Oleh: Andy Sri Wahyudi*

…Cindil Waras berangkat ke kota Jenggala bersama ayam kesayangannya, ia keheranan melihat pesawat terbang yang melintas di langit kota…

Penonton bertepuk tangan riuh sambil terbahak-bahak ketika sang Narator bercerita mengiringi adegan Cindil Waras yang keheranan melihat pesawat. Sebab sebuah pesawat sungguhan benar-benar melintas pelan di atas langit tempat pementasan.

Itulah setitik suasana pementasan lakon “Cindil Waras” yang dibawakan oleh kelompok La’giente’s, pada hari Rabu tanggal 18 Juni, di tengah perkampungan. Tepatnya di Kampung Tukangan RT 33 RW 06. Kelurahan Tegal Panggung, Danurejan.

Malam yang Meriah

Malam itu bukan malam tirakatan atau perayaan hari kemerdekaan (pitulasan), tetapi malam acara Pos Komedi Rakyat Tukangan (PKRT) #2; malam yang mengejutkan dan menyegarkan. Sebuah acara pementasan yang menjadi program 2 bulanan kelompok La giente’s. Acara itu tampak ramai dengan suara riuh anak-anak kecil, dan dipadati kawula muda dan tua.  Lokasi acaranya tersembunyi, sebab sebelum sampai lokasi harus melewati lika-liku gang perkampungan lebih dulu.

Di bawah remang cahaya lampu, tampak seratusan penonton duduk lesehan di atas terpal, di bawah naungan tenda yang biasa dipakai acara hajatan. Penonton berhadapan dengan ruangan yang diformat menjadi panggung pertunjukan. Ruangan itu sebelumnya adalah lapangan badminton yang berlatar tembok bata, dan diapit dua rumah berdinding anyaman bambu. Kemudian disentuh dengan desain artistik sederhana; kain hitam setengah lingkaran  menutup tembok batu bata dan dinding bambu. Maka terbentuklah panggung pertunjukan dengan alat musik ditata berjajar di bagian belakang panggung.

Tepat pukul 20:00 WIB, setelah acara dibuka dengan macapatan dan pertunjukan tari dari SMKI Yogyakarta. Dua Master of ceremony (MC) yang segar dan gokil, segera membuka pementasan inti: Dongeng Cindil Waras. Sementara itu, penonton terlihat sangat menikmati malam PKRT#2 yang meriah itu. Penonton yang duduk lesehan, dan yang  berdiri di belakang sambil bersandar tembok, masih asyik bercengkerama, para muda – remaja kampong masih  cekikikan dengan guyon lokalnya, tak ketinggalan juga sepasang cowok-cewek yang berdiri, bersandar tembok sambil asyik beremasan tangan. Semua menunggu “Dongeng Cindil Waras”. Beberapa saat kemudian, suara anak-anak mulai surut ketika para aktor berjalan menuju panggung.

Gambaran Dongeng dan Aksi di Panggung

Dongeng Cindil Waras diawali dengan tabuhan bedug yang disusul musik pembuka. Para aktor segera menari sambil bernyanyi. Sebuah koreografi tari sederhana yang membuat ngakak, karena tingkah hiperaktif  aktor saat bernyanyi dengan suara nyanyian yang tidak peduli suara fals (asal keras dan bernada slenge’an). Musik pengiring yang dibawakan “Perkusi Perkasa Perkosa” itu sangat dinamis membuka pementasan.

Setelah adegan pembuka, para aktor menempatkan diri duduk di belakang alat musik. Sang narator mulai bercerita alkisah Cindil Waras dari kampung Tukangan: Ia anak seorang Janda yang sebenarnya adalah permaisuri Raja Jenggala, yang dibuang di kampung Tukangan karena selir raja yang lain sirik dengan kecantikannya. Cindil Waras anak yang cerdas, suka menolong, gagah, tapi tidak tampan. Ia sangat sayang pada ayamnya yang bernama Blecky, ayam jantan yang kuat, bisa koprol, dan rol depan-belakang.

Cindil Waras dan ayamnya.

Ayam jantan itu langsung bergaya ala binaraga, lalu koprol, dan rol depan-belakang. Cindil  Waras (Gundi Anditya) yang berwajah culun itu lantas memeluk dan mencium ayamnya, (diperankan Bagus Andaru) dengan kepala dilingkari topi hiasan berbentuk ayam. Kemudian datang prajurit buruk rupa, mengumumkan sayembara adu ayam di kerajaan Jenggala. Maka Cindil Waras berangkat ke kota Jenggala setelah direstui ibundanya.

Di perjalanan, ia melewati banyak rintangan dan tantangan. Ia terjebak dalam hujan salju dan dihadang hujan badai…

Segera para pemusik dan aktor lainya menaburi pecahan stereoform putih di kepala Cindil Waras. Kemudian “cuh..cuh cuh..cuh..” tubuh Cindil Waras diludahi beramai-ramai (hanya suara tanpa keluar ludah). Sontak sorak sorai dan riuh tepuk tangan penonton mewarnai malam saat melihat adegan itu. Dan yang terakhir, saat menyebrangi lautan ia hadang bajak laut, yang kemudian malah memberi uang karena kasihan pada Cindil Waras yang tidak membawa bekal perjalanan.

Cindil Waras telah sampai di kota Kerajaan Jenggala dengan tingkah ndeso-nya yang membuat penonton tertawa, apalagi saat melihat pesawat terbang. Segera sayembara sabung ayampun dimulai. Blecky, ayam Cindil Waras melawan Ayam dari Medan, Arab, dan Jepang. Blecky dapat mengalahkan lawan-lawannya, akhirnya ia harus melawan Ayam Raden Putra, Raja Jenggala, ayah kandungnya sendiri. Ayam Cindil Waras hampir kalah ketika ayam Raden Putra berubah ayam Raksasa (divisualkan dengan tubuh dan gerak aktor yang membentuk formasi barongsai). Tapi dengan kekuatanya, Blecky mampu mengalahkanya, dan menjadi juara.

Cerita berakhir dengan kemenangan Cindil Waras. Ia mendapatkan separuh kekuasaan kerajaan Jenggala. Ceritanya memang sangat simple tetapi visualisasinya sangat beragam; ada tarian, lagu, formasi bentuk, gerak silat dan karate ala ninja, dan efek suara musik.

La Giente’s dan Lain-Lain

Kelompok yang berdiri tanggal 10 November 2005 ini, semula adalah para alumni SMA 8. Setelah dua tahun berproses anggotanya mulai bertambah tidak hanya dari satu alumni saja. Diluar kegiatan kuliahnya, mereka memilih berproses kreatif dalam kelompok seni yang berbasis komedi. Selain berproses dalam kelompok ini, biasanya personil La Giente’s juga sering menjadi MC dan melawak di berbagai acara.

Tahun ini La Giente’s membuat program kegiatan “Pos Komedi Rakyat Tukangan” yang telah berjalan dua kali. Program yang sederhana tapi tak dapat disepelekan. Dengan biaya patungan dan sistem menejemen yang sederhana; memanfaatkan fasilitas yang ada dan membangun jaringan kerja, La Giente’s berhasil menyelenggarakan pementasan di tengah masyarakat dengan gemilang. Program ini berada di luar arus kelompok kesenian (muda) yang tergesa ingin dikenal dengan bermimpi pentas di Gedung pertunjukan, namun diragukan kontinyuitas kreatifnya. Yah, Gedung pertunjukan bukanlah segalanya bagi La Giente’s, tapi merangsang apresiasi seni masyarakat adalah nilai plus tersendiri. La Giente’s dengan misi “semua tertawa” akan terus maju, berjalan menabur tawa di tengah masyarakat.

Usai pementasan, saya masih terngiang pesawat terbang yang lewat tadi. Mungkin Pesawat itu satu-satunya yang berhasil menembus langit kota Jenggala, tempat Raden Putra berkuasa, sekaligus menembus cerita legenda.

* Andy Sri Wahyudi, reporter skAnA, aktor dan sutradara Bengkel Mime Theatre

(terbit di skAnA volume 07, Juli – November 2008)

*****


Kerabat Kerja:
Pimpinan Produksi: Gundhi Anditya, Administrasi : Lisa Lindawati, Publikasi: David Cahyanto. Dokumentasi : R.Bayu Yoga, Humas: Bahaudin & Adit, Konsumsi: Vika “chu” Keamanan: Teman2 pemuda Tukangan.

Sutradara dan Penulis Naskah : David Rianto, Koreografer : Chandra, Musik: Tatag,  Setting & Properti: Bagoes Andaru, Lighting: Linda dan teman2 TGM, Stage Manager: Genta Wibawa

Pemain:
Gundhi, Bagoes, Vika”chu”, Bayu Djaim, Indras, Wawan “icin”, Tommy, Eka, Chandra, Royhan, Daci, Tatag, Bayu, Adit “kiwil”

Komentar  Penonton

Masih diperlukan banyak waktu untuk belajar lagi menuai hikmah dalam meniti proses. Intinya rasah kesusu ngenteni keplokan. (Catur Stanis, 35 tahun, penggiat seni Teater)

Oh, keren acarane mas, saya merasa bangga, merasa senang, karena dengan infrastruktur yang sederhana tapi bisa ada pertunjukan yang menurutku luarbiasa. (Salahudin, dari Jojon Center, 30 tahun)

Apa ya…? aku sih…cukup menghibur, melawan cerita rakyat tetapi dengan cara yang berbeda dan menyenangkan, cuman tadi agak kurang maksimal aja di teaternya. (Zulfa, SMA 1 Yogyakarta, 16 tahun)

Lucu, kreatif, inovatif, apalah…agar dilanjutin lagi ke depannya. (Momo, Filsafat UGM, 21 tahun)

Mboten ngerti nggih…pripun ta? O…Nek kula nggih remen nek enten acara ngeten niki. (Nggak tau ya…maksudna gimana sih? O…kalau aku suka sekali kalau ada acara seperti ini) (Seorang Nenek, warga Tukangan)

Ya….aku sebagai orang yang jarang melihat pertunjukan seni, aku ngelihatnya keren, kreatif, anak-anaknya spontan banget, terus guyonanya nggak garing. Dan terhibur. (Sari, 21 tahun, Mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris ‘PBI’, Sanata Dharma, semester 8)

Lucu…! Aku terhibur sekali… (Olivia Lewi Pramesti, 22 tahun, Mahasiswi Atmajaya, Jurusan Komunikasi, Semester akhir)