Oleh: Muhammad AB*

Pada tanggal 28 Agustus, pukul 20.00, di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta, Landung Simatupang membacakan nukilan novel Bilangan Fu karya Ayu Utami. Dalam pembacaan novel yang berdurasi kurang lebih 75 menit itu, Landung Simatupang tampil sebagai seorang pembaca yang prima meski telah berusia 56 tahun. Ia terlihat segar dengan kaus warna hijau, celana jins, serta rambut hitam mengkilap ketika disorot lampu.

Landung membacakan dua fragmen yang diambil dari novel Bilangan Fu. Landung tampil sebagai Yuda, yang menceritakan pengalaman dan pertemuan-pertemuannya dengan Parang Jati, sahabatnya yang berusaha melawan eksploitasi perbukitan gamping di pesisir selatan Jawa. Kisah pertama bercerita tentang sebuah pertunjukan drama tingkat SD yang menggambarkan masa kanak-kanak Parang Jati yang suka memberontak dan bengal. Kisah kedua menceritakan pengalaman Yuda ketika ia menyaksikan sebuah peristiwa kekerasan di desa tempat tinggal Parang Jati.

Dalam sebuah  adegan, Landung berdiri di bibir panggung, sambil membaca dengan gaya tutur seperti seorang kakek yang tengah mendongeng. Ia bercerita tentang Parang Jati kecil yang dengan sedih berlari ke arah Laut Selatan sendirian. Ia merasa bersalah karena telah menghasut temannya untuk berperan sebagai Nyai Roro Kidul dalam pentas drama SD untuk perayaan tujuhbelas-an di kampung. Sebentar kemudian, Landung berubah membacakan berita dalam surat kabar yang menjelaskan kematian  beberapa anak-anak di sebuah kampung karena keracunan susu pemberian dermawan dari kota.

Di fragmen kedua, Landung bercerita tentang desa tempat Parang Jati tinggal. Sebuah desa di pesisir selatan Jawa, di mana warganya masih mempercayai mitos Nyai Roro Kidul, hingga masjid di desa itu berkiblat ke Laut Selatan.Di akhir cerita kedua, Yuda dan Parang Jati yang sedang berkemah di atas sebuah bukit, menyaksikan sekelompok massa datang menyerbu desa membawa api dan membuat keributan. Mereka baru tahu kemudian kalau sekelompok massa tidak dikenal itu juga membunuh imam masjid yang mereka hormati, karena kiblat masjid itu menghadap ke Laut Selatan.

Dua cerita yang dibawakan Landung diambil dari kliping koran dan berita dari televisi, yang menunjukkan latar belakang cerita ini terjadi pada masa orde baru. Kisah-kisah di dalamnya berdasarkan kisah nyata, misalnya kasus susu beracun pemberian dermawan, dan penyerangan pada kyai yang dianggap sebagai dukun santet. Keduanya juga selalu dihubungkan pada kepercayaan mistis yang sudah turun temurun di dalam masyarakat, kebetulan juga keduanya berujung pada kematian. Hal ini seperti diutarakan Ayu Utami dalam booklet, adalah usahanya  mengkritik pemahaman agama-agama besar yang melihat kepercayaan-kepercayaan tradisonal di masyarakat sebagai hal yang menyimpang.

* Muhammad AB, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 08, November 2008 – Maret 2009)

Tim Kerja Pertunjukan:

Pembaca: Landung Simatupang/ Komposer dan Pemusik: Agustinus Surono, B. Anom Dwi Nugroho, Albertus Eko Susilo, Tomi Simatupang/ Produksi      : Engelina Prihaksiwi

Komentar Penonton:

“Pertunjukan yang luar biasa, Mas Landung ini kan bertindak seperti seorang dalang. Jadi bisa menghidupkan setiap dialog, ini sangat luar biasa. Dan sesuatu yang sangat luar biasa juga, penguasaan dia terhadap dirinya sendiri, (Landung Simatupang-red) seorang aktor yang bisa mengatur irama, tekanan, tanpa menjadi terlalu emosi, saya kira gak banyak juga yang bisa kayak gitu.” (Bakdi Sumanto, Dosen Sastra Inggris UGM)

“Sebenarnya cukup bagus. Ya saya suka dengan cara bacanya Mas Landung, isinya membuat orang merenung, gak ada humornya. Ini beda sama pas Landung baca cerpen Kuntowijoyo, itu banyak yang ketawa karena ceritanya memang membuat orang ketawa.” (Rachmat Djoko Pradopo, Dosen Sastra Indonesia UGM)

“Aku suka display panggung sama lighting-nya. Cuman aku nggak ngerti kenapa elemen-elemennya di panggung ada botol, ada dua lampu kecil, ada gunung semacam perbukitan, ada janur. Aku nggak ngerti konteksnya apa dalam cerita, jadi benang merah antara bentuk panggung dan ceritanya aku agak nggak nangkep.” (Ririt, 29 tahun, Fotografer)

“Monolognya bagus, cara penyajiannya itu aku suka. Aku sebagai orang awam aku suka monolognya. Aku suka dengan cara menyajikan ketika karakter-karakter suara yang berbeda, itu aku suka, lucu gitu jadi ketawa kalau karakternya ganti.“ (Wiwid dan Utik, 22 & 23 tahun, Mahasiswa Sastra Indonesia, UNY)

“Saya selalu suka dengan pembacaan Mas Landung, memang saya minta Mas Landung untuk baca ini karena ia pernah membacakan Saman dan Larung bertahun-tahun yang lalu. Saya merasa memang Landung adalah pembaca yang paling baik, belum ada yang di atas dia, atau bahkan setara dengan dia. Menurut saya, satu selain karena Landung memang matang, kedua, karena Landung punya dedikasi di bidang ini. Dia aktor tapi dia juga pembaca, itu yang mungkin memang nggak ada di Jogja. Jadi mungkin karena Landung sebagai aktor juga jarang main, ia banyak fokus ke teks ya.

Karena ini pertunjukan yang kedua, setelah di Jakarta kemarin. Kalau menurut saya sendiri ada beberapa perbedaan antara pembacaan di Jakarta sama pembacaan di Jogja, baik Mas Landungnya sendiri maupun ekpresi penontonnya. Saya kira dua-duanya itu ping-pong ya. Penonton Jakarta itu lebih, dalam kasus ini, lebih ekspresif dibanding penonton Jogja tadi. Tadi kok agak adem ya disini. Terus itu, titik-titik di mana mereka bereaksi itu beda, buat saya itu menarik.” (Ayu Utami, Penulis Novel Bilangan Fu)