Oleh:  Hindra Setya Rini*

Petang di Taman bercerita tentang orang-orang yang tidak saling mengenal, yang saling berusaha untuk berbicara satu sama lainnya. Seorang laki-laki tua dan lelaki setengah baya berdebat mengenai berbagai hal, keduanya tak pernah bersepakat dan tak mau mengalah. Lalu seorang wanita muda datang, ia  mencoba untuk menengahi perdebatan yang terjadi, namun gagal. Di akhir cerita, terungkap bahwa orang-orang di taman  tersebut sejatinya sedang lari dari kesepiannya masing-masing.

Naskah karya Iwan Simatupang ini digelar dalam rangka studi  pentas Teater Gadjah Mada yang diniatkan  untuk memberikan pengalaman perdana proses berteater bagi anak-anak baru yang bergabung di TGM. Selain Petang di Taman, tiga naskah lain juga digelar pada hari-hari berikutnya; Sayang Ada Orang Lain karya Utuy Tatang Sontani, Rami dan Cangkir Pecah adaptasi Landung Simatupang atas cerpen The Clod karya Lewis Bleach, dan Orang-orang Kasar saduran W.S. Rendra atas The Bear karya Anton Chekov.

Malam itu,  23 Januari 2008, di Hall Gelanggang UGM sudah dipenuhi penonton. Sekitar lima puluhan penonton memadati ruang dengan duduk lesehan. 19.30 WIB pertunjukan dibuka dengan gegap-gempita oleh seorang pesulap yang sangat komunikatif, ia melibatkan penonton dalam permainan sulapnya. Pesulap ini menjadi pembuka yang segar sebelum pementasan  dimulai. Ini menjadi strategi yang menarik karena penonton dapat digiring menjadi lebih dekat dan intim. Ia mampu membuat suasana menjadi hangat. Bahkan beberapa penonton aktif  menimpali dengan komentar yang membuat gerrr di setiap laku pesulap  tersebut.

Setting pertunjukan Petang di Taman terlihat minimalis. Pada bagian kanan  belakang  panggung terdapat sebuah bangku yang diduduki oleh sepasang remaja yang sedang asyik pacaran. Mereka  berada di sana sepanjang pertunjukan  berlangsung. Posisinya yang membelakangi penonton, membuat beberapa penonton berbisik menerka-nerka apa yang sedang mereka lakukan. Sementara itu, di bangku sebelah kiri panggung, aktor-aktor  yang lain sebagian besar mengucapkan dialog sehari-hari sambil melakukan gerakan akrobatik. Aksi tersebut tidak berhubungan dengan dialog atau kata-kata yang diucapkan oleh para aktor pada saat itu. Hal ini membuat permainan  aktor terkesan menjadi tidak wajar.

Melihat pementasan Petang di Taman ini, segera yang terlintas di kepala saya adalah pertunjukan  Kethoprak Lesung, Jaran Sungsang, Nyai  Ontosoroh, dan beberapa pertunjukan TGM lainnya yang  memang  mengandalkan gerak tubuh akrobatik. Sebelum saya sempat bertanya kepada ketua  TGM, Muhammad A.B, ternyata ia segera  lebih dulu menjelaskan  bahwa TGM tidak berkeinginan menjadikan anak-anak baru tersebut sama dalam gaya berakting. Kalaupun Petang di  Taman banyak gerak akrobatik, mungkin itu pengaruh dengan siapa mereka berlatih, tambahnya. Yang terpenting  adalah  bagaimana teman-teman baru di  TGM itu  mengalami peristiwanya terlebih dahulu—sebagai pentas pertama  mereka. Sebagai sebuah studi pentas, harapannya teman-teman yang senior maupun yang junior saling belajar dan berbagi  pengalaman, serta melakukan proses  bersama.

Terakhir, yang menarik selama studi pentas ini berlangsung, adalah para penonton  yang  terus memadati  ruang pertunjukan selama empat hari berturut-turut. Padahal selama empat hari itu cuaca selalu tidak cerah. Sebagian besar penonton  yang saya temui  merasa senang  dan menikmati pementasan tersebut. Hal itu lebih dikarenakan suasana yang terbangun cukup hangat dan intim selama  pertunjukan.

Pementasan perdana bagi para aktor pemula tersebut, mengingatkan beberapa penonton —yang pernah bermain teater— tentang pengalaman mereka sendiri.  Romantika pengalaman pentas pertama; grogi ketika berakting, kesalahan teknis atau hapalan  yang kacau, melakukan sesuatu yang tidak perlu, lepas  kontrol, vokal kurang keras, dan lain-lain. Namun, justru  hal itulah yang membuat sebagian  besar penonton tetap betah menonton. Karena peristiwa yang terjadi —kesalahan yang  kadang  menjadi terlihat lucu— itu jujur.

* Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor Teater Garasi

(terbit di skAnA volume 06, April – Juli 2008)

*****


Pemain Petang di Taman:

Lelaki Setengah Baya: Muhammad Rasyid Ridlo/ Orang Tua: Rifky Riza Fanani/ Wanita Muda: Kartika Putri Hestiyasari/Penjual Balon: Ahmad Rosyid Farhani/ Pasangan Kekasih: Yan Nugrah & Eli Arnitawati

Komentar  Penonton:

“Aku nonton semuanya. Yang paling kusuka Sayang Ada Orang Lain. Secara keseluruhan, keempat pementasan  ini, aku ngeliat mereka menikmati proses mereka, meski ya  beberapa kekurangan masih banyak. Yang  terasa banget   tuh  vokal yang kurang keras. Mungkin ditambah penonton yang banyak juga. Oh ya, aku suka respon penontonnya. Kayak nonton apa, gitu. Apalagi kalau ada kalimat cinta-cintaannya. Penonton yang bisa komentar bareng.” (Desi, usia 24 tahun, asli Madiun)

“Sebagai pemula, mereka sangat potensial. Harapannya bisa terus maju ya, tiga atau empat tahun lagi jika dilatih dengan sungguh-sungguh. Bisa tercipta manusia-manusia yang utuh seperti yang dicita-citakan Universitas Gadjah Mada. Karena sekarang  Gadjah Mada  kehilangan ruh kebudayaannya. Semoga TGM menembus kancah perteateran nasional.” (Prof. dr. Sutaryo, 59 tahun, Ketua Senat Akademik UGM)