November 2007


Oleh: Andy Sri Wahyudi*

Perkampungan kumuh di bawah jembatan itu seperti dunia asing, tersingkir di bawah gemerlap kota. Kota yang mewah, penuh basa-basi dan strategi. Perkampungan itu telah melahirkan carut marut peristiwa. Orang-orang seperti sampah yang terombang-ambing kebijakan penguasa. Kota memang selalu menyimpan ironi dan tragedi.

Pada awalnya adalah Jumini yang selalu bicara dengan rembulan. Ia menipu dirinya, melipur lara dan berkeluh kesah dengan rembulan. Sayang, rembulan hanya tersenyum dari kejauhan. Lalu Julini dan Rhoima, sejoli banci penuh kasih dan perjaka cemburuan. Mereka hidup serumah tanpa surat nikah dan selalu bertengkar meski saling mencinta. Tarsih, si Pelacur primadona yang tampak ketakutan dalam persembunyian setiap kali komandan Hansip minta gratisan. Tak ketinggalan tingkah konyol pak Camat dan sekretarisnya, kedua pejabat lokal yang munafik dan korup. Ada juga dua orang pemuda yang selalu bermimpi tentang masa depan, menghitung keuntungan usaha dengan jari-jemarinya. Semakin lengkap dengan kisah para pelacur eceran, orang gila, penyanyi malam dan petani desa yang mengadu nasib di kota.

Para tokoh dan kisah-kisah itu, menjadi sebuah rangkaian alur cerita Bom Waktu, salah satu bagian dari Trilogi Opera Kecoa karya Nano Riantiarno, yang dikemas realis ala teater Koin Universitas Islam Indonesia (UII). Beberapa adegan dihiasi koreografi gerak dan tarian. Juga memunculkan tokoh yang mencairkan suasana, sang penyanyi yang berdendang tentang malam dan bintang-bintang, dari jendela gubuk bertingkat. Ia menjadi penghantar memasuki beberapa adegan. Peristiwa pernikahan Julini dan Rhoima menjadi bangunan tangga dramatik, saat perayaan yang sederhana dan ilegal itu dibubarkan aparat setempat.

Tidak semua adegan tergarap dengan matang. Karena durasi waktu yang tiga setengah jam panjangnya, banyak adegan terkesan datar, ngelangut dan melelahkan. Musik yang seharusnya menjadi ruang alternatif dramatik, masih terjebak irama permainan panggung, sehingga menumpuk dalam satu konteks irama. Energi aktor-pun semakin menurun dalam berakting, kecuali tokoh sentral Julini, kedua Hansip dan Tarsih berusaha berakting prima. Koreografi gerak dan tari kadang kedodoran dalam tempo, perhitungan ruang dan energi. Namun, lagi-lagi kemunculan sang Penyanyi Malam yang membuat segar dan menawarkan nilai dramatik tersendiri.

Tata ruang panggung yang menggambarkan perkampungan kumuh, terlihat sepi dan di banyak adegan masih berfungsi sebagai latar permainan, bukan kesatuan tempat permainan. Lantai panggung yang masih berupa ubin itu, seakan menghapus kesan setting realis yang sudah dibangun aktor dengan kepayahan. Namun jembatan di pojok panggung terasa kental menyatu dengan aktor, ketika romantika perselingkuhan Julini dan Tibal si Petani dari desa  terjadi. Penataan ruang kelas para pelacur dan meja kantor hansip yang dimunculkan sebagai ruang berbeda, masih tampak sejajar dengan tatanan bloking aktor yang konvensional, sehingga menyulitkan sudut pandang penonton.

…dan kisah-kisah di dunia bawah jembatan itu tergilas derap langkah kota yang kejam dan angkuh. Hanya teriakan, ratap dan air mata yang menghantu. Seperti tertulis dalam sinopsis  “Mereka selalu dilukai dan tak sanggup membalas, apalagi melukai”. Sayang, cekaman ending cerita terasa lewat sambil lalu, meski teriakan atas kemarahan itu sedemikian keras.

Peristiwa dari Kemarahan

“Saya melihat peristiwa penggusuran di televisi, saya sering merasa miris. Saya ingin marah tapi pada siapa? Ya, buat teater aja deh,” kata Bimo Aji selaku sutradara. Naskah Nano Riantiarno menjadi pilihannya. Cerita yang erat dengan kenyataan sosial di Indonesia ini dipentaskan pada tanggal 8 dan 9 September di Gedung Tejo Kusumo UNY pukul 19.30 WIB. Proses penggarapannya selama enam bulan, pasti melewati perjalanan yang melelahkan dan belum tentu menjanjikan. Tapi mengapa harus ditempuh? Kemarahankah yang menyemangatinya? Masih eratkah relasi Mahasiswa dengan realitas sosial masyarakatnya? Lantas kemarahan macam apa yang melahirkan peristiwa itu? Masih perlukah api kemarahan itu di tengah sistem yang tuli? Dan Akankah api kemarahan akan menjadi “bom waktu”? Atau…

“Generasiku banyak yang frustasi…,” kata mas Iwan Fals

Teater Koin yang berdiri delapan tahun lalu (4 Juni 1999) rupanya tak ingin terjebak keadaan yang bikin frustasi. Mereka ingin terus “mencari” lewat proses berkesenian. Kelompok ini selalu menjaga ruang apresiasi seni dengan mengadakan berbagai kegiatan. Selain menggelar pementasan, Teater Koin mempunyai program SMS (Sepekan Mencumbu Seni) yang meliputi pameran lukisan, instalasi, fotografi, dan musikalisasi puisi. Juga mencari ide-ide baru dengan berapresiasi, berdiskusi, dan beraksi.

*Andy Sri Wahyudi, reporter skAnA, aktor dan sutradara Bengkel Mime Theatre

(terbit di skAnA volume 05, November 2007-Maret 2008)

***

Tim kerja “Bom Waktu”

Pimpinan Produksi: Wibisono Bayu Nurseto Sutradara: Bimo Aji Sekar Wibowo Astrada: RR Setia Andini dan Haryono Dwi W. Penata Musik: Hendra Wisnu Utomo Make up & Kostum: David Kurniawan Setting: Haryono Dwi Warmanto Aktor: Yhaya, Andhika, Vian, Gilang, Lala, Pandit, Falak, Cipta, F Gaety, David, Hesti, Fauzan, dani, Aan, Rustam, Cablik.

Komentar Penonton

“Lumayan sih, walaupun kadang waktu ganti babak lampu mati, saya kira dah selesai, tapi udah ketangkep sih maksudnya lewat akhirnya tadi.”  (Yuda, 19 tahun, Bahasa Perancis UNY, semester tiga)

“Waktunya terlalu lama deh. Bikin boring, ceritanya gitu-gitu aja, kayak ga ada konflik, datar dan kurang seru.” (Vivi, UII, jurusan Industri, semester tiga, 19 tahun)

“Cukup bagus, menarik tapi cukup panjang jadi agak bosan.” (Boby, 20 tahun, Jurusan Teknik Sipil UGM, Semester empat)

“Tadi saya tertarik untuk peran-perannya, teman-teman udah cukup bagus, cuman ada beberapa hal yang perlu diperbaiki tapi secara keseluruhan saya suka. Yang perlu diperbaiki ada beberapa bagian: kedetailannya dan seperti musik, mungkin secara volume agak dikurangi. Beberapa peran saya suka seperti Jumini, Julini dan Bleky itu saya pikir peran yang menonjol. Settingnya saya suka secara sederhana, mungkin karena temen-temen ada keterbatasan lighting.” (Junaedi, ,20 tahun, Fakultas Ekonomi UII, Semester sepuluh)

Oleh : Afika ‘Sutris’ Krisnantoro*

Awal Penulisan Naskah

Tre…tek..tek..tek…ning..nong..ning…gung….

“Ngomong-ngomong soal wayang? Whe..e..e..ee, pasti semalam suntuk, nguantuk. Ngomong-ngomong soal teater? Itu hiburan kok mikir. Ngomong-ngomong soal aktor? Kalau artis saya kenal banyak Mas!” Itulah semua jawaban singkat dari seorang teman ketika saya bertanya tentang wayang, teater dan aktor.

Jawaban-jawaban itulah yang membuat saya memberanikan diri untuk menulis naskah Sang Tutuka pada bulan Februari 2007 dan Gatutkaca Gugur pada bulan April 2007. Beberapa bulan sebelumnya saya membaca sebuah buku tentang wayang yang berjudul Bratajuda IV-Suluhan (Pedjahipun Gatutkatja) karya U.J. Katidjo Wiropramudjo dan Kamadjaja. Buku berbahasa Jawa dengan ejaan lama itu menceritakan salah satu babak dari epos besar Mahabharata. Penceritaannya berdasarkan versi yang berkembang di Yogyakarta.

Garis besar dari cerita buku tesebut adalah matinya seorang ksatria Pandawa yang bernama Gatutkaca. Saya mulai tertarik dengan tokoh sentralnya yang bernama Gatutkaca. Selanjutnya saya mulai mencari referensi tentang tokoh tersebut. Saya mulai membaca buku-buku yang menceritakan tentang Gatutkaca. Mulai kisah kelahirannya sampai kematiannya. Ini yang bikin pegel dan capek, karena kebanyakan referensinya berbahasa Jawa Kawi. Tanya sana-sini akhirnya dapat kamus Bahasa Kawi. Kemudian saya menemukan bahwa ada perbedaan versi tentang Gatutkaca. Menurut versi India, yang diakui sebagai tempat lahirnya epos Mahabharata, Gatutkaca adalah seorang ksatria yang berwujud raksasa. Anak pertama dari Bima dan Arimbi (raksasa perempuan).

Pada zaman pemerintahan Amangkurat II, terjadi penggubahan tokoh Gatutkaca. Yang semula berwujud raksasa digubah menjadi seorang ksatria gagah dengan wujud manusia. Dengan penambahan lakon carangan Gatutkaca Lair. Maka dibuatlah wayang Gatutkaca seperti yang kita kenal selama ini (kalau masih kenal, karena banyak juga anak-anak sekarang yang tidak kenal Gatutkaca, menurut saya). Begitulah latar belakang dari penulisan naskah Sang Tutuka. Oh, iya, saya lupa menerangkan tentang Sang Tutuka. Atau siapakah Tutuka itu? Tutuka adalah nama kecil dari Gatutkaca.

Dalam naskah Sang Tutuka, saya mencoba menampilkan Gatutkaca sebagai figur dengan latar cerita tentang kematiannya di Padang Kurusetra (tempat pertempuran besar antara Pandawa dan Kurawa). Dalam penceritaannya naskah ini banyak menggunakan gaya bahasa metafora. Tokoh Gatutkaca digambarkan menurut versi India. Seorang r.aksasa muda dengan kepala besar yang mempunyai kesaktian luar biasa, bisa terbang tanpa sayap. Tapi cerita kematiannya saya berpijak menurut versi Jawa. Mau saya ceritakan bagaimana Gatutkaca mati? Wah, bisa puuaanjang tulisannya. Tapi, yang jelas tragis dan romantis (sinetron mah kalah—pen).

Proses Menuju Pentas

Waktu naskah Sang Tutuka sudah hampir selesai, saya bertemu dengan dua teman sekomunitas. Namanya Robert Qmung dan Mas Bhayu Hidayat. Setahun yang lalu kami tergabung dalam Paguyuban Sekar Budaya Narayandra (PSBN) yang berkantor di Babadan, Bantul. Karena SDM yang sedikit kami lebih memilih bentuk-bentuk pementasan minimalis (minimalis dalam hal kuantitas SDM-nya). Kemudian saya berposisi sebagai sutradara di sana. Awal penyutradaraan saya dalam PSBN adalah karya musik puisi yang berjudul Senandung Kunthi-Karna (2007). Pementasan dengan durasi pendek ini (kurang lebih 20 menit) digelar di  Aula Lama Universitas Wangsa Manggala. Penggarapannya berangkat dari lakon wayang Kresno Duta dan Karna Tanding. Menceritakan tentang Dewi Kunthi (ibu dari Pandawa dan Karna) yang gagal membujuk Karna untuk berfihak kepada Pandawa. Dan harus melihat kedua anaknya, Karna dan Arjuna bertempur. Hingga akhirnya Karna tewas. Menampilkan pembacaan puisi oleh Ruth Triana Surya dipadu theme song dengan iringan gitar.

Kembali ke Sang Tutuka, dua teman yang saya sebutkan di atas kemudian menjadi tim produksi dalam pentas pembacaan naskah Sang Tutuka pada 11 September 2007, di Aula Lama Universitas Wangsa Manggala Yogyakarta. Dalam pementasan ini saya menjadi sutradara sekaligus aktor. Konsep pertunjukan Sang Tutuka adalah perangkuman dari pembacaan cerita wayang, musik techno dan theme song. Pinginnya sih, kami mencoba me-reinkarnasi tradisi. Merangkai dunia semalam suntuknya pertunjukan wayang kulit dan semalam hip-hip-hura-nya dunia clubbing dalam kurang lebih satu jam pembacaan naskah.

Sulit memang, karena harus mencari momen-momen yang tepat untuk memasukkan unsur musik techno di sesela model tutur dan gerak yang cenderung bertolak pada pola pertunjukan tradisi. Seperti pada pola tutur, saya mengadaptasi gaya pelisanan dalang dalam pementasan wayang kulit, kemudian saya rangkum dengan suara efek DJ sebagai intro penceritaan atau sebagai gradasi untuk melantunkan tembang Sinom. Demikian juga pada pola gestur, untuk mengawinkan beberapa gerak dasar tari Jawa Tengah: Bedhoyo, dengan musik dugem saya menggunakan pola mimik wajah yang keras dan permainan api (seperti pada pertunjukan Jathilan).

Proses latihan kami cukup singkat. Dengan dua tahap latihan. Tahap pertama, selama kurang lebih satu bulan aktor dan tim musik latihan terpisah dengan materi yang sudah dibagikan. Kemudian selama enam kali pertemuan kami merangkai materi dari keaktoran dan musik.

Pola pertunjukan yang saya tampilkan cukup sederhana, demikian pula untuk tata lampu dan setting. Untuk musik saya mengajak Mbak Ventri (vokalis merangkap gitaris) dan seorang DJ yang sedang terseok-seok mengangkat namanya, DJ Wahyu.

Tempat pertunjukan dengan akuistik yang kurang mendukung memaksa stage manager untuk membatasi penonton menjadi maksimal lima puluh orang. Penonton yang rata-rata anak muda tersebut menjadi tantangan kami untuk memancing ketertarikan mereka pada wayang. Baik cerita, tokoh, maupun sejarahnya. Mungkin terlalu muluk impian kami. Tapi tak apalah, setidaknya dapat sedikit memberikan hiburan yang menegangkan (maksudnya, hiburan itu sendiri cukup menegangkan bagi kami, hehe..pen).

* Afika ‘Sutris’ Krisnantoro, pelaku teater, tinggal di Jogjakarta

(terbit di skAnA volume 05, November 2007-Maret 2008)

Oleh: Andy Sri Wahyudi*

George Orwell, penulis novel Animal Farm lahir tahun 1903 di Motihaii, Bengal, India. Semasa hidupnya Orwell pernah bergabung dengan Polisi Imperial India (1922–1927), sempat hidup di tengah masyarakat miskin di Inggris dan masyarakat kelas buruh di Paris, menjadi milisi POUM (Partido Obrero dan Unification Marxista) saat perang sipil Spanyol meletus (1936), dan bergabung dengan  Partai Buruh Independen Inggris. Perjalanan panjang dan keras itu, membuatnya menjadi penulis kiri yang kritis pada jamannya. Dalam novel Animal Farm ia menggambarkan dunia yang kasar dan membunuh. Pandangan sinis atas manusia yang selalu berhasrat menjadi penguasa dan revolusi hanyalah kedok untuk berkuasa.

Novel tersebut telah diadaptasi oleh Raudal Tanjung Banua dalam bentuk naskah drama, yang pada tanggal 1 Agustus 2007 dipentaskan di Auditorium Teater ISI Yogyakarta, dalam rangka tugas akhir keartistikan. Pementasan ini lebih mengedepankan penataan setting, tata rias, dan kostum. Tentu saja tanpa menghilangkan  atau mengesampingkan nilai dramatik dan keaktorannya. Tatanan ruang pertunjukan tampak natural dengan dominasi visual dari rangkaian kayu dolken dan lantai yang bertebaran jerami. Bentuk panggung terinspirasi dari pematang sawah di perbukitan, sehingga lantai panggung terkesan seperti lapisan tanah yang berundak. Setting panggung terdiri dari kandang yang terletak di samping kiri, bagian tengah adalah bangunan kandang yang berupa kerangka rumah dari batangan kayu. Di pojok kanan ada tempat pengawasan, berupa menara dari bambu yang berundak-undak menjulang tinggi. Sedangkan bagian depan kandang menjadi halaman peternakan. Setting dirancang oleh Asita. Ia mencoba mencipta ruang dengan kesatuan bentuk, warna, garis, tekstur dan cahaya.

Setting berupa kandang dalam Animal Farm

Cerita yang dimainkan di atas panggung bukan cerita keseluruhan seperti di naskah, melainkan hanya fragmen-fragmen dari naskah. Selain setting, suasana dan karakter tokoh dikuatkan lewat penggarapan make up dan kostum yang tampak sederhana meski sebenarnya rumit. Para aktor mengenakan kostum dan polesan make up yang menggambarkan karakter binatang dalam naskah Animal Farm. Dhani Brain, mengeksplorasi polesan dan warna make up sesuai karakter tokoh. Sedang kostum tidak sepenuhnya merubah tubuh aktor, tapi hanya memberi tekanan pada tubuh yang berpotensi merubah karakter tubuh manusia menjadi binatang.

Dalam penggarapan aktor, sutradara lebih berupaya menggarap tata laku ketimbang membangun ruang eksplorasi antara aktor, setting dan properti yang sebenarnya dapat menghidupkan ruang dan menguatkan karakteristik tokoh. Alur cerita yang padat dan sarat konflik itu, tergarap dalam bentuk permainan yang dinamis dengan tangga dramatik yang berujung keresahan.

Animal Farm, novel yang ditulis akhir tahun 1943 hingga Februari 1944 ini,  bercerita tentang hewan-hewan yang membebaskan diri dari ketertindasan, namun kembali terbelenggu penindasan lagi, bahkan lebih kejam: Mayor Tua, si Babi pelopor perjuangan mati, tertembak tuan Jones si Pemilik peternakan. Napoleon dan Squeller, kedua babi picik itu, mulai mendominasi pemikiran dengan berstrategi busuk untuk berkuasa. Perlawanan telah didramatisir, seolah ia pemimpin pertempuran saat melawan pemilik peternakan, Tuan Jones. Snowball, Babi cerdas, berani, patriotik dan berpikir untuk kemajuan bersama malah di singkirkan secara kejam. Sementara itu, Benjamin (Kerbau Tua), Boxer (Kuda Jantan), Mollie (Kuda betina), Clover (Sapi Betina), Jessie (Anjing) dan hewan-hewan lainnya semakin terpuruk dalam sistem penindasan gaya baru. Yah begitulah, kekuasaan memang mempesona.

*Andy Sri Wahyudi, reporter skAnA, aktor dan sutradara Bengkel Mime Theatre

(terbit di skAnA volume 05, November 2007-Maret 2008)

***

Kerabat Kerja:

Pimpro: Lina Sutradara: Fery Ludiyanto Setting: Asita Make-Up & Kostum: Dani “Brain” Mangku Alam Musik: Deni Lighting: Burek Kru Setting: Mata Emprit, ETS, Cartoon Station Konsumsi: Ratna dan Viar Eka Putra

Komentar Penonton:

Artistik dan kostumnya sedikit kurang warna-warni dan cerah. (Media Anugrah Ayu, Ibu rumah tangga 25 tahun)

Asita masih harus banyak belajar artistik panggung, tapi saya yakin dia akan menemukan jati dirinya sebagai penata artistik panggung. (Ari “Inyong” Dwianto, 25 Tahun, Sutradara Bengkel Pantomim Yogyakarta)

Mulai ruang masuk, benak penonton sudah di-set, “Anda memasuki peternakan.” Begitu masuk ke panggung semakin diperjelas, disuguhi tata panggung yang mengagumkan. (Ibob, 26 tahun, Mahasiswa komunikasi Atmajaya. Semester akhir)

Wah, aktor-aktornya total sekali terutama yang menjadi banteng itu lho, meski dialognya sedikit tapi aktingnya sangat banteng sekali. Pendek kata dahsyat! (Mutia Sukma, 19 tahun, Mahasiswi Universitas Negri Yogyakarta, Sastra Indonesia, semester 3)

Oleh: Hindra Setya Rini*

Teater Gardanalla kembali beraksi. Menggelar pertunjukan yang berjudul Jam Sembilan Kita Bertemu pada hari Jumat, 7 September 2007, di Lembaga Indonesia Perancis (LIP) Jogja. Naskah yang ditulis oleh Puthut EA, penulis yang tak asing lagi namanya di Jogja ini dimainkan oleh Dhatu Rembulan, Nawang Sekarjati, Angga Permana, dan Apriyanti. Pertunjukan digelar dalam dua kali sesi pementasan dalam semalam, pukul 19.00 dan 20.30 WIB.

Naskah bertema cinta segi tiga ini berkisah tentang hubungan antara Doni, Lisa dan Kenes. Doni, yang diperankan oleh Angga Permana adalah lelaki berusia 28 tahun dan sudah menikah. Sejak kuliah mendalami film, ia juga mempunyai sejarah asmara dengan banyak wanita. Setelah lulus kuliah Doni bekerja sebagai pembuat film. Lisa (Nawang Sekarjati), perempuan berusia sekitar 27 tahun adalah seorang gadis yang pembawaannya tenang dan tegas. Sejak mahasiswa sudah bergiat dalam pers kampus, lalu lulus menjadi wartawan. Lisa terlibat asmara gelap dengan Doni. Kenes (Dhatu Rembulan), yang juga seusia dengan Lisa, adalah perempuan yang agak genit, penggerutu tapi romantis. Ia gadis yang tertib saat kuliah. Lalu setelah lulus ia menjadi aktivis LSM.

Malam itu, pertunjukan berlangsung dengan cukup ramai. Mulai dari memasuki ruang pertunjukan berkapasitas kurang lebih seratus orang itu penonton sudah disambut oleh musik ajep-ajep yang cukup bikin kepala manggut-manggut. Selain itu, mata juga segera dimanjakan oleh setting panggung yang ceria dengan warna-warni cerah menyala; merah, kuning, biru, putih, dan lain-lain yang menjadi latar dinding penyekat tempat para aktor keluar-masuk. Bola kerlap-kerlip terus berputar dari atas panggung membuat ruang seperti di diskotek, seiring dengan musik yang terus menghentak. Ruang dibangun menjadi tiga bagian, yaitu ruang tempat tidur lengkap dengan seperangkat ranjang mewah serta pernak-perniknya di sisi kiri panggung bagian belakang, ruang tamu yang terdiri dari sebuah sofa indah yang letaknya agak menjorok ke bagian depan panggung, dan ruang kantor yang berisi sebuah meja dan kursi yang posisinya lebih tinggi dari yang lain terletak di sisi kanan panggung bagian belakang. Untuk beberapa saat, sembari mencari dan menempati posisi duduk yang nyaman penonton dibiarkan sejenak menikmati ruangan yang menyolok mata ini sebelum pertunjukan dimulai.

Apriyanti sebagai narator

Pada bagian tengah ruang bagian belakang tepat di depan pintu keluar-masuk, seorang aktor telah duduk layaknya presenter di sebuah acara televisi. Pertunjukan pun dimulai. Aktor tersebut berperan sebagai narator dalam pertunjukan ini. Ia memperkenalkan tokoh-tokoh yang berperan dalam cerita. Karakter narator yang seksi dan “panas” dimainkan secara apik oleh Apriyanti, beberapa kali ia membuat penonton cukup heboh karena kegenitannya meniru gerak dan bahasa laiknya presenter infotainment di televise.

Teater Gardanalla berhasil menyuguhkan pertunjukan ini berdurasi kurang-lebih satu jam ini dalam dua kali permainan semalam. Cerita cinta yang biasa terjadi dan perihal perselingkuhan yang sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari dimainkan dalam pola akting realis; pola ucap, kostum dan properti, semua dihadirkan ke panggung agar kesan keseharian muncul di sana. Adegan-adegan diupayakan mendekati kenyataan seperti yang ada dalam cerita. Misalnya, cerita yang melibatkan dua aktor yang tegah bercakap dengan telepon seluler di dua tempat yang berbeda ditampilkan dalam panggung yang sama. Meskipun keduanya bersisian tapi seolah-olah berada di ruang yang berbeda. Penonton diajak membayangkan bahwa ruang peristiwa terbelah. Tentu saja ruang peristiwa terbelah itu tidak biasa dalam kehidupan sehari-hari.

Cerita yang biasa ini juga menjadi tidak biasa ketika penonton diajak mendengarkan penggalan dialog para actor yang direkam saat penonton berperan. Penggalan percakapan yang direkam itu membawa penonton memasuki pikiran tokoh yang dimainkan aktor. Seperti berkata dalam hati tapi penonton mengetahuinya. Di beberapa bagian tertentu para aktor tetap menyampaikan dialognya secara verbal di panggung. Namun sayang, beberapa aktor terkesan tergesa-gesa dalam mengucap dialognya yang secara langsung itu.

Penggalan cerita yang direkam, dan di satu sisi ada cerita yang berlangsung di panggung itulah yang dimaksud dengan konsep cerita ‘ada cerita di benak’ dan ‘ada cerita di panggung’ dalam pertunjukan ini, jika membaca kata pengantar dalam booklet pertunjukan.

Ini seperti ibu yang mendongeng. Pertama, ada sesuatu yang didongengkan. Kedua, ada peristiwa di mana ibu mendongeng. Yang pertama kurang lebih adalah yang dimaksud dengan ‘cerita di benak’ dan yang kedua yang dimaksud dengan ‘cerita di panggung’. Yang membedakan hal tersebut dengan pentas pembacaan cerpen misalnya, adalah karena adegan-adegan di dalam panggung beserta seluruh kompleksitas seni pertunjukannya, demikian menurut Joned Suryatmoko, sutradara pementasan Jam Sembilan Kita Bertemu.

* Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor Teater Garasi

(terbit di skAnA volume 05, November 2007-Maret 2008)

***


Kerabat Kerja Pertunjukan:

Produser HJ Sriyanto & Joned Suryatmoko Pimpinan Produksi Aniek Rusmawati Staf Produksi Iwan Imam Stage Manager Novindra Diratara Penata Rias Heru Salon & Production Foto Publikasi Indra Pak Jepret Foto Teater Gardanalla DUTA Foto Penata Pangung Syarifudin Penata Lampu Johan Didik Penata Suara Ari Wulu Penulis naskah Puthut EA Sutradara Joned Suryatmoko

Komentar Penonton:

“Format baru dalam pertunjukan teater, kreatif dan inovatif buat sutradara dan musik. Cirinya Joned kan ada unsur sensualitasnya. Settingnya modern. Aktornya relatif bagus. Cuma, ehm, apa ya? Ya udah, itu aja deh.” (Nelfi, 27 Tahun, Pekerja Bank Mandiri)

“Menurutku oke sih. Cukup menghibur, lumayanlah. Ceritanya biasa, metropolis. Kostumnya bagus. Aktor yang oke si Narator itu. Adegan ranjangnya lumayan bikin bergidik, iiih. Oh ya, dialognya agak kelibet-libet. Masih grogi kali, ya?” (Dian, 22 tahun, Mahasiswi Interior ISI)

“Ceritanya biasa, ending ketebak. Adegan di sofa itu garing. Naratornya cukup ngangkat, cukup berkesan. Selain narator itu, aktor yang lain kesannya buru-buru. Banyak dialognya yang kesrimpet-srimpet. Ehm, kemasan pertunjukan lumayanlah.” (Sandi, 24 Tahun, Komikus)

Komik skAnA volume 05: BERBURU PENTAS by Asita

« Previous Page