Oleh : Afika ‘Sutris’ Krisnantoro*

Awal Penulisan Naskah

Tre…tek..tek..tek…ning..nong..ning…gung….

“Ngomong-ngomong soal wayang? Whe..e..e..ee, pasti semalam suntuk, nguantuk. Ngomong-ngomong soal teater? Itu hiburan kok mikir. Ngomong-ngomong soal aktor? Kalau artis saya kenal banyak Mas!” Itulah semua jawaban singkat dari seorang teman ketika saya bertanya tentang wayang, teater dan aktor.

Jawaban-jawaban itulah yang membuat saya memberanikan diri untuk menulis naskah Sang Tutuka pada bulan Februari 2007 dan Gatutkaca Gugur pada bulan April 2007. Beberapa bulan sebelumnya saya membaca sebuah buku tentang wayang yang berjudul Bratajuda IV-Suluhan (Pedjahipun Gatutkatja) karya U.J. Katidjo Wiropramudjo dan Kamadjaja. Buku berbahasa Jawa dengan ejaan lama itu menceritakan salah satu babak dari epos besar Mahabharata. Penceritaannya berdasarkan versi yang berkembang di Yogyakarta.

Garis besar dari cerita buku tesebut adalah matinya seorang ksatria Pandawa yang bernama Gatutkaca. Saya mulai tertarik dengan tokoh sentralnya yang bernama Gatutkaca. Selanjutnya saya mulai mencari referensi tentang tokoh tersebut. Saya mulai membaca buku-buku yang menceritakan tentang Gatutkaca. Mulai kisah kelahirannya sampai kematiannya. Ini yang bikin pegel dan capek, karena kebanyakan referensinya berbahasa Jawa Kawi. Tanya sana-sini akhirnya dapat kamus Bahasa Kawi. Kemudian saya menemukan bahwa ada perbedaan versi tentang Gatutkaca. Menurut versi India, yang diakui sebagai tempat lahirnya epos Mahabharata, Gatutkaca adalah seorang ksatria yang berwujud raksasa. Anak pertama dari Bima dan Arimbi (raksasa perempuan).

Pada zaman pemerintahan Amangkurat II, terjadi penggubahan tokoh Gatutkaca. Yang semula berwujud raksasa digubah menjadi seorang ksatria gagah dengan wujud manusia. Dengan penambahan lakon carangan Gatutkaca Lair. Maka dibuatlah wayang Gatutkaca seperti yang kita kenal selama ini (kalau masih kenal, karena banyak juga anak-anak sekarang yang tidak kenal Gatutkaca, menurut saya). Begitulah latar belakang dari penulisan naskah Sang Tutuka. Oh, iya, saya lupa menerangkan tentang Sang Tutuka. Atau siapakah Tutuka itu? Tutuka adalah nama kecil dari Gatutkaca.

Dalam naskah Sang Tutuka, saya mencoba menampilkan Gatutkaca sebagai figur dengan latar cerita tentang kematiannya di Padang Kurusetra (tempat pertempuran besar antara Pandawa dan Kurawa). Dalam penceritaannya naskah ini banyak menggunakan gaya bahasa metafora. Tokoh Gatutkaca digambarkan menurut versi India. Seorang r.aksasa muda dengan kepala besar yang mempunyai kesaktian luar biasa, bisa terbang tanpa sayap. Tapi cerita kematiannya saya berpijak menurut versi Jawa. Mau saya ceritakan bagaimana Gatutkaca mati? Wah, bisa puuaanjang tulisannya. Tapi, yang jelas tragis dan romantis (sinetron mah kalah—pen).

Proses Menuju Pentas

Waktu naskah Sang Tutuka sudah hampir selesai, saya bertemu dengan dua teman sekomunitas. Namanya Robert Qmung dan Mas Bhayu Hidayat. Setahun yang lalu kami tergabung dalam Paguyuban Sekar Budaya Narayandra (PSBN) yang berkantor di Babadan, Bantul. Karena SDM yang sedikit kami lebih memilih bentuk-bentuk pementasan minimalis (minimalis dalam hal kuantitas SDM-nya). Kemudian saya berposisi sebagai sutradara di sana. Awal penyutradaraan saya dalam PSBN adalah karya musik puisi yang berjudul Senandung Kunthi-Karna (2007). Pementasan dengan durasi pendek ini (kurang lebih 20 menit) digelar di  Aula Lama Universitas Wangsa Manggala. Penggarapannya berangkat dari lakon wayang Kresno Duta dan Karna Tanding. Menceritakan tentang Dewi Kunthi (ibu dari Pandawa dan Karna) yang gagal membujuk Karna untuk berfihak kepada Pandawa. Dan harus melihat kedua anaknya, Karna dan Arjuna bertempur. Hingga akhirnya Karna tewas. Menampilkan pembacaan puisi oleh Ruth Triana Surya dipadu theme song dengan iringan gitar.

Kembali ke Sang Tutuka, dua teman yang saya sebutkan di atas kemudian menjadi tim produksi dalam pentas pembacaan naskah Sang Tutuka pada 11 September 2007, di Aula Lama Universitas Wangsa Manggala Yogyakarta. Dalam pementasan ini saya menjadi sutradara sekaligus aktor. Konsep pertunjukan Sang Tutuka adalah perangkuman dari pembacaan cerita wayang, musik techno dan theme song. Pinginnya sih, kami mencoba me-reinkarnasi tradisi. Merangkai dunia semalam suntuknya pertunjukan wayang kulit dan semalam hip-hip-hura-nya dunia clubbing dalam kurang lebih satu jam pembacaan naskah.

Sulit memang, karena harus mencari momen-momen yang tepat untuk memasukkan unsur musik techno di sesela model tutur dan gerak yang cenderung bertolak pada pola pertunjukan tradisi. Seperti pada pola tutur, saya mengadaptasi gaya pelisanan dalang dalam pementasan wayang kulit, kemudian saya rangkum dengan suara efek DJ sebagai intro penceritaan atau sebagai gradasi untuk melantunkan tembang Sinom. Demikian juga pada pola gestur, untuk mengawinkan beberapa gerak dasar tari Jawa Tengah: Bedhoyo, dengan musik dugem saya menggunakan pola mimik wajah yang keras dan permainan api (seperti pada pertunjukan Jathilan).

Proses latihan kami cukup singkat. Dengan dua tahap latihan. Tahap pertama, selama kurang lebih satu bulan aktor dan tim musik latihan terpisah dengan materi yang sudah dibagikan. Kemudian selama enam kali pertemuan kami merangkai materi dari keaktoran dan musik.

Pola pertunjukan yang saya tampilkan cukup sederhana, demikian pula untuk tata lampu dan setting. Untuk musik saya mengajak Mbak Ventri (vokalis merangkap gitaris) dan seorang DJ yang sedang terseok-seok mengangkat namanya, DJ Wahyu.

Tempat pertunjukan dengan akuistik yang kurang mendukung memaksa stage manager untuk membatasi penonton menjadi maksimal lima puluh orang. Penonton yang rata-rata anak muda tersebut menjadi tantangan kami untuk memancing ketertarikan mereka pada wayang. Baik cerita, tokoh, maupun sejarahnya. Mungkin terlalu muluk impian kami. Tapi tak apalah, setidaknya dapat sedikit memberikan hiburan yang menegangkan (maksudnya, hiburan itu sendiri cukup menegangkan bagi kami, hehe..pen).

* Afika ‘Sutris’ Krisnantoro, pelaku teater, tinggal di Jogjakarta

(terbit di skAnA volume 05, November 2007-Maret 2008)