oleh: Khoiri Abdillah*

Berawal dari melihat poster pementasan teater boneka di papan pengumuman, di beranda Teater Garasi. Saya bertanya-tanya dalam hati, bagaimana sih jadinya kalau boneka main teater? Maka saya memutuskan untuk melihat pementasan teater boneka yang dibawakan oleh Papermoon Puppet Theatre.

Papermoon Puppet Theatre adalah satu-satunya kelompok teater boneka di Jogja yang serius mendalami bentuk teater boneka. Eksistensinya di dunia teater dimulai sejak dua tahun yang lalu. Biasanya pertunjukan-pertunjukan yang diselenggarakan hanya bisa dinikmati oleh anak-anak saja. Tetapi kali ini Papermoon tampil dengan audiens yang berbeda, yaitu para anak muda dan orang dewasa. Itu terbukti ada tanda “” pada poster pertunjukannya. Repertoar yang berjudul “Noda Lelaki Di  Dada Mona”, yang ditulis Joned Suryatmoko ini, disutradarai  oleh Maria Tri Sulistyani. Dipentaskan di Lembaga Indonesia Perancis (LIP) Jogja. Pertunjukan yang diselenggarakan dua kali (pukul 18:30 WIB dan 20:00 WIB), dengan tiket masuk Rp. 10.000,00 itu dihadiri sekitar 150 penonton.

“Noda Lelaki Di  Dada Mona”, berkisah tentang dua sejoli antara Mona dan Mungkas yang tengah dimabuk asmara, lantaran pertemuannya di setiap akhir pekan, ketika Mungkas mengantarkan pakaian-pakaian kotornya ke loundry milik Mona. Mona adalah seorang gadis yang dididik dan dibesarkan oleh Eyang Dipo, kakek Mona. Eyang Dipo selalu menanamkan pada Mona untuk hidup mandiri. Maka Mona membuka jasa laundry di rumahnya untuk membiayai kuliahnya sendiri.

Intensitas pertemuan antara Mona dan Mungkas terjadi di ruang jasa  Laundry itu, hingga tumbuh getaran perasaan yang membuat Mona tersipu malu. Mona jatuh hati pada Mungkas, si pemuda hedonis dan penggoda itu. Sampai suatu ketika, Mungkas dengan mulut manisnya, berhasil merayu Mona. Maka terjadilah sebuah peristiwa tak terduga: mereka  bercinta dengan gejolak muda yang tergesa. Dan peristiwa itu meninggalkan setitik noda pada pakaian dalam Mona. Noda yang tak pernah bisa dihilangkan sekalipun dicuci dengan mesin cuci. Bekas noda itu membuat resah Mona.

Di luar cerita tentang Mona, Eyang Dipo, seorang pensiunan tentara, ternyata tak luput dari noda juga. Ia memendam masa lalu yang kelam; sebuah peristiwa sadisme (pembantaian). Peristiwa yang masih tersimpan dalam buku hariannya, tentang pembantaian yang dilakukannya pada oknum komunis yang ada di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Waktu itu, ia dan kawan sepasukannya sedang beroperasi membasmi oknum PKI; mulai dari Pacitan, Ponorogo, Wonogiri, dan Solo. Akan tetapi, ia salah sasaran, yang terbunuh adalah para seniman “Reog Ponorogo” yang sedang mempromosikan kesenian tradisinya. Peristiwa itu menjadi noda kemanusian yang selalu melekat di sepanjang hidupnya. Noda itu pun tak dapat dihilangkan oleh Eyang Dipo hingga ia khawatir, jika palu hakim akan mengancamnya ke dalam sel tahanan.

Mona dan kakek Dipo mempunyai noda yang tak bisa dihilangkan. Noda yang melekat dalam hati kecilnya, yang tak bakal hilang…

Tema tentang “noda” yang tak pernah bisa dihilangkan ini muncul dengan definisi dan konteks yang berlainan dalam pertunjukan malam itu. Pertunjukan yang disajikan dengan boneka yang berukuran sama besar dengan tubuh manusia normal itu, sangatlah mengesankan bagi penonton. Terasa mengena dengan bentuk drama realis yang diusung. Tidak kurang dan tidak lebih porsi artistiknya. Pas. Hal itu terlihat dengan penataan setting yang begitu jelas; yakni menitikberatkan pada perhitungan dan penyiasatan ruang untuk menciptakan karakter ruang itu sendiri. Tampak ruang tamu dan ruang belakang, berada pada sisi kiri dan kanan panggung, begitu juga layar Silhuet berada di bagian belakang panggung, untuk menggambarkan peristiwa yang terjadi di luar rumah Mona. Sementara itu, ada ruang sempit yang memanjang di bagian tengah panggung, yang menjorok ke belakang, ruang yang menggambarkan masa lalu kakek Dipo. Ruangan itu seperti  diorama sejarah yang menyimpan seribu peristiwa. Sejarah gelap yang lelah dan malas untuk dibaca. Di ruang itu boneka-boneka kecil berseragam militer dimainkan dengan tangan lewat media tali, membuat terasa kental aura pertunjukan teater bonekanya.

Sepanjang pertunjukan itu, akting boneka yang dimainkan itu terlihat keren; sederhana, detail, dan banyak terjadi adegan-adegan yang menggelitik. Teknik memainkan boneka-nya terasa begitu hidup. Terlihat saat kakek Dipo sedang ngupil, dan permainan boneka yang digerakkan tangan lewat media tali saat adegan pembantaian pada oknum komunis di tahun 1965. Selain itu, bentuk visual boneka-boneka yang dimainkan terlihat liar dan imajinatif.

Pertunjukan teater boneka malam itu amat menarik dan berkesan buat saya, yang baru pertama kali melihat pertunjukan teater boneka.

* Khoiri Abdillah , aktor dari Semarang yang juga menjadi Peserta “Magang Nusantara 2008” Yayasan Kelola di Teater Garasi.

(terbit di skAnA volume 07, Juli – November 2008)


*****


Kerabat Kerja

Penulis naskah: Joned Suryatmoko/ Sutradara: Maria Tri Sulistyani/ Desainer Artistik: Iwan Effendi/ Ass. Sutradara dan Penata Musik: Reza A./ Lighting Designer: Emergency Technical Suport

Pemain Boneka dan Aktor: Yosafat Diaswikarta, Maria Tri Sulistyani, Jericho “Kofil”, Hafez Achda, Cosi, Iwank, Beni, Iwan “Gondrong”, Mareta Andreani, Anne Sophie.

Tim Artistik: Iwank, Cosi, Ria, Octo Cornelius, Beni, Mareta Andreani, Anne Sophie/

Tim Produksi: Aniek Rukmawati, Reno Dwi Hapsari, Iwan Gondrong”/ Stage manager: Novindra Diratara