Oleh: M N Qomaruddin*

“It Is Better to light a candle than to curse the darkness”

Lebih Baik Menyalakan Lilin Daripada Mengutuk Kegelapan.

(Confucius)

Aku aktor pemula yang mencoba membicarakan teater sejauh pemahaman dan pengertian yang dapat kucapai. Baru enam tahun terakhir ini aku berada  di ranah teater Jogja. Dalam waktu sesingkat itu sepertinya terlalu cepat untuk mengungkap sebuah kesimpulan perihal proses berteater. Mungkin lebih baik aku menamai tulisanku ini “curhat” atau berbagi cerita dengan teman-teman pembaca.

Aku memaknai teater sebagai kesenangan (hobi), maka aku menyukai, melakukan, mencoba mengerti, dan memahaminya.

Aku mengenal pengertian teater dan akting lewat internet. Tinggal ketik: teater atau akting pada google search, dobel klik, maka muncul banyak web yang memuat kata teater di dalamnya. Begitulah pengetahuanku dimulai dengan sangat mudah dan praktis.

Selain mencari di Internet, yang kulakukan adalah bertanya pada teman yang sudah lebih dulu mengenal teater. Walhasil, banyak istilah dan nama-nama tokoh yang terpaksa harus kucatat, kemudian kucari sendiri kebenarannya. Misalnya tokoh teater yang ngetop, seperti Stanilavsky, Grotowsky, dan Sakhespeare. Kemudian istilah-istilah: Realisme, Surrealisme, Absurdisme pun bermunculan.  Kemudian pencarian segera dilanjutkan ke tempat persemayaman kitab-kitab teater. Tujuan pertamaku adalah jurusan teater Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Pencarian pertama ini agak mengecewakan, pasalnya yang kutemukan hanyalah petilan-petilan naskah teater yang tidak begitu tertata rapi. Sehingga pencarian segera kuakhiri meski aku belum sempat ke perpustakaan universitas. Keinginanku untuk lebih mengerti tentang teater,  kukubur bersama hari-hari latihan.  Nama tokoh-tokoh dan istilah yang sempat ingin kucari kebenarannya itu, tinggal rumor.

Suatu hari di sebuah diskusi workshop (Pertemuan UKM Seni Muhammadiyah se-Indonesia di Makasar) dengan Nur Iswantara (ketua jurusan teater ISI waktu itu), aku dianjurkan berkunjung ke Teater Garasi jika ingin tahu tentang teater. Katanya, banyak buku-buku dan dokumentasi pertunjukan teater di Teater Garasi. Sepulang dari workshop, aku pergi ke perpustakaan Teater Garasi, dan bertemu dengan mas Jamal (staff perpustakaan Teater Garasi pada waktu itu). Meskipun perpustakaan itu lebih tampak seperti ruang tamu,  tetapi banyak berjejer rak berisi buku-buku dan naskah teater. Kemudian aku meminjam beberapa buku perihal teater. Tanpa bermaksud mendukung pembajakan, aku langsung memfoto-kopi beberapa naskah dan buku teater.  Walaupun sebenarnya aku belum tahu apakah buku itu berisi tentang hal yang kucari. Akhirnya sedikit demi sedikit aku menemukan kebenaran yang dulu pernah kucari. Kebenaran yang memuat istilah dan tokoh dalam teater. Bagiku kebenaran itu penting, supaya saat berlatih dan bermain teater, aku sudah punya dasar pengetahuan. Mungkin ini kekurangan atau kelebihan anak muda seumuranku: semuanya harus jelas sebelum melakukan.

Selanjutnya, hal yang tak terencana adalah pergaulan. Bergaul dengan teman-teman pelaku kesenian di Jogja (tidak terbatas pada kampus atau non kampus) dan bertukar cerita. Beberapa pengalaman juga kutemukan di workshop, dan tentunya yang paling penting adalah saat berproses menuju pentas. Tapi itu saja belum cukup.

Lebih Baik Menyalakan Lilin Daripada Mengutuk Kegelapan

Banyak forum yang digagas dalam rangka membangun jaringan meski akhirnya banyak yang kandas ditengah jalan. Diskursus teater jarang tedengar sekarang, medianya pun masih sedikit. Tapi pertunjukan selalu rutin diadakan, sebagaimana yang kita baca pada skAnA yang meliput dan mendokumentasikan pertunjukan yang berlangsung tiap bulannya.

Tapi apakah dengan ramainya pertunjukan teater berarti maju juga teater kita? Atau jangan-jangan hanya euphoria saja? Apakah ada yang benar-benar peduli dalam membangun lingkungan teater?

Yang saya tahu beberapa tahun terakhir ini, masih ada kelompok teater yang konsisten dalam membangun lingkungannya. Teater Garasi secara aktif menggagas forum sharing, diskusi, dan nonton (dokumentasi) pertunjukan. Juga ada Yayasan Bagong Kusudiarja dengan program Jagongan Wagen, yang tidak hanya menggelar pertunjukan teater tapi juga tari. Barangkali juga kelompok lainnya.

Meskipun masih sangat sedikit buku-buku teater berbahasa Indonesia, dan langkanya naskah-naskah baru, tapi sekarang banyak teknologi yang mendukung dan mempermudah kita dalam mengetahui sesuatu. Mulai dari HP yang multi fungsi dengan fitur yang lengkap, sampai dengan komputer super duper cepat. Bahkan kita bisa men-download dan menonton video dokumentasi pertunjukan sekaliber karya Robert Wilson yang mewah itu secara gratis di youtube, dan membaca perkembangan teater broadway. Kelompok teater yang berpengalaman seperti Teater Garasi, Gandrik, Gardanalla, SAC, dan yang lainnya pasti akan sangat terbuka dan senang apabila diajak sharing. Artinya, saat ini akses untuk mencari referensi teater tak sesulit pada era sebelumnya. Apabila referensi merupakan data yang memperkaya para seniman, maka ia akan tercermin dalam karya ciptanya.

Akhir kata, sebenarnya saya cuma ingin bilang “Tetap semangat, teman-teman!”. Masih banyak orang yang barangkali ingin mengerti tentang teater. Sebenarnya yang kita butuhkan saat ini, adalah kemauan yang keras dalam belajar dan menjalankan sesuatu.

Jogja, Oktober 2008…


* M N Qomaruddin, aktor Teater Tangga, alumni Aktor Studio 2006

(terbit di skAnA volume 08, November 2008 – Maret 2009)