Oleh: Naomi Srikandi*

Barangkali aku menulis ini karena aku tengah mengidap penyakit itu: nostalgia. Ini terjadi setelah beberapa waktu lalu aku menyaksikan Teater Gandrik menggelar lakon berjudul Sidang Susila karya Ayu Utami yang diadaptasi oleh Agus Noor, di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta. Ketika aku pulang dan membaca buklet; aku membaca keinginan Teater Gandrik untuk melakukan regenerasi.

Suatu malam, tahun 1995, di Purna Budaya, beralas tikar aku duduk lesehan. Sebagai mahasiswa semester awal dan bagian dari kelimun penonton yang memenuhi gedung sederhana  yang belum bernama Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri UGM itu, aku tengah tak sabar menanti. Beberapa menit lagi adaptasi bebas atas Inspektur Agung karya Nicolay Gogol akan dimainkan oleh Teater Paku.

Beberapa hari menjelang pergelaran tersebut aku diwanti-wanti oleh sumber yang lebih mengenal situasi perteateran Jogja ketimbang aku bahwa publik teater ini amatlah ramai, maka kalau ingin memilih tempat duduk yang paling asyik harus datang lebih gasik (awal). Butet Kartaredjasa, Novi Budianto, Jujuk Prabowo, Saptaria Handayani, Djaduk Feriyanto, Heru Kesawamurti, Susilo Nugroho, Joko Kamto, barangkali adalah sejumlah nama yang membuat pergelaran ini dinanti banyak orang. Sedang Teater Paku sendiri adalah nama baru, yang selain mewadahi sejumlah actor muda berbakat, juga diisi oleh nama-nama lawas di atas, setelah sebelumnya mereka terlibat dalam kelompok-kelompok yang duluan lahir, seperti Dinasti, Jeprik, Gandrik, Kyai Kanjeng, dan kelompok-kelompok yang aktif di tahun 80-an lainnya.

Sebagai newbie dalam hal menyikapi teater secara ‘serius’—melihatnya sebagai medium yang perlu diolah terus—tentu waktu itu aku datang ke Purna Budaya dengan semangat untuk tidak sekadar menjadi konsumen yang kepingin gumun, ingin dipukau oleh penampilan sekelompok pelaku teater yang konon memang memukau. Aku datang juga karena ingin mengamati sebuah gaya teater ‘cair’ yang disebut Sampakan digelar. Sebuah gaya teater rakyat yang kudengar di tangan Teater Jeprik, lalu Teater Gandrik, dulu tercipta (kembali) sebagai sebentuk alternatif teater yang mampu memecah kekakuan cara berekspresi teater modern di Jogja pada masa itu. Aku juga penasaran karena yang akan tampil bukan hanya aktor-aktor lama yang sudah basah kuyup dalam gaya Sampakan, melainkan juga beberapa aktor yang baru nyemplung.

Tapi, aduh, usahaku gagal. Aku terpukau. Mereka semua main bagus banget. Aku bisa melihat pantulan dari komentar banyak orang yang kudengar sebelumnya tentang karya-karya Teater Gandrik yang disebut monumental seperti Dhemit dan Orde Tabung. Tentang penciptaan kembali Sampakan sebagai ‘manifestasi teateral dan modern dari pola kritik varian rakyat kecil’ (mengutip Dr. Faruk) dengan menggunakan guyon parikena, tawa dalam getir, untuk menyentil isu-isu sosial politik yang sedang hangat dengan gaya canda. Guyon parikena inilah ciri Sampakan yang paling diapresiasi publik saat itu, yang hidup pada masa pemerintahan Orde Baru yang bersikap represif terhadap segala bentuk kritik.

Dapat kulihat bahwa Sampakan memberi ruang yang lebih bagi kebebasan berekspresi pemainnya. Gaya tersebut meluluhkan kekakuan-kekakuan konvensi yang lahir dari gaya teater modern yang baku, yang seolah menutup peluang atas kemungkinan pengolahan bentuk ekspresi yang lain. Ia juga menyingkirkan ‘tembok ke empat’ yang memisahkan panggung dengan penonton, menemukan kemungkinan bentuk hubungan yang baru antara pelaku teater dan penontonnya, melibatkan penonton sebagai bagian dari peristiwa teater. Sampakan juga menawarkan dramatika yang lain, montase yang mengacak urutan simbolik ruang dan waktu. Hal ini memberi kesegaran bagi cerapanku atas teater modern saat itu.

Dan ihwal penting lain yang tercatat: Teater Paku adalah manifestasi dari sebuah ide ‘regenerasi’. Teater Paku adalah upaya mewujudkan ide aktor-aktor Teater Gandrik untuk melebarkan Sampakan sebagai estetika yang bisa dipelajari dan dikembangkan pula oleh generasi pelaku teater yang lebih muda. Dan pergelaran Inspektur Agung malam itu dapat dikatakan menampakkan hasil yang meyakinkan atas pergulatan proses actor-aktor ‘baru’ dalam memasuki estetika Sampakan dalam sebuah kerja bareng dengan yang ‘lama’.

Sebagai penonton, membandingkan Sidang Susila-nya Teater Gandrik dengan Inspektur Agung-nya Teater Paku, aku melihat hasil yang tak sebanding. Memang tidak harus sebanding. Apalagi jika melihat konteks ruang dan waktu berlangsungnya, juga pelaku dan penonton kedua peristiwa teater tersebut berbeda. Tapi justru karena konteks yang berbeda itu, aku melakukan perbandingan. Aku menangkap soal ketika sebuah estetika yang sama dihadirkan tanpa memperhatikan perbedaan-perbedaan tersebut. Sementara ukuran sebuah teater tetaplah bagaimana pergulatan pelaku dengan ide tema (kenyataan yang dirujuknya) maupun estetika yang dipilihnya memapu mewujudkan sebuah peristiwa teater yang kuat. Berangkat dari sini, aku berpikir tentang bagaimana regenerasi menjawab tantangan pergulatan, atau istilah lainnya: proses kreatif tersebut.

Aktor-aktor muda dalam Sidang Susila Teater Gandrik

Dalam pengertian biologi, regenerasi adalah pertumbuhan kembali suatu organ atau jaringan untuk mengganti organ atau jaringan yang hilang atau rusak. Sedangkan dalam pengertian social, regenerasi adalah penghidupan baru, atau sokongan yang menguatkan daya hidup suatu area atau institusi. Regenerasi adalah syarat bagi hidup. Kebalikan dari regenerasi adalah tiadanya pertumbuhan, lemahnya penghidupan, sakratul maut, mati. Dari pengertian-pengertian tersebut tertangkap bahwa munculnya isu regenerasi dalam teater amatlah penting, dan bahkan niscaya. Jika teater masih diinginkan untuk hidup dan tumbuh.

Teater bukanlah semata jiwa yang abadi. Teater adalah suatu organ, jaringan, atau area, bidang, disiplin, dunia yang kongkrit. Teater adalah tubuh, yang membutuhkan sokongan untuk hidup. Bahkan jika merujuk pada pengertian regenerasi yang spiritual, jiwa pun tidak akan mencapai tingkat yang lebih tinggi tanpa regenerasi. Regenerasi suatu entitas teater sebagai jiwa dan tubuh yang hidup ini membuatku menimbang gagasan tentang nostalgia.

Nostalgia, sebagaimana diceritakan oleh Nicola Savarese dalam buku yang disusunnya bersama Eugenio Barba The Secret Art of the Performer, adalah istilah yang berasal dari bahasa Yunani (nostos, ‘kembali’, dan algos, ‘kepedihan’) yang dipakai seorang dokter Belanda di abad ke delapan-belas untuk menamai penyakit yang diderita orang-orang yang terpaksa tinggal jauh dari kampung halaman mereka untuk waktu yang lama.

Secara lebih subtil Savarese menggunakan istilah nostalgia dalam pengertian awal tersebut, yaitu hasrat untuk kembali, untuk menunjuk ciri khas kegiatan artistik di abad ke dua-puluh dan kaitan khususnya dengan teater. Ketika itu pelaku-pelaku teater di Eropa menengok pada pusaka-pusaka yang berjarak, baik secara historis maupun geografis. Pusaka-pusaka ini dapat memberi inspirasi, memberi argumentasi bagi strategi kebudayaan yang baru dan, terutama, cara-cara yang lebih kaya dan beragam bagi pengembangan bahasa ungkap si pelaku teater. Demikianlah mitos Commedia dell’Arte, teater Yunani Kuno dan teater-teater Timur lahir dan dipelajari di Eropa.

Jika nostalgia dikaitkan dengan gagasan regenerasi maka nostalgia adalah sebentuk cara regenerasi, nostalgia adalah life support yang mengupayakan hidup lewat pencarian alterntif-alternatif baru. Maka dalam hal ini yang penting bagi regenerasi adalah menemukan fasilitas dan arah yang memadai bagi nostalgia sebagai hasrat untuk kembali melakukan investigasi —sebagai kajian atas pelaku teater atau bentuk pergelaran lain di masa lalu maupun di budaya-budaya liyan, kajian atas perilakunya di panggung dan teknik-tekniknya. Hingga aktor, sutradara, dan siapapun yang terlibat dalam sebuah peristiwa bersama penciptaan teater kemudian berhadapan dengan contoh-contoh lain dari komunikasi teater yang dapat memberikan mereka keleluasaan tertentu: contoh-contoh ini secara kultural maupun teknis menarik tapi juga sekaligus cukup berjarak. Dengan demikian contoh-contoh ini dapat diambil, dibalikkan bahkan diciptakan kembali. Sebagaimana dahulu Sampakan diambil, dibalikkan dan diciptakan kembali oleh Teater Gandrik.

* Naomi Srikandi, aktivis teater, tinggal di Yogyakarta.

(terbit di skAnA volume 06, April-Juli 2008)



Advertisements