November 2007


Oleh: Darmanto Setiawan*

Di sebuah lapangan pinggir kali yang lumayan besar di Sidomulyo. Di sebuah kampung di Jogja yang dimata sebagian orang dianggap kampungnya para preman (Lha…itu di mata sebagian orang yang ndak tahu—pen).

Sore, 23 Agustus 2007, di lapangan itu ramai anak-anak muda kampung berkumpul dan sibuk bersih-bersih mempersiapkan lapangan pinggir kali untuk sebuah acara pementasan teater. Lapangan pinggir kali itu biasanya juga digunakan oleh orang-orang tua ngumpul di sore hari sekedar untuk bercanda, nguda rasa. dan bahkan sebagai tempat untuk membuat kerajinan tangan. Tetapi, sore itu lapangan pinggir kali berganti aktivitasnya.

Sore itu anak-anak muda kampung sedang sibuk-sibuknya; dari mengurus perijinan penggunaan tanah lapangan dan juga ijin kepada orang-orang tua yang biasa menggunakan lapangan itu, sampai soal meminjam peralatan untuk keperluan pentas, seperti lampu, kursi, tikar, dan membuat obor dari bambu. Semua itu dilakukan untuk membuat lapangan pinggir kali menjadi tidak seperti kegunaannya sehari-hari.

Anak-anak muda itulah yang nantinya akan menggunakan lapangan itu untuk pentas. Yang kali ini membawakan naskah dengan judul “Joko Kali”, ditulis oleh M. Yusuf Abdillah (pemuda kelahiran Jawa Timur, lulusan Institut Seni Indonesia) yang sekaligus berperan sebagai sutradara. Dalam prosesnya, sang Sutradara kerap sekali dibuat pusing oleh aktor-aktornya (anak-anak muda kampung itu tadi) soal tawar-menawar waktu latihan dan juga jadwal yang sering berubah. Bahkan sering aktor-aktornya latihan dengan jumlah yang tidak lengkap. Tetapi, meskipun proses terkesan berantakan, pada akhirnya anak-anak muda kampung bisa menyelesaikan tanggung jawab yang dibebankan kepada masing-masing mereka dengan lancar.

Malam 24 Agustus 2007, lapangan pinggir kali menjadi sangat romantis. Karena obor dipasang sepanjang jalan masuk ke lapangan.  Di lapangan juga dipasang obor-obor membentuk lingkaran besar yang di dalamnya merupakan tempat pertunjukan. Lingkaran itu dibagi menjadi dua bagian. Setengah lingkaran ditata tikar-tikar untuk penonton, di setengah lingkaran yang lain diletakkan sebuah sofa usang warna cokelat dan sebuah becak yang menjadi setting panggung. Selain obor, lapangan juga diterangi lampu-lampu yang mengelilinginya.

Pukul 21.00 WIB, lapangan sudah dipenuhi oleh penonton yang berasal dari warga Sidomulyo sendiri maupun warga kampung di sekitarnya. Hadir juga aparat-aparat Desa, dari Pak RT sampai Pak Camat serta tiga puluh tamu undangan dari Melbourne, Australia yang sedang melakukan studi tentang perkotaan di Indonesia.

Joko Kali dipentaskan oleh dua puluh aktor lintas usia. Mulai dari yang berusia 9 tahun, 17 tahun hingga 25 tahun. “Joko Kali” mengangkat cerita kehidupan sehari-hari orang-orang yang bertempat tinggal di kampung pinggiran kota yang sedang berkembang. Berangkat dari permasalahan ekonomi, pendidikan dan sosial mereka.  Pertunjukan diawali dengan permainan suling dan rebana. Kemudian lima anak-anak perempuan kecil masuk sambil menari dan melantunkan tembang anak-anak Jawa. Lalu disusul lima anak laki-laki yang juga melakukan hal yang sama. Tiba-tiba, dolanan anak-anak nakal itu dibubarkan oleh Jamali (orang gila yang kerasukan dhemit kali). Si Dhemit marah-marah karena anak-anak bermain di bawah pohon besar yang ia tempati.  Kemudian Dhemit pun keluar dari tubuh Jamali setelah Mbok Sumi (warga asli dan sesepuh kampung) datang membawa sesaji dan ia membacakan mantra dengan bibir komat-kamit di depan Jamali.

Salah satu adegan "Joko Kali"

Konflik cerita terjadi ketika Pak Salim, seorang pengusaha material dari kota, yang terkenal dengan kelicikannya datang ingin membeli tanah lapang di kampung itu karena letaknya yang strategis, dekat dengan kota dan juga dekat dengan kali yang bisa menghasilkan rejeki. Tetapi tanah lapang itu adalah tanah lapang terakhir yang tersisa setelah di tanah sawah-sawah dan tanah lapang lainnya sudah berdiri tembok-tembok bangunan yang tinggi. Dulu, warga kampung hidup rukun dan berdampingan tetapi setelah bangunan-bangunan itu berdiri, warga kampung menjadi hidup sendiri-sendiri. Oleh karena itu, warga kampung ingin tetap mempertahankan tanah lapang itu. Pak Salim pun membuat taktik untuk bisa mendapatkan tanah itu. Pak Salim dengan kekayaannya membayar Trimo (makelar yang juga warga kampung asli) untuk menghasut warga supaya mau menjual tanah lapang itu.

Selain Mbok Sumi, sesepuh kampung yang juga disegani adalah Mbah Somo. Mbah Somo mencari cara untuk bisa melawan Pak Salim yang punya banyak uang itu. Mbah Somo mengumpulkan massa dan menyadarkan mereka untuk tidak menjual satu-satunya tanah lapang yang dimiliki warga kampung.

Seperti cerita kebanyakan, cerita ini pun berakhir bahagia. Warga kampung meraih kemenangan melawan Pak Salim dan melawan diri mereka sendiri untuk tidak menjual tanah lapang itu hanya karena uang. Pertunjukan berdurasi 60 menit itu dikemas dalam sebuah pertunjukan yang ringan dan menghibur. Meski dicap kampung preman, ternyata pada malam pertunjukan semua berjalan lancar, tertib dan aman.

* Darmanto Setiawan, pelaku teater, tinggal di Yogyakarta

(terbit di skAnA volume 05, November 2007-Maret 2008)

*****

Tim Kerja Pementasan:

Sutradara & Penulis Naskah M Yussuf Abdillah Aktor & Kru Bowo, Buncis, Rama, Antok, Ujang, Sahid, Sriles, Fajar, Ari, Tari, Supri, Joko, Ruli, Putri, Mita, Ike, Meri, Khusnul, Bayu, Londo, Wawan, Danu Pemusik Komunitas Suling Bambu, Ujang, Fajar, Supri, Bayu, Joko (Rebana)

Komentar penonton

“ Bagus, seger dan menghibur.” (Guntur Yudo, 25 Tahun, Aktor dan Ketua Teater Toedjoh)

“Mbah Somo-nya oke!” (Herman, 25 Tahun, Desainer Artwork)

Cah cilike kendel-kendel (anak-anak kecilnya berani-berani). ” (Mbak Sum, 43 Tahun, Warga kampung Sidomulyo)

Oleh Muhammad A.B.*

Tak banyak kelompok teater yang mampu bertahan lama, ikut meramaikan, dan ikut bersaing dalam dunia kesenian. Di Yogyakarta sendiri jumlah kelompok teater makin lama makin surut jumlahnya, ada banyak kelompok yang berdiri dan berkarya tapi lalu hilang ditelan waktu. Salah satu dari sedikit kelompok yang masih terus bertahan dan berkarya, adalah sekelompok anak muda yang intens mendalami seni pantomim, mereka tergabung dalam Bengkel Pantomim (BP).

Senin siang, 22 Oktober dan Selasa malam, 23 Oktober yang lalu, di tengah kesibukan para punggawa Bengkel Pantomim yang berjubel (maklum mereka baru saja menempati rumah baru-nya di daerah Nitiprayan), skAnA berkesempatan bertemu dengan mereka. Dalam dua kesempatan itu skAnA bertemu dengan para pria (yang kesemuanya mengaku tampan) para punggawa BP: Asita (27 tahun lebih sedikit akunya), Andy S.W (26 tahun), Ficky Tri Sanjaya (20 tahun), Ari “Inyong” Dwiyanto (26 tahun). Selain itu mereka juga dibantu oleh Ronald Palongan (23 tahun), Bambang NT (27 tahun), dan Hambar “Gigon” Riyadi (20 tahun).

Mereka kini sedang berusaha mengelola perkebunan kecil-kecilan dan peternakan ayam dalam skala mini di rumah kontrakan BP, selain berusaha untuk mencari pekerjaan sampingan untuk mencari uang saku tambahan. “Maklum sampai sekarang kami masih bantingan kalau mau produksi..” kata Asita menceritakan pengalamannya di BP, “Selain itu kalau kehabisan uang, kami bisa makan ketela dari hasil kebun sendiri”, tambahnya.

Ketika ditemui, Asita sedang menyelesaikan gambar komiknya, ia menjadi komikus agar tetap bisa menghidupi Bengkel Pantomim, komik karyanya dapat dinikmati di skAnA dan beberapa media lain, ia juga akan membuat komik dari pertunjukan-pertunjukan Bengkel Pantomim. Asita bercerita masing-masing anggota BP kini mempunyai pekerjaan sampingan, misalnya Andy S.W. menjadi reporter dan menulis liputan-liputan pertunjukan yang dapat dibaca di skAnA dan beberapa alamat website, Gigon menjalankan bisnis parkir di kampung halamannya di Bantul, sementara Ronald dan Bambang masih sibuk menjalankan kewajibannya sebagai mahasiswa. Sedangkan Inyong dan Ficky mengajar teater di beberapa tempat.

Berikut ini adalah rangkuman obrolan skAnA dengan mereka yang dipenuhi dengan canda tawa, ditemani rokok lintingan inventaris BP, dan teh buatan Asita yang kami bagi untuk bersama. Dua kali wawancara mereka berlangsung di rumah mereka yang dengan bangga mereka namakan Sanggar Anak Soleh.

Jadi sekarang BP ada tujuh orang ini ya?

Asita:

BP resminya terdiri dari lima orang. saya, Inyong, Andy, Ficky, dan Pingky Ayako. Pingky biasanya ngurusin artistik sejak proses “Langkah-Langkah”. Biasanya kami ngajak teman-teman yang lain untuk ikut proses. Nah kebetulan dalam proses kali ini Ronald, Bambang, dan Gigon ikut membantu sebagai aktor.

Andy:

Sebenarnya yang tetap dari awal itu ya saya, Asita, sama Inyong, banyak yang masuk tapi terus keluar lagi, terus sejak 2005 Ficky masuk dan terus ikut sampai sekarang. Ronald juga sebenarnya masuk bareng sama Ficky tapi dia baru main dua kali. Kalau yang keluar masuk banyak banget.

Ronald:

Ya, saya masuk bareng Ficky pas ada workshop pantomim, saya diajak mbak Endah (manajer BP-pen) ikut workshopnya, padahal pas itu saya lagi di Bekasi. Wah tapi ini kesempatan, jadi saya langsung berangkat ke Yogyakarta secepatnya. Soalnya dulu waktu mereka main di Sanata Dharma saya nonton latihan mereka kok kelihatannya asyik banget ya, kok bisa ya mereka bisa lucu-lucu seperti itu, padahal waktu itu ga ada yang nonton.  Jadi saya ikut workshop itu, waktu itu yang ngisi Mas Reza dan Mas Jamal.  Terus saya main bareng Ficky di “Romantika Daun Pisang 1 dan 2” di LIP tahun 2005 ya? (Teman-temannya mengiyakan.)

Ficky:

Aku diajak Andy ikut workshop sama BP, tapi sebelumnya aku sudah tahu Andy, dia sering nonton saya pentas di Anak Wayang Indonesia (Anak Wayang Indonesia, kerap disingkat menjadi AWI adalah sanggar kesenian untuk anak-anak dan remaja di daerah tempat tinggal Ficki, ia sudah berproses di AWI sejak sekolah dasar). Tapi sebelum workshop saya sudah kenal dengan pantomim.

Asita:

Ya, wong Ficky itu seniman angkatannya Jemek (Jemek Supardi, aktor pantomim senior di Yogyakarta-pen) hehehehe… dia dulu julukannya secil, seniman cilik wong dari kecil sudah main teater dan pantomim, sudah punya banyak karya juga sebetulnya. Kami yang tua-tua mungkin malah kalah jumlahnya. (Kami semua tertawa, selama obrolan kami berlangsung seringkali disela dengan guyonan-guyonan segar, para awak BP yang saling mengejek, atau tingkah mereka yang selalu saja membawa tawa)

Ficky:

Terus setelah workshop itu, saya diajak ikut proses “Romantika Daun Pisang 1 dan 2” juga teman-teman yang lain yang juga ikut workshop waktu itu, salah satunya Ronald.

Kalau dulu awal mulanya bagaimana kalian bertemu ? kemudian memutuskan untuk bikin kelompok pantomim, karena setahu saya cuma kalian satu-satunya kelompok pantomim di Jogja..

Inyong:

Dulu sih awalnya di tahun 2001 saya ketemu sama Giras,  teman di Sanata Dharma, terus saya dikenalkan dengan Andy karena dia sering main ke Sanata Dharma. Dari Andy saya kenal Asita. Terus kami mulai sering ketemu dan ternyata kami punya kesamaan, suka sama pantomim. Tahun 2001 kami bikin pentas di Sanata Dharma judulnya “Antara Aku, Nyamuk, dan Kekasihku”, nama kelompoknya waktu itu @mime. Terus kami kok merasa… kami harus belajar dulu, karena semuanya tidak punya ilmu tentang pantomim. Ya terus kami ngajak Broto temannya Asita di ISI, karena waktu itu kami anggap dia sudah lebih lama berkecimpung di dunia pantomim. Bersama Broto kami membuat satu reportoar judulnya “Paskibroto”, itu tahun 2001 juga ya? (Andy mengeluarkan poster-poster pertunjukan mereka, dan mengiyakannya). Tapi setelah itu kami berpisah lama, dan baru berkumpul lagi tahun 2004, dan memulai proses Bengkel Pantomim dengan semangat yang baru.

Asita:

“Paskibroto” adalah pentas pertama kami dengan nama Bengkel Pantomim, yang memberi nama itu adalah Papi (sebutan akrab anak-anak BP untuk Moortri Poernomo, aktor pantomim yang sangat senior di Yogyakarta-pen). Tapi kami sepakat bahwa BP yang  sekarang ini berjalan sejak tahun 2004, ketika kami bertemu lagi dan memulai proses “Langkah Langkah”.

(Sejak “Langkah Langkah”, BP membawakan bentuk pertunjukan pantomim yang berbeda dengan kecenderungan pertunjukan pantomim pada umumnya. Hal ini berawal dari kegelisahan mereka atas keseragaman bentuk pantomim yang merujuk pada satu gaya tertentu saja, sementara mereka ingin mengeksplorasi media pantomim dengan bebas. Mereka misalnya tidak mengecat putih wajahnya, atau menggunakan baju dan celana serba hitam, mereka juga menggarap setting panggung dan menggunakan properti dalam pertunjukan-pertunjukannya.)


Bagaimana sih bedanya pantomim yang dibawakan BP dengan pantomim yang dibawakan kelompok lain?

Asita:

Gimana ya, kalau menurut kami pantomim itu ga cuma kethungklak kethungklik seperti ini (ia lalu berdiri dan mempraktekkan gerakan pantomim; ia berjalan dengan gerakan yang patah-patah, kami semua tertawa)

Inyong:

Buat kami kethungklak kethungklik adalah salah satu tehnik dalam pertunjukan pantomim, ia tetap menjadi bagian dari pertunjukan BP tapi kami berusaha memasukkan unsur gerakan-gerakan yang lain.

(Dalam format pantomim versi BP mereka telah memproduksi “Langkah Langkah (2004)”, “Romantika Daun Pisang I dan II” (2004 & 2005), “Tiga Fragmen (Rudi Goes to School, Becakku Terbang Bersama Angin, Tiga Bebek)” (2006), dan yang terakhir “SuperYanto” bulan Desember tahun 2006. Dalam pertunjukannya yang terakhir BP memasukkan unsur bela diri dan bahkan ada beberapa dialog, suatu hal yang tak lazim dalam sebuah pertunjukan pantomim.)


Kapan BP produksi lagi, kelihatannya pentas terakhir kalian sudah cukup lama berlalu?

Andy:

Kami sudah mulai proses untuk pertunjukan bulan Januari 2008 nanti, kami sudah berlatih sejak Bulan September.

Wah, apa judulnya kali ini?

Inyong:

Sampai sekarang kami belum punya judul sih, tapi yang jelas kami mengangkat tentang imajinasi kota dengan fokus jalanan

Asita:

Proses ini sepenuhnya berlangsung di sini (rumah kontrakan BP-pen), ini adalah kali pertama BP punya tempat latihan yang pasti. Soalnya sebelumnya BP kalau latihan pasti numpang di tempat teman, atau di TBY.

Andy:

Sampai sekarang kami masih mengeksplorasi ide-ide sambil terus berlatih seminggu tiga kali

(Bagi Ronald ini adalah kali yang ketiga ia berproses sebagai aktor, sementara bagi Bambang dan Gigon ini adalah pengalaman pertama mereka berproses di BP. Begitu pula Agam, ikut membantu pengumpulan data BP untuk proses kali ini. Bagi mereka yang relatif lebih baru dari awak BP yang lain, berproses dan tampil membawa nama BP adalah suatu kebanggaan. Mereka mengaku sangat tertarik melihat penampilan BP di atas panggung, selain itu mereka juga ingin bergaul dengan para awak BP di luar panggung. Menurut mereka bahasa pergaulan sesama anak BP selalu saja segar dan lucu membuat mereka merasa betah berproses bersama.)

Begini nih, salah satu gaya latihan Bengkel Pantomim

Bagaimana sih kalian berproses?

Inyong:

Ya biasanya kami punya tugas dan tanggung jawab di posisi masing-masing, tapi kita melakukan eksplorasi dan saling berdiskusi bersama.

Asita:

Biasanya Inyong punya ide dan ia juga belajar jadi sutradara, saya ngurusin artistik sama Pingky, terus Andy biasanya mencatat proses dan juga menulis naskah hasil eksplorasi kami bersama.

(Selain Pingky Ayako yang mengurusi artistik, BP juga mempunyai beberapa orang teman yang mengurusi manajemen. Endah dan Imelda membantu manajemen produksi BP setiap kali mereka akan pentas, sementara Viar Eka Putra mengurusi manajemen panggung di setiap pertunjukan mereka.)


Harapan kalian pada BP ke depan?

Andy:

ya apa ya, sementara ini kami berharap kami bisa pentas Januari 2008 nanti, hehehe

Asita:

tahun depan BP sudah punya kolam dan bisa jualan lele, lumayan kan… jadi pas pentas jual tiket sambil jualan lele, lombok dan ketela hasil kebun..hehehe,.. kan lumayan itu..

Inyong:

ya kalau kami sih inginnya membawa BP keliling ke beberapa kota, rencananya kami ingin ke Jakarta

Ficky:

Bisa memperpanjang kontrak rumah tahun depan.

Asita:

Ya bagi kami adanya Sanggar Anak Soleh ini merupakan awal dari langkah baru kami, karena kami jadi punya tempat ngumpul. Sementara dulu-dulu kami selalu terpencar-pencar dan tak punya tempat ngumpul yang pasti. Adanya tempat ini  paling tidak kami jadi punya tempat rapat, latihan, dan juga kami punya intensitas pertemuan yang lebih dari yang dulu. Dengan begini konsentrasi pada BP bisa lebih fokus.

Andy:

Sementara ini juga kami masih ingin fokus jadi kelompok dulu saja, maksudnya kami masih ingin belajar berkelompok, belajar untuk bertanggung jawab. Kami ingin membentuk iklim kerja yang bagus buat kami dan teman-teman yang lain. Kalau masalah keinginan yang lain menurutku itu akan muncul kalau sebagai kelompok kami sudah kuat.

(Teman-temannya mengiyakan perkataan Andy)

*Muhammad AB, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 05, November 2007-Maret 2008)

Oleh: Andy Sri Wahyudi*

Perkampungan kumuh di bawah jembatan itu seperti dunia asing, tersingkir di bawah gemerlap kota. Kota yang mewah, penuh basa-basi dan strategi. Perkampungan itu telah melahirkan carut marut peristiwa. Orang-orang seperti sampah yang terombang-ambing kebijakan penguasa. Kota memang selalu menyimpan ironi dan tragedi.

Pada awalnya adalah Jumini yang selalu bicara dengan rembulan. Ia menipu dirinya, melipur lara dan berkeluh kesah dengan rembulan. Sayang, rembulan hanya tersenyum dari kejauhan. Lalu Julini dan Rhoima, sejoli banci penuh kasih dan perjaka cemburuan. Mereka hidup serumah tanpa surat nikah dan selalu bertengkar meski saling mencinta. Tarsih, si Pelacur primadona yang tampak ketakutan dalam persembunyian setiap kali komandan Hansip minta gratisan. Tak ketinggalan tingkah konyol pak Camat dan sekretarisnya, kedua pejabat lokal yang munafik dan korup. Ada juga dua orang pemuda yang selalu bermimpi tentang masa depan, menghitung keuntungan usaha dengan jari-jemarinya. Semakin lengkap dengan kisah para pelacur eceran, orang gila, penyanyi malam dan petani desa yang mengadu nasib di kota.

Para tokoh dan kisah-kisah itu, menjadi sebuah rangkaian alur cerita Bom Waktu, salah satu bagian dari Trilogi Opera Kecoa karya Nano Riantiarno, yang dikemas realis ala teater Koin Universitas Islam Indonesia (UII). Beberapa adegan dihiasi koreografi gerak dan tarian. Juga memunculkan tokoh yang mencairkan suasana, sang penyanyi yang berdendang tentang malam dan bintang-bintang, dari jendela gubuk bertingkat. Ia menjadi penghantar memasuki beberapa adegan. Peristiwa pernikahan Julini dan Rhoima menjadi bangunan tangga dramatik, saat perayaan yang sederhana dan ilegal itu dibubarkan aparat setempat.

Tidak semua adegan tergarap dengan matang. Karena durasi waktu yang tiga setengah jam panjangnya, banyak adegan terkesan datar, ngelangut dan melelahkan. Musik yang seharusnya menjadi ruang alternatif dramatik, masih terjebak irama permainan panggung, sehingga menumpuk dalam satu konteks irama. Energi aktor-pun semakin menurun dalam berakting, kecuali tokoh sentral Julini, kedua Hansip dan Tarsih berusaha berakting prima. Koreografi gerak dan tari kadang kedodoran dalam tempo, perhitungan ruang dan energi. Namun, lagi-lagi kemunculan sang Penyanyi Malam yang membuat segar dan menawarkan nilai dramatik tersendiri.

Tata ruang panggung yang menggambarkan perkampungan kumuh, terlihat sepi dan di banyak adegan masih berfungsi sebagai latar permainan, bukan kesatuan tempat permainan. Lantai panggung yang masih berupa ubin itu, seakan menghapus kesan setting realis yang sudah dibangun aktor dengan kepayahan. Namun jembatan di pojok panggung terasa kental menyatu dengan aktor, ketika romantika perselingkuhan Julini dan Tibal si Petani dari desa  terjadi. Penataan ruang kelas para pelacur dan meja kantor hansip yang dimunculkan sebagai ruang berbeda, masih tampak sejajar dengan tatanan bloking aktor yang konvensional, sehingga menyulitkan sudut pandang penonton.

…dan kisah-kisah di dunia bawah jembatan itu tergilas derap langkah kota yang kejam dan angkuh. Hanya teriakan, ratap dan air mata yang menghantu. Seperti tertulis dalam sinopsis  “Mereka selalu dilukai dan tak sanggup membalas, apalagi melukai”. Sayang, cekaman ending cerita terasa lewat sambil lalu, meski teriakan atas kemarahan itu sedemikian keras.

Peristiwa dari Kemarahan

“Saya melihat peristiwa penggusuran di televisi, saya sering merasa miris. Saya ingin marah tapi pada siapa? Ya, buat teater aja deh,” kata Bimo Aji selaku sutradara. Naskah Nano Riantiarno menjadi pilihannya. Cerita yang erat dengan kenyataan sosial di Indonesia ini dipentaskan pada tanggal 8 dan 9 September di Gedung Tejo Kusumo UNY pukul 19.30 WIB. Proses penggarapannya selama enam bulan, pasti melewati perjalanan yang melelahkan dan belum tentu menjanjikan. Tapi mengapa harus ditempuh? Kemarahankah yang menyemangatinya? Masih eratkah relasi Mahasiswa dengan realitas sosial masyarakatnya? Lantas kemarahan macam apa yang melahirkan peristiwa itu? Masih perlukah api kemarahan itu di tengah sistem yang tuli? Dan Akankah api kemarahan akan menjadi “bom waktu”? Atau…

“Generasiku banyak yang frustasi…,” kata mas Iwan Fals

Teater Koin yang berdiri delapan tahun lalu (4 Juni 1999) rupanya tak ingin terjebak keadaan yang bikin frustasi. Mereka ingin terus “mencari” lewat proses berkesenian. Kelompok ini selalu menjaga ruang apresiasi seni dengan mengadakan berbagai kegiatan. Selain menggelar pementasan, Teater Koin mempunyai program SMS (Sepekan Mencumbu Seni) yang meliputi pameran lukisan, instalasi, fotografi, dan musikalisasi puisi. Juga mencari ide-ide baru dengan berapresiasi, berdiskusi, dan beraksi.

*Andy Sri Wahyudi, reporter skAnA, aktor dan sutradara Bengkel Mime Theatre

(terbit di skAnA volume 05, November 2007-Maret 2008)

***

Tim kerja “Bom Waktu”

Pimpinan Produksi: Wibisono Bayu Nurseto Sutradara: Bimo Aji Sekar Wibowo Astrada: RR Setia Andini dan Haryono Dwi W. Penata Musik: Hendra Wisnu Utomo Make up & Kostum: David Kurniawan Setting: Haryono Dwi Warmanto Aktor: Yhaya, Andhika, Vian, Gilang, Lala, Pandit, Falak, Cipta, F Gaety, David, Hesti, Fauzan, dani, Aan, Rustam, Cablik.

Komentar Penonton

“Lumayan sih, walaupun kadang waktu ganti babak lampu mati, saya kira dah selesai, tapi udah ketangkep sih maksudnya lewat akhirnya tadi.”  (Yuda, 19 tahun, Bahasa Perancis UNY, semester tiga)

“Waktunya terlalu lama deh. Bikin boring, ceritanya gitu-gitu aja, kayak ga ada konflik, datar dan kurang seru.” (Vivi, UII, jurusan Industri, semester tiga, 19 tahun)

“Cukup bagus, menarik tapi cukup panjang jadi agak bosan.” (Boby, 20 tahun, Jurusan Teknik Sipil UGM, Semester empat)

“Tadi saya tertarik untuk peran-perannya, teman-teman udah cukup bagus, cuman ada beberapa hal yang perlu diperbaiki tapi secara keseluruhan saya suka. Yang perlu diperbaiki ada beberapa bagian: kedetailannya dan seperti musik, mungkin secara volume agak dikurangi. Beberapa peran saya suka seperti Jumini, Julini dan Bleky itu saya pikir peran yang menonjol. Settingnya saya suka secara sederhana, mungkin karena temen-temen ada keterbatasan lighting.” (Junaedi, ,20 tahun, Fakultas Ekonomi UII, Semester sepuluh)

Oleh : Afika ‘Sutris’ Krisnantoro*

Awal Penulisan Naskah

Tre…tek..tek..tek…ning..nong..ning…gung….

“Ngomong-ngomong soal wayang? Whe..e..e..ee, pasti semalam suntuk, nguantuk. Ngomong-ngomong soal teater? Itu hiburan kok mikir. Ngomong-ngomong soal aktor? Kalau artis saya kenal banyak Mas!” Itulah semua jawaban singkat dari seorang teman ketika saya bertanya tentang wayang, teater dan aktor.

Jawaban-jawaban itulah yang membuat saya memberanikan diri untuk menulis naskah Sang Tutuka pada bulan Februari 2007 dan Gatutkaca Gugur pada bulan April 2007. Beberapa bulan sebelumnya saya membaca sebuah buku tentang wayang yang berjudul Bratajuda IV-Suluhan (Pedjahipun Gatutkatja) karya U.J. Katidjo Wiropramudjo dan Kamadjaja. Buku berbahasa Jawa dengan ejaan lama itu menceritakan salah satu babak dari epos besar Mahabharata. Penceritaannya berdasarkan versi yang berkembang di Yogyakarta.

Garis besar dari cerita buku tesebut adalah matinya seorang ksatria Pandawa yang bernama Gatutkaca. Saya mulai tertarik dengan tokoh sentralnya yang bernama Gatutkaca. Selanjutnya saya mulai mencari referensi tentang tokoh tersebut. Saya mulai membaca buku-buku yang menceritakan tentang Gatutkaca. Mulai kisah kelahirannya sampai kematiannya. Ini yang bikin pegel dan capek, karena kebanyakan referensinya berbahasa Jawa Kawi. Tanya sana-sini akhirnya dapat kamus Bahasa Kawi. Kemudian saya menemukan bahwa ada perbedaan versi tentang Gatutkaca. Menurut versi India, yang diakui sebagai tempat lahirnya epos Mahabharata, Gatutkaca adalah seorang ksatria yang berwujud raksasa. Anak pertama dari Bima dan Arimbi (raksasa perempuan).

Pada zaman pemerintahan Amangkurat II, terjadi penggubahan tokoh Gatutkaca. Yang semula berwujud raksasa digubah menjadi seorang ksatria gagah dengan wujud manusia. Dengan penambahan lakon carangan Gatutkaca Lair. Maka dibuatlah wayang Gatutkaca seperti yang kita kenal selama ini (kalau masih kenal, karena banyak juga anak-anak sekarang yang tidak kenal Gatutkaca, menurut saya). Begitulah latar belakang dari penulisan naskah Sang Tutuka. Oh, iya, saya lupa menerangkan tentang Sang Tutuka. Atau siapakah Tutuka itu? Tutuka adalah nama kecil dari Gatutkaca.

Dalam naskah Sang Tutuka, saya mencoba menampilkan Gatutkaca sebagai figur dengan latar cerita tentang kematiannya di Padang Kurusetra (tempat pertempuran besar antara Pandawa dan Kurawa). Dalam penceritaannya naskah ini banyak menggunakan gaya bahasa metafora. Tokoh Gatutkaca digambarkan menurut versi India. Seorang r.aksasa muda dengan kepala besar yang mempunyai kesaktian luar biasa, bisa terbang tanpa sayap. Tapi cerita kematiannya saya berpijak menurut versi Jawa. Mau saya ceritakan bagaimana Gatutkaca mati? Wah, bisa puuaanjang tulisannya. Tapi, yang jelas tragis dan romantis (sinetron mah kalah—pen).

Proses Menuju Pentas

Waktu naskah Sang Tutuka sudah hampir selesai, saya bertemu dengan dua teman sekomunitas. Namanya Robert Qmung dan Mas Bhayu Hidayat. Setahun yang lalu kami tergabung dalam Paguyuban Sekar Budaya Narayandra (PSBN) yang berkantor di Babadan, Bantul. Karena SDM yang sedikit kami lebih memilih bentuk-bentuk pementasan minimalis (minimalis dalam hal kuantitas SDM-nya). Kemudian saya berposisi sebagai sutradara di sana. Awal penyutradaraan saya dalam PSBN adalah karya musik puisi yang berjudul Senandung Kunthi-Karna (2007). Pementasan dengan durasi pendek ini (kurang lebih 20 menit) digelar di  Aula Lama Universitas Wangsa Manggala. Penggarapannya berangkat dari lakon wayang Kresno Duta dan Karna Tanding. Menceritakan tentang Dewi Kunthi (ibu dari Pandawa dan Karna) yang gagal membujuk Karna untuk berfihak kepada Pandawa. Dan harus melihat kedua anaknya, Karna dan Arjuna bertempur. Hingga akhirnya Karna tewas. Menampilkan pembacaan puisi oleh Ruth Triana Surya dipadu theme song dengan iringan gitar.

Kembali ke Sang Tutuka, dua teman yang saya sebutkan di atas kemudian menjadi tim produksi dalam pentas pembacaan naskah Sang Tutuka pada 11 September 2007, di Aula Lama Universitas Wangsa Manggala Yogyakarta. Dalam pementasan ini saya menjadi sutradara sekaligus aktor. Konsep pertunjukan Sang Tutuka adalah perangkuman dari pembacaan cerita wayang, musik techno dan theme song. Pinginnya sih, kami mencoba me-reinkarnasi tradisi. Merangkai dunia semalam suntuknya pertunjukan wayang kulit dan semalam hip-hip-hura-nya dunia clubbing dalam kurang lebih satu jam pembacaan naskah.

Sulit memang, karena harus mencari momen-momen yang tepat untuk memasukkan unsur musik techno di sesela model tutur dan gerak yang cenderung bertolak pada pola pertunjukan tradisi. Seperti pada pola tutur, saya mengadaptasi gaya pelisanan dalang dalam pementasan wayang kulit, kemudian saya rangkum dengan suara efek DJ sebagai intro penceritaan atau sebagai gradasi untuk melantunkan tembang Sinom. Demikian juga pada pola gestur, untuk mengawinkan beberapa gerak dasar tari Jawa Tengah: Bedhoyo, dengan musik dugem saya menggunakan pola mimik wajah yang keras dan permainan api (seperti pada pertunjukan Jathilan).

Proses latihan kami cukup singkat. Dengan dua tahap latihan. Tahap pertama, selama kurang lebih satu bulan aktor dan tim musik latihan terpisah dengan materi yang sudah dibagikan. Kemudian selama enam kali pertemuan kami merangkai materi dari keaktoran dan musik.

Pola pertunjukan yang saya tampilkan cukup sederhana, demikian pula untuk tata lampu dan setting. Untuk musik saya mengajak Mbak Ventri (vokalis merangkap gitaris) dan seorang DJ yang sedang terseok-seok mengangkat namanya, DJ Wahyu.

Tempat pertunjukan dengan akuistik yang kurang mendukung memaksa stage manager untuk membatasi penonton menjadi maksimal lima puluh orang. Penonton yang rata-rata anak muda tersebut menjadi tantangan kami untuk memancing ketertarikan mereka pada wayang. Baik cerita, tokoh, maupun sejarahnya. Mungkin terlalu muluk impian kami. Tapi tak apalah, setidaknya dapat sedikit memberikan hiburan yang menegangkan (maksudnya, hiburan itu sendiri cukup menegangkan bagi kami, hehe..pen).

* Afika ‘Sutris’ Krisnantoro, pelaku teater, tinggal di Jogjakarta

(terbit di skAnA volume 05, November 2007-Maret 2008)

Oleh: Andy Sri Wahyudi*

George Orwell, penulis novel Animal Farm lahir tahun 1903 di Motihaii, Bengal, India. Semasa hidupnya Orwell pernah bergabung dengan Polisi Imperial India (1922–1927), sempat hidup di tengah masyarakat miskin di Inggris dan masyarakat kelas buruh di Paris, menjadi milisi POUM (Partido Obrero dan Unification Marxista) saat perang sipil Spanyol meletus (1936), dan bergabung dengan  Partai Buruh Independen Inggris. Perjalanan panjang dan keras itu, membuatnya menjadi penulis kiri yang kritis pada jamannya. Dalam novel Animal Farm ia menggambarkan dunia yang kasar dan membunuh. Pandangan sinis atas manusia yang selalu berhasrat menjadi penguasa dan revolusi hanyalah kedok untuk berkuasa.

Novel tersebut telah diadaptasi oleh Raudal Tanjung Banua dalam bentuk naskah drama, yang pada tanggal 1 Agustus 2007 dipentaskan di Auditorium Teater ISI Yogyakarta, dalam rangka tugas akhir keartistikan. Pementasan ini lebih mengedepankan penataan setting, tata rias, dan kostum. Tentu saja tanpa menghilangkan  atau mengesampingkan nilai dramatik dan keaktorannya. Tatanan ruang pertunjukan tampak natural dengan dominasi visual dari rangkaian kayu dolken dan lantai yang bertebaran jerami. Bentuk panggung terinspirasi dari pematang sawah di perbukitan, sehingga lantai panggung terkesan seperti lapisan tanah yang berundak. Setting panggung terdiri dari kandang yang terletak di samping kiri, bagian tengah adalah bangunan kandang yang berupa kerangka rumah dari batangan kayu. Di pojok kanan ada tempat pengawasan, berupa menara dari bambu yang berundak-undak menjulang tinggi. Sedangkan bagian depan kandang menjadi halaman peternakan. Setting dirancang oleh Asita. Ia mencoba mencipta ruang dengan kesatuan bentuk, warna, garis, tekstur dan cahaya.

Setting berupa kandang dalam Animal Farm

Cerita yang dimainkan di atas panggung bukan cerita keseluruhan seperti di naskah, melainkan hanya fragmen-fragmen dari naskah. Selain setting, suasana dan karakter tokoh dikuatkan lewat penggarapan make up dan kostum yang tampak sederhana meski sebenarnya rumit. Para aktor mengenakan kostum dan polesan make up yang menggambarkan karakter binatang dalam naskah Animal Farm. Dhani Brain, mengeksplorasi polesan dan warna make up sesuai karakter tokoh. Sedang kostum tidak sepenuhnya merubah tubuh aktor, tapi hanya memberi tekanan pada tubuh yang berpotensi merubah karakter tubuh manusia menjadi binatang.

Dalam penggarapan aktor, sutradara lebih berupaya menggarap tata laku ketimbang membangun ruang eksplorasi antara aktor, setting dan properti yang sebenarnya dapat menghidupkan ruang dan menguatkan karakteristik tokoh. Alur cerita yang padat dan sarat konflik itu, tergarap dalam bentuk permainan yang dinamis dengan tangga dramatik yang berujung keresahan.

Animal Farm, novel yang ditulis akhir tahun 1943 hingga Februari 1944 ini,  bercerita tentang hewan-hewan yang membebaskan diri dari ketertindasan, namun kembali terbelenggu penindasan lagi, bahkan lebih kejam: Mayor Tua, si Babi pelopor perjuangan mati, tertembak tuan Jones si Pemilik peternakan. Napoleon dan Squeller, kedua babi picik itu, mulai mendominasi pemikiran dengan berstrategi busuk untuk berkuasa. Perlawanan telah didramatisir, seolah ia pemimpin pertempuran saat melawan pemilik peternakan, Tuan Jones. Snowball, Babi cerdas, berani, patriotik dan berpikir untuk kemajuan bersama malah di singkirkan secara kejam. Sementara itu, Benjamin (Kerbau Tua), Boxer (Kuda Jantan), Mollie (Kuda betina), Clover (Sapi Betina), Jessie (Anjing) dan hewan-hewan lainnya semakin terpuruk dalam sistem penindasan gaya baru. Yah begitulah, kekuasaan memang mempesona.

*Andy Sri Wahyudi, reporter skAnA, aktor dan sutradara Bengkel Mime Theatre

(terbit di skAnA volume 05, November 2007-Maret 2008)

***

Kerabat Kerja:

Pimpro: Lina Sutradara: Fery Ludiyanto Setting: Asita Make-Up & Kostum: Dani “Brain” Mangku Alam Musik: Deni Lighting: Burek Kru Setting: Mata Emprit, ETS, Cartoon Station Konsumsi: Ratna dan Viar Eka Putra

Komentar Penonton:

Artistik dan kostumnya sedikit kurang warna-warni dan cerah. (Media Anugrah Ayu, Ibu rumah tangga 25 tahun)

Asita masih harus banyak belajar artistik panggung, tapi saya yakin dia akan menemukan jati dirinya sebagai penata artistik panggung. (Ari “Inyong” Dwianto, 25 Tahun, Sutradara Bengkel Pantomim Yogyakarta)

Mulai ruang masuk, benak penonton sudah di-set, “Anda memasuki peternakan.” Begitu masuk ke panggung semakin diperjelas, disuguhi tata panggung yang mengagumkan. (Ibob, 26 tahun, Mahasiswa komunikasi Atmajaya. Semester akhir)

Wah, aktor-aktornya total sekali terutama yang menjadi banteng itu lho, meski dialognya sedikit tapi aktingnya sangat banteng sekali. Pendek kata dahsyat! (Mutia Sukma, 19 tahun, Mahasiswi Universitas Negri Yogyakarta, Sastra Indonesia, semester 3)

« Previous PageNext Page »