Oleh: Andy Sri Wahyudi*

Saya tidak tahu, siapa Laki-laki Terindah itu?

Dia datang dan bercerita panjang lebar tentang masa lalunya, lantas pergi begitu saja. Cuek dan percaya diri, tak peduli siapa yang akan mendengarkan ceritanya. Dia bercerita dengan santai, seperti tak mengharap kesan dan tepuk tangan dari penontonnya. Kemasan panggung dan gaya berceritanya sederhana, tidak terlampau mewah dan tidak terlalu miskin. Suasana yang disuguhkan mengasyikkan dan komunikatif, seperti melihat acara talk show di tv-tv. Renyah dalam mencipta suasana. Dia juga tidak membuatku tertegun dan berusaha mencari-cari makna, pesan moral ataupun konsep dalam sebuah peristiwa pementasan.

Di bar itu ada properti kursi, gitar, stage mixe dan lilin-lilin menyala disamping ruang tempat dia bercerita. Awal

Alex Suhendra

kedatangannya tak begitu mengejutkan, bahkan cenderung asyik sendiri. Mengenakan celana panjang coklat, bersepatu hitam dan baju putih. Dengan gaya bicara yang feminim dan agak cedal, dia membuka cerita sambil membuat minuman, melayani dirinya sendiri. Kemudian diambilnya sebuah gitar, duduk, memainkan musik blues dan bernyanyi. Sayang, aku lupa dengan syair lagunya.

Dia bercerita tanpa beban, seolah hanyalah peristiwa biasa yang enggan didengar. Cerita berlatar kota metropolis yang berjejalan manusia dan kisah-kisah yang jarang terungkap. Dia menjadi bagian di dalamnya. Seorang lelaki playboy yang penuh lika-liku petualangan seks dengan wanita. Entah apa yang melatarbelakangi perjalanan hidupnya, hingga suatu ketika di sebuah salon dia bertemu seorang lelaki pekerja salon yang mencoba mendekatinya. Dia menolak kelancangan lelaki itu. Namun seiring berjalannya waktu, dari pertemuan itu mereka saling mengenal, berkencan dan hidup serumah meski dengan jalan sembunyi-sembunyi. Namun tak seindah yang dibayangkan. Petualangannya tidak berhenti dengan laki-laki itu, dia kepergok saat kencan dengan pacar wanitanya. Pertengkaranpun terjadi dan hubungan mereka terputus. Dikabarkan pasangannya bunuh diri. Ternyata salah, dia telah beralih profesi.

Sampai disini penonton yang pernah membaca cerpen “Lelaki Terindah”-nya Seno Gumira Ajidarma akan kecele,  karena di akhir pertunjukan menjadi jelas bahwa Alex sebenarnya tidak setia pada teks cerpen Seno yang menggunakan sudut pandang penceritaan si lelaki playboy. Malam itu Alex bercerita sebagai lelaki pekerja salon yang kini sudah berganti profesi menjadi seorang pencerita di sebuah bar, menghibur para pengunjung yang dating.

Sebuah pementasan monolog yang enerjik dan simpel. Mengangkat kisah cinta sesama jenis yang masih tabu di tengah masyarakat kita, dalam kemasan yang segar.

Kubiarkan diriku terapung-apung di permukaan cerita, tak ada kesan mendalam bersandar di benakku setelah 45 menit berlalu, kecuali senyuman manis dan kubiarkan dia indah begitu saja.

Di Balik Wajah Laki-laki Terindah

Alex Suhendra, lelaki mungil kelahiran Cirebon 10 November 1984. Pernah bergiat di Teater Malam, Teater Sekrup, Gamblank Musikal Teater (GMT) dan program Actor Studio Teater Garasi, akhirnya memilih one man show. Dia memilih cerita ringan, yang berupa buku harian. Diangkat dari cerpen Seno Gumira Ajidarma yang diadaptasi dengan judul yang sama. Katanya, selain terbatasnya naskah monolog, anak muda jaman sekarang malas mendengar tema-tema politik karena sudah ada di televisi dan bukan makanan anak muda jaman sekarang yang lebih tertarik pada fashion, gaya hidup konsumtif dan dimanja teknologi. Dia terinpirasi one stand comedy, kemudian menjadi pemicu pentasnya yang bersifat one stand tragedy.

Maka “Laki-Laki Terindah” dipilihnya sebagai hiburan alternatif. Dia ingin iklim teater seperti musik band dan seperti layaknya menonton sinetron. Menghibur, mudah dipahami dan tidak berat.  Setidaknya ada kontribusi di sela-sela kepenatan rutinitas. Adakah hal lain dalam dirinya yang dibesarkan dalam lingkungan religius itu, mengapa ia memilih “Laki-Laki Terindah”?

Pertunjukan tanggal 6 dan 8 September di Ruangan F, Museum Benteng Vredeburg itu, dihadiri belasan penonton. Pas dan sesuai setting panggungnya yang berupa bar atau café kecil. Tempat senggang melepas lelah.

*Andy Sri Wahyudi, reporter skAnA, aktor dan sutradara Bengkel Mime Theatre

(terbit di skAnA volume 05, November 2007-Maret 2008)

*****


Sutradara dan Aktor: Alex Suhendra Pimpinan Produksi: Guntur Kru Panggung: Antok, Qi-mung, Zi, Sutris, Buncis, Nugie dan Qomar Antah Berantah.

Komentar Penonton

Aku suka, tapi sayang sekali pertunjukan sebagus ini kok penontonnya sedikit, publikasinya gimana sih itu? Keromantisan itu kok ga muncul ya? (Asita, komikus dan Aktor Bengkel Pantomim)

Yang keren itu suaranya manteb dan dia kayaknya natural banget. Keren. (Robert UGM, Jurusan Antropologi, semester satu, 20 tahun)

Bagus sih, tapi menurut saya publikasinya kurang. Kalau masalah teaternya sendiri bagus dalam penjiwaannya. Sudah bisa membawa penonton ke situasi yang dia inginkan. (Vicky, Semester satu Fakultas Pertunjukan, ISI, 20 Tahun)

Aku suka pentasnya, seger. Cuma ada beberapa saat ketika dia mencampur dialog dengan petikan gitarnya itu, yang agak mengganggu gitu lho. Ini ngapain sih ngomong…cereret greng! cereret greng! (menirukan suara petikan gitarnya Alex) udahlah, udahlah! itu aja sih yang ganggu, tapi secara keseluruhan dia oke, membangun ritmenya asyik. (Galuh Asti Wulandari, Tata Usaha (TU) Teater Garasi, 30 Tahun)

Bagus. Aku tuh dengan beberapa teman, sedang mencari stand up act – comedian, jadi orang yang bermodalkan hanya mixe dan bertutur, baik dikonsep atau tidak. Mau ta ajak Band-band-an. (Rizky Summerbee, Musisi, 36 Tahun)

Bagus, cuma produksinya aja yang tidak mendukung jadi eman-eman. (Erytrina Baskorowati, Aktor Teater Garasi, 32 Tahun)

Advertisements