Oleh : Hindra Setya Rini*

Risky Summerbee & The Honeythief – band Rock Progresif/Psychedelic asal Jogja menempuh sebuah perjalanan musikal bersama Slamet Gundono dan Komunitas Wayang Suket – seniman wayang kontemporer gaya pesisiran asal Tegal, tinggal di Solo.

Kolaborasi musik yang berbeda genre; Risky Summerbee dan The Honeythief (RSTH) dari kalangan indie band dan Slamet Gundono dari kalangan seni tradisi. Berpijak dari teks Gandari – ibu klan Kurawa dari epik Mahabarata, kedua kelompok musik ini mencoba berinteraksi dengan nilai-nilai musik yang mereka miliki, seperti proses Penggendaman yang diusulkan Slamet Gundono, atau kecenderungan folk dan blues yang sering diusung oleh RSTH.

Jumat, tanggal 1 Februari 2008, tepatnya mulai pukul 21:15 WIB konser musik Memoir of  Gandari ini ditampilkan di ruang seminar Taman Budaya Yogyakarta.

Pertunjukan yang semula akan dilangsungkan di Amphitheatre TBY pukul 20.00 WIB tersebut terpaksa diundur karena mengalami kendala cuaca—hujan yang tak kunjung reda—yang tidak memungkinkan untuk pentas sesuai rencana awal. Sekitar satu jam sebelum pertunjukan, para kru serta pendukung acara memindah tempat pertunjukan dari Amphiteatre TBY ke dalam ruang seminar TBY yang tertutup. Sementara itu,  di luar tempat pertunjukan para penonton berjubel menunggu konser di depan pintu ruang seminar.

Segera setelah pintu dibuka, penonton langsung menempati kursi-kursi yang tertata rapi setengah melingkar dan sebagian duduk lesehan di depan penampil. Kira-kira 250 penonton memadati  ruangan. Tak lama kemudian para personil RSTH maupun pemusik Komunitas Wayang Suket mengisi pos masing-masing. Setelah MC membuka acara, dimulailah pertunjukan konser malam itu.

Dimulai dengan tone yang lembut yang dibawakan oleh Nadya (keyboardist RSTH), segera direspon langsung oleh pihak Komunitas Wayang Suket dengan iring-iringan gamelan serta kendang. Kontan saja membuat para penonton terpaku mendengar dan melihat aksi mereka. Belum lagi hentakan drum dari Sevri Hadi yang dahsyat, lead dari Erwin yang ngeblues serta betotan bass dari Doni yang enerjik,  lalu diikat oleh Risky sendiri dengan berbagai macam instrumen musik, semakin membuat penonton betah di tempatnya. Selama lima repertoar lagu mereka gelar, tidak ada penonton yang terlihat beranjak meninggalkan konser.

Dalang Slamet Gundono yang malam itu banyak melakukan interaksi dengan para penonton mampu menghadirkan aura tersendiri. Dia bercerita bagaimana mendapatkan nada-nada yang melantun dari dawainya. Dengan perawakan yang tambun serta sedikit logat dari Tegal yang kental, ia juga mampu mengundang tawa para penonton. Suasana yang terbangun cukup intim.

Acara yang didukung oleh Yayasan Kelola, Teater Garasi, The Netherlands Embassy, Taman Budaya Surakarta, Bukan Musik Biasa, Komunitas Wisma Seni ini bisa dibilang cukup sukses dalam pementasan. Beberapa penonton yang ditemui di akhir acara juga merasa terhibur dengan pertunjukan RSTH dan Komunitas Wayang Suket yang berdurasi sekitar satu jam tersebut.

* Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor Teater Garasi

(terbit di skAnA volume 06, April – Juli 2008)

Para Pemusik

Risky Summerbee & The Honeythief : Risky Summerbee, Rwin Zubiyan, Sevri Hadi, Doni Kurniawan dan Nadya Hatta.

Komunitas Wayang Suket : Slamet Gundono, Sri Waluyo, Kukuh, Dwi Priyo dan Sutrisno.

Komentar Penonton

“Aku merasa Slamet Gundono kurang banyak porsi mainnya, dan mungkin karena konsernya indoor, suaranya jadi  nggak jelas. Baik waktu nyanyi maupun cuma ngomong. Tapi secara keseluruhan konsernya bagus, kok!” (Vanie, 22 tahun,  Mahasiswi PBI)

Musikalitasnya liar. Hanya saja  kolaborasi Jawa pesisirannya  kurang  menyatu. Apa karena latihannya kurang lama, ya?” (Greek,  24 tahun, Pelukis)

“Bagus abis! Apalagi pemain-pemainnya rata-rata masih muda. Jarang anak muda yang maen musik beginian. Jadi seger. Sayang, hujan jadi konsernya gak maen di luar. Tapi tetep enak dilihat dan didengar…” (Sasha, 21 tahun, Aktor Teater Tangga dan calon dokter kandungan, UMY)