Oleh: Muhammad Anis Ba’asyin*

Kusa (Alex Suhendra), seniman muda yang sedang merintis karier dicerca oleh Irina (Jami Atut P.), ibunya sendiri. Irina tidak suka dengan pertunjukan yang dibuat Kusa, ia mencercanya dan bersama Trigor (M. Qomaruddin) meninggalkan Kusa pergi. Kusa seniman muda yang karyanya aneh, tidak banyak disukai, tetap berusaha untuk meyakinkan ibunya, berusaha mendapatkan perhatiannya. Sementara Nina (Hindra Setyo Rini), kekasih Kusa yang bermain dalam pertunjukan yang dibuat Kusa pergi meninggalkan panggung sebelum pertunjukannya selesai. Ia menangis dan bersembunyi di bawah panggung.

Camar bercerita tentang impian dan perasaan di dalam diri seniman-seniman muda yang sedang berusaha mendapatkan pengakuan. Kusa harus kehilangan Nina, begitu juga ibunya yang tidak menyukai bentuk kesenian Kusa. Mereka berdua lebih memilih Trigor, penulis muda yang bukunya banyak dibaca dimana-mana. Untuk mendapatkan perhatian dari orang-orang di sekitarnya Kusa memberi Nina seekor camar yang sudah ia tembak mati. Walaupu Nina tetap mengacuhkannya, dan ia harus menyimpan camar itu sendiri.

Kusa bahkan berusaha menembak dirinya sendiri. Ia tak mati, tapi Masya (Wiwara Awisarita) jatuh cinta padanya, dan ternyata ia gemar menonton pertunjukan Kusa. Tentu saja Masya menonton bersama dengan Simon (Wisnu Yudha), kekasihnya.

Impian dan perasaan tokoh-tokoh di dalam Camar menjadi bagian unik dari pertunjukan. Ditampilkan dalam bentuk tubuh para aktor yang bisa tiba-tiba berubah ketika berdialog dengan pasangan mainnya. Misalnya, ketika Trigor bersama Nirina sedang berduaan, Trigor tiba-tiba mengucapkan dialognya seperti ular yang sedang mengelesot di tubuh Nirina, lalu kembali lagi duduk dan berbicara dengan Nirina seperti sedia kala.

Ketika Kusa sedang berbicara dengan Masya, Simon tiba-tiba berdiri di dekat mereka, berdiri dan menggigil ketakutan. Sementara Kusa tetap berbicara dengan Masya seperti tak ada Simon di dekat mereka. perasaan-perasaan itu jgua dimunculkan lewat aktor yang mengucapkan dialog-dialog seperti sedang berbicara pada dirinya sendiri atau berbicara kepada penonton. Perasaan takut, gembira, bimbang, gelisah dimunculkan bergantian melalui bahasa tubuh para aktor. Perasaan-perasaan itu bisa muncul di tengah-tengah dialog yang mereka ucapkan, atau ketika aktor yang lain berbicara.

Pada akhirnya impian dan perasaan tokoh-tokoh di dalam Camar harus menghadapi kenyataan yang ternyata tidak seindah yang mereka bayangkan. Nina ditinggalkan Trigor dan mengubur impiannya menjadi bintang, Kusa masih tetap merindukan perhatian ibunya, dan karya-karyanya tetap tak diperhitungkan. Sementara Trigor harus meninggalkan Nina untuk bersama Irina. Ketika ambisi-ambisi luruh dan harapan perlahan menghilang Nina kembali pada Kusa. Dan ternyata Kusa masih tetap saja menulis puisi-puisi dan menyanyikan lagu untuk Nina.

Camar adalah naskah adpatasi Gunawan Maryanto dari Seagull karya Anton Chekov. Ditampilkan di Studio Banjarmili pada tanggal 29-30 Juni, pertunjukan yang tidak menarik biaya untuk penonton ini cukup diminati, ini nampak dari antusiasme penonton dalam dua malam pertunjukan itu. Pertunjukan ini adalah bagian dari program residensi Corrina Manara, sutradara Theatre Embassy Belanda di Teater Garasi. Pertunjukan ini adalah bagian dari program residensi Corrina Manara, sutradara Theatre Embassy Belanda di Teater Garasi. Para aktor dalam pertunjukan ini merupakan aktor-aktor muda dari beberapa komunitas yang ada di Jogja.

* Muhammad Anis Ba’asyin, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 07, Juli – November 2008)


*****

Tim Kerja

Sutradara Corrina Manara/ Asisten sutradara Naomi Srikandi/ Aktor Alex Suhendra, Hindra Setya Rini, Jami Atut P., Muhammad Nur Qomaruddin, Wisnu Yudha Wardana, Wiwara Awisarita/ Penata musik Risky Summerbee/ Penata cahaya Ignatius Sugiarto/ Penata artistik Novi Kristinawati/ Stage manager Wisnu Yudha Wardana/ Pimpinan produksi Reni Karnila Sari

Komentar Penonton

“Pertunjukannya keren…, warna-warninya bagus aku suka itu. Ceritanya itu tadi gimana ya aku kok kurang nangkep” (Rahmat Riyadi, 21 tahun, Mahasiswa UGM)

“Musiknya bagus, banyak peristiwa yang menarik… aku suka sama gerakantubuh mereka sambil mengatakan sesuatu. Kayake pas gitu. Aku jgua suka pas ada yang nyanyi, terus yang di belakang menari. Kayknya jaman sekarang banget” (Putri, 20 tahun, Mahasiswa UMY)

“Mereka tampilnjya total gitu… sering melakukan gerakan bersama yang kompak. Awalnya tak kira pertunjukannya ga seperti ini, tapi ternyata ini jauh banget dari yang tak bayangin. Terus adegan terakhinya pas ada akor yang main gitar di pojok panggung… wah itu ya keren banget” (Yuyun, 23 Tahun, Unstrat UNY)

“Pencahayaannya eksperimen yang mengesankan. Tapi saya gak bisa memahami alurnya dengan utuh. Seperti kepingan-kepingan yang banyak dan harus disatukan sendiri.” (Doni, 24 tahun, penikmat teater)

Advertisements