Oleh: Hindra Setya Rini*

Kembali, setelah pertunjukan Suspect (datangmu terlalu cepat) yang dipentaskan pada bulan Februari lalu di Lembaga Indonesia Perancis (LIP), Bengkel Mime Theatre menampilkan karya terbaru mereka yang berjudul Aku Malas Pulang ke Rumah. Dipentaskan di Gedung S2 ISI Yogyakarta, Jalan Suryodiningratan No:8, pada tanggal 23-24 Mei, dengan harga tiket masuk sepuluh ribu rupiah.

Berbeda dari repertoar-repertoar Bengkel Mime Theatre sebelumnya—ruang pertunjukan yang biasanya terkesan intim, penonton yang duduk lesehan, lalu jarak antara penonton dan penampil dekat— malam itu keintiman tersebut tidak terasa. Ruang prosenium S2 ISI yang terlalu besar, dan tatanan kursi yang rapi justru membuat jarak yang cukup lebar antara penampil dan penonton.

Tepat pukul 19.45 WIB, lampu panggung mulai meredup, pertunjukan dimulai; Tikus-tikus mencericit, gelapnya gorong-gorong, jalanan kota, adalah fragmen yang kembali muncul dalam pertunjukan kali ini. Kota yang selalu berubah digambarkan dengan munculnya aksi anak-anak muda di atas panggung. Mereka menghiasi—mencoret-coret, menghapus, mencoret lagi—dinding-dinding bangunan kota berwarna-warni. Sementara itu, musik easy listening yang berganti-ganti di setiap adegan pertunjukan terus menggema di seluruh ruangan.

Bukhori, seorang salesman (diperankan oleh Asita) yang menjadi tokoh utama dalam lakon ini. Ia bekerja setiap hari tanpa lelah untuk dapat menjual alat-alat rumah tangga yang dibawanya keliling kota. Bekerja gigih dari rumah ke rumah, aksi promosinya tak kalah heboh dari tukang penjual obat pinggir jalan. Bukhori hidup bersama seorang istri dan tiga orang anaknya, di sebuah rumah yang diimpikan seperti rumah orang kaya. Versinya; ruang tamu bersofa, televisi berwarna, dan berdiding tembok berhias potret keluarga. Ia bercita-cita hidup bahagia bersama keluarga tercinta di tengah kota.

Asita dan Andy SW

Tidak semua setting-properti dihadirkan di atas panggung, kecuali sebuah sofa dan sebuah meja yang kadang berubah posisinya. Seperti televisi dan potret keluarga, hanya diimajikan lewat gerak mime para aktor.  Di beberapa adegan, gerak mime tersebut tak pelak membuat penonton tergelak. Adegan di ruang tamu, misalnya, antara Bukhori dan istri; ketika terjadi pertengkaran hebat, mereka tiba-tiba berubah menjadi dua ekor kucing yang saling mengerang dan mencakar. Juga dalam adegan romantisme pacaran, dan kehangatan keluarga saat menonton teve bersama anak-anak tercinta.

Selain itu, perihal impian akan masa depan yang sejahtera divisualkan dengan lintasan-lintasan kursi yang di atasnya membawa berbagai properti seperti laptop, sepatu pesta/ high heelsmicrowave, dan lain-lain.

Pertunjukan berdurasi sekitar lima puluh menit itu berjalan lancar. Sayangnya, suara musik band yang diselenggarakan tak jauh dari gedung pertunjukan terdengar agak kencang dan sedikit menggangu kenyamanan dalam menonton. Meskipun demikian, penonton yang berjumlah sekitar 130 orang pada malam kedua itu tak ada yang terlihat beranjak meninggalkan tempatnya.

Malam itu, sehabis pertunjukan diadakan diskusi kecil yang dihadiri sekitar dua puluh lima orang. Diantaranya; para anggota Bengkel Mime Theatre, Pantomimer Jogja Jemek Supardi, penulis dan sutradara Teater Garasi Gunawan ‘Cindhil’ Maryanto, sutaradara Teater Gardanalla Joned Suryatmoko, dan beberapa penonton. Selaku pembicara adalah pengamat seni pertunjukan Ikun SK, pekerja sosial Ani Himawati,  dan dimoderatori oleh M. Jalidu dari Gamblank Musikal Teater. Diskusi ini membicarakan mengenai proses artistik maupun proses para aktor. Tentang ide/konsep, observasi, dan apa saja yang telah dilakukan hingga terjadi peristiwa di panggung, di-sharing-kan di sini.

Sekilas Profil

Bengkel Mime Theatre adalah kelompok kesenian yang dirintis pada tanggal 2 Mei 2004. Semula bernama Bengkel Pantomim Yogyakarta. Kemudian berganti nama menjadi Bengkel Mime Theatre pada tanggal 10 november 2007.

Merupakan kelompok kesenian yang menggeluti seni pertunjukan berbasis pantomime. Dengan membaca seni pantomim dari pendekatan wacana seni dan pengetahuan di luar pantomim, untuk membuka tawaran bentuk, menguatkan isi dan nilai artistik karya. Selama kurun waktu empat tahun ini, telah menghasilkan sembilan judul karya, yang salah satunya berupa kumpulan komik dengan judul “Bengkel Mime dalam Komik” yang merujuk naskah Langkah-langkah, Three Little Duck, dan Superyanto.

* Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor Teater Garasi

(terbit di skAnA volume 07, Juli – November 2008)

*****

Kerabat Kerja

Sutradara Ari Dwianto Penata Artistik Pingky Ayako Saputro Kru Artistik Tingkir Adi Susanto, Domex, dan Sugeng Pribadi Aktor Asita, Ficky Tri Sanjaya, Edi Suharto, Hambar ‘Gigon’ Riyadi, Andy SW, Ari Dwianto Musik Ishari Sahida Penata Cahaya Sugeng Hutomo, Budi, Jody Penata Kostum Yuni Wahyuning Penulis Teks cerita Andy Sri Wahyudi Pimpinan Produksi Endah Sri Wahyu Handayani Divisi Konsumsi Ficky, Hambar Riyadi, Meme Dok. Foto Arif Sukardono Dok. Video Dion & partner Ticketing Bakti. W Penjaga Pintu Erson Padiparan, Ronald Pasolang

Komentar Penonton

“Secara garis besar, saya bisa menikmati pertunjukan itu, walau agak terganggu dengan mekanisme lampu dan sound effect dan musik yang sepertinya kurang lancar. Atau mungkin ada yang luput ya? Lalu, karena selama ini saya nonton pentas-pentasnya Bengkel Mime hampir selalu isu sosial diangkat, saya pengin lihat Bengkel Mime sekali waktu mementaskannya juga di luar panggunga yang dekat dengan pelaku peristiwa yang sesungguhnya. Misalnya: pasarm area perkantoran pas jamnya karyawan pulang kantor, dan tempat-tempat lain yang lebih dekat dengan orang dan peristiwa yang sedang dilakonkan. Mari terus membuat kehidupan ini menjadi lebih baik, he……” (Fransiska Haloho, 25 tahun, penikmat seni pertunjukan)

“Artistiknya aku suka. Itu lho yang melintas keluar masuk dan setting yang bisa berubah cepat dan mobile. Hmmm, untuk pilihan nggak pake make up putih itu sih aku setuju aja, tapi sayang ekspresi aktornya masih kurang banget. Cuma pemeran utamanya aja yang kuat. Menurutku, kalau gak pake make up ala pantomimer kebanyakan itu, mestinya ekspresi wajahnya lebih keluar. Ke depan lebih dimaksimalkan lagi aja. Untuk semangat mudanya, aku salut, deh.” (Broto, 32 tahun, Deaf Art Community)

“Pertunjukannya lucu. Huuw…., banyak lelaki cantik! Hahaha…. Emm, aku suka musiknya terus waktu adegan mimpi, yang kursi melintas-lintas bawa laptop, sepatu dan macem-macem itu pas, menurutku. Ya, jadi kebawa ngimpi juga. Hehehe….” (Iyut, 19 tahun, Mahasiswi Sanata Dharma)