Oleh : Ficky Tri Sanjaya*

Bulan Februari tahun 2007, TAP (Theo and Arjan Production) datang ke Indonesia dalam kunjungan rutin setiap tahunnya. Kunjungan tersebut dalam rangka bersilaturahmi  dengan beberapa seniman dan sanggar seni di Yogyakarta. Sanggar Anak Wayang Indonesia adalah salah satu sanggar yang dikunjunginya. Nah, di Sanggar itulah TAP bertemu dengan saya, kemudian  terjadi obrolan santai. Di tengah obrolan itu, mendadak  TAP menawarkan sesuatu yang  tidak saya duga sebelumnya. TAP ingin mengundang saya untuk belajar tentang seni dan  budaya selama 3 bulan di Belanda. Saya sempat bingung dan kaget ketika mereka menawarkan hal tersebut kepada saya.  Kemudian TAP meminta saya untuk mempersiapkan diri mengikuti beberapa kelas yang mereka ajukan: kursus bahasa inggris, workshop teater, tari, dan pantomim. Saya mengikuti workshop di  LPK Nadya Lakshita selama satu tahun.

TAP adalah organisasi  perorangan yang bergerak dalam bidang musik, sastra, film, siaran radio, dan pariwisata, yang semuanya berhubungan  dengan Indonesia. TAP juga ikut mendirikan festival Mundial yang melibatkan banyak kelompok seni dari Indonesia untuk mengikuti festival tersebut. Diantaranya kelompok musik Inisisri, Nano S, Saggy Dog dan Sanggar Anak Wayang Indonesia. TAP  bertindak sebagai fasilitator yang mendampingi kelompok seni tersebut selama mengikuti festival di Belanda. TAP juga pernah mengundang seniman dan sastrawan Indonesia, seperti Rendra, Umar Kayam, dan Didik Nini Thowok.

Peta Perjalanan

Saya berangkat ke Belanda pada akhir bulan Mei 2008. 16 jam perjalanan saya tempuh dalam pesawat dengan perasaan gembira, dan tidak sabar untuk melihat negeri seribu bunga tulip itu; Negeri yang enam tahun lalu pernah saya kunjungi selama tiga minggu, dalam rangka pentas seni memeriahkan hari anak sedunia; Negeri yang mengingatkan saya pada sosok Herman Willem Daendels.

Saya tiba di bandara Schipool, tepat pukul 5:30 pagi waktu Amsterdam. Dengan wajah yang agak sedikit lelah namun sumringah, saya keluar meninggalkan bandara dan menghirup udara segar di luar ruangan. Sebentar kemudian saya dijemput oleh pak Arjan (pangggilan akrab pengelola TAP) dengan sebuah mobil, menuju ke rumahnya. Di sepanjang perjalanan pagi itu, jalanan masih sepi dan lengang. Udara terasa dingin sekali,  kabut turun melindungi beberapa rumah mungil dan sawah ladang dengan sapi-sapi ternak yang asyik merumput. Sungai-sungai tampak sunyi dengan beberapa kapal yang diam di tepinya. Matahari sedikit menyinari kincir-kincir angin yang belum berputar. Kota-kota belum bergerak di pagi itu. Rumah-rumah, gereja, toko-toko, sekolah, taman, pompa bensin, semua masih diam seperti dalam bingkai lukisan.

Setelah dua jam perjalanan, saya sampai ke rumah mereka (TAP), di sebuah apartemen yang terletak di Hoffmanlaan Flaat 641, Tilburg. Di apartemen mereka  yang cukup besar, saya dapat melihat bermacam pernak-pernik dari Indonesia seperti topeng, patung, lukisan wayang, dan souvenir. Yang paling berkesan adalah  adanya beberapa pohon pisang  di sudut rumah dan ruang tamu. Dan yang lucu, saya melihat dua ekor burung kakak tua beterbangan di ruangan dengan bebas. Saya juga melihat banyak  koleksi dan dokumentasi yang mereka kelola, seperti buku, musik, film, foto, dokumentasi rekaman siaran radio, yang semuanya berbau Indonesia. Nah, seperti itulah sedikit pengantar cerita tentang sebuah keluarga yang saya tinggali, yang menjadi teman saya selama tiga bulan tinggal di Belanda; Keluarga tempat berbagi suka dan duka.

Selama kunjungan saya  tiga bulan di Belanda –bulan Juni hingga Agustus 2008– banyak sekali hal yang saya dapatkan. Pada awalnya saya mengalami shock culture karena kebiasaan hidup yang harus mandiri dan teratur. Saya harus hemat energi (penggunaan air, lampu, dan cara mencuci), membuat jadwal untuk bertemu dengan seseorang, menghafal peta, dan ditambah lagi, bahasa inggris saya yang masih belepotan. Tetapi saya mendapat banyak pelajaran dari hal tersebut, pelajaran yang membuat saya lebih menghargai banyak hal.

Sebenarnya kunjungan saya ke Belanda untuk mencari referensi seni pertunjukan dengan melihat pementasan secara langsung. Tetapi saya tidak mempunyai banyak kesempatan untuk menonton pementasan, karena kedatangan saya bertepatan dengan musim panas. Artinya, di musim panas biasanya tidak banyak grup seni yang melakukan pertunjukan di dalam stage atau gedung pertunjukan. Tiga bulan itu adalah bulan untuk liburan bagi masyarakat Belanda, bersamaan dengan liburan sekolah seusai ujian. Namun seni pertunjukan tentu saja tidak hanya berada di dalam gedung saja, tetapi banyak sekali hal yang berhubungan dengan seni pertunjukan di luar gedung kesenian.

Pada minggu kedua setelah satu minggu beradaptasi, saya mulai berkegiatan dan mempelajari kesenian.  Diantaranya mengikuti workshop sirkus di akademi sirkus, ngobrol langsung dengan para seniman tentang manajemen seni, kunjungan ke museum seni, menonton festival, ngamen pantomim di jalanan, nongkrong, dan jalan-jalan di pusat kota. Saya juga pentas solo pantomim dalam sebuah acara penggalangan dana untuk penderita HIV/AIDS, dan pentas di sebuah sekolah (setaraf SMP) untuk penggalangan dana pengembangan seni anak-anak di Indonesia.

Fontys Sirkus Akademi

Di awal bulan pertama, saya mengikuti workshop selama satu minggu di Fontys Academy Art and Performance. Akademi seni dan pertunjukan di kota Tilburg. Di Akademi Fontys ini terdapat beberapa jurusan, tapi yang paling populer yaitu  Akademi musik Rock dan Akademi Sirkus.

Saya bergabung di dalam Akademi Sirkus, satu-satunya Akademi Sirkus yang  berada di Eropa. Hal yang menarik, murid yang bergabung di dalam Akademi Sirkus ini tidak hanya berasal dari Belanda saja, tapi ada yang dari Jerman, Belgia, Perancis, dan Italia. Kadang-kadang, sering terjadi hal-hal lucu dari cara berkomunikasi antar murid. Murid yang bergabung rata-rata berusia antara 17 hingga 27 tahun yang sudah mendalami sirkus sebelumnya, minimal sejak mereka berumur 10 tahun saat mereka berada di sekolah dasar. Dan saya adalah murid pertama yang berasal dari Indonesia, yang pernah belajar di akademi tersebut.

Sekolah ini dimulai dari jam 09.00 hingga jam 17.00. Satu jam untuk istirahat, makan, dan bersantai (jam 13:00–14:00). Dalam sehari dibagi menjadi beberapa kelas materi. Materi pertama adalah acrobatic, acrorap, musik, dan kelas spesialisasi jurusan. Selama satu minggu, saya hanya bisa ikut dalam 2 kelas materi yaitu acrobatic dan kelas acrorap, mempelajari teknik-teknik akrobatik dan tari rap. Latihan diadakan di sebuah tenda sirkus yang berdiri di luar kampus. Dan ketika pada akhir pekan, saya melihat pertunjukan sirkus dari murid-murid sekolah ini. Mereka menggabungkan beberapa unsur seni pertunjukan: tarian rap, musik, komedi, teater, pantomim, dan akrobatik, menjadi satu pertunjukan sirkus yang menarik.

Setelah satu minggu belajar materi sirkus, saya merenung, Apakah tidak ada sekolah sirkus di Indonesia? Padahal referensi yang saya dapatkan sering saya lihat dalam kesenian rakyat seperti jatilan, reog, dan pertunjukan sirkus di pasar malam sekatenan. Namun kenapa tidak banyak grup sirkus yang ikut memeriahkan, seni pertunjukan di Jogja dan Indonesia. Bukankah sirkus juga termasuk seni pertunjukan yang menarik jika diorganisir?  Apalagi kalau ada sekolah sirkus di Indonesia.

Seni Pertunjukan dan Manajemen

Grup seni di Belanda pada umumnya sulit sekali melakukan pertunjukan di dalam gedung kesenian. Apalagi  jika grup tersebut  belum begitu populer di mata masyarakat umum. Di Belanda, grup seni harus melalui jasa Impresario sebelum melakukan pertunjukan di dalam gedung pertunjukan. Fungsi Impresario ialah  menawarkan atau bertugas menjual pertunjukan yang dibuat oleh grup kepada pengelola gedung pertunjukan. Jika pihak pengelola tertarik untuk mempertontonkan pertunjukan tersebut kepada kalayak umum, maka dibuatlah kesepakatan kontrak untuk membeli pertunjukan dengan harga sesuai kualitas pertunjukan yang telah disepakati. Dengan syarat dan ketentuan berdasarkan jumlah penonton yang hadir, maka dilakuanlah sitem reservasi atau pemesanan tiket sebelum terjadi pertunjukan. Dengan sistem tersebut jika penonton yang hadir tidak memenuhi target jumlah kursi yang ditentukan – artinya pihak pengelola merugi – maka pihak pengelola berhak membatalkan pertunjukan tersebut. Sedang  untuk publikasi pertunjukan biasanya dilakukan oleh pihak  Pengelola sendiri melalui majalah seni pertunjukan yang mereka terbitkan, website, dan media cetak lokal.

Grup yang profesional biasanya mempersiapkan diri satu tahun sebelumnya untuk berproses. Mereka mementaskan satu karya yang sama, tidak hanya dalam satu atau dua kali pertunjukan di satu kota. Tetapi dipentaskan juga di beberapa kota, bahkan di beberapa negara. Hal tersebut dilakukan untuk mengganti biaya produksi dan membayar aktris/aktor yang terlibat dalam proses penciptaan karya. Selain itu mereka juga mendapat dana dari sponsor. Bagi mereka, grup yang baik adalah yang dapat memberikan kesejahteraan bagi semua anggotanya, baik di luar panggung maupun saat proses berlangsung. Sehingga proses dan karya yang mereka hasilkan akan maksimal.

Sebagai contoh, grup teater boneka di mana saya terlibat dalam proses produksi. Grup ini terdiri dari empat orang: dua orang sebagai tim kreatif, satu orang menangani musik dan sound system, sedang satu orang lagi mengurusi manajemen. Mereka biasanya membuat program kegiatan selama satu tahun. Diantaranya adalah melakukan pertunjukan mandiri, mendaftarkan diri ke banyak festival, membuat souvenir seperti pin, komik, buku, dan baju untuk dibagikan secara gratis atau dijual kepada penikmat seni.  Mereka juga membuat  animasi/kartun dan menjualnya ke stasiun  televisi lokal.  Mereka memodifikasi mobil sedemikian rupa sehingga dapat digunakan sebagai alat transportasi yang efektif dan murah untuk mengangkut semua perbekalan: properti, sound system, layar media pentas, boneka, dan si seniman sendiri selama mengikuti banyak festival.

Walaupun kecil, grup ini ditangani secara profesional. Tidak hanya sekadar pertunjukan, namun juga usaha lain yang bertujuan komersil. Bagian manajemen, bertugas mencari peluang dan mengatur supaya grup dapat terus melangsungkan proses kreatif. Selain mengikuti festival, mereka juga mengamen di sudut pusat kota tertentu untuk mengasah kepekaan dalam berinteraksi langsung dengan penonton, sekaligus mendapat uang.

Dengan sistem pembuatan jadwal selama satu tahun, jika dari grup sendiri si seniman tidak dapat hidup dari pengahasilannya, mereka juga melakukan pekerjaan perorangan yang dilakukan di luar grup, seperti melukis, bermain musik, mengajar dan banyak lainnya. Karena jika tidak bergerak mencari peluang, mereka tidak dapat hidup dari seni mereka sendiri, karena biaya hidup di Belanda  sangatlah tinggi.

Jangan berpikir bahwa kami penuh hal yang berbau dengan teknologi, banyak hal liar yang masih dapat kita cari di luar teknologi. Dan yang paling penting adalah berani untuk berkarya  dan dapat hidup dari senimu!”, kata salah seorang seniman teater boneka.

Dan untuk memenuhi semua itu, dibutuhkan irama kerja dan perencanaan manajemen yang matang.

Seni dan Tempat Publik

Ketika berada di Belanda, saya terkesima dengan banyaknya tempat publik yang  difungsikan sebagai ruang kesenian. Seperti seni rupa, khususnya patung dan instalasi yang banyak memenuhi tempat-tempat  seperti mall, taman-taman, pantai, kantor, dan museum. Bahkan banyak karya yang dipajang di pemakaman sehingga menjadi tempat yang menarik untuk dikunjungi.

Pada bulan Juni hingga Agustus, banyak sekali festival yang diadakan di ruang publik. Seperti International Dordrech Festival yang diadakan di beberapa titik sudut jalan pusat kota Dordrech. Festival tersebut mendatangkan banyak seniman dari beberapa negara termasuk Indonesia.  Ada juga teater yang memanfaatkan tempat umum seperti Kafe, Mall, dan Jalan raya, tempat di mana banyak orang berlalu-lalang. Pertunjukan tersebut dilakukan untuk mengejutkan publik dengan skenario yang menyesuaikan ruang.

Contoh yang menarik adalah Festival Theatre Moerenburg. Festival tersebut banyak memanfaatkan lokasi tertentu yang jarang dijamah orang, seperti tempat pembuangan limbah, gedung kuno, sawah, ladang, dan peternakan, yang disulap menjadi tempat pertunjukan yang lebih santai, akrab, dan natural. Di dalam lokasi yang cukup luas tersebut terdapat banyak pertunjukan: teater, pembacaan cerpen dan puisi, sirkus dan komedi, opera, dan konser musik. Peristiwa tersebut dikemas dalam satu rangkaian festival. Penonton yang menghadiri acara tersebut dibagi menjadi tiga kelompok (merah, kuning, hijau) sebelum acara dimulai. Setiap kelompok didampingi seorang guide yang bertugas untuk mengatur urutan dalam menonton pertunjukan. Hal ini dilakukan agar setiap pertunjukan dapat dinikmati dan diapresiasi.

Festival T-parede merupakan karnaval budaya yang diikuti oleh pendatang dari negara asing yang sudah menjadi warga negara Belanda. Mereka datang dari berbagai bangsa: Jepang, Turki, Maroko, China, Suriname, Karibia, Senegal, Meksiko. Tetapi kontingen dari Indonesia tidak turut serta dalm festival tersebut, padahal Indonesia termasuk minoritas terbanyak yang tinggal di Belanda. Festival ini sangat menarik, karena adanya penghargaan bagi budaya etnis lain yang tinggal di Belanda.

Museum Seni

Museum seni adalah salah satu tempat yang  menarik perhatian saya. Ada  beberapa museum yang sempat saya kunjungi, diantaranya museum Joroen Bocsh, museum Sculpture Shcaveningen, museum Tekxtile Tilburg, museum Music Utrech, dan Taman Nasional  Belanda. 

Di beberapa museum yang saya kunjungi, semua terlihat rapi, bersih, dan keamanan terjamin. Benda-benda yang dipajang di museum bisa diakses lewat komputer, sehingga dapat dilihat secara detail. Museum menjadi tempat yang aktif dan menarik untuk dikunjungi  orang, sebagai tempat tujuan berwisata sambil belajar.

Salah satu hal untuk menarik minat umum berkunjung ke museum adalah dengan mengadakan festival pertunjukan di sana. Banyak museum yang dimanfaatkan oleh para seniman sebagai laboraturium untuk mengkaji ulang karyanya agar dapat menghasilkan karya  untuk dijual atau dipamerkan dalam bentuk yang baru.

Alangkah menariknya jika musem di Indoneisa dapat menjadi tempat yang inspiratif bagi seniman untuk menghasilkan karya, dan sebagai tempat alternatif untuk pertunjukan, sehingga tidak melulu diadakan di atas panggung. Adanya aktivitas kreatif di museum,  menjadikan museum sebagai tempat yang inspiratif  bagi masyarakat.

Demikianlah teman-teman, hanya sedikit yang dapat saya ceritakan dari kunjungan saya selama tiga bulan di Belanda. Saya tidak dapat menceritakanya  secara detail, tetapi cerita diatas sudah mewakili gambaran perjalanan saya  selama 3 bulan di Belanda.Terimakasih. Hiduplah dan jayalah kesenian di bumi nusantara kita. Cintailah dia dengan bebas.

Yogyakarta, 17-21 Oktober 2008

* Ficky Tri Sanjaya, aktor Bengkel Mime Theatre dan mantan personil Sanggar Anak Wayang Indonesia

(terbit di skAnA volume 08, November 2008 – Maret 2009)