Oleh Muhammad A.B.*

Tak banyak kelompok teater yang mampu bertahan lama, ikut meramaikan, dan ikut bersaing dalam dunia kesenian. Di Yogyakarta sendiri jumlah kelompok teater makin lama makin surut jumlahnya, ada banyak kelompok yang berdiri dan berkarya tapi lalu hilang ditelan waktu. Salah satu dari sedikit kelompok yang masih terus bertahan dan berkarya, adalah sekelompok anak muda yang intens mendalami seni pantomim, mereka tergabung dalam Bengkel Pantomim (BP).

Senin siang, 22 Oktober dan Selasa malam, 23 Oktober yang lalu, di tengah kesibukan para punggawa Bengkel Pantomim yang berjubel (maklum mereka baru saja menempati rumah baru-nya di daerah Nitiprayan), skAnA berkesempatan bertemu dengan mereka. Dalam dua kesempatan itu skAnA bertemu dengan para pria (yang kesemuanya mengaku tampan) para punggawa BP: Asita (27 tahun lebih sedikit akunya), Andy S.W (26 tahun), Ficky Tri Sanjaya (20 tahun), Ari “Inyong” Dwiyanto (26 tahun). Selain itu mereka juga dibantu oleh Ronald Palongan (23 tahun), Bambang NT (27 tahun), dan Hambar “Gigon” Riyadi (20 tahun).

Mereka kini sedang berusaha mengelola perkebunan kecil-kecilan dan peternakan ayam dalam skala mini di rumah kontrakan BP, selain berusaha untuk mencari pekerjaan sampingan untuk mencari uang saku tambahan. “Maklum sampai sekarang kami masih bantingan kalau mau produksi..” kata Asita menceritakan pengalamannya di BP, “Selain itu kalau kehabisan uang, kami bisa makan ketela dari hasil kebun sendiri”, tambahnya.

Ketika ditemui, Asita sedang menyelesaikan gambar komiknya, ia menjadi komikus agar tetap bisa menghidupi Bengkel Pantomim, komik karyanya dapat dinikmati di skAnA dan beberapa media lain, ia juga akan membuat komik dari pertunjukan-pertunjukan Bengkel Pantomim. Asita bercerita masing-masing anggota BP kini mempunyai pekerjaan sampingan, misalnya Andy S.W. menjadi reporter dan menulis liputan-liputan pertunjukan yang dapat dibaca di skAnA dan beberapa alamat website, Gigon menjalankan bisnis parkir di kampung halamannya di Bantul, sementara Ronald dan Bambang masih sibuk menjalankan kewajibannya sebagai mahasiswa. Sedangkan Inyong dan Ficky mengajar teater di beberapa tempat.

Berikut ini adalah rangkuman obrolan skAnA dengan mereka yang dipenuhi dengan canda tawa, ditemani rokok lintingan inventaris BP, dan teh buatan Asita yang kami bagi untuk bersama. Dua kali wawancara mereka berlangsung di rumah mereka yang dengan bangga mereka namakan Sanggar Anak Soleh.

Jadi sekarang BP ada tujuh orang ini ya?

Asita:

BP resminya terdiri dari lima orang. saya, Inyong, Andy, Ficky, dan Pingky Ayako. Pingky biasanya ngurusin artistik sejak proses “Langkah-Langkah”. Biasanya kami ngajak teman-teman yang lain untuk ikut proses. Nah kebetulan dalam proses kali ini Ronald, Bambang, dan Gigon ikut membantu sebagai aktor.

Andy:

Sebenarnya yang tetap dari awal itu ya saya, Asita, sama Inyong, banyak yang masuk tapi terus keluar lagi, terus sejak 2005 Ficky masuk dan terus ikut sampai sekarang. Ronald juga sebenarnya masuk bareng sama Ficky tapi dia baru main dua kali. Kalau yang keluar masuk banyak banget.

Ronald:

Ya, saya masuk bareng Ficky pas ada workshop pantomim, saya diajak mbak Endah (manajer BP-pen) ikut workshopnya, padahal pas itu saya lagi di Bekasi. Wah tapi ini kesempatan, jadi saya langsung berangkat ke Yogyakarta secepatnya. Soalnya dulu waktu mereka main di Sanata Dharma saya nonton latihan mereka kok kelihatannya asyik banget ya, kok bisa ya mereka bisa lucu-lucu seperti itu, padahal waktu itu ga ada yang nonton.  Jadi saya ikut workshop itu, waktu itu yang ngisi Mas Reza dan Mas Jamal.  Terus saya main bareng Ficky di “Romantika Daun Pisang 1 dan 2” di LIP tahun 2005 ya? (Teman-temannya mengiyakan.)

Ficky:

Aku diajak Andy ikut workshop sama BP, tapi sebelumnya aku sudah tahu Andy, dia sering nonton saya pentas di Anak Wayang Indonesia (Anak Wayang Indonesia, kerap disingkat menjadi AWI adalah sanggar kesenian untuk anak-anak dan remaja di daerah tempat tinggal Ficki, ia sudah berproses di AWI sejak sekolah dasar). Tapi sebelum workshop saya sudah kenal dengan pantomim.

Asita:

Ya, wong Ficky itu seniman angkatannya Jemek (Jemek Supardi, aktor pantomim senior di Yogyakarta-pen) hehehehe… dia dulu julukannya secil, seniman cilik wong dari kecil sudah main teater dan pantomim, sudah punya banyak karya juga sebetulnya. Kami yang tua-tua mungkin malah kalah jumlahnya. (Kami semua tertawa, selama obrolan kami berlangsung seringkali disela dengan guyonan-guyonan segar, para awak BP yang saling mengejek, atau tingkah mereka yang selalu saja membawa tawa)

Ficky:

Terus setelah workshop itu, saya diajak ikut proses “Romantika Daun Pisang 1 dan 2” juga teman-teman yang lain yang juga ikut workshop waktu itu, salah satunya Ronald.

Kalau dulu awal mulanya bagaimana kalian bertemu ? kemudian memutuskan untuk bikin kelompok pantomim, karena setahu saya cuma kalian satu-satunya kelompok pantomim di Jogja..

Inyong:

Dulu sih awalnya di tahun 2001 saya ketemu sama Giras,  teman di Sanata Dharma, terus saya dikenalkan dengan Andy karena dia sering main ke Sanata Dharma. Dari Andy saya kenal Asita. Terus kami mulai sering ketemu dan ternyata kami punya kesamaan, suka sama pantomim. Tahun 2001 kami bikin pentas di Sanata Dharma judulnya “Antara Aku, Nyamuk, dan Kekasihku”, nama kelompoknya waktu itu @mime. Terus kami kok merasa… kami harus belajar dulu, karena semuanya tidak punya ilmu tentang pantomim. Ya terus kami ngajak Broto temannya Asita di ISI, karena waktu itu kami anggap dia sudah lebih lama berkecimpung di dunia pantomim. Bersama Broto kami membuat satu reportoar judulnya “Paskibroto”, itu tahun 2001 juga ya? (Andy mengeluarkan poster-poster pertunjukan mereka, dan mengiyakannya). Tapi setelah itu kami berpisah lama, dan baru berkumpul lagi tahun 2004, dan memulai proses Bengkel Pantomim dengan semangat yang baru.

Asita:

“Paskibroto” adalah pentas pertama kami dengan nama Bengkel Pantomim, yang memberi nama itu adalah Papi (sebutan akrab anak-anak BP untuk Moortri Poernomo, aktor pantomim yang sangat senior di Yogyakarta-pen). Tapi kami sepakat bahwa BP yang  sekarang ini berjalan sejak tahun 2004, ketika kami bertemu lagi dan memulai proses “Langkah Langkah”.

(Sejak “Langkah Langkah”, BP membawakan bentuk pertunjukan pantomim yang berbeda dengan kecenderungan pertunjukan pantomim pada umumnya. Hal ini berawal dari kegelisahan mereka atas keseragaman bentuk pantomim yang merujuk pada satu gaya tertentu saja, sementara mereka ingin mengeksplorasi media pantomim dengan bebas. Mereka misalnya tidak mengecat putih wajahnya, atau menggunakan baju dan celana serba hitam, mereka juga menggarap setting panggung dan menggunakan properti dalam pertunjukan-pertunjukannya.)


Bagaimana sih bedanya pantomim yang dibawakan BP dengan pantomim yang dibawakan kelompok lain?

Asita:

Gimana ya, kalau menurut kami pantomim itu ga cuma kethungklak kethungklik seperti ini (ia lalu berdiri dan mempraktekkan gerakan pantomim; ia berjalan dengan gerakan yang patah-patah, kami semua tertawa)

Inyong:

Buat kami kethungklak kethungklik adalah salah satu tehnik dalam pertunjukan pantomim, ia tetap menjadi bagian dari pertunjukan BP tapi kami berusaha memasukkan unsur gerakan-gerakan yang lain.

(Dalam format pantomim versi BP mereka telah memproduksi “Langkah Langkah (2004)”, “Romantika Daun Pisang I dan II” (2004 & 2005), “Tiga Fragmen (Rudi Goes to School, Becakku Terbang Bersama Angin, Tiga Bebek)” (2006), dan yang terakhir “SuperYanto” bulan Desember tahun 2006. Dalam pertunjukannya yang terakhir BP memasukkan unsur bela diri dan bahkan ada beberapa dialog, suatu hal yang tak lazim dalam sebuah pertunjukan pantomim.)


Kapan BP produksi lagi, kelihatannya pentas terakhir kalian sudah cukup lama berlalu?

Andy:

Kami sudah mulai proses untuk pertunjukan bulan Januari 2008 nanti, kami sudah berlatih sejak Bulan September.

Wah, apa judulnya kali ini?

Inyong:

Sampai sekarang kami belum punya judul sih, tapi yang jelas kami mengangkat tentang imajinasi kota dengan fokus jalanan

Asita:

Proses ini sepenuhnya berlangsung di sini (rumah kontrakan BP-pen), ini adalah kali pertama BP punya tempat latihan yang pasti. Soalnya sebelumnya BP kalau latihan pasti numpang di tempat teman, atau di TBY.

Andy:

Sampai sekarang kami masih mengeksplorasi ide-ide sambil terus berlatih seminggu tiga kali

(Bagi Ronald ini adalah kali yang ketiga ia berproses sebagai aktor, sementara bagi Bambang dan Gigon ini adalah pengalaman pertama mereka berproses di BP. Begitu pula Agam, ikut membantu pengumpulan data BP untuk proses kali ini. Bagi mereka yang relatif lebih baru dari awak BP yang lain, berproses dan tampil membawa nama BP adalah suatu kebanggaan. Mereka mengaku sangat tertarik melihat penampilan BP di atas panggung, selain itu mereka juga ingin bergaul dengan para awak BP di luar panggung. Menurut mereka bahasa pergaulan sesama anak BP selalu saja segar dan lucu membuat mereka merasa betah berproses bersama.)

Begini nih, salah satu gaya latihan Bengkel Pantomim

Bagaimana sih kalian berproses?

Inyong:

Ya biasanya kami punya tugas dan tanggung jawab di posisi masing-masing, tapi kita melakukan eksplorasi dan saling berdiskusi bersama.

Asita:

Biasanya Inyong punya ide dan ia juga belajar jadi sutradara, saya ngurusin artistik sama Pingky, terus Andy biasanya mencatat proses dan juga menulis naskah hasil eksplorasi kami bersama.

(Selain Pingky Ayako yang mengurusi artistik, BP juga mempunyai beberapa orang teman yang mengurusi manajemen. Endah dan Imelda membantu manajemen produksi BP setiap kali mereka akan pentas, sementara Viar Eka Putra mengurusi manajemen panggung di setiap pertunjukan mereka.)


Harapan kalian pada BP ke depan?

Andy:

ya apa ya, sementara ini kami berharap kami bisa pentas Januari 2008 nanti, hehehe

Asita:

tahun depan BP sudah punya kolam dan bisa jualan lele, lumayan kan… jadi pas pentas jual tiket sambil jualan lele, lombok dan ketela hasil kebun..hehehe,.. kan lumayan itu..

Inyong:

ya kalau kami sih inginnya membawa BP keliling ke beberapa kota, rencananya kami ingin ke Jakarta

Ficky:

Bisa memperpanjang kontrak rumah tahun depan.

Asita:

Ya bagi kami adanya Sanggar Anak Soleh ini merupakan awal dari langkah baru kami, karena kami jadi punya tempat ngumpul. Sementara dulu-dulu kami selalu terpencar-pencar dan tak punya tempat ngumpul yang pasti. Adanya tempat ini  paling tidak kami jadi punya tempat rapat, latihan, dan juga kami punya intensitas pertemuan yang lebih dari yang dulu. Dengan begini konsentrasi pada BP bisa lebih fokus.

Andy:

Sementara ini juga kami masih ingin fokus jadi kelompok dulu saja, maksudnya kami masih ingin belajar berkelompok, belajar untuk bertanggung jawab. Kami ingin membentuk iklim kerja yang bagus buat kami dan teman-teman yang lain. Kalau masalah keinginan yang lain menurutku itu akan muncul kalau sebagai kelompok kami sudah kuat.

(Teman-temannya mengiyakan perkataan Andy)

*Muhammad AB, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 05, November 2007-Maret 2008)