Oleh:  Wahyu Novianto*

Tahun 1983, ketika saya baru berumur satu tahun, Teater Gandrik berdiri. Dua puluh lima tahun sudah Teater Gandrik menghiasi panggung teater Indonesia. Selama itu pula Teater Gandrik telah mampu menyajikan spirit teater tradisi dengan gaya teater modern. Warna lokal budaya Jawa pada Teater Gandrik demikian kuat melekat di setiap pementasan yang digarapnya. Kemudian banyak kritikus mengatakan bahwa Teater Gandrik menggunakan pola estetika sampakan seperti pada gaya pertunjukan-pertunjukan ketoprak. Konsistensi terhadap bentuk dan gaya ucap itulah yang menjadikan Teater Gandrik pantas untuk dicatat dalam sejarah teater modern di Indonesia.

Dalam proses penggarapan naskah Sidang Susila karya Ayu Utami dan Agus Noor kali ini, saya sangat tidak menyangka bisa terlibat di dalamnya. Sebuah kebahagiaan yang luar biasa ketika saya bisa masuk dan melebur ke dalam kehidupan Gandrik. Suatu kehidupan baru dalam pengalaman saya berteater. Saya merasakan seperti berada di dalam tengah-tengah pasar, angkringan, atau pos ronda. Semua bebas untuk berkelakar menanggapi berbagai hal yang muncul seketika. Dimana batas-batas individual dikaburkan.

Tentu saja hal tersebut menjadi peristiwa asing bagi saya, karena proses teater yang biasa saya lakukan adalah dengan pola-pola akademis yang sistematis dan terencana. Terlebih lagi terbentang jarak emosional yang jauh antara pemain Gandrik tua dan muda. Hal tersebut kadang membuat saya dan teman-teman Gandrik muda belum bisa ikut berkelakar, gojek, bahkan pisuh-pisuhan secara bebas. Namun berkat Mas Butet yang selalu mengajak kita untuk melebur menjadi bagian dari setiap peristiwa kekonyolan-kekonyolan yang terjadi, baik saat latihan berlangsung maupun di luar latihan, jarak tersebut sedikit terkikis.

Teater Gandrik menyikapi bahwa latihan tidak sebatas saat reading ataupun penggarapan bloking. Namun, relasi pergaulan antar pemain di luar latihan pun merupakan sebuah proses berlatih. Relasi-relasi yang penuh tawa tersebut yang kemudian akan membentuk kegairahan bermain, sehingga setiap aksi ataupun ucapan dapat dilakukan secara ikhlas dan happy. Sikap ikhlas dan happy itulah yang menjadi kata kunci dalam setiap proses latihan. Hal tersebut membuat setiap latihan yang dilakukan tidak menjadi beban. Begitu sudah tidak menjadi beban, maka tubuh akan dengan ikhlas bermain dan dengan mudah mencapai berbagai capaian artistik.

Gaya celengekan dan saling mengejek dalam pergaulan sehari-hari itulah, yang kemudian berimbas besar ke dalam setiap pertunjukan teater yang digarap Teater Gandrik. Oleh karena itu, baik saat pertunjukan maupun latihan atmosfernya tidak jauh berbeda. Hal tersebut yang kemudian membuat seorang aktor sangat bebas untuk bermain-main. Veven Sp. Wardana mengistilahkannya dengan “bermain-main sebagai”, yakni aktor selalu keluar masuk peran yang dibawakannya. Membangun sebuah konstruksi dramatik yang kemudian dihancurkanya sendiri. Dalam disiplin teater, hal tersebut biasa disebut dengan gaya Brechtian. Tidak menciptakan jarak antara panggung dan penonton, juga menyadarkan penonton bahwa peristiwa di panggung bukanlah realitas yang sebenarnya. Hal tersebut mendorong penonton untuk bersikap kritis untuk menyikapi antara realitas panggung dengan realitas yang terjadi di dalam kehidupan sehari-hari.

Teater Gandrik dalam "Sidang Susila"

Proses penggarapan naskah Sidang Susila ini merupakan proses pertama bagi saya bermain tanpa seorang sutradara. Proses yang saya jalani biasanya menempatkan seorang sutradara sebagai seorang pemimpin yang mengawal proses penciptaan artistik. Sutradara pada umumnya mempunyai grand design artistik yang akan dicapainya, dan hal tersebut hanya bisa dilakukan dengan satu kepala. Konsep penyutradaraan menjadi dasar pijakan kerjasama antara sutradara, pemain, penata setting, dan seluruh tim yang terlibat di dalamnya untuk mencipta.

Dalam kasus penggarapan Sidang Susila, peran seorang sutradara digarap secara rame-rame. Semua orang yang berada di dalam lingkaran tersebut berhak dan wajib untuk urun rembug dalam proses penciptaan. Bahkan setiap orang yang menunggu dan melihat proses latihannya pun diminta tanggapannya. Semua yang terlibat di dalam proses adalah seorang kreator yang bertanggung jawab dan berhak mencipta pada wilayah artistiknya masing-masing. Dalam proses penggarapan  Sidang Susila, posisi yang mendekati peran seorang sutradara adalah koordinator artistik (Butet Kartaredjasa), dan tugasnya pun tidak lebih dari menganyam berbagai ide atau gagasan yang seliweran bahkan bertabrakan selama proses penciptaan berlangsung.

Setiap orang (pemain, pemusik, penata setting) dibebaskan untuk menafsir ke dalam berbagai bentuk bahasa ungkap. Semua hasil perolehan tersebut harus dipresentasikan atau diujikan pada saat latihan berlangsung. Kemudian yang lain diwajibkan untuk mengamati dan menilai hasil presentasi. Setelah itu didiskusikan bersama untuk menjalin kesepakatan-kesepakatan. Tidak menutup kemungkinan apa yang didapat hari ini, akan dipertanyakan kembali atau bahkan ditentang oleh sesama kreator. Setiap hari gagasan terus tumbuh dinamis dan segar.

* Wahyu Novianto, aktor muda Teater Gandrik, tinggal di Yogyakarta.

(terbit di skAnA volume 06, April – Juli 2008)