Oleh: Muhammad A.B*

Enam kursi lipat ditata tidak beraturan di dalam panggung, enam orang duduk di atasnya dengan pakaian seperti yang dikenakan pasien di rumah sakit. Keenamnya menunjukkan gejala-gejala tubuh yang bergerak di luar kontrol. Sakit? Tubuh mereka seperti lunglai dan lemas, bersandar di kursinya masing-masing. Ada yang menampari wajahnya sendiri, ada yang seperti berusaha meraih sesuatu di depannya dengan tangan, seseorang tiba-tiba berdiri dan segera duduk lagi. Lalu musik mulai berdentum seiring mereka berdiri dan berjalan dengan gejala tubuh yang aneh. Perlahan-lahan bentuk tubuh mereka berubah seperti seekor tikus, lalu berlarian pergi membawa kursi.

Itulah fragmen awal dari pertunjukan Suspect: datangmu terlalu cepat yang dibawakan Bengkel Mime Theater pada tanggal 8-9 Februari 2008 di Auditorium Lembaga Indonesia Perancis, Yogyakarta. Bagi Bengkel Mime Theater, ini adalah pertunjukan pertama mereka setelah satu tahun absen dari panggung pertunjukan. Meski cuaca tidak begitu baik selama dua hari pementasan, namun nampaknya hal itu tidak mempengaruhi minat penonton. Auditorium LIP selalu dipenuhi penonton dalam dua hari pertunjukan. Beberapa penonton bahkan terpaksa hanya dapat menunggu di luar karena kehabisan tempat.

Suspect merupakan karya yang merujuk pada karya pertama Bengkel Mime Theater: Langkah-Langkah, yang bertemakan tentang jalanan kota. Kemudian terjadi pengembangan ruang dan peristiwa yang terdiri dari kehidupan bawah tanah, Mall, aktivitas jalanan, dan supermarket.

Suspect menghadirkan fragmen-fragmen peristiwa yang berseliweran di atas panggung, tubuh-tubuh para aktor pantomim membawakan kisah-kisah mereka sendiri. Ada laki-laki pemabuk, ada pekerja salon, dan ada dua orang laki-laki yang berebut koran. Juga orang-orang yang berjalan tergesa hingga akhirnya saling bertubrukan lantas terjadi perkelahian.

Bengkel Mime Theater nampaknya ingin menghadirkan kota yang dinamis, lewat gerakan-gerakan dalam tempo tinggi serta musik yang berdentum cepat. Pertunjukan berayun dari satu sisi panggung ke sisi yang lain. Berlangsung dalam fragmen-fragmen yang tak saling berkaitan. Suspect tidak bercerita secara utuh mengenai satu hal.

Pertunjukan ini membawa kegelisahan para aktor Bengkel dalam melihat dan merasakan dinamika kota. Kegelisahan mereka nampaknya sampai pada kesimpulan, bahwa kota melahirkan orang-orang yang sakit dan tubuh yang gagap. Setidaknya itu yang terlihat dari cerita-cerita yang dibawakan tubuh mereka.

Tapi seperti repertoar sebelumnya—Rudy Goes to School, Tiga Bebek Kecil, dan SuperYanto—, mereka tidak pernah kehilangan selera humor. Seorang yang berpakaian seperti laiknya Batman dan seorang badut, dimainkan dengan apik oleh Andy SW dan Hambar Riyadi berhasil menjaga penonton untuk tidak bosan dengan cerita yang dibawakan tubuh aktor yang lain. Kedua karakter tadi memancing tawa penonton, tapi kemudian mereka malah membalas menertawai penonton. Membuat sebagian penonton terdiam tiba-tiba.

Setelah pertunjukan usai, penonton beranjak dari tempat duduknya masing-masing. Beberapa menyalami para awak Bengkel Mime Theater, ada beberapa yang lain mengajak foto bareng para aktor-aktornya. Yah, pertunjukan sudah berakhir, dan penonton bergerak keluar dari Auditorium LIP, kembali menghadapi kota Jogja yang gagap…

Bengkel Mime Theater = Bengkel Pantomim

Kalau teman-teman pernah membaca skAnA edisi 3 & 5, akan kalian temukan artikel yang menuliskan tentang Bengkel Pantomim. Nah, mulai pertunjukan Suspect kemarin, Bengkel Pantomim resmi meproklamirkan namanya yang baru: Bengkel Mime Theater. Hal ini berkaitan dengan pilihan jalur pertunjukan yang mereka geluti, mencari kemungkinan yang lebih luas dari pantomim, tanpa menghilangkan unsur  pantomim yang menjadi basisnya.

Nah, jadi jangan salah dan bingung dengan nama Bengkel Mime Theater. Kalau Shakespeare bilang “apalah arti sebuah nama?”, tapi bagi anak-anak Bengkel ternyata sangat berarti, paling tidak dengan nama yang baru ini mereka berharap mendapat lebih banyak hoki. Terbukti dengan nama baru ini mereka berencana menggelar pertunjukan di beberapa kota dalam waktu dekat ini.

*Muhammad AB, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 06, April – Juli 2008)

Tim Kerja:

pimpinan produksi Endah Sri Wahyu Handayani staf produksi Hambar Riyadi perangkai gerak Ari “Inyong” Dwiyanto pewujud teks cerita Andy Sri Wahyudi penata  artistik Pingky Ayako Saputro & Sugeng “Klemin” Pribadi kru artistik Domexz stage manager Noviar Eka Putra penata musik Ari Wulu penata lampu “Bureq” Agus Salim make up & perancang kostum Asita pewujud kostum Yuni Wahyuning aktor Andy SW, Ari “Inyong” Dwianto, Asita, Bambang Nur Topo, Ficky Tri Sanjaya, Hambar Riyadi, Ronald Pasolang dokumentasi video Sugeng Utomo & Dion Durga dokumentasi foto Arief Sukardon

Komentar Penonton

“Tubuhnya keliatan kaku, ototnya kenceng dari awal sampai akhir. Kostumnya kurang warna-warni. Hidungnya gak kelihatan.” (Sigit Gembong, Pendiri Anak Wayang Indonesia, 40an tahun)

“Awal membingungkan jika ga baca liflet. Gerakan bersama nggak kompak. Beberapa gerakan kurang jelas, terlalu cepat, atau terlalu kecil. Gak keliatan. Terlalu banyak Gerr sehingga gak memperhatikan urutan adegan dan pesan yang disampaikan hanya sekedar potongan-potongan. Tidak ada alur ke puncak. Ending gak jelas.” (Dhika, 18 tahun, kelas 3 SMU)

“Kurang mengena dan musiknya kurang pas.” (Chichi, Mahasiswi UMY, Jurusan Komunikasi, semester 6 21 Tahun)

Ekspresinya kurang, jalan ceritanya kurang menggigit. Belum ketemu ciri khas bengkel. Hanya sekedar melakukan (teknis) aku lebih suka yang dulu-dulu coz Gerrr…yang ini ada penurunan. (Blembong, Pemuda kampung, 21 Tahun)