Oleh: Andy Sri Wahyudi*

Anak-anak berlarian ke sana kemari dengan lincah dan wajah nan ceria. Malam itu, tingkah polah mereka menghiasi panggung pertunjukan. Mereka memainkan sebuah drama berjudul Jangan Rusak Hutan Kami, di Amphiteater Taman Budaya Yogyakarta pada tanggal 14 Agustus, pukul 20:00 BBWI.

Anak-anak yang tergabung dalam Kelompok Belajar Rejowinangun (KBR) itu memainkan perannya dengan lugu dan lucu. Ada yang berperan sebagai Pepohon, Hewan-Hewan, Peri Sabun, Matahari, Awan dan Monster Sampah. Seringkali akting mereka mengundang gelak tawa para penonton yang berjumlah seratus-an itu. Para penonton mengikuti setiap adegan dengan antusias, berharap ada kejutan lucu yang hadir.

Pada adegan awal, ketika pepohon sedang menari gembira, munculah awan dan matahari melintasi pepohon. Awan dan Matahari itu diperankan oleh dua orang anak, satu anak membawa awan, dan yang lain lagi berkepala matahari. Kemunculannya membuat para penononton yang kebanyakan orang dewasa itu, tertawa terbahak melihatnya. Mungkin dalam benak penonton, adegan itu terlihat aneh dan menggemaskan. Kemudian tiga Peri Sabun datang sambil meniup gelembung busa. Gelembung itu menghiasi suasana hutan yang mulai ramai dengan suara kicau burung-burung.

Setelah itu, adegan demi adegan bersusulan: sekelompok Monyet bergelantungan di tangkai-tangkai pohon, peri-peri menari, dan seekor kelinci meloncat-loncat mencari persembunyian karena dikejar Harimau. Suasana hutan menjadi sangat ramai. Hutan menjadi sebuah ekosistem yang akrab dan harmonis.

Akan tetapi di tengah keharmonisan itu, datanglah monster-monster sampah yang jahat dan beringas. Mereka mengacau suasana hutan dengan  memaksa hewan-hewan terus bekerja keras di luar kemampuannya, pohon-pohon yang tumbuh subur mereka sulap menjadi tiang-tiang listrik. Hutan telah dikuasai oleh si Monster sampah. Monster itu membelah diri menjadi banyak memenuhi hutan, hingga hutan menjadi kering dan tak terlihat lagi. Hutan tak lagi subur, asri dan bersahabat. Hutan akan hilang dari muka bumi karena ditelan Monster Sampah.

Pementasan teater anak Jangan Rusak Hutan Kami yang berdurasi 45 menit itu, di sutradarai oleh  Y. Thendra BP. Proses penggarapannya ditempuh selama satu bulan di kampung Rejowinangun. Pementasan ini adalah upaya menumbuhkan rasa kepedulian untuk menyayangi dan merawat lingkungan sekitar pada anak-anak dan remaja. Agar alam lingkungan sekitar akan tetap lestari seperti tergambar dalam bait lagu penutup di akhir pementasan itu. Ciptaan Gombloh, sang penyanyi legendaris:

Lestari alamku, lestari desaku di mana Tuhanku menitipkan aku. Nyanyi bocah-bocah di kala purnama, nyanyikan pujaan untuk Nusa. Damai saudaraku suburlah bumiku…

* Andy Sri Wahyudi, reporter skAnA, aktor dan sutradara Bengkel Mime Theatre

(terbit di skAnA volume 08, November 2008 – Maret 2009)


*****

Selintas Kelompok Belajar Rejowinangun

Kelompok Belajar Rejowinangun merupakan Kelompok Belajar untuk anak dan remaja. Didirikan pada tahun 2005 di kampung Rejowinangun. Aktifitas yang mereka lakukan yakni: menggambar, teater, ketrampilan tangan, dan menulis. Kelompok ini selain memproduksi karya sendiri, sering mendapat undangan untuk bermain teater, musik puisi, dan main film. Karena kegiatan kreatifnya, Kelompok Belajar Rejowinangun pernah mendapatkan penghargaan dari Walikota Yogyakarta pada bulan Agustus 2007, sebagai generasi pelopor seni dan budaya,.

Para Pemain:

Vallosa, Ari, Gilang, Linda, Alfan, Puput, taufik, Tina, Lia, Doni, Salma, Amar, Sherly, Putro, Rea, Dwi, Benny, Irwan, Eny, Diah aji, Putri, Amat, Diah, Widya, Sari.

Tim Kreatif:

Mutia Sukma, Ofi Nuhansyah, Rahmat Hidayat, Miftakul Efendi, Indrian Koto, Andika Ananda, Pipit Nur Ferani.

Komentar komentar

“Sangat menarik dan membawa pesan yang sampai sekarang sulit dilupakan. Pesan yang disampaikan simple, dan itu membuat saya merasa ternyata kita belum bisa menjaga lingkungan pentas mereka lucu, sederhana pula, tapi kompleks. Salut buat mereka.” (Danu Santosa, 23 Tahun, anggota kelompok bimbingan masyarakat)

“Seger! Saya suka dengan gerak-gerik para pemain yang lucu dan bikin gemes.” (Wahyudi, usia 27 tahun, pemuda kampung)

“Pentas kelompok belajar Rejowinangun bagi saya terkesan segar, hidup, dan mengharukan. Karena tidak “memaksa” anak menghafal teks dan gerakan dengan kaku, tetapi menggunakan gerak yang relative bebas dan alami. (mengikuti musik). Kita seakan menonton anak-anak asyik bermain. Mereka tampak begitu bersemangat dan riang. Sayang sekali para remaja yang ikut tampil  pada pentas itu, tidak selincah dan sesemangat adik-adik mereka itu. Entah karena kurang berminat, malu tampil di depan publik, atau mungkin karena kurang latihan?” (Katrin Bandel, Dosen dan kritikus Sastra)

“Asyik. Anak-anak itu main tanpa beban mereka berhasil membangun karakter di luar dirinya. Ada yang jadi burung, kelinci, suatu karakter yang dekat dengan dunia mereka.” (Romi Zarman, 24 tahun, Mahasisiwa universitas Andalas dan Penyair)

Advertisements