Oleh: Muhammad A.B & Hindra Setya Rini*

skAnA berkesempatan mewawancarai awak Teater Toedjoeh di markas mereka di seputaran Condongcatur. Tepatnya di sebuah rumah milik salah satu anggotanya, seusai mereka berlatih. Sekitar enam puluh menit, kami bercakap-cakap santai dengan ditemani alunan lagu Gloomy Sunday yang dilantunkan dalam berbagai versi. Meski obrolan ini dilakukan di garasi rumah yang juga tempat mereka berlatih, sembari duduk lesehan di atas selembar tikar, yang terasa adalah suasananya yang ngelangut tapi hangat…  …Sunday is gloomy, my hours are slumberless…

Biasanya memang ngumpul di sini, Mas?

Guntur:

Kami dulu punya rumah sendiri, kontrakan. Dekat dari sini juga. Tapi sekarang, untuk sementara kami berlatih di sini. Sambil menunggu tempat baru yang cocok. Kebetulan rumahnya ini mau dijual. Kalau ada pembaca skAnA yang berminat silahkan kontak-kontak saya ya, hehehehe… Lumayan buat modal Teater Toedjoeh, hehehe. Nanti skAnA dapatlah tiga persen dari hasil penjualan.

Wehh, syipppp! Kami siap. Tapi komisi makelar bisa jadi 10% gak, Mas? Hehehehe…

Ricky:

Ya, sebenarnya kami mau beli tanah juga sih, kalau rumah kayaknya terlalu nanggung.

Guntur:

Ya, nanti gampanglah. skAnA pokoknya dapet komisi, soalnya ada di naskah itu juga…

Loh, naskah apa, Mas?

Guntur:

Kita mau produksi pertunjukan Glengerry Glenrose. Pernah nonton filmnya? Atau baca naskahnya?

Iya, pernah dengar… Bisa minta diceritain sedikit ya, Mas…

Guntur:

Glengerry Glenrose itu yang nulis David Mamet, dia dapet Pulitzer untuk naskah itu tahun 1984. David Mamet itu yang bikin A Life in Theatre juga. Sudah diterjemahin ke bahasa Indonesia kok. Tapi penerjemahnya siapa, aku lupa. Naskahnya pernah difilmkan dan yang main Al Pacino dkk, tahun 1992.

Ini pertama kali dimainkan?

Guntur:

Yap. Perdana untuk di Indonesia, Mas. November, tanggal 13-14 November 2008 nanti kami akan pentas di Lembaga Indonesia Perancis (LIP).

Berapa orang yang main?

Guntur:

Ada tujuh orang, enam laki-laki satu cewek. Cuma yang cewek tadi pulang habis latihan.

Ini semuanya yang main anggota Teater Toedjoeh?

Guntur:

Ooo, nggak semua. Kami ngajak teman-teman dari kelompok lain juga. Ada Ricky, dia dulu teman di Sanata Dharma, jadi kami sudah kenal lama. Terus ada Anggit dari Sekrup (UNY) atau Gamblank Musical Theatre (GMT), gitu.. Ya, aku pernah nonton dia pentas, terus aku pikir asyik nih kalau bisa kerja bareng sama ni orang. Ya terus kontak-kontakan, sama seniornya juga. Ya dia mau, ya udah kami ajak main.

Anggit:

Aku dari sekrup

Kok mau diajak kerjasama mereka? Hehehe…

Anggit:

Lha aku diintimidasi dan dipaksa, hehehehehe.

Guntur:

Soalnya kami di Teater Toedjoh ini kan kekurangan aktor. Kami Cuma ada delapan orang.

Ricky:

Delapan orang itu saja manajemen semua, hehehehe..

Guntur:

Makanya tiap kali proses, kami harus cari aktor biar pertunjukannya bisa jalan.

Nah, awal mulanya bagaimana Teater Toedjoeh ini, Mas? Orang-orangnya siapa, dan dari mana aja?

Guntur:

Kami semua itu kumpul di Teater Lilin, Atmajaya. Awalnya semuanya anak-anak Atmajaya. Terus ada beberapa orang dari Sanata Dharma. Awalnya kami ada beberapa orang. Ketika berdiri tahun 2005 itu, Teater Toedjoeh berjumlah 21 orang. Terakhir kami jalan delapan orang. Nah, sekarang kami tinggal tujuh orang.

Sekarang ini produksi yang ke berapa mas?

Guntur:

Ini produksi yang ke-10 dari Teater Toedjoeh, dari tahun 2005. Tapi kalau pentasnya sudah ada sekitar 16 kali, ya sama nanti ini jadi 17. Tapi kebanyakan pentasnya itu pentas komunitas. Ya di kampus kecil-kecilan, ditanggap panitia seminar 100 tahun Romo Mangun di UKDW, semacam itu…

David:

Eh, bukan. Tapi 76 tahun Romo Mangun…

Guntur:

Ya, biasanya ditanggap kalau ada acara gitu. Terus dulu pernah ada acara di Desa Klepu kita juga main di sana. Tapi kalau yang produksi sendiri dengan publikasi dan mengundang penonton umum itu, ya ini yang kedua. Yang pertama itu bulan Maret tahun 2007, di Kedai Kebun Forum (KKF). Judulnya Hujan Pukul Lima.

Susah senangnya yang dihadapi Teater Toedjoeh selama ini apa, Mas?

Guntur:

Hahaha… Wah, banyak. Dulu sebelumnya nggak cocok sama kampus terus memutuskan keluar. Meski beberapa orang punya sejarah yang dalam dengan kampus, tapi kami juga punya masalah di sana. Lalu, pernah waktu ada kerjasama dengan salah satu gereja dan kita juga sempet nggak cocok… Ya kami merasa ingin independen aja, nggak punya tendensi apa-apa dan nggak suka diberi tendensi untuk apa oleh satu kelompok tertentu…

David:

Oh, iya, pernah punya kesalahan di KKF, dan kami nggak boleh pentas di sana lagi. Maafkan kami, Mbak Neni… Itu gara-gara salah satu kru memaku dinding ruang pertunjukan yang sudah diwanti-wanti dari awal bahwa di sana nggak boleh memaku. Gitu, ceritanya…

Dan yang dilakukan teman-teman sekarang untuk Teater Toedjoeh ke depan?

Guntur:

Selain pentas, kami bergerilya… Ke kampus-kampus, ke teman-teman sendiri,  ya untuk massa Teater Toedjoeh juga. Pentas ke depan ini kami juga rencananya ngajak kerjasama dengan Unsud Purwokerto dan UMM Magelang, untuk bantuin manajemennya. Awalnya mau pentas bulan Juli ini tapi mundur ke bulan November.

Tim artistiknya, Mas?

Guntur:

Kebetulan saya sutradaranya. Ya baru belajar sih. Ini kali kedua saya bikin realis setelah naskah Pagi Bening di UKDW. Pentas yang penontonnya teriak minta kami turun. Hahahaha…

Teman-teman yang lain:

Pentas salah konteks, mas! Acaranya tuh parodi atau lucu-lucuan gitu, nah kita bawain pentas serius. Jadi ya disuruh turunlah…hahaha  (Semua yang ada di ruangan tertawa.)

Guntur:

Tapi waktu itu ya sudah lah…hehehe. Oh, iya, ngomong-nomong soal serius itu, awalnya kami itu orderan. Nggak serius sama sekali. Ditanggap pas acara-acara ulang tahun, terus dibayar. Pernah menang lomba dramatisasi, dan dapat duit lumayan gede yang kami bingung mau diapain. Lalu mikir untuk bikin pentas yang lebih serius. Waktu itu optimis aja, dari teater juga bisa dapet duit. Nah, mulailah bikin pertunjukan yang nyari uangnya sendiri, mikir pentasnya, gimana menajemennya, dan lain-lain.

Nah, setelah jadi kelompok teater serius itu?

Teman-teman Teater Toedjoeh:

Jadi sepi tanggapannya, Mas. Hahahaha, nggak laku!

Ooo… Terus bagaimana teman-teman menyikapi ini?

Guntur:

Akhirnya ya kami sadar kami harus bikin dua bagian, keseniannya dan manajemen. Kami juga berpikir untuk punya penghidupan yang lain di luar teater. Kan memang umum sekali orang bilang di teater itu nggak bisa jamin untuk hidup. Tapi kita tetap memilih seni ini untuk seni itu sendiri. Urusan makan mungkin cari lahan lain. Kita juga mikir untuk buka usaha juga sih, Mas. Bisnis apa, kek.. Dan kita tetap serius berteater, gitu…

Kita coba bikin target-target per tahunnya. Untuk tahun 2012 nanti pengennya kita sudah nemuin style/gayanya Teater Toedjoeh itu seperti apa. Untuk tahun ini kita mau mempelajari realis abis deh.., tahun berikutnya baru menjelajah yang lain. Belum tahu bentuknya ke depan akan seperti apa. Nama Teater Toedjoeh sendiri juga nanti bisa berubah kok jika suatu saat dibutuhkan. Untuk saat ini ruang lingkupnya Teater Toedjoeh ya masih Jogja aja dulu.

Yang dibutuhkan Teater Toedjoeh sendiri untuk mencapai target?

Guntur:

Butuh teman-teman baru, yang punya semangat dan ide-ide yang baru, dan yang pasti punya visi yang sama… visinya kami kan Body, Mind, Soul, Kitchen. Yang artinya dapurnya tubuh, pikiran, rasa. Begitu…

Ricky:

Eh, tapi bisa juga urutannya begini; tubuh, pikiran, rasa, baru dapur…hahahaha.

Hm… Untuk Glengarry Glenrose, apa saja yang sudah dilakukan?

Guntur:

Kita sudah latihan rutin satu kali seminggu, kita panggil mentor untuk latihan dan ada kelas teorinya juga. Ya, ini juga terinspirasi dari Actor Studio. Karena ini konsepnya akan digarap dengan gaya realis abis, saat ini kita sedang mencari data, observasi, dan meminta fasilitator yang mumpuni untuk membantu proses ini. Diantaranya; Mas Rosa, Mas Landung Simatupang, dan ada seniman tradisi juga. Naskah akan diadaptasi. Karena ceritanya tentang salesman, ya kita kemudian mengundang beberapa orang salesman yang bekerja di perusahaan tertentu dalam bidangnya masing-masing, yang akan membagi tentang bagaimana kehidupan dan pekerjaan mereka kepada kami semua. Terutama aktor-aktor yang terlibat dalam proses ini.

Terakhir, ada pesan atau yang lain yang ingin disampaikan oleh Teater Toedjoeh?

Teman-teman Teater Toedjoeh:

Buat pembaca skAnA di seluruh Jogja, jangan lupa nonton pentas kami bulan November! Meski masih lama, ya ini sekalian promosi… info yang lain menyusul! Terimakasih….

* Muhammad A.B & Hindra Setya Rini, reporter skAnA

(terbit di skAnA volume 07, Juli – November 2008)