Oleh: Jami Atut T.*

Tertawa  adalah reaksi pertamaku sewaktu Hindra, salah seorang awak skAnA memintaku untuk menulis proses penggarapan naskah The Seagull/Camar karya Anton Chekov. Diadaptasi oleh Gunawan Maryanto, dan disutradarai oleh Corrina Manara dari Teater Embassy Belanda, yang kebetulan sedang residency di Teater Garasi. Sembari mengumpulkan ingatan yang sudah tercecer tentang proses ini, baiklah kucoba membagi ceritanya (agak grogi juga karena ini pertama kalinya aku menuliskan pengalamanku) kepada teman-teman pembaca semua.

Semula aku tidak pernah menyangka akan ditelepon oleh seorang rekan dari Teater Garasi, yang kemudian mengajakku bergabung dalam proses penggarapan naskah Camar. yang akan disutradarai oleh Corrina Manara. Perempuan berusia 32 tahun ini ingin membuat sebuah karya kolaborasi dengan seniman lokal di Jogja. Sebuah ajakan atau tepatnya kesempatan yang tentu saja tidak akan ku biarkan lewat begitu saja.

Awal pertemuan kami bertiga (aku, Corrina Manara, dan Naomi Srikandi sebagai penerjemah sekaligus asisten sutradara dalam proses ini) dimulai dengan membicarakan tentang ide yang akan diusung dalam pementasan nantinya. Aku menangkap bahwa sebuah ide yang sangat menarik untuk direalisasikan di atas panggung. Menarik karena ada sesuatu yang baru dan berbeda secara visual. Penggarapan Camar lebih memprioritaskan bentuk. Sebelumnya saya tidak mempunyai referensi pemanggungan yang pas untuk gagasan ini.  Bingung pada awalnya, karena gagasan si Sutradara inginnya menggarap naskah Camar secara non realis. Yang artinya, di sini para aktor diajak menanggalkan pikiran-pikirannya tentang kecenderungan (penggarapan panggung dan akting) yang ‘kudu’ realis karena sedang menggarap naskah-naskah Anton Chekov yang dikenal sangat realis itu. Di tengah kebingunganku, akhirnya aku berpikir, mungkin akan jauh lebih mudah kalau aku langsung masuk dalam proses latihan untuk segera merealisasikan ide-ide atau gagasan sutradara.

Setelah perbincangan kami di awal, aku mulai mengetahui Corrina tidak menyukai realisme sedangkan aku termasuk aktor yang selalu berkutat dengan gaya akting realis. Ada sedikit pertentangan ketika aku mulai membaca naskah dan mengingat gagasan yang kami bicarakan waktu itu. Tapi kuabaikan saja. Bagiku setiap kalimat yang Chekov ciptakan penuh dengan unsur-unsur komedi “nakal” yang segar. Saat aku mulai reading, aku membebaskan diri dari gagasan pementasannya. Aku menikmati betul setiap kalimat dan berusaha meliarkan imaji sebelum masuk ke dalam proses latihan bersama aktor-aktor yang lain. Melafalkan kalimat-kalimat yang menggelitik membuatku tersenyum sendiri.

Saat memasuki latihan bersama aktor yang lain, aku masih ingat betul sms yang aku terima dari Mbak Omi (Naomi Srikandi) yang isinya: Jangan lupa bawa baju latihan yang nyaman karena besok kita ada sedikit pemanasan. Aku bertanya pada diriku sendiri, “Hm… Kali ini aku berproses bersama temen-temen Garasi yang terbiasa dengan tubuh sebagai media utama dalam berteater. Kira-kira apa yang akan mereka lakukan padaku, terutama pada tubuhku? Haha, mungkin tubuhku akan shock karena sebelumnya hampir satu tahun aku berproses bersama teater Gandrik yang  selalu happy.” Gojek kere dan gaya slenge’an para pemainnya adalah salah satu cara  bereksplorasi di Teater Gandrik dalam mencari, dan mendapatkan bentuk yang diinginkan bersama untuk pementasan. Terlepas dari itu semua (pikiran-pikiran dan kebiasaan berprosesku), sebagai aktor saya harus siap menerima materi apapun yang akan sutradara berikan dalam latihan, termasuk merelakan tubuh suburku sebagai media penyampai gagasan. Oh, ya, dalam proses Camar aku berperan sebagai Irina.

Kesan berikutnya, di sini saya beruntung bertemu dengan aktor-aktor yang hangat dan terbuka, padahal awalnya saya merasa canggung karena saya termasuk aktor yang terlambat masuk dalam lingkaran proses latihan. Dalam proses Camar para aktor dikenalkan dengan beberapa metode yang masih terasa asing, terutama karena aku tidak mengikuti workshop yang diberikan sutradara di Banjar Mili sebelumnya. Hidden tought dan side scene merupakan salah satu metode yang dilatihkan pada aktor.

Hidden tought adalah pikiran-pikiran tersembunyi, yang dibayangkan aktor mengenai para tokoh yang diperankannya—dengan catatan: tidak terdapat pada teks / naskah—yang harus dikeluarkan di tengah-tengah dialog dengan takaran yang pas dan sesuai dengan persoalan yang ada (sinkronisasi cerita). Seperti dalam dialog Irina kepada tokoh Nina seorang aktris pendatang baru “Selamat Nina, aktingmu sangat luar biasa sekali, tapi… kenapa wajahmu yang cantik dan suaramu yang indah itu kau sembunyikan di kampung ini.“ Sedangkan hidden tought Irina ingin menyampaikan bahwa akting Nina buruk sekali. Contoh: “Coba kalian lihat! Akting Nina begitu buruk, apalagi suaranya, ouw…sama sekali tidak merdu dan wajahnya tidak cantik.”  Dalam hal ini Irina sebenarnya menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya terhadap Nina, tetapi harus dia sampaikan di tengah-tengah dialog kepada penonton. Seperti kata Brechtian “tiba-tiba menjadi dan kembali menjadi” yang artinya para aktor  dituntut untuk keluar masuk dari peran dan tokoh masing-masing menjadi dirinya yang asli, tapi secepat mungkin kembali lagi ke dalam  karakternya.

Sedangkan Side Scene adalah adegan samping di luar realitas dari adegan utama. Awalnya memang terasa asing dan membingungkan. Sebagai aktor saya sempat merasa khawatir kalau-kalau kurang tepat dalam menerapkan kedua metode ini. Setelah melewati hidden tought dan side scene yang pertama. Aku baru menyadari bahwa kedua metode tersebut merupakan salah satu cara untuk mempermudah para aktor agar memahami karakter tokoh dan alur cerita.  Juga untuk mengekplorasi naskah dan pikiran terdalam kita, yang tidak sempat terpikirkan sebelumnya. Lantas apa bedanya dengan  berimprovisasi atau bermain-main dengan teks? Sebenarnya sama, tetapi hidden tought di sini sifatnya kurang lebih untuk menjembatani  realitas dan non realitas dari adegan ke adegan.  Begitu juga dengan side scene (tapi side scene di sini media penyampaiannya lebih ke tubuh), misalnya karakter tokoh Irina, seorang aktris  terkenal pada masanya yang sudah berumur, sombong, merasa seksi, cantik, dan mempunyai emosi yang meledak-ledak. Di beberapa side scene Irina diimajinasikan seperti gunung, burung elang atau sungai yang beraliran deras dan penuh cadas. Kemudian divisualkan dengan bentuk tubuh yang cenderung horizontal, dan gerakan tubuh yang dibesarkan (semula dari gerakan realis lalu menjadi tidak realis / tidak wajar). Sungguh tidak mudah ketika menerima dan masuk dalam kultur yang berbeda dan asing seperti metode hidden tought atau side scene yang diberikan.

Sebagai astrada, Naomi Srikandi melihat kebingungan dan kegelisahan yang sangat pada para aktor. Apa yang membuat para aktor belum bisa memaknai dan menemukan gagasan yang sutradara inginkan waktu itu. Kemudian Mas Cindil memberikan workshop kecil yang berefek besar terhadap pemahamanku tentang apa yang sebenarnya diinginkan sutradara. Lalu semua aktor berusaha mencari bentuk dengan cara mengeksplorasi imajinasi, tubuh, pikiran dan rasa untuk sampai pada tujuan visual dan ruang yang ingin diwujudkan dalam pertunjukan Camar.

Dalam proses ini setiap aktor mempunyai cara atau metode tersendiri dalam pencariannya di luar dari metode yang diberikan sutradara. Pembebasan sutradara kepada aktor inilah yang dinilai penting oleh setiap aktor untuk memunculkan ide-ide baru, yang kemudian diseleksi oleh sutradara untuk pencapaian bentuk visual maupun non visual. Pembebasan sutradara inilah yang segera kami eksplorasi secara maksimal sampai kami para aktor merasa lelah. Namun, justru saat kelelahan yang mendera itu, kami mendapatkan apa yang tidak kami sadari malah menjadi bentuk yang diinginkan sutradara secara artistik. Tetapi acapkali kami masih merasa belum puas, karena kami merasa sutradara lambat dalam mengeksekusi (kurang cepat  mengambil langkah ketika mendapati persoalan dalam prosesnya). Kembali lagi pada latar belakang dan kultur yang berbeda. Aku pikir memang mungkin inilah kendala prosesnya, selain perihal bahasa dalam berkomunikasi. Bagaimanapun aku merasa beruntung mendapati teman-teman yang selalu memberikan masukan dan semangat, terlebih teman-teman Garasi yang selalu meyakinkan kami; bahwa ini adalah gagasan segar yang sangat menarik untuk dipertunjukkan.

Pergulatan pikir, rasa, dan ruang yang telah dilakoni selama hampir tiga bulan membuatku semakin yakin dengan apa yang sudah dilewati dari proses yang begitu melelahkan. Tapi menghasilkan satu bentuk peristiwa kesenian yang diyakini dan kritis. Dengan segala keterbatasan, akhirnya proses Camar berhasil menjadi sebuah pertunjukan yang bisa diapresiasi oleh penonton. Aku berbahagia, karena semua ini juga happy. Proses Camar banyak memberikan input yang luar biasa dalam perjalananku sebagai aktor. Banyak hal yang aku temukan; bukan sekadar teman baru, lingkungan baru, pengalaman baru, saudara baru, tapi juga merasa menjadi sebuah  keluarga baru yang menata pondasi dari ketidak-tahuan akan tanah yang kami pijak, dan sepakat dijalani bersama.

* Jami Atut T, Aktor Independen, Mahasiswi Teater ISI angkatan 1999, tinggal di Jogja.

(terbit di skAnA volume 07, Juli – November 2008)