Oleh: Darmanto Setiawan*

Di sebuah lapangan pinggir kali yang lumayan besar di Sidomulyo. Di sebuah kampung di Jogja yang dimata sebagian orang dianggap kampungnya para preman (Lha…itu di mata sebagian orang yang ndak tahu—pen).

Sore, 23 Agustus 2007, di lapangan itu ramai anak-anak muda kampung berkumpul dan sibuk bersih-bersih mempersiapkan lapangan pinggir kali untuk sebuah acara pementasan teater. Lapangan pinggir kali itu biasanya juga digunakan oleh orang-orang tua ngumpul di sore hari sekedar untuk bercanda, nguda rasa. dan bahkan sebagai tempat untuk membuat kerajinan tangan. Tetapi, sore itu lapangan pinggir kali berganti aktivitasnya.

Sore itu anak-anak muda kampung sedang sibuk-sibuknya; dari mengurus perijinan penggunaan tanah lapangan dan juga ijin kepada orang-orang tua yang biasa menggunakan lapangan itu, sampai soal meminjam peralatan untuk keperluan pentas, seperti lampu, kursi, tikar, dan membuat obor dari bambu. Semua itu dilakukan untuk membuat lapangan pinggir kali menjadi tidak seperti kegunaannya sehari-hari.

Anak-anak muda itulah yang nantinya akan menggunakan lapangan itu untuk pentas. Yang kali ini membawakan naskah dengan judul “Joko Kali”, ditulis oleh M. Yusuf Abdillah (pemuda kelahiran Jawa Timur, lulusan Institut Seni Indonesia) yang sekaligus berperan sebagai sutradara. Dalam prosesnya, sang Sutradara kerap sekali dibuat pusing oleh aktor-aktornya (anak-anak muda kampung itu tadi) soal tawar-menawar waktu latihan dan juga jadwal yang sering berubah. Bahkan sering aktor-aktornya latihan dengan jumlah yang tidak lengkap. Tetapi, meskipun proses terkesan berantakan, pada akhirnya anak-anak muda kampung bisa menyelesaikan tanggung jawab yang dibebankan kepada masing-masing mereka dengan lancar.

Malam 24 Agustus 2007, lapangan pinggir kali menjadi sangat romantis. Karena obor dipasang sepanjang jalan masuk ke lapangan.  Di lapangan juga dipasang obor-obor membentuk lingkaran besar yang di dalamnya merupakan tempat pertunjukan. Lingkaran itu dibagi menjadi dua bagian. Setengah lingkaran ditata tikar-tikar untuk penonton, di setengah lingkaran yang lain diletakkan sebuah sofa usang warna cokelat dan sebuah becak yang menjadi setting panggung. Selain obor, lapangan juga diterangi lampu-lampu yang mengelilinginya.

Pukul 21.00 WIB, lapangan sudah dipenuhi oleh penonton yang berasal dari warga Sidomulyo sendiri maupun warga kampung di sekitarnya. Hadir juga aparat-aparat Desa, dari Pak RT sampai Pak Camat serta tiga puluh tamu undangan dari Melbourne, Australia yang sedang melakukan studi tentang perkotaan di Indonesia.

Joko Kali dipentaskan oleh dua puluh aktor lintas usia. Mulai dari yang berusia 9 tahun, 17 tahun hingga 25 tahun. “Joko Kali” mengangkat cerita kehidupan sehari-hari orang-orang yang bertempat tinggal di kampung pinggiran kota yang sedang berkembang. Berangkat dari permasalahan ekonomi, pendidikan dan sosial mereka.  Pertunjukan diawali dengan permainan suling dan rebana. Kemudian lima anak-anak perempuan kecil masuk sambil menari dan melantunkan tembang anak-anak Jawa. Lalu disusul lima anak laki-laki yang juga melakukan hal yang sama. Tiba-tiba, dolanan anak-anak nakal itu dibubarkan oleh Jamali (orang gila yang kerasukan dhemit kali). Si Dhemit marah-marah karena anak-anak bermain di bawah pohon besar yang ia tempati.  Kemudian Dhemit pun keluar dari tubuh Jamali setelah Mbok Sumi (warga asli dan sesepuh kampung) datang membawa sesaji dan ia membacakan mantra dengan bibir komat-kamit di depan Jamali.

Salah satu adegan "Joko Kali"

Konflik cerita terjadi ketika Pak Salim, seorang pengusaha material dari kota, yang terkenal dengan kelicikannya datang ingin membeli tanah lapang di kampung itu karena letaknya yang strategis, dekat dengan kota dan juga dekat dengan kali yang bisa menghasilkan rejeki. Tetapi tanah lapang itu adalah tanah lapang terakhir yang tersisa setelah di tanah sawah-sawah dan tanah lapang lainnya sudah berdiri tembok-tembok bangunan yang tinggi. Dulu, warga kampung hidup rukun dan berdampingan tetapi setelah bangunan-bangunan itu berdiri, warga kampung menjadi hidup sendiri-sendiri. Oleh karena itu, warga kampung ingin tetap mempertahankan tanah lapang itu. Pak Salim pun membuat taktik untuk bisa mendapatkan tanah itu. Pak Salim dengan kekayaannya membayar Trimo (makelar yang juga warga kampung asli) untuk menghasut warga supaya mau menjual tanah lapang itu.

Selain Mbok Sumi, sesepuh kampung yang juga disegani adalah Mbah Somo. Mbah Somo mencari cara untuk bisa melawan Pak Salim yang punya banyak uang itu. Mbah Somo mengumpulkan massa dan menyadarkan mereka untuk tidak menjual satu-satunya tanah lapang yang dimiliki warga kampung.

Seperti cerita kebanyakan, cerita ini pun berakhir bahagia. Warga kampung meraih kemenangan melawan Pak Salim dan melawan diri mereka sendiri untuk tidak menjual tanah lapang itu hanya karena uang. Pertunjukan berdurasi 60 menit itu dikemas dalam sebuah pertunjukan yang ringan dan menghibur. Meski dicap kampung preman, ternyata pada malam pertunjukan semua berjalan lancar, tertib dan aman.

* Darmanto Setiawan, pelaku teater, tinggal di Yogyakarta

(terbit di skAnA volume 05, November 2007-Maret 2008)

*****

Tim Kerja Pementasan:

Sutradara & Penulis Naskah M Yussuf Abdillah Aktor & Kru Bowo, Buncis, Rama, Antok, Ujang, Sahid, Sriles, Fajar, Ari, Tari, Supri, Joko, Ruli, Putri, Mita, Ike, Meri, Khusnul, Bayu, Londo, Wawan, Danu Pemusik Komunitas Suling Bambu, Ujang, Fajar, Supri, Bayu, Joko (Rebana)

Komentar penonton

“ Bagus, seger dan menghibur.” (Guntur Yudo, 25 Tahun, Aktor dan Ketua Teater Toedjoh)

“Mbah Somo-nya oke!” (Herman, 25 Tahun, Desainer Artwork)

Cah cilike kendel-kendel (anak-anak kecilnya berani-berani). ” (Mbak Sum, 43 Tahun, Warga kampung Sidomulyo)