Oleh: Muhammad Anis Ba’asyin*

Kali ini seri Jagongan Wagen di Padepokan Bagong Kusudiardjo menampilkan kelompok Ketoprak Ngampung Balekambang, Surakarta. Kelompok ini beranggotakan anak-anak tobong dari Ketoprak Balekambang, yang sampai pada pertengahan tahun ’80-an sering tampil di Surakarta. Beberapa anak tobong kemudian berinisiatif untuk mengaktifkan kembali kelompok ketoprak yang sempat mati suri ini. Dengan anggota sebagian besar anak-anak muda (aktornya bahkan masih ada yang bocah), mereka menamakan dirinya menjadi Ketoprak Ngampung. Penamaan ini berasal dari kebiasaan mereka yang sering tampil di kampung-kampung, tapi bukan berarti membatasi pertunjukan hanya diselenggarakan di kampung saja. Karena selain di kampung mereka juga pernah pentas di sebuah mall di Surakarta. Kelompok Ketoprak Ngampung Balekambang sangat terbuka pada tempat-tempat pertunjukan yang lain.

Sebelum pertunjukan ada bincang-bincang  singkat dengan Dwi Susmanto, sutradara “Pasung”, dan Joleno, senior di Ketoprak Ngampung Balekambang, yang dipandu oleh Besar Widodo. Dalam perbincangan itu, terungkap keinginan mereka untuk tetap nguri-uri kebudayaan Jawa serta keinginan untuk mempertahankan Bahasa Jawa di tengah banyaknya pilihan kebudayaan yang ada sekarang. Mereka merasa bangga karena sebagai anak muda masih merasa perlu untuk mempertahankan “ke-Jawaannya”. Bincang-bincang itu berakhir dengan teriakan “Hidup Bahasa Jawa”, yang dibalas dengan tepukan tangan para penonton.

Malam 29 Juni yang lalu, tikar-tikar yang digelar di hadapan panggung untuk tempat duduk para penonton yang memilih lesehan, masih terlihat ada yang lowong ketika pertunjukan akan dimulai. Begitu  juga dengan deretan kursi-kursi yang ada di belakang. Lalu gamelan mulai ditabuh, sebuah tembang pembuka dinyanyikan. Perlahan-lahan tempat-tempat lowong diantara penonton itu mulai terisi penuh, bahkan hingga ke pinggir-pinggir panggung. Ternyata para penonton setia berada di tempatnya sampai pada akhir pertunjukan.

Panggung pertunjukan berupa sebuah meja, dan beberapa instalasi dari tali, bambu, serta ijuk, yang menggambarkan rumah di sebuah desa. Di atas meja seorang anak laki-laki tidur telentang, dengan kaki dipasung. Ngamid, anak yang dipasung itu, merasa kesepian,  ia ingin melihat dunia luar, ingin bermain dengan teman-temannya. Tapi bapaknya selalu melarang siapapun yang bermain ke rumahnya. Namun teman-temannya sering datang dengan sembunyi-sembunyi ketika bapaknya sedang pergi bekerja. Mereka mengajak Ngamid bermain-main, dan menceritakan tentang keadaan dan kebiasaan-kebiasaan di dunia luar, Ngamid makin merasa kesepian ketika teman-temannya itu diusir bapaknya. Sementara bapaknya sendiri tidak pernah menjelaskan alasannya memasung Ngamid.

Justru tetangga-tetangganya yang menjelaskan, dengan gaya bicara dan tingkah yang lucu, mereka bergantian tampil menjelaskan mengapa Ngamid sampai dipasung. Hingga terjadi pertentangan antar tetangga yang mendukung pemasungan atau menolaknya. Bahkan mereka sempat berkelahi (tentu dengan bumbu dagelan) untuk mempertahankan pendapatnya. Tapi tidak ada yang tahu alasan sebenarnya kecuali Bapak Ngamid sendiri.

Akhirnya Bapak Ngamid menjelaskan alasannya ketika Ngamid yang sedang memimpikan ibunya merintih-rintih kesakitan, dia menjelaskan ketakutannya pada pengaruh-pengaruh yang buruk dari dunia luar. Ia bercerita tentang Istrinya, ibu Ngamid yang menjadi penari ledhek lalu dibawa lari lurah desa tetangga, kakak Ngamid yang tak pernah pulang ke rumah dan lebih memilih mabuk-mabukan bersama teman-temannya di kampung. Ia tak ingin kehilangan Ngamid yang disayangnya. Sambil menangis, bapaknya melepas pasungan Ngamid, merangkul dan menggendongnya, baru ia tersadar kalau Ngamid ternyata sudah mati. Ia berlari membawa Ngamid sembari berteriak, “Aja nganti masung anakmu dhewe..!” (jangan memasung anakmu sendiri!).

* Muhammad Anis Ba’asyin, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 07, Juli – November 2008)

*****

Komentar Penonton

Bagus pertunjukan ini dari tradisional, tapi dibuat sedemikian rupa sehingga enak ditonton. Olah tubuhnya bagus dan adegan adegan menarik karena keliatan modern. Tapi saya tertarik soalnya ini menyangkut hal-hal kecil, tapi maknanya dalam seperti pemasungan. (Joko, 29, Teater Angin Tuban)

Di tengah bagus karena kita gak ada kesempatan untuk berhenti tertawa, dan ada satu pelawak yang aku suka banget ma dia. Soalnya tu pelawak bener-bener gak bisa berhenti ngelucu. (Putik, 22, lagi test CPNS)

Lucu, tapi serius. Pas awal-awalnya saya suka banget sama dua anak kecil yang mainan egrang.. sayang dua-duanya gak keluar lagi sampai akhir. (Agung, 28, Kadipaten Kidul)