>> Wawancara bersama Sutradara pementasan SAC: Holocaust Rising, Rosa Rosadi

Oleh: Hindra Setya Rini*

Pada edisi ini, skAnA berkesempatan menemui sutradara pementasan Holocaust Rising yang digelar pada 14-15 Oktober 2008 di gedung Societet Militer, Taman Budaya Yogyakarta. Rukman Rosadi, yang biasa disapa dengan Rossaini, selain sebagai aktor, ia sutradara sekaligus penggiat teater yang cukup produktif di Yogyakarta, bersama klub teaternya: Saturday Acting Club (SAC). Berikut bincang-bincang kami seputar Holocaust Rising, yang berbeda sekali dari pementasan SAC sebelumnya, yang lebih dikenal dengan akting realisnya.

skAnA: Niat awal mementaskan Holocaust ini, apa sih, Mas?

Rosa: Awalnya, ya aku melihat banyak fenomena di sekitarku. Fenomena kekerasan, dan ada satu cerita yang sangat personal yang begitu dekat denganku. Sebuah keluarga yang selalu hidupnya penuh kekerasan. Gila menurutku, jangan-jangan di luar sana ada lebih banyak lagi bentuk kekerasan yang lebih parah. Terus aku lihat kekerasan-kekerasan di tivi, yang aku sendiri sadar jangan-jangan aku juga ada dalam suatu perubahan itu. Masuk dalam bentuk kekerasan yang lain. Misalnya, aku bisa enak-enak aja ketika melihat kekerasan di tivi-tivi itu. Nah, ini gila. Kekerasan itu sudah seperti makanan sehari-hari, jadi kita merasa ingin menonton yang lebih dan lebih keras lagi karena sudah biasa. Jangan-jangan ada banyak orang melakukan kekerasan karena meniru dari tivi. Benar nggak ya, ini? Ya sudah, aku berniat bikin garapan yang ngomongin soal ini. Lalu aku pikir-pikir apa yang cocok dengan tema kekerasan ini. Lantas aku melihat ke belakang, aku ingat peristiwa besarnya perihal kekerasan. Aku ingat Holocaust itu, naskah dari Jerman, yang aku pikir juga ada kemiripan dengan peristiwa-peristiwa kekerasan yang terjadi sekarang ini.

skAnA: Bisa cerita sedikit tentang Holocaust itu, Mas?

Rosa: Holocoust itu asalnya dari bahasa Yunani Holocauston, yang artinya kalau nggak salah adalah persembahan yang memberangus habis. Semacam suatu peristiwa persembahan, tapi harus menghabiskan orang. Memberangus orang atau membakar orang. Itu awalnya Holocauston itu. Namun, istilah Holocaust itu menjadi popular ketika peristiwa Nazi. Ada 6 juta yang diberitakan mati, bahkan ada kabar 11 juta. Nah, itu memberanguskan Yahudi pada zaman itu. Di luar urusan politik segala macam yang melatari peristiwa itu, yang masih tetap kontroversial, ya aku ngambil peristiwa pembantaiannya aja.

Nah, di negara kita kan juga ada peristiwa serupa. PKI, misalnya. Ada banyak orang mati, sebenarnya, cuma sejarah kan yang masih nggak beres. Nah sekarang sebenarnya juga dapat dilihat kan, pembenaran-pembenaran yang melatari kekerasan itu; pembenaran atas nama ras, golongan, dan lain-lain, bahkan agama.  Kebeneran menjadi alat untuk menuju superioritas. Merasa agamanya paling benar, golongannya paling benar. Dari sanalah, kondisi itu memudahkan orang menyalahkan orang lain, golongan lain, serta mengakibatkan orang bisa membunuh orang lain atau melakukan kekerasan pada orang lain. Yang menurutnya salah, ya dihabisi. Saat ini, agama sebagai benteng terakhir ternyata juga bobol.

Nah, inilah yang membuatku merasa perlu menyampaikan ini pada penontonku. Ngomongin perihal peristiwa ini. Jangan-jangan banyak yang mengabaikan hal-hal ini yang nyata ada di sekitar kita. Setidaknya aku mengabarkan kepada mereka, inilah yang terjadi di sekitar kita. Jangan-jangan itu juga yang sedang mengubah karakter kita; anak-anak jadi lebih keras, orang-orang jadi punya ketegaan yang lebih besar, yang itu menurutku perubahan karakter yang banyak dipengaruhi banyak faktor. Salah satunya ya berita-berita kriminal itu, yang seharusnya kita empati, eh jadi enggak karena setiap hari kita sudah terbiasa. Kita jadi kebal dan menganggap itu biasa.

skAnA: Kemudian naskahnya sendiri gimana, Mas?

Rosa: Nah, lalu aku mencari naskah apa yang mengakomodir kegelisahanku. Ternyata nggak ada, ya jadinya bikin sendiri. Biar terasa lebih dekat untuk membicarakan soal-soal itu, ya lebih baik kalau bikin sendiri. Jadilah judul Holocaust Rising. Awalnya Holocaust A Rising, tapi kurang tajam. Jadi Holocaust Rising aja, yang artinya munculnya bibit-bibit Holocaust.

skAnA: Salah satu adegan di ruang keluarga yang sempat diulang-ulang itu merupakan potret kekerasan yang diambil kan, Mas? Ada maksud tertentu atas repetisi itu?

Rosa: Ya. Itu adegan yang memang sengaja disangatkan. Menurutku, kadang sekali aja nggak cukup. Orang bisa lupa atau cuma melihat sekilas. Jadi itu pengulangan yang tujuannya agar apa yang kami ingin sampaikan benar-benar sampai. Sangat sampai kepada penonton. Bukan bermaksud membodohi penonton dengan berita-berita pengulangan. Seperti salah satu monolog tokoh di adegan itu yang sangat ditekankan, “Pertempuran bisa terjadi kapan saja dan di mana saja, tidak pernah membosankan, tidak pernah menjenuhkan, karena binatang di dalam dirimu dibiarkan keluar kandang.” Ya, aku menganggap manusia punya sifat binatang masing-masing. Kita tahu hukum atau konstruksi binatang, yang kuat memakan yang lemah.

skAnA: Itu kemudian diturunkan ke bentuk akting ya, mas? Bagaimana dengan aktor?

Rosa: Mm.. karena ini klub akting ya, bukan directing, maka aku memang pengennya nggak hanya pada satu style akting tertentu. Misalnya realis atau apa gitu. Inginnya menjelajahi kemungkinan akting. Di Holocaust kan banyak sekali style aktingnya; ada realis, ada tubuh. Aku berpikir untuk mengawinkan yang lama, yang baru, atau mencampur keduanya itu. Naskah ini membuka kemungkinan itu. Di sana ada tokoh orang desa, orang modern juga. Bahkan berkaitan dengan tema, aku jadi merasa bibit-bibit Holocaust itu juga bisa ada di pelosok sekalipun. Ini melahirkan pola-pola akting yang kaya juga.

skAnA: Bagaimana prosesnya, Mas?

Rosa: Teks ini berjalan sambil latihan, dan memang agak berat buat aktor-aktornya. Lalu aku mengambil beberapa strategi yang aku pikir itu cepat, karena waktunya cuma dua bulan. Aku langsung membagi-bagi metode sesuai dengan kebutuhan. Misalnya; latihan fashion show, latihan tubuh binatang, dan lain-lain. Itu latihan dulu tanpa naskah. Aktor lalu menawarkan dan kalau pas (cocok), itu yang diambil. Ya aktor melakukan dulu, dan nggak usah banyak tanya. Aku cuma bilang itu akan dipakai di adegan, jadi lakukan saja dulu. Sembari aku menyusun naskahnya secara keseluruhan. Setelah beres, aku kasih konstruksi cerita, lalu terakhir ngasih isi dan meyakini apa yang sudah dilakukan. Observasi binatang lewat nonton video, dan kekerasan bisa dibaca di koran-koran, lalu kita mendiskusikannya. Ya ini ditempuh karena waktunya pendek, jadi setiap hari latihan selama 6 jam. Aku sangat terbantu karena ada asistenku, Gogon. Aku sangat terbantu karena aku juga ngerjain naskahnya disamping kesibukan yang lain. Mm.. soal naskah sendiri juga sangat padat dan agak berat. Ada banyak penjelasan yang nggak sempat dimunculkan di naskah karena memang dipadatkan. Tapi nggak apa-apa, aku biarin ajalah. Penonton mau menangkap yang mana, terserah penontonnya. Aku percaya penonton juga pintar.

skAnA: Rencana setelah ini?

Rosa: Holocaust akan dipentaskan lagi, bulan Februari. Tapi akhir Desember ini pentas lagi dengan naskah yang lain. Tetap naskah sendiri. Kita juga memang konsen di akting. Ke depan ini memang kita ingin menjelajahi akting seluas-luasnya. Lalu teknik yang akan digunakan jadi tantangan buat teman-teman aktor.

skAnA: Bisa cerita tentang idenya, Mas?

Rosa: Ya, kita akan pentas di Kedai Kebun Forum, dan kita nggak pakai setting apapun. Ruang kosong. Aktor yang biasa keluar masuk lewat side wing, mereka akan menempel di tembok atau dinding. Membentuk relief-relief yang menyusun cerita sendiri. Ya itu salah satunya. Sekarang para aktor sudah observasi ke candi-candi, mempelajari relief dan cerita-cerita yang ada di dinding-dinding candi itu. Itu aja dulu, tunggu tanggal mainnya ya.

* Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor Teater Garasi

(terbit di skAnA volume 08, November 2008 – Maret 2009)

*****

Sekilas Profil

Nama                               : Rukman Rosadi (Rossa)

Alamat                            : Jl. Suryodiningratan MJ 2/916 Yogyakarta

E-mail                              : rosadi999@yahoo.com

Mengajar di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, jurusan teater sejak 1998 hingga sekarang. Mengampu mata kuliah: Dasar-dasar Akting, Akting Realisme, Monolog, Teori Akting, Olah Tubuh, Penyutradaraan Realisme.

Tiga tahun terakhir, sebagai aktor terlibat dalam pentas rekonstruksi BIP BOP, sebagai Oidipus dalam Oidipus Tyranos bekerjasama dengan seniman-seniman Australia. Sebagai sutradara dan penulisL Children First, Smoke and Ice Cream, Zero Matrix, Heart Poison, Holocaust Rising, Come and Go (Beckett), Le Guichet (Jean Tardieu), Lithuania (Rupert Brook).

Advertisements