Oleh: Tingkir Adi Susanto

Sebelum memasuki ruang panggung pertunjukan, tepat di tengah Lobby gedung pertunjukan, beberapa dupa terlihat masih menyala, dan dengan angkuhnya bercokol di antara kelopak-kelopak bunga mawar yang bertebaran. Harum dan dingin terpaut menjadi satu dalam temaramnya suasana. Suasana yang membuat sedih, sedih terhadap keberingasan kita sebagai manusia yang tak pernah cukup dengan apa yang sudah kita miliki. Terus dan terus mencari keuntungan terhadap apa yang telah, sedang, atau yang mungkin akan terjadi.

Malam itu, Jumat, tanggal 29 Febuari 2008 pukul:19.30. WIB. Keluarga Rapat Sebuah Teater dalam naungan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, menggelar pertunjukan teater berjudul Nyonya-Nyonya karya Wisran Hadi di gedung Sosietet Militer Taman Budaya Yogyakarta. Pementasan berdurasi hampir 120 menit ini di sutradarai oleh Andhika Anggawira S.Psi, dengan aktor berjumlah 6 orang.

Pertunjukan ini bercerita tentang seorang pedagang barang antik (Eugenius Aldi) yang mengharapkan seorang Nyonya (Indah Yuniarti) untuk menjadi miliknya. Sang Pedagang menggunakan berbagai cara yang halus namun penuh dengan kelicikan. Satu persatu barang sang Nyonya dibeli oleh sang Pedagang. Lama kelamaan sang Nyonya jengkel terhadap perilaku tersebut, tetapi di lain sisi ia juga tergiur pada tawaran sang Pedagang. Sayangnya sang Nyonya tidak bisa menikmati uang yang ia dapatkan, karena ia selalu ditekan oleh ketiga keponakannya (Fransisca, Olla Apnoza, Yova Yolanda) yang selalu meminta bagian darinya. Dan yang lebih tragis lagi, istri (Ratih Pertiwi) sang Pedagang pun semakin memperkeruh masalah yang ada.

Salah satu adegan dalam "Nyonya-nyonya" KRST

Malam itu penonton cukup membludak, bahkan tidak sedikit penonton yang tidak mendapat tempat duduk. Serombongan penonton terpaksa duduk lesehan di depan panggung. Meski beberapa waktu kemudian serombongan penonton itu pergi meninggalkan tempat duduknya.

Suasana pertunjukan di atas panggung merupakan suatu kolaborasi akting, set artistik, dan musik yang saling mendukung, sehingga membentuk sebuah alur cerita yang terbaca. Tata letak properti bukan sekadar memenuhi sudut ruang, akan tetapi lebih menitik beratkan pada perhitungan dan penyiasatan untuk menciptakan karakter suatu ruang. Panggung diubah menjadi beberapa bagian, yaitu: teras, ruang tamu, dan kamar tidur lengkap dengan meja make up-nya, yang menggambarkan sebuah ruangan rumah keluarga kaya. Tatanan ruang tersebut mampu melukiskan cerita seputar perjalanan kehidupan manusia. Seakan ingin bercerita  tentang  persoalan-persoalan umum yang selalu menggumuli setiap gerak langkah manusia, baik secara sadar maupun tidak sadar di dalam dunianya. Tak heran jika dari awal sampai akhir  pertunjukan mampu menggugah emosi dan psikologi penonton yang melihat pementasan tersebut. Sorot lampu juga mampu membantu menambah karakter dari beberapa set properti yang ada di atas panggung, yang membuat susana semakin hidup.

Sementara, gerak dan gestur tubuh aktor terlihat masih kurang dalam penguasaan panggung. Hal itu bisa terlihat dari beberapa aktor yang kerap berada di satu titik permainan, yang menyebabkan kurangnya mobilatas gerak dan bloking. Tetapi para aktor berusaha semaksimal mungkin membangun suasana lewat kekuatan akting dan dialog mereka, meski  tak jarang ada beberapa permainan yang terasa datar. Indah Yuniarti pemeran Nyonya, dalam pementasan ini tampak berusaha memaksimalkan aktingnya yang berkarakter. Hal itu cukup dapat membantu menutupi kekosongan aktor lain di dalam pementasan ini.

Malam itu Keluarga Rapat Sebuah Teater telah berhasil mementaskan karya Wisran Hadi “Nyonya-Nyonya”. Karya yang pernah menyabet juara dua dalam lomba penulisan naskah drama Dewan Kesenian Jakarta tahun 2003.

Setelah pertunjukan itu, baru kusadari, sejak semula aku memasuki Lobby gedung pertunjukan; Nyonya-Nyonya itu memang meminta perhatian.

(terbit di skAnA volume 06, April – Juli 2008)


Kerabat kerja:

Sutradara: Andhika Anggawira S.Psi/ Asstrada: Hendi Kukuh Baskoro/Setting dan Lighting: Frans B. Pontoh, Ginanjar Rachman/Kostum dan Make Up : M.B.K Kumala Laras/Musik: Arswendi Darma Putra/Aktor: Indah Yuniarti, Eugenius Aldi, Ratih Pertiwi, Fransisca, Olla Apnoza, Yova Yolanda.

Komentar Penonton

“Dialognya terlalu bertele-tele, bagi orang awam, ceritanya membosankan. Suasana ruang dan musiknya monoton. Untuk penjiwaan karakternya sudah bagus, tapi sedikit masih kaku.” (Hambar Riyadi, 21 Tahun, Menejer Bengkel Mime Teater)

“Pentasnya bikin ngantuk, Mas.” (Ardi, 21 Tahun, Penikmat seni)

“Suara timbul tenggelam, jadi nggak gitu jelas tokohnya ngomong apa. Karakter nyonyanya udah dapet, tapi yang lain belum. Settingnya masih belum maksimal. Padahal udah bagus banget penataannya.” (Desi Puspitasari, 20 Tahun, Mahasiswi Fak Pertanian, Noveliswati)