Oleh: M. Ahmad Jalidu*

Pendapa sederhana milik seorang warga kampung Mijen, Minggiran Barat itu sejak sore terlihat ramai. Letaknya yang berhadapan dengan pintu komplek makam, tidak membuat suasana menjadi “horor”. Sebaliknya, satu persatu warga kampung berdatangan. Tampak juga beberapa seniman teater dan para pengamat kesenian. Adakah pesta di sana? Ya… sebuah pesta kampung ala Teater TeMMu.

Hampir seluruh lapisan masyarakat kampung Mijen telah berkumpul. Anak-anak, remaja, hingga ibu-ibu serta bapak-bapak ada di sana. Malam itu mereka siap menonton Mak..!! Ana Asu Mlebu ngOmah!, sebuah drama berbahasa Jawa karya Andy SW. Pelakonnya adalah Teater TeMMU, sebuah komunitas teater yang digerakkan oleh pemuda-pemudi kampung Minggiran dan sekitarnya.

Seorang pemuda bernama Surip mendapati rumahnya dimasuki sekawanan anjing. Ia pun mengamuk dan melempari anjing-anjing itu dengan perkakas dapur. Ternyata ribuan anjing telah datang meneror seluruh kampung. Satu persatu warga kampung pergi tanpa kabar dan tak pernah pulang hingga tersisa enam orang: Mak Jiuk (Ambar Mirah), seorang ibu dengan dua anak yaitu Surip (Andy SW) dan Sumi (Arum) – gadis kecil yang duduk di kelas 6 SD, dua pemuda yaitu Cothot (Eri) dan Bakir (Wahyu Gober), dan Mbah Karto −sesepuh kampung yang akhirnya meninggal sebelum seluruh anjing bisa diusir.

Saat upacara pemakaman Mbah Karto berlangsung, tiba-tiba ribuan anjing datang mengikuti upacara. Sang Pemimpin Anjing mengatakan bahwa dia hanya ingin menyaksikan pemakaman musuh bebuyutannya sejak jaman Belanda itu. Dalam adegan itu terkuak bahwa ternyata sebagian besar dari anjing-anjing itu adalah warga kampung yang telah digigit dan berubah menjadi anjing. Karena geram, Surip ditemani ibu dan dua kawannya berusaha mengusir anjing-anjing itu. Mereka berteriak dan berlari mengitari panggung sambil memainkan pecut-nya (cambuk). Hanya dengan iringan sebuah jimbe, mereka mampu membawa penonton merasakan suasana sebuah perang besar dan perjuangan mereka yang berat dan melelahkan.

Warga kampung bangkit melawan kawanan anjing

Kawanan Anjing berhasil diusir, tetapi tak ada yang bisa menjamin keadaan seterusnya akan aman. Cerita berakhir dengan keputusan Mak Jiuk dan yang lain untuk pergi dari kampung itu, pindah ke tempat lain yang lebih tenang. Tiba-tiba seorang penonton nyeletuk: “Ho’o lunga wae. Lumayan disangoni wolung yuta.” (baca: Ya, pergi saja. Lumayan dapat pesangon delapan juta). Tawa terburai tanpa ada yang bisa melerai…

Bahasa Jawa kampung yang digunakan dalam seluruh dialog membuat penonton merasa akrab. Metafor dan tata adegan yang komikal dan “kartun banget” membuat pertunjukan ini menarik dan menemukan sisi essensialnya. Sebagai sebuah pesta bersama, pentas ini bisa dikatakan sukses: mengangkat cerita bersama, memainkannya, dan bersama-sama menikmatinya. Kesuksesan lain terlihat dari banyaknya “clekopan” atau komentar penonton sepanjang pertunjukan. Berbeda dengan teater yang lazim digelar di gedung-gedung pertunjukan, komentar asal bunyi dari penonton yang biasanya dirasa mengganggu, pada pementasan ini justru membuat suasana hidup.

75 menit pertunjukan ini ditingkahi tawa riuh penonton. Padahal, apa yang sebenarnya mereka ceritakan? Sungguh bukan sebuah kesukacitaan, melainkan tragedy. Mak..!! Ana Asu Mlebu ngOmah adalah sebuah refleksi atas peristiwa penggusuran rumah beberapa warga yang berlangsung melalui bermacam bujuk rayu bahkan teror dan intimidasi pihak developer. Intimidasi dan bujuk rayu itulah yang disimbolkan menjadi sekawanan anjing yang hendak menguasai kampung. Digambarkan betapa kampung itu menjadi semakin sepi karena warga satu persatu menjadi anjing, perumpamaan untuk warga yang akhirnya terbujuk dan menghentikan perlawanan. Meski demikian, bukan berarti teater ini melulu bicara penggusuran dan anjing. Andy tidak lupa menambahkan bumbu adegan konyol dan lucu tentang kisah cinta dan perilaku negatif pemuda kampung, misalnya “jajan” banci dan mbajing (hidup sebagai bajingan).

Kampung memang plural, kampung kota apalagi. Sementara teater sering kali mampu menyerap peristiwa, memprosesnya, dan menghasilkan pertunjukan. Tetapi tidak banyak pertunjukan yang mampu mengembalikan hasil olahan itu kepada warga kampung. Lebih sering terjadi, “olahan” menjadi demikian mutakhir dan intelek hingga warga kampung tak lagi mengenali diri mereka yang direpresentasikan dalam pertunjukan. Teater TeMMu telah berhasil melakukan itu. Mengolah kisah warga kampung, memprosesnya menjadi metafor, menyusun adegan, menyuguhkannya, dan Hap! Warga pun menangkap.

Pertunjukan ini memang sangat sederhana dan jauh dari pukauan -panggung hanyalah separuh pendapa yang kosong melompong berlatar backdrop abu-abu; aktor masih sering terlihat grogi dan tidak yakin pada aktingnya. Anehnya permainan justru tampak hidup dan mampu menampilkan karakter pemuda kampung -yang meski hidup “mbajing” tetapi tetap cancut tali wanda saat pengabdiannya dibutuhkan.

Tidak ada akting yang gemilang, tidak ada impresi tata visual yang hebat. 10 Februari 2009, Teater TeMMu telah membuktikan; akting, set panggung, sound effect memang penting…  but sometimes those are not really the business.

* M. Ahmad Jalidu, pegiat teater.

(terbit di skAnA volume 09, Maret – Juli 2009)


*****

Tim Artistik

Naskah dan Sutradara: Andy SW/ Aktor: Wahyu Gober, Bung Eri, Pipit Ambar Mirah, Ficky Tri Sanjaya, Arum Miswa Milan Puspita, Andy SW/ Penata Artistik: Mas Gali dan Andri Sapi’i/ Penata Musik: Blendong/ Penata Busana: Pipit Ambar Mirah/ Konsumsi: Maria Magdalena Yuliati dan Mbak Uyat/ Kru: Hendra, Anjar, Ulin Kucing, Dety Calexstin/ Penata Cahaya: Komar Boy dan Brekele/ Dokumentasi: Ndaru

Komentar Penonton:

Tipikal teater kampung yang sedikit kampungan tapi renyah dan menghibur. Kaya makan sayur brongkos tapi lawuh-nya beef steak utawa tenderloin… Audionya pake basa lokal, ndesa banget tapi lebih gampang dimengerti ketimbang unsur visualnya. (Bom-bom, 25 th. Pegiat  teater di GMT.)

Jujur, sederhana, merakyat. Semua bisa mudeng tanpa mikir rumit, mengena sama situasi tempat tinggalnya. Dan aslinya, menghibur banget…(Sari, 23 th. Mahasiswa PBI USD, Instruktur Bahasa Inggris.)

Ceritanya bagus, simple, dan imajinatif. Artistiknya sederhana tapi mengena. Aktornya berbakat dan lucu. Aku suka tata ruang antara penonton dan aktor, acak-acakan tapi komunikatif. Gayeng dan bikin betah nonton. Kalau bisa pentas keliling kampung, supaya bisa menjadi inspirasi karang taruna yang lain. (Hambar Riyadi, pemuda kampung Mergangsan)