Oleh: Andy Sri Wahyudi*

“Apakah mereka tahu apa yang mereka benci?! Apakah perbuatan mereka lebih beradab dari apa yang mereka tuduhkan padaku?!”

Shodiq, pemuda gagah nan tampan itu berteriak, ia  memberontak meski akhirnya mati di tengah amukan massa yang menghajarnya. Shodiq hanyalah pemuda desa yang ingin melestarikan budaya leluhurnya: kesenian Jaran Kepang. Seni tari tradisional yang berkembang di daerah Ponorogo Jawa Timur. Tarian yang menarik dilihat karena gerakan yang  melenggak-lenggok di atas jaran kepang. Hingga lenggokan itu menginspirasi dan menjadi sebuah judul pertunjukan teater Lenggok. Produksi Teater Retorika Fakultas Filsafat UGM, dipentaskan di gedung Societed Militer Taman Budaya Yogyakarta, pada hari kamis tanggal 14 Februari 2008. Disutradarai oleh Topeng Zukma.

Pertunjukan dikemas dalam bentuk ketoprak lesung, yang dipadukan dengan iringan musik band. Panggung berlatar set artistik yang terkesan abstrak; kain-kain putih tersampir pada instalasi dari kawat warna silver. Setting panggung terlihat sederhana; berupa warung kecil yang berdampingan dengan dua buah lesung. Di  warung kecil itulah, tempat bertemunya orang-orang yang menggulirkan dialog dan alur cerita. Awalnya hanyalah peristiwa sehari-hari yang penuh gosip, isu, ejekan, sindiran, dan pertengkaran kecil, hingga menjurus pada peristiwa serius yang membentuk titik konflik. Sementara, teknik permainan para aktor di atas panggung masih terlihat lemah dalam beberapa hal. Dialog dan akting terasa datar dan tak saling mendukung, juga gestur tubuh masih kurang mendekati karakter tokoh yang dimainkan. Hanya tokoh Shodiq (Sukma Rengga) dan Mbah Genjik (Iswi Benyamin) yang berhasil membangun dinamika permainan dengan kemampuan aktingnya. Sementara itu, lesung yang menjadi ikon pertunjukan sangat jarang difungsikan, hanya tampak seperti dekorasi panggung saja.

Bondan Nusantara, Tokoh ketoprak Yogya, dalam komentarnya mengatakan, “Nah, untuk kedepannya perlu dipikirkan lagi tentang harmoni, seperti musik dan penguasaan ruang”. Seperti yang dikatakan Bondan Nusantara, musik yang berkeinginan membangun dramatika permainan itu, kadang malah memotong dramatika permainan itu sendiri. Hal itu dikarenakan lemahnya titik sambung yang membangun  tangga dramatik.

Di lain sisi, tema cerita yang diusung Teater Retorika sangatlah menggigit. Perihal tragedi yang terus menghantu dalam ingatan masyarakat. Tragedi enam lima yang berdarah: terbunuh dan tersingkirnya orang-orang (yang dituduh) komunis. Para korban itu mendapat stigma atau cap buruk yang melekat sampai ke anak cucunya di tengah masyarakat.

Dalam cerita Lenggok, stigma tersebut terus melekat dalam kehidupan Shodiq, Wulan dan Ratih. Tetapi tiga bersaudara itu mempunyai pandangan yang berbeda dalam menyikapi sejarah orang tuanya (Cak Sarpan dan Ning Ri’ah), yang menjadi tertuduh sebagai penggiat LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Shodiq bersikeras untuk tetap memperjuangkan semangat orang tuanya dalam berkesenian, Wulan memilih diam, menerimanya sebagai nasib. Sementara Ratih justru menggugat “dosa turunan” dari orang tuanya. Konflik pun terjadi, hingga Shodiq memutuskan pergi dari rumah.

Di tempat barunya, Shodiq berhasil menjadi pengajar tari untuk anak-anak kecil. Namun akhirnya waktu telah menguak rahasia “dosa turunan” yang melekatinya. Para elit masyarakat pun terusik. Shodiq mulai dicurigai sebagai penghasut.

Pada akhir cerita, kedua saudara perempuan Shodiq sudah mulai menerima sikap Shodiq dan berusaha mencarinya. Tapi naas, mereka bertemu saat Shodiq sekarat merenggang nyawa.

Lantas bagaimana nasib seni tradisi yang diperjuangkan Shodiq? Tari Jaran Kepang yang melenggak lenggok itu, mungkin akan bernasib sama dengan Shodiq.

* Andy Sri Wahyudi, reporter skAnA, aktor dan sutradara Bengkel Mime Theatre

(terbit di skAnA volume 06, April – Juli 2008)


Tim Kerja Pertunjukan:

Pimpro:  Jovanka Edwina/Sutradara:  Topenk Zuqma/Asstrada:  Dande N. Ardian/Artistik:  Tunjung, Moka/Stage Manager:  Asma Rumaisa/Lighting:  Jammie, Dani Suhada/Kostum:  Dewi Saraswati/Musik:  Sunday Morning/Pemain: Sukma Rengga, Tresna Puspitasari, Anneke A. Sihombing, Nesia Putri, Suluh Pamudji, Sugeng Riyadi, Iswi Benyamin, Ayu Fitria Yunita, Hafitz Maulana.

Komentar penonton:

“Masih banyak kendala teknis seperti akting, bloking, ekspresi dan movement. Tapi itu hal biasa, yang ingin saya tanggapi persoalan ide atau gagasan; ada upaya terobosan cerita yang berbeda. Biasanya banyak cerita yang di atas angin, apalagi anak-anak filsafat. Tapi dalam cerita ini persoalan menjadi cair dan kongkrit. Saya salut. Nah, untuk kedepannya perlu dipikirkan lagi tentang harmoni, seperti musik dan penguasaan ruang. Satu hal lagi, adanya kekuatan potensi yaitu plural, karena pemainnya dari banyak daerah. Jadi bahasanya tidak lu gue!” (Bondan Nusantara, Sutradara Ketoprak, 56 Tahun)

“Kurang tergarap, isunya lama. Menarik sih tapi ya itu tadi: kurang tergarap.” (Ficky Tri Sanjaya. Aktor Bengkel Mime Teater, 20 tahun)

“Bagus, hidup dan nggak kaku.” (Ibu Sihombing, Ibu rumah tangga, 40-an tahun)

“Sip! Musik harus dibenahi, gesture dan postur perlu diperdalam lagi. Dan sadar ruang.” (Panca, Mahasiswa filsafat UGM, pecinta seni, 23 tahun)

“Mudah dimengerti, sosialis banget.” (Hafis,  Mahasiswa komunikasi UMY, Semester 4, 20 tahun)