Oleh : Wahyu Novianto*

Penciptaan teater atau segala bentuk kesenian selalu berorientasi pada dua kepentingan: teater sebagai media dan teater sebagai seni murni. Teater sebagai media meletakkan pertunjukan teater sebagai sebuah media atau alat yang mengemban misi-misi tertentu, seperti kritik sosial, pendidikan, dan lain sebagainya. Sedangkan teater murni adalah teater yang sepenuhnya berorientasi kepada pencapaian estetika. Dalam hal ini Teater Dinasti dalam Tikungan Iblis-nya, apakah masih memilih teater sebagai media, sebagaimana yang diyakini kelompok ini sejak tahun 1977, ataukah memilih teater sebagai seni murni (an sich)?

Pertunjukan-pertunjukan Teater Dinasti sejak berdirinya di tahun 1977, sarat dengan ekspresi sosial. Diantaranya repertoar Geger Wong Ngoyak Macan, Patung Kekasih, dan Sepatu Nomor Satu.  Dinasti meyakini bahwa teater adalah media kritik sosial kepada penguasa atas berbagai peristiwa yang dirasa menyimpang dari nilai-nilai kemanusiaan dan demokrasi. Pilihan bahasa ungkap Teater Dinasti tersebut nampaknya menurun dari saudara tuanya yaitu Bengkel Teater pimpinan WS. Rendra, yang kemudian juga berimbas pada teater Gandrik dan kelompok-kelompok teater lainya, khususnya di Yogyakarta.

Bengkel Teater, Teater Dinasti, dan Teater Gandrik ‘dibesarkan’ oleh pemerintahan orde baru. Setiap pertunjukan teater yang mereka bawakan selalu dipenuhi dengan tema-tema kritik sosial dan politik. Maka berbagai pertunjukan pun sempat dicekal oleh petugas keamanan karena dirasa akan membahayakan stabilitas nasional. Petugas keamanan (Polsek dan Kodim) yang sudah dibikin pusing dengan urusan SKKB (Surat Keterangan Kelakuan Baik) dan kasus pencurian ayam pun, dibebani tugas mengawasi pertunjukan teater.  Mereka mencatat dengan detail dialog-dialog yang dilontarkan oleh Rendra, Joko Kamto, dan Butet Kertarejasa, yang kemudian dilaporkan kepada atasannya. Begitu beratnya tugas bapak keamanan kita waktu itu.

Setelah era Reformasi di tahun 1998, gembok-gembok kebebasan ekspresi mulai terbuka. Panggung-panggung pertunjukan dipenuhi dengan cercaan rakyat kepada penguasa, seakan bisul yang diderita selama 32 tahun itu telah pecah. Bagaimana pun juga seekor serigala akan menjadi garang dan ganas, kalau ia dikurung dalam jeruji penjara. Tema-tema kritik sosial bagai jamur di musim hujan, namun akhirnya hal tersebut juga tidak bertahan lama. Justru kritik sosial menjadi tema yang  menjemukan dan basi. Di lain sisi, era keterbukaan justru membuat ekspresi kesenian kita menjadi melempem, seakan semua persoalan bangsa telah selesai.

Dalam hal ini Teater Dinasti dalam Tikungan Iblis-nya seakan mengingatkan kita kembali, bahwa persoalan-persoalan di dalam kehidupan kita masih sangat beragam. Tidak hanya persoalan manusia dengan manusia, manusia dengan penguasa atau sistem, tapi juga manusia dengan Tuhan. Teater Dinasti dalam Tikungan Iblis-nya tidak lagi menghadirkan persoalan hubungan manusia dengan kekuasaan, sebagaimana pertunjukan-pertunjukannya terdahulu yang dipentaskan kelompok ini. Kali ini Teater Dinasti menyadarkan kita bahwa persoalan hubungan manusia dengan Tuhan jauh lebih mendasar dari segala-galanya. Dirasa bahwa kini eksistensi Tuhan jauh kalah populer dibanding KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), partai politik, calon-calon presiden, dan para artis yang mendaftarkan diri menjadi caleg.

Tikungan Iblis, bercerita tentang Iblis yang menuntut kepada Tuhan agar diberhentikan dari tugas suci untuk menggoda manusia, karena zaman sekarang manusia lebih iblis dari pada iblis. Iblis tidak pernah memiliki tendensi dan keinginan untuk berkuasa, tapi manusia setiap harinya selalu dipenuhi keinginan untuk berkuasa dan memiliki. Iblis dan manusia adalah dikotomi antara kejelasan dan ketidakpastian, siang dan malam. Iblis adalah siang, di mana segala sesuatunya sudah jelas sifat dan hakekatnya, sedangkan manusia adalah malam, di mana semuanya berjalan dalam ketidakpastian. Dalam kelamnya malam, manusia akan menemukan cahaya yang terang benderang, kapan manusia menemukan cahaya yang terang benderang itu? Dimulai dari kita mati, di alam Barsyah, di surga atau neraka. Semuanya sudah jelas akan kemana, semuanya sudah terang.

Selama dua jam setengah, penonton disuguhi dengan gagasan-gagasan filosofis tentang iblis, malaikat, manusia, dan Tuhan. Kalimat-kalimat yang dilontarkan oleh para tokohnya cenderung bersifat pernyataan-pernyataan, sehingga kadang tidak terjadi hal dialogis antar tokoh. Cenderung bersifat pernyataan, maka dialog yang diucapkan pun tidak mewakili karakter tokoh. Pernyataan tersebut menjadi longgar sifatnya, dan dapat diucapkan oleh tokoh siapa saja. Dalam hal ini penulis naskah hanya sekadar meminjam tokoh untuk menyampaikan gagasan-gagasannya, tidak disertai dengan pembentukan tokoh yang dibentuk dengan tiga dimensional yaitu, fisiologis, psikologis, dan sosiologis, sebagaimana dalam naskah-naskah realisme.

Bahasa yang digunakan adalah bahasa puitik yang diucapkan dengan pola-pola akting ‘lakuan besar’ (grand style), sehingga menjadi mirip deklamasi dan terasa monoton. Penonton terkesan dipaksa untuk terus mendengarkan. Dalam hal ini penciptaan auditif tidak diimbangi dengan kreativitas visual. Padahal seyogyanya sebuah pertunjukan teater harus memenuhi empat kebutuhan penikmatan penonton yaitu, audio (pendengaran), visual (penglihatan), pikir (intelektualitas), dan rasa (jiwa). Keempat kebutuhan penikmatan tersebut dihadirkan harus sesuai dengan konteks kebutuhannya, artinya harus memiliki relevansi terhadap penciptaan unsur-unsur yang lain, dan tidak hanya sekadar sebagai tempelan atau aksesoris belaka.

Begitu pertunjukan Tikungan Iblis selesai, Cak Nun, sapaan akrab Emha Ainun Nadjib selaku penulis naskah berdiri di atas panggung, dan berkata, “Pertunjukan ini adalah doa, dan bukan teater.” Pernyataan tersebut mengingatkan saya pada pertunjukan-pertunjukan teater di zaman Yunani Klasik, di mana sebuah pertunjukan teater adalah persembahan dan permohonan kepada dewa kesuburan atau Zeus. Permohonan untuk meminta hujan, melakukan perburuan, dan lain sebagainya. Disadari atau pun tidak, kini Teater Dinasti telah mencoba untuk mengembalikan teater pada sejarah kelahirannya sebagai sebuah peristiwa religi, yang tidak hanya sekadar menghadirkan realitas di atas panggung.

Dalam pertunjukan teater di zaman Yunani Klasik dikenal dengan konsep tragedi. Tragedi dalam hal ini dimaksudkan sebagai sebuah ketidakberdayaan manusia melawan takdir. Nampaknya Tikungan Iblis pun menghadirkan tragedi. Tragedi yang dihadirkannya adalah ketidakberdayaan iblis melawan takdirnya. Iblis menyesali kenapa dulu saat Allah SWT menyuruhnya untuk bersujud kepada nabi Adam As, Iblis menolaknya sehingga harus diturunkan ke bumi dan diberi tugas menggoda manusia. Tetapi pada dasarnya iblis mengakui bahwa sebenarnya Iblis sendiri takut pada Allah.

Sebagai sebuah doa atau apapun itu, ketika dipertunjukkan untuk diapresiasi oleh publik teater, harus dibangun dengan memperhatikan aspek-aspek estetika. Karena bagaimanapun juga menciptakan sebuah pertunjukan teater memiliki konvensi-konvensi yang harus kita perhatikan: menciptakan kontruksi dramatik yang kokoh, membangun logika peristiwa, dan menghadirkan aksi visual dan audio dalam pertunjukan. Dengan berpedoman pada estetika pemanggungan, sebuah pertunjukan teater akan lebih enak untuk dilihat, meskipun dibebani dengan gagasan-gagasan yang absurd. Dalam hal ini Teater Dinasti nampaknya harus terus mengkinikan pengalaman visualnya dengan mengapresiasi berbagai pertunjukan teater masa kini, karena saya yakin setiap zaman akan melahirkan bentuk dan gaya yang berbeda-beda. Sehingga ke depannya pertunjukan-pertunjukan Teater Dinasti yang dipentaskan akan tampak kekiniannya, baik secara gagasan maupun visualnya.

* Wahyu Novianto, Pengkaji Budaya tinggal di Jogjakarta

(terbit di skAnA volume 08, November 2008 – Maret 2009)