Oleh: Hindra Setya Rini*

Teater Gandrik menggarap sebuah pertunjukan yang berbasis drama dan tari yang dilakoni oleh dua generasi, tua dan muda. Pertunjukan teater tari ini merupakan persinggungan kreatif yang bermula dari keinginan para pelaku. Niat yang ingin diwujudkan di atas panggung untuk memposisikan seni tari bukan sekadar ilustrasi sebuah pementasan drama. Demikian juga seni drama tidak melulu sebagai dramatisasi dari segmen-segmen pertunjukan tari. Akan tetapi keduanya masuk dalam sebuah proses persinggungan, tanpa harus terlintas kemauan saling mendominasi namun justru saling menguatkan.

Teater Gandrik mencoba mewujudkannya dalam pementasan Pasar Seret 3. Digelar pada tanggal 23 Oktober 2008, pukul 20.00 WIB, di Gedung Societet Militer Taman Budaya Yogyakarta. Sebuah pementasan teater tari. Demikian nama pementasan yang disutradarai oleh Jujuk Prabowo ini bersama pengolah kreatifnya Heru Kesawa Murti. Pementasan yang dipercayakan kepada generasi muda Teater Gandrik sebagi pelaku perannya. Tapi beberapa generasi tua Teater Gandrik masih terlibat  secara langsung di atas panggung sebagai aktor. Acara ini menjadi semacam kolaborasi antara generasi Teater Gandrik yang tua dan muda. Pementasan ini merupakan pentas kedua bagi generasi muda Teater Gandrik setelah Dewan Perwakilan Rayap yang digelar pada November tahun lalu.

Satu jam sebelum pertunjukan, tiket kursi telah habis. Penonton yang tiba saat mendekati pementasan terpaksa rela membeli pada calo dengan harga tiket yang semula dua puluh ribu rupiah menjadi tiga puluh sampai tiga puluh lima ribu rupiah. Atau memilih tiket lesehan seharga lima belas ribu rupiah yang baru akan dijual panitia menjelang pementasan. Rasa penasaran penonton yang ingin menyaksikan generasi muda Gandrik membawakan lakon Pasar Seret 3, yang pernah dimainkan pada tahun 1985; Pasar Seret 1 dan awal 1986; Pasar Seret 2 oleh seniornya, membuat harga tiket yang ditawarkan calo bukanlah halangan untuk menonton pementasan ini.

Gedung pertunjukan yang berkapasitas sekitar 450 kursi itu tidak terisi penuh, sekitar seratusan orang menonton dengan lesehan tepat di depan panggung. Ada sekitar 350an penonton hadir pada malam itu. Tampak para seniman dari kalangan generasi tua dan muda menghadiri pementasan ini.

Pementasan teater tari telah dimulai. Komposisi musik tradisional menggema di seluruh ruangan. Para aktor dan aktris masuk dari kanan panggung dengan membawa sapu lidi. Mula-mula aktor melakukan gerakan rampak orang menyapu, lalu gerakan menyapu tersebut menjadi gerak-gerak komposisi tari. Selanjutnya, para aktor yang lain masuk ke panggung memulai aktivitas layaknya orang-orang yang riuh di pasar tradisional. Hiruk pikuk. Sebuah pasar, Pasar Seret namanya.  Sementara itu, pemusik yang berada agak lebih tinggi dari para aktor —di atas setting yang berbentuk rumah kecil tempat para musisi memainkan musik tradisi— terus beraksi. Kain jarik hitam dan kebaya hitam, serta pakaian keseharian yang biasanya dipakai pedagang di pasar tradisional mendominasi kostum para aktor. Penggunaan backdrop panggung yang berwarna hitam juga membuat kesan warna hitam-hitam menyelimuti seluruh panggung.

Adegan demi adegan berlangsung. Warna-warni percakapan dan peristiwa terjadi di pasar tersebut. Mulai dari kisah Trimo si tukang sapu pasar yang frustasi, bakul (penjual) sayur yang mulai menjajakan VCD, HUMBURGER, serta tak ketinggalan hebohnya bakul pakaian bekas, dan aksi pencopet. Adegan-adegan yang dibangun menyiratkan kekonyolan masing-masing tokoh. Adegan yang sarat dengan guyonan. Sayangnya, beberapa guyonan bergaya sampaan yang menjadi ke-khas-an Teater Gandrik tidak cukup kental dan kurang segar. Sehingga penonton kurang merespon dengan tawa yang lepas, seperti saat menonton pementasan Gandrik sebelum-sebelumnya, yang kental dengan gaya sampaan-nya.

Akhir cerita, segerombolan orang yang berpakaian ala kontraktor bangunan membawa bambu-bambu, yang melambangkan tiang-tiang besi. Rupanya proyek pembangunan Mega mall telah dimulai. Tak ada yang bisa berbuat apa-apa selain menatap dan meratapi tiang-tiang yang menjulang. Tak ada lagi pasar. Sepi. Hanya suara mesin-mesin pembangunan gedung yang terus menggema. Adegan ini menjadi penutup pertunjukan Pasar Seret 3, pada malam itu.

* Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor Teater Garasi

(terbit di skAnA volume 08, November 2008 – Maret 2009)

*****

Kerabat Kerja

Artistik

Sutradara & Pengolah Kreatif Jujuk Prabawa, Heru Kesawa Murti, Djaduk Ferianto Koreografer Sutopo Tedja Baskoro Penata Artistik Feri Ludiyanto, Sutopo TB Stage Manager Ucil YBK Penata Cahaya Besar Widodo Penata Suara Yosi Properti Kuncung, Suyadi Make Up Jujuk P, Rully Isfihana kostum Bu Nus, Hanung, Rully Pemusik I Ketut Idep Pemeran Kerabat Teater Gandrik Muda Penari Kerabat Padepokan Seni Bagong K. Yogyakarta Koordinator Latihan Broto Wijaya

Produksi

Supervisor Butet Kertaredjasa Pimpinan Produksi Heru Handonowari Sekretaris Abdillah Yusuf Bendahara Jamiatut Tarwiyah Seksi Dana Butet Kertaredjasa Seksi perlengkapan Kuncung, Yopi, Feri Seksi Konsumsi Rulyani Isfihana Seksi Publikasi Heru Kesawa Murti, Hendra Seksi Grafis Hendra Himawan Seksi Transportasi Bambang Hariyanto Seksi Dokumentasi Aul

Komentar Penonton

“Rasanya garing, monoton. Biasanya kan Gandrik identik dengan adanya banyak kejutan-kejutan dalam pertunjukannya. Nah, untuk yang ini terasa monoton. Tapi ya secara keseluruhan menarik, mungkin juga karena ada yang tua-tuanya jadi agak tertolong. Hm.., terus tariannya itu nggak kompak dan beberapa vokal nggak kedengaran sampai belakang.”  (Ajeng Pakerti, 22 Tahun, Penggemar Gandrik)

“Kebetulan lama nggak nonton teater, ya ini cukup menghibur juga. Lucu.” (Indi, 26 Tahun, Trulyjogja.com)

“Ya cukup mengobati kerinduanlah setelah lima tahun nggak nonton Gandrik pentas. Apalagi ini Pasar Seret, jadi penasaran aja karena aku nonton yang dulu dimainkan oleh yang tua-tua itu. Hmm.., masih sama setting dan gayanya seperti dulu, gaya 70-an khas Gandrik. Tapi yang paling kelihatan beda ya musiknya. Meski menurutku ada yang berbeda dalam pementasan kali ini, tapi aku belum bisa ngomong halnya itu apa. Yang pasti pancingan-pancingan interaksi dengan penonton beda dari yang dulu, sekarang lebih berjarak. Mungkin udah beda kali ya? Ah, aku nggak tau juga…” (Frans, 32 Tahun, Tukang Motret & Dosen)

“Bagus, saya bisa melihat kombinasi antara musik, aktor, dan ekspresi yang sampai ke penonton. Blocking aktor pas, nggak ada yang saling menutupi. Musiknya juga lumayanlah…” (Chintya, 19 Tahun, Fisipol UGM)