Oleh: Andy Sri Wahyudi*

Zero Matrik dan HP (Heart Poison) adalah dua judul pementasan teater yang dibawakan oleh kelompok Saturday Acting Club (SAC), pada tanggal 10 Desember 2007 di Kedai Kebun Forum (KKF) Jalan Tirtodipuran Yogyakarta. Pementasan yang masuk dalam program Grand Kedai Kebun Forum #1.

Pada repertoar pertama permainan aktor terlihat ramai di atas panggung. Menciptakan lintasan peristiwa yang silih berganti. Semula hanyalah seorang lelaki berwajah membosankan, duduk sendirian di sebuah kursi panjang. Seperti duduk di sebuah taman yang sepi. Diam, agak lama, tapi meminta perhatian. Kemudian satu-dua orang melintas, tak ada sepatah pun kata. Lalu semakin banyak langkah-langkah yang mengisi panggung pertunjukan. Membentuk ruang yang penuh prasangka, peristiwa, dan perjalanan yang sulit terbaca.

Lalu pada repertoar kedua, HP (Heart Poison). Repertoar yang berkisah tentang Hand Phone. Alat komunikasi yang sudah menjadi candu di era teknologi itu telah mempengaruhi cara pandang manusia akan kebutuhan pertemuan dengan manusia lain. Tanpa disadari sensitifitas manusia menurun. Hand Phone telah menempatkan manusia pada ruang kesendirian di tengah manusia yang lain.

Pementasan kedua repertoar tersebut menempatkan aktor sebagai pilar utama. Sehingga para aktor benar-benar bekerja keras dalam berakting, dan membangun relasi dengan elemen panggung yang lainnya seperti setting, property, dan lighting. Aktor dengan gerak dan bentuk tubuhnya yang tertata, seolah membuat ruang berbicara banyak hal tanpa harus berkata-kata.

Properti panggung yang tak begitu ramai, bukan semata  dekorasi yang diam. Tetapi terjadi pergerakan yang fungsional, seirama dengan tubuh aktor yang juga terus bergerak. Dalam repertoar HP misalnya, properti yang berbentuk kerangka pintu, sekaligus dapat menjadi setting yang menyatu dengan gerak aktor, juga menumbuhkan ruang-ruang dan mencipta suasana yang berbeda-beda,  yang dibangun oleh para aktor. Sedangkan dalam repertoar Zero Matrik, meskipun aktor nyaris tak bersuara, hanya mengandalkan gerak dan gestur tubuh, tapi terasa begitu ramai. Melahirkan suasana yang diam namun meresahkan.

Kedua repertoar tersebut terus mengalirkan ide-ide yang terwujud dalam koreografi gerak yang tertata. Sebuah peggarapan bentuk dengan imajinasi yang rajin disirami; imajinasi yang dibiarkan liar, yang kemudian diolah hingga membentuk  nilai artistiknya sendiri. Kedua repertoar itu telah memprovokasi para aktornya untuk terus menggali potensinya. Hanya sayangnya, ruang pertunjukannya kurang luas. Menyebabkan aktor terlihat menumpuk dalam beberapa adegan.

Rupanya kelompok yang mulai menyusun strategi untuk melangkah maju ini, telah mendapat sambutan dari penonton yang mulai mengikuti proses kreatifnya.

* Andy Sri Wahyudi, reporter skAnA, aktor dan sutradara Bengkel Mime Theatre

(terbit di skAnA volume 06, April – Juli 2008)

*****


Kerabat Kerja

Sutradara: Rosa R Rosadi/ Asstrada: Ibe Darmadi, Rendra/ Penata Musik: Dadush Bogues/ Penata Artistik: Toto Khope dan Eko Sulkan/ Penata Lampu: Noegroho Pamungkas/ Pemain: Ucok, Cuwie, Iyak, Intan, Ratna, Joe, Wheni, Jamal, Siti, Eja, Nanik.

Komentar Penonton

“Mengesankan, apalagi yang reportoar ke dua kena banget. Tapi yang kedua terlalu banyak idiom-idiom, terlalu banyak gagasan. Jadi ya memusingkan.” (Mimi Silmiati, Perupa, 23 Tahun, tinggal di Jakarta)

“Bagus sih dari segi penyajiannya, kena banget apa yang dimaksudkan meskipun dengan kata-kata yang minimalis.” (Fendi, 23 Tahun, Mahasiswa ISI Fak Seni Rupa, semester akhir )

“Aku senang yang pertama, yang kedua ada beberapa adegan yang cocok untuk lukisan. Ada beberapa hal yang bombas!” (Rudy Wuryoko, 24 tahun, Mahasisiwa ISI, jurusan Grafis)

Aku nggak ngerti, maksudku visualnya nggak ngerti, tapi secara cerita saya tahu setelah baca sinopsis. Secara aktingnya nggak begitu dong! (Brekele, , 24 Tahun, Mahasiswa UMY jurusan HI, semester delapan)

“Asyik, Aku suka, aku enak aja gitu. Pokoknya Sip!” (Thendra, 27 Tahun, Penyair dan teaterawan muda)

“Waduh Medheni, pikiranku ra nyandak. Wis apik ngono wae. (aduh menakutkan, pikiranku nggak nyampai. Bagus gitu aja.) Saya senang, secara ide bagus, tapi penggarapannya kurang rapi, aktingnya kurang mantap. Soalnya sepertinya tuntutannya kerapian, semua diatur. Jadi…, Wah kalau ini lebih rapi, misalnya serempak, atau pas tidak serempak tapi memang ada motif, tapi tadi ada kecanggungan yang menghambat.

Lalu yang pertama itu, absurditas kediaman. Memang saya nggak tahu, beliaunya nggarap diam atau tidak. Saya menangkapnya tadi: diam yang digarap, lalu obyek atau motifnya kehidupan masyarakat…masyarakat apa itu namanya? Yang sekarang sudah ada mall, orang melarat juga jalan-jalan di mall (memberi gambaran). High class? Modern? atau masyarakat apa namanya itu?” (Untung Basuki, Teaterawan dari Bengkel Teater Rendra dan Musisi kelompok SABU)