian buku petunjuk penjualan. Mus menjanjikan iming-iming keuntungan 150 juta dibagi dua. Latar dibuat seolah mereka sedang makan malam di sebuah restoran. Babak selanjutnya, seorang salesman sedang minum di bar, mencerocos panjang lebar seputar hal paling berkesan dari hubungan seksual─hal yang sama sekali tidak nyambung─untuk menarik perhatian seorang calon pembeli rumah mewah. Fenomena ini seakan menggambarkan begitu sulitnya menjual kendati dengan segala cara. Babak berikutnya digambarkan suasana hiruk pikuk di kantor para salesman, dimana para penghuninya dikepung oleh tuntutan memenuhi target penjualan. Masing-masing memainkan strategi dan bertempur di peta percaturan bisnis demi memenuhi kebutuhan dan kepentingannya sendiri. Singkatnya, demi memenangkan uang sebanyak-banyaknya.


Pada penggalan cerita berikutnya, seorang polisi bolak-balik ke kantor salesman, menginterogasi para salesman untuk mendapatkan keterangan atas hilangnya buku petunjuk penjualan dan beberapa properti kantor. Joko nampak panik menghadapi situasi tersebut, sesekali ia mengusapkan saputangan ke muka dan lehernya. Sementara itu, Selo merasa berasa di atas angin karena baru saja berhasil menjual sekian unit rumah mewah kepada seorang mantan orang kaya. Itu berarti nama Selo meroket ke level paling tinggi dalam daftar penjualan. Pada kesempatan yang sama, Rhoma harus menghadapi kliennya yang akan membatalkan transaksi. Mus, di pihak lain,  ngamuk-ngamuk karena terancam dipecat. Jenny yang konon memanjat karirnya dengan ‘jalan kasur’ selalu menuntut hasil tanpa mau tahu keadaan di lapangan. Yang tragis dari kisah ini, Selo yang baru saja (merasa) menjadi superstar, tiba-tiba dihadapkan pada kenyataan bahwa pembelinya ternyata orang gila yang senang bernostalgia akan masa kejayaannya. Ia juga tersudut hingga mengaku sebagai pelaku pencurian di kantor.

Dalam durasi 2 jam 10 menit, para aktor menghadirkan potret kompetisi bisnis itu dengan teknik permainan akting realis. Permainan yang hidup dan kocak disambut gelak tawa penonton yang menyesaki ruang F Gedung Vredeburg, pada13 dan 14 November 2008. Akting Alex sebagai Selo paling menarik perhatian. Dengan piawai Alex berakting memamerkan pengalaman heroiknya meyakinkan calon pembeli untuk menandatangani cek pembelian. Pertunjukan ini mengajak penonton memahami, atau setidaknya merasakan, mata rantai sebab-akibat yang tergambarkan dalam berbagai tingkah laku mereka yang tertekan oleh situasi yang miris.

Diiringi musik yang empuk, Teater Toedjoeh telah menyajikan sepotong potret pekerjaan tersulit di bumi ini dengan segar, terbuka, dan tanpa sungkan.

* Resyifa L, penulis, aktif di Forum Lingkar Pena, peserta Actor Studio 2007

(terbit di skAnA volume 09, Maret-Juli 2009)

*****

Tim Kerja


Sutradara dan Adaptasi Naskah
Guntur Yudho/ Aktor Alex Suhendra, Andri Wicaksono, Anggit Riyanto, Guntur Yudho, Otho Sebastian, Ricky Setiawan, Tita Dian Wulansari/ Penata Set Robet “Cathax”/ Penata Cahaya Ucil, Ibank/ Penata Musik Gabriella Andhika/ Make up Carolina Novi Mustikarini/ Manajer Panggung Darmanto Setiawan/ Pimpinan Produksi Enrico Ronggo

Komentar Penonton

Mereka menonjolkan bentuk dialog yang cepat, tapi ternyata itu malah membuat informasi-informasi pentas ga terbaca. Bahkan aku sendiri cenderung menikmati keributan dialog cepat yang tak bisa dinikmati. Secara teknis artikulasi teman-teman banyak yang tak sampai di telinga dengan jelas. Hal itu dirasakan juga oleh penonton lain yang duduk di sebelahku.

(Aris, 21 Tahun, Teater Kaplink, Universitas Dian Nuswantara, Semarang)