Oleh: Muhamad Anis Ba’asyin*

Malam tanggal 16 Juni 2008 yang lalu di Gedung Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, kelompok Dance Works Rotterdam membawakan dua nomer pertunjukannya yang berjudul “Mortal” Coil dan “Lareigne”. Pertunjukan ini adalah salah satu rangkaian program internasional Festival Kesenian Yogyakarta 2008.

Pada pukul 20.00, Gedung Concert Hall nampak cukup padat dengan ratusan penonton yang telah duduk menunggu pertunjukan dimulai. Sekitar lima belas menit kemudian tirai penutup panggung diangkat, bersamaan dengan itu lagu “Loose Urself” dari Eminem menghentak, lagu hip-hop ini disambut dengan gerak rancak 11 pebalet yang mengenakan kostum hitam ketat berloncatan melayang di udara lalu ditangkap temannya. Sejenak kemudian lagu berhenti, dan berganti menjadi alunan “Gran Partita” (Serenade no.10 in B-flat) karya dari Mozart.  Ini adalah adegan awal “Mortal Coil” karya koreografer Ton Simmons yang pertama kali dipentaskan pada 12 Januari 2008 di Rotterdam.

Lalu para penari balet ini bergantian melakukan tari solo, duet, dan berkelompok selama kurang lebih tiga puluh menit. Gerakan para pebalet ini berjalan beriringan dengan pergantian tata cahaya lampu di atas panggung yang berwarna-warni.  Panggung yang kosong (cuma ada kain latar di belakang panggung berwaran putih, serta alas panggung berwarna putih yang menjadi area permainan para pebalet) tiba-tiba bernuansa lain ketika para penari itu mulai melompat atau berlari masuk ke area permainan (di para pebalet ini, begitu keluar dari sisi panggung awalnya berjalan biasa, lalu melompat atau berlari untuk memulai tariannya).

Tarian yang disuguhkan dalam durasi sekitar 45 menit itu, berupa repetisi dari beberapa komposisi gerakan. Lagu “Loose Urself” yang menghentak itu, kembali muncul menutup tarian balet “Mortal Coil”, para pebalet meresponnya seperti pada adegan awal. Dan pertunjukan akan beristirahat untuk 30 menit.

Pertunjukan dibuka kembali, kali ini adalah “Lareigne” karya Stephen Petronio. Karya ini dipentaskan pertama kali pada tahun 1995 di New York. Lagu yang membuka pertunjukan ini sama menghentaknya dengan pertunjukan pertama, kali ini adalah “No More Heroes” dari The Strangler. Komposisi pembuka pertunjukan ini dibawakan bergantian oleh dua pasang pebalet. Sama seperti nomor pertunjukan yang pertama, musik pada pertunjukan kedua tiba-tiba berganti dengan musik yang  menjadi latar selama pertunjukan. Bedanya kali ini bukan musik orkestra, melainkan alunan musik digital midi.

Agak berbeda dengan “Mortal Coil” yang anggun dan mengalir lembut, “Lareigne” lebih dinamik. “Lareigne” menampilkan lebih banyak varian komposisi balet yang dilakukan oleh beberapa orang pebalet. Dengan kostum yang berwana putih yang seksi (berupa terusan yang ketat dan menjuntai di bawah),  para pebalet tampil dalam gerakan cepat yang terkadang patah-patah, bahkan terkadang mirip break dance.

Nomor pertunjukan tari balet “Lareigne” yang berdurasi kurang lebih 30 menit ini, ditutup dengan tepukan panjang para penonton mengiringi para pebalet berbaris di atas panggung bersama koreografer Ton Simmons. Menonton pertunjukan ini, paling tidak memberi pengalaman pada  penonton tentang pertunjukan balet yang jarang sekali ada di Jogja.

* Muhammad Anis Ba’asyin, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 07, Juli – November 2008)

Komentar Penonton

“Pertunjukannya bagus, keren, tapi saya kok merasa ga menikmati? Ga seperti pertunjukan hip-hop “eta dam” yang dari Perancis kemarin. Ini ga bermaksud membandingkan lho…” (Seniman Muda (malu disebutin namanya), tinggal di Jogja, usia 27 Tahun)

“Very amazing!!! Aku gak ngeliat mereka salah dalam melakukan satu gerakan. Mereka itu kompak banget. Keren lah…. Aku kagum sama kaki-kaki mereka, kuat dan berotot tapi lentur, keliatannya dibuat gerakan apa saja pasti bias gitu.” (Kathy Claudia, 21 tahun, waria yang lagi belajar bermain teater)

“Aduh aku baru pertama kali ini ngeliat pertunjukan balet, jadi ya gimana ya….. buat referensi pertunjukan bagus. Kayaknya FKY harus mendatangkan pertunjukan-pertunjukan yang jarang ada di Jogja kayak yang satu ini. Kelihatannya juga sukses, rame banget penontonnya.” (Susilo, 28 tahun, wiraswasta di Jogja)