Oleh: Abd. Razak Abadi *

Bermain apa dulu? Teater apa aja. Nikmati aja dulu. Poin pentingnya di sini. Sebab agaknya sulit jika menyinggung hal-hal besar tentang teater seperti produksi, artistik, dan lainnya tetapi kita lupa hal yang paling sederhana: bermain. Wajar atau tidak teknik bermainnya, ada aturannya tersendiri. Paling tidak mata penonton lebih cerdas dari yang kita duga sebelumnya.

Jika aturan itu mungkin membuat orang malas mendalami, ya biar saja. Tiap orang punya metode berbeda. Setidaknya, saya tidak berupaya mendedahkan persoalan dengan sesuatu yang rumit. Kadang-kadang bermain itu justru aturannya dibuat sendiri oleh yang bersangkutan. Setelah ramai dan menarik, barulah aturan pasti disepakati.

Begini, tanggal 9 Juli 2007 lalu, Singo Wakako, sutradara Star House Jepang mengadakan workshop di Kedai Kebun Forum. Workshop yang sederhana tapi mengasyikkan: bermain tali. Ingatan kita kembali ke permainan-permainan masa kecil. Namun di balik itu, Singo mengharapkan kerjasama kolektif sederhana yang tentu saja teater tidak menafikan itu. Bukankah dalam permainan itu ada pertukaran budaya yang pelan-pelan terasa juga pertukaran pengalaman batin? Lebih dari itu, hubungan emosional dan bentuk kerjasama yang tidak banyak membuat alis menyatu rapat. Tiap peserta punya referensi sendiri, keberagaman, dan pengalaman yang berbeda. Justru inilah uniknya. Masing-masing kepala punya problem yang mesti dia dedahkan sendiri dalam pencapaian karya kreatif berikutnya.

Patut dicatat, bahwa saya tidak berbicara soal hal baru dalam karya kreatif teater yang dihasilkannya (mungkin secara estetik) tetapi proses dan karya yang berguna itu sendiri kelak. Juga bukan soal menokohkan apalagi mengidolakan karya terdahulu atau memilah penonton secara estetis dan ekonomis tapi apa yang sudah kita hasilkan selanjutnya memotret diri untuk terus berkarya dan berkembang, tentu saja lewat pengalaman bersama diri, orang lain, dan alam. Sesederhana itu. Yap. Terus bagaimana dengan teater yang harus bertapa dulu di tempat tertentu untuk mendapatkan ilham? Berdiam diri dalam kamar dengan setumpuk referensi? Atau berkelana ke tempat mana saja untuk berbagi cerita? Apapun kecenderungannya, verbalitas atau semiotik. Jelasnya, ia masih dalam ranah bermain.

Saya hanya ingin bermain (juga?) dalam teater yang cenderung bermula. Remaja! Waow. Teater pink. Teater timbul-tenggelam. Prosesnya lebih pendek daripada teater mahasiswa. Dan memang ia lebih banyak  jumlahnya (?), karena keadaan bukan karena matakuliah, mungkin juga karena trend. Apa sajalah, tak perlu didebatkan. Basis kekuatannya dahsyat benar. Seperti remaja yang kali pertama dapat ciuman, rasanya sulit dipikir karena nggak nyambung. Tapi daya magisnya, wuihh… (jangan dilanjutkan, kalau pun “ya”, teruskan sesuai selera).

Sayangnya tidak banyak naskah lakon untuk segmen ini. Akhirnya, banyak naskah yang dimainkan tergolong berat (belum lagi tafsirnya mungkin gelap – hehe, pinjam istilah seorang teman). Beberapa festival teater remaja di tanah air bisa buktikan kecenderungan itu.


Bermain dengan Ijma

Nah ini dia. Mari bermain berdasarkan kesepakatan bersama dulu. Istilah ijma kupinjam sajalah. Soalnya sampai sekarang kan belum ada ijma-nya teater. Ijma yang kumaksud sederhana juga seperti penemuan Teater Garasi yang sangat kecil tapi berguna. Apaan? Yaitu, soal latar hitam dalam panggung. Dasarnya: referensi, alasannya: teater Indonesia miskin. Ini belum termasuk penemuan lain mereka yang mesti saya angkat gelas untuk bersulang: terima kasih.

Garasi mungkin saja agak berbeda dengan komunitas teater lainnya. Mereka tidak mau persulit keadaan tapi mencari sesuatu yang sulit untuk kemudian dibuat mudah. Metode yang mungkin banyak orang lalui tapi tidak menyadari begitu pentingnya. Belajar bersama, memberi dan menerima menjadi satu hal yang tidak terpisahkan. Banyak ijma yang berlaku demi pencapaian bersama. Dan komunitas yang belajar bersama, tentu memperoleh sesuatu yang sangat berguna untuk dikembangkan lagi sehingga kecenderungan latah dan tidak berkonsep dapat dihindari.

Saya teringat dengan salah satu infotainment di tivi tentang strategi orang yang ingin cintanya diterima oleh pujaan hati. Banyak cara yang dilakukan, dari yang paling goblok sampai hal yang paling ekstrim. Penonton sudah punya jawaban di kepala: diterima atau ditolak. Yang bikin menarik hati bukan jawaban dari pilihan itu tapi bagaimana prosesnya ia berupaya lakukan perjuangannya. Bermain teater dengan ijma, apalagi dengan remaja, dibutuhkan sekali itu. Setelah Garasi, siapa lagi?

Kapan Bermain?

Jangan tanya dan tunggu tapi tentukan. Apalagi mencari perbedaan atau kelemahan komunitas tertentu untuk kemudian saling menjatuhkan. Kalau pun ada biar saja. Anggap saja dinamika. Dengan begitu, keberagaman ada maka daya hidup untuk bermain kian besar. Sehingga yang berproses dalam karya dan pentas nantinya bukan yang itu-itu terus.

Saya pikir, remaja adalah salah satu modal penting untuk keberagaman teater ke depan. Modal itu telah dikerjakan Garasi dengan program Actor Studio-nya meskipun remaja belum bisa masuk dalam program tersebut. Paling tidak, program itu banyak  membantu dalam pencapaian tertentu, minimal secara pribadi di atas 17 tahun (J).

Tidak menutup kemungkinan program Actor Studio akan merambah pelajar. Jika salah satu item program itu adalah “membuka jalan” keaktoran maka pelajar dengan idiom pink itu pasti lebih menarik. Wilayah permainan akan semakin hidup dengan gaya pubertas yang berbeda. Lebih jauh lagi, teater tidak lagi menjadi sesuatu yang ekslusif dan magis saja, tetapi nantinya benar-benar menjadi milik publik. Bukan sekadar bermain untuk ditonton oleh penggemar komunitas tertentu

Setuju atau tidak saya khawatir jangan sampai teater kita juga begitu, tertindas oleh sesuatu yang tidak diketahui sendiri: tertindas gelap. Ah, jangan sampai kita lupa bermain indah tetapi lebih mementingkan tepuk tangan yang riuh. Tak apalah jika begitu. Setidaknya, masih ada yang bisa ditertawai sebuah adegan tak lucu karena dimainkan kawan sendiri. Ah, biar saja begitu. Biarkan ia mencari jalannya sendiri. Toh, kentara juga siapa yang lampunya redup sebelum menyala.

*Abd. Razak Abadi, aktor teater dari Kendari, peserta Actor Studio 2007

(terbit di skAnA volume 05, November 2007-Maret 2008)