Oleh: Muhamad Anis Ba’asyin*

Awalnya seperti sebuah pesta rakyat, sebuah ajang pertemuan yang ramai, payung warna-warni yang menjulang di beberapa titik membuat panggung Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta seperti pasar kecil. Para pelayan membawa bergelas-gelas minuman (soft drink) di atas baki. Orang-orang bertemu, saling bertegur sapa dan berbicara satu sama lainnya, dengan segelas minuman di tangan.

Di antara para penonton yang berbaur cair itu ada sebuah etalase besar di dekat pintu masuk, di dalamnya ada dua orang wanita dengan baju berwarna mencolok duduk di dalam etalase sembari merokok. Di sebelahnya seorang wanita dengan lampu warna-warni melilit di tubuhnya, ia berbicara tentang sesuatu, seperti sebuah kaset yang diputar berulang-ulang. Seorang lelaki yang berpenampilan udik menyanyi dangdut dengan tape mono yang dikalungkan di tubuhnya. Beberapa orang yang berseragam hilir mudik membawa pentungan. Sementara itu, seorang lelaki yang memakai kopiah dan jas, berbicara lewat megafon, sambil berjalan kesana kemari ia berbicara (atau lebih mirip sebagai khotbah) tentang ayat-ayat sambil membawa kotak sumbangan. Penonton yang terus berduyun-duyun masuk (malam itu ada sekitar 200 penonton) membuat panggung itu semakin padat, seperti halnya pasar malam kecil-kecilan. Kapan pertunjukannya dimulai? Sementara kursi-kursi yang tersedia di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta dibiarkan kosong melompong di dalam kegelapan.

Di tengah hiruk pikuknya panggung, tiba-tiba derap suara drum band ala keraton menarik perhatian semua penonton. Serombongan marching band berjalan ke tengah panggung membelah kerumunan orang. Penonton mulai memberikan jalan untuk marching band yang berderap itu. Beberapa para kru panggung turut lalu lalang mendirikan sebuah tiang lampu penerangan jalan, memasang instalasi kayu dan seng, sepertinya pasar malam akan segera berakhir karena bangunan-bangunan kecil mulai didirikan di atas panggung.

Lajur tengah panggung yang tadi digunakan untuk berjalan rombongan marching band kini menjadi kosong. Hanya ada sebuah gerobak berisikan lipatan kasur, yang di dalamnya ada sepasang kaki yang menjulur keluar. Penonton kini terbagi menjadi dua bagian yang saling berhadapan. Seseorang yang tadi berkhotbah (Jamaluddin Latif) kini memegang mikrofon, ia mulai mempersilakan penonton  untuk tenang dan mempersilakan duduk lesehan di samping kiri-kanan lajur tengah. Juga mempersilakan beberapa tamu undangan untuk duduk di kursi yang sudah disediakan lengkap dengan meja bersaji minuman. Kini penonton lebih tenang dan tertata.

Ia juga berbicara tentang perbedaan sosial yang tajam, tentang hidup di dalam kecepatan, tentang nostalgia dan teater. Sementara itu aktor-aktor bermunculan dari sisi kanan dan sisi kiri panggung, mengiringi kalimat lelaki yang berbicara di tengah panggung. Ada yang berseluncur dengan papan kayu, melintasi para penonton, ada yang wajahnya ditutup kaos berjalan pelan-pelan seperti akan menerkam sesuatu.

Seperti tajuknya, je.ja.l.an merupakan sebuah teater tari dan teater imaji. Ia mengandalkan kekuatan visual yang muncul dari tubuh dalam bercerita. Tidak banyak kata yang diucapkan di dalam pertunjukan ini, kecuali beberapa teks yang diselipkan menjadi dialog-dialog diantara gerak tubuh para aktor. Selain teks yang diucapkan para aktor, ada juga rekaman suara yang ditampilkan melalui perangkat audio (seingat saya ada rekaman wawancara dengan anak jalanan dan rekaman teks pidato dari dua presiden Indonesia; Sukarno dan Susilo Bambang Yudoyono) yang menjadi bagian dari pertunjukan. Tetapi seringkali teks-teks itu bertumpuk dengan musik yang mengiringi pertunjukan, membuat ia tidak jelas terdengar. Atau memang begitu suasana di jalan yang riuh rendah.

Jalan-jalan je.ja.l.an

Pertunjukan ini tidak berjalan linier, tidak ada alur cerita yang pasti. je.ja.l.an berupa fragmen-fragmen yang tidak saling berkaitan satu sama lainnya. Fragmen-fragmen di je.ja.l.an bercerita tentang lapisan-lapisan kekuasaan yang terus menerus bertabrakan, bertarung, saling berebut wilayah. Kebetulan pula aktor-aktornya sering berjalan bersilangan dan bertabrakan. Aktor-aktornya tidak memerankan satu karakter yang pasti, mereka menjadi ikon-ikon atas pertarungan di jalan.

Tidak ada pahlawan dalam pertunjukan ini, je.ja.l.an justru memberi perspektif lain atas ketertindasan. Adegan pasar, dimana para pedagang bersembunyi di balik seng, dan sekali-kali menyembulkan kepalanya mengintip satu sama lain, yang malah menjadi humor di tengah kegetiran. Atau ketika musisi dangdut jalanan tampil, dan seorang laki-laki hadir di tengah podium mengumumkan pernikahannya dengan seorang wanita yang pergi entah kemana, lalu ia berlari sementara aktor-aktor yang lain bergoyang  dengan gembira mengikuti irama dangdut. Masih ada  kegembiraan di antara kekerasan hidup di jalan.

Fragmen-fragmen berlintasan dengan cepat malam itu dalam durasi 60 menit. Pada adegan terakhir dimana para aktor muncul dari dua sisi jalan, diiringi lagu “Kepada PJM (Paduka Jang Mulia) Presiden Soekarno” yang dinyanyikan Lilis Soerjani. Mereka berjalan ke tengah panggung dan melambaikan tangan kepada para penonton atau pada sesuatu yang lain, pada ketertindasan? kekuasaan?

Pada adegan terakhir, ketika seorang aktor berdiri di atas kotak yang tinggi, dan aktor-aktor yang lain berjajar di bawahnya. Membuat saya teringat peristiwa Hotel Yamato di Surabaya pada tahun 1945, ketika seseorang berdiri di atas atap hotel dan merobek warna biru bendera Belanda dan mengibarkannya lagi menjadi merah putih, sementara di bawahnya ratusan orang berdiri menyaksikan dari pinggir jalan. Tapi tentu saja tak ada bendera merah putih dalam adegan ini.

Pertunjukan ini digelar di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta pada 16 dan 17 Mei di Yogyakarta, kemudian tanggal 23 dan 24 Mei di Jakarta.

* Muhammad Anis Ba’asyin, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 07, Juli – November 2008)


Tim Kerja Pertunjukan

Digagas dan diwujudkan secara bersama oleh:

Yudi Ahmad Tajudin (Sutradara), Mella Jaarsma (Seniman Visual), Ignatius Sugiarto (Seniman Cahaya), Risky Summerbee & The Honeythief (Seniman/GroupMusik), dan Bahrul Ulum, Bernadeta Verry Handayani, Citra Pratiwi, Erythrina Baskorowati, Jamaluddin Latif, Sri Qadariatin, Theodorus Christanto (Aktor/ performer)

Komentar Penonton

“Aku mendapatkan sesuatu yang baru, penonton lewat pintu belakang… aku belum pernah kayak gitu. Terus apa ya..? musiknya saya naksir pas adegan dengan seng di pasar aku suka banget..” (Rika. 24 tahun, kerja di Yayasan Anak)

“Keren…., kalau bisa sering-sering diadain pertunjukan seperti itu. Jarang ada teater kaya Garasi. Unik dan beda, kolaborasi musiknya dengan musisinya pas..” (Adi, 24 tahun, Pemain Band Icapila)

“Dancenya oke… presisi bagus. Komposisinya rumit, tapi ternyata bisa dilakukan. Suasananya dibangun lewat tarian, ada keramaian dan kesedihan..” (Argo, 23 tahun, mahasiswa UKDW)

“Sangat kreatif penonton masuk ke panggung, saya gak tau pertunjukan mulainya kapan. Saya seneng bias nonton dekat dengan aktor-aktornya..” (Irsyad, 20 tahun, Mahasiswa UGM)

“je.ja.l.an bagus dilihat dari eksplor tubuhnya, tapi sayangnya gak fokus. Mungkin karena di “jalan”? tapi akibatnya monoton & berlebihan”  (Soni, 20 tahun, Komunitas Pintu)