Oleh: Mohamad Nur Qomaruddin*

Sebuah drum digantung di sisi kiri panggung, layar putih terbentang di bagian belakang panggung, dan terdengar percakapan tentara yang berkomunikasi lewat radio transmisi. Beberapa saat kemudian seseorang dengan tubuh berbalut perban muncul, berjalan melewati penonton. Sekujur tubuh dan rambutnya dicat putih. Kakinya beralaskan bakiak. Ia berjalan pelan, sesekali memperhatikan penonton, lalu mengangkat salah satu kaki, diarahkan ke penonton. Ia melepas sepatu beberapa penonton, lalu dibawa menuju panggung. Perlahan ia berjalan ke arah sisi  kiri depan panggung, menuju drum yang telah dipotong bagian tengahnya─terbagi menjadi dua. Lalu ia masuk ke dalam drum. Cahaya lampu dan suara-suara perlahan fade out. Di layar muncul video tentara Amerika bersenda gurau saat mengawasi sebuah mobil yang hendak mereka tembak dari udara, juga beberapa slide foto-foto korban perang.

Lampu menyala menyoroti drum yang dipukul-pukul keras dari dalam. Lalu seseorang itu keluar dengan kepala terbungkus kerudung transparan berwarna merah. Kemudian ia duduk di dekat drum, dan memukul drum hingga potongan bagian atas berayun ke segala arah. Tubuhnya pun bergerak mengikuti gerak drum, terkadang menghindar jika drum akan mengenai kepalanya. Kemudian ia mengambil bagian bawah drum, diangkatnya di atas kepala, lalu berjalan  ke arah belakang panggung. Ditaruhnya potongan drum itu di bagian tengah panggung. Beberapa kali ia mengangkat dan menjatuhkan potongan drum itu ke lantai, sehingga menimbulkan bunyi ledakan yang mengagetkan.

Ia melakukan head stand di atas potongan drum, sementara pada layar video burung-burung terbang bertabrakan dengan siluet tubuhnya. Di atas drum itu ia melakukan beberapa gerakan, menggeliat dan terkadang berpose. Sebentar kemudian ia  kembali berjalan ke arah penonton mengambil beberapa sepatu dari penonton, mencoba, dan mematut-matutnya. Ia memilih sepatu kulit berwarna hitam untuk dipakai, lalu kembali berjalan ke arah drum yang berada di tengah panggung. Ia berdiri di atasnya, melepas sepatunya dan kembali menggeliat di atas drum itu.

Kemudian ia mengenakan baju kebaya dan mengambil sebuah helm tentara. Video kembali menyala, dan kali ini gambar bendera Israel berkibar. Ia memberi hormat ala Hitler. Setelahnya, perlahan ia mengamati helm, menyentuh, menginjak, dan bergerak merespon helm itu. Ia berjalan kembali ke arah drum yang tergantung, masuk ke dalamnya, menggeliat, lalu diam.

Adegan-adegan di atas dimainkan oleh Tony Broer dalam pertunjukan teater tubuh berjudul Tubuh Sepatu Kulit, di Studio Teater Garasi pada tanggal 7 Februari 2009. Malam itu 250 penonton berdesakan, bahkan banyak yang rela berdiri karena tak mendapatkan tempat duduk. Pertunjukan yang berlangsung sekitar satu jam itu tak membuat penonton beranjak pergi.

Eksplorasi tubuh dalam pertunjukan ini berangkat dari spirit butoh dan metode Gekidan Kaitasha (sebuah kelompok teater tubuh dari Jepang). Imaji tubuh berjalan, tubuh mencari, tubuh masa lalu, tubuh sepatu kulit, tubuh waspada, tubuh api, tubuh protes, tubuh penonton, dan tubuh kupu-kupu; begitulah Tony menyusun fragmen pertunjukannya. Ia bergerak dengan stamina yang konstan dan stabil, tanpa menggunakan bahasa verbal sama sekali. Batas ruang antara penonton dan penyaji kadang ditabraknya, sesekali ia mengajak penonton berinteraksi.

Tony Broer menggunakan tubuh, video, cahaya, properti, dan musik untuk mengartikulasikan perang. Perang antara yang kalah dan yang menang, antara kehidupan dan kematian, demi sebuah kebenaran. Perang yang tak menakutkan lagi dalam bingkai layar televisi, yang dengan enak ditonton sembari makan bersama keluarga. Pada catatannya dalam booklet pertunjukan, ia mencoba untuk tidak menunjuk siapa yang salah atau benar. Baik di pihak menang maupun kalah, dalam perang yang menjadi korban adalah masyarakat sipil, terutama wanita dan anak-anak.

Tahun 2007 Tony Broer pernah menyutradarai dan bermain teater dengan tema yang sama, bersama mahasiwa STSI Bandung. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini ia bermain sendiri. Setelah pertunjukan usai, sempat diadakan diskusi. Ia menjelaskan bahwa penonton bebas memaknai apa yang ia sajikan. ”Anda baru diambil sepatunya, mereka di Palestina sana diambil nyawanya,” begitu Tony menjawab kenapa ia mengambil sepatu penonton.

Pertunjukan teater tubuh menuntut penonton untuk mencermati, meneliti, mengkait-kaitkan hal-hal yang tersaji di panggung. Akan tetapi, kadang kita cukup menikmati dengan rileks untuk menemukan dan memungut impresi atau lebih jauhnya maksud dari pertunjukan.

* Mohamad Nur Qomaruddin, aktor Teater Tangga, alumni Aktor Studio 2006

(terbit di skAnA volume 09, Maret-Juli 2009)


*****

Tentang Tony Broer

Ia lahir di Jakarta 43 tahun yang lalu, bergabung dengan Teater Payung Hitam sejak 1988. Tahun 1991 Tony menyelesaikan studi D3 Keaktoran di ASTI Bandung.  Pada  tahun 2001 ia lulus S1 bidang Penyutradaraan di STSI Bandung dan sejak tahun 2005 mengajar dasar olah tubuh di sana. Sekarang ia sedang menyelesaikan studi S2 di Pasca Sarjana ISI Yogyakarta bidang Penciptaan Teater.

Sejak tahun 1997 Tony telah bekerjasama dengan berbagai kolompok seni dari luar negeri baik sebagai aktor maupun fasilitator workshop. Tahun 2002-2003 ia pernah mendapatkan beasiswa untuk belajar di Jepang. Ia belajar Noh dari Shimada Sensei dan butoh Yoshito Sensei (anak Kazuo Ohno).

Tim Kerja

Manajer Produksi: Nokiro Kumoro/ Penata Artistik: Eko Sulkan/ Penata Lampu: Yadi Mulyadi/ Penata kostum & Make Up: Dhani Brain/ Audio Visual: Indra Ardiyanto/ Stage Manajer: Bahrul Ulum/ Stage Crew: Andika UPN, Jamal Abdul Naseer

Komentar Penonton

Stamina aktornya sangat bagus, dalam pertunjukan semacam ini, sepertinya butuh kejutan-kejutan yang membuat penonton tidak bosan mengikuti keseluruhan pertunjukan. (Totok, dari teater SUA)

Meskipun ada bantuan video, kostum, dan properti, tapi terkadang saya masih bingung dengan gerakan-gerakan tubuhnya, dan nggak semuanya dapat ditangkap maksudnya. (Brekele, Mahasiswa HI UMY, Aktif di Teater Tangga)

Gerakannya bagus-bagus, tapi aku nggak sepenuhnya ngerti. (Agung Supriyanto, Fotografer)

Rasanya saya seperti sedang demonstrasi di jalan, dan melihat Happening Art. (Ari ”Inyong” Dwianto, Sutradara Bengkel Mime Theatre)