Oleh: Hindra Setya Rini*

Teater Gardanalla kembali beraksi. Menggelar pertunjukan yang berjudul Jam Sembilan Kita Bertemu pada hari Jumat, 7 September 2007, di Lembaga Indonesia Perancis (LIP) Jogja. Naskah yang ditulis oleh Puthut EA, penulis yang tak asing lagi namanya di Jogja ini dimainkan oleh Dhatu Rembulan, Nawang Sekarjati, Angga Permana, dan Apriyanti. Pertunjukan digelar dalam dua kali sesi pementasan dalam semalam, pukul 19.00 dan 20.30 WIB.

Naskah bertema cinta segi tiga ini berkisah tentang hubungan antara Doni, Lisa dan Kenes. Doni, yang diperankan oleh Angga Permana adalah lelaki berusia 28 tahun dan sudah menikah. Sejak kuliah mendalami film, ia juga mempunyai sejarah asmara dengan banyak wanita. Setelah lulus kuliah Doni bekerja sebagai pembuat film. Lisa (Nawang Sekarjati), perempuan berusia sekitar 27 tahun adalah seorang gadis yang pembawaannya tenang dan tegas. Sejak mahasiswa sudah bergiat dalam pers kampus, lalu lulus menjadi wartawan. Lisa terlibat asmara gelap dengan Doni. Kenes (Dhatu Rembulan), yang juga seusia dengan Lisa, adalah perempuan yang agak genit, penggerutu tapi romantis. Ia gadis yang tertib saat kuliah. Lalu setelah lulus ia menjadi aktivis LSM.

Malam itu, pertunjukan berlangsung dengan cukup ramai. Mulai dari memasuki ruang pertunjukan berkapasitas kurang lebih seratus orang itu penonton sudah disambut oleh musik ajep-ajep yang cukup bikin kepala manggut-manggut. Selain itu, mata juga segera dimanjakan oleh setting panggung yang ceria dengan warna-warni cerah menyala; merah, kuning, biru, putih, dan lain-lain yang menjadi latar dinding penyekat tempat para aktor keluar-masuk. Bola kerlap-kerlip terus berputar dari atas panggung membuat ruang seperti di diskotek, seiring dengan musik yang terus menghentak. Ruang dibangun menjadi tiga bagian, yaitu ruang tempat tidur lengkap dengan seperangkat ranjang mewah serta pernak-perniknya di sisi kiri panggung bagian belakang, ruang tamu yang terdiri dari sebuah sofa indah yang letaknya agak menjorok ke bagian depan panggung, dan ruang kantor yang berisi sebuah meja dan kursi yang posisinya lebih tinggi dari yang lain terletak di sisi kanan panggung bagian belakang. Untuk beberapa saat, sembari mencari dan menempati posisi duduk yang nyaman penonton dibiarkan sejenak menikmati ruangan yang menyolok mata ini sebelum pertunjukan dimulai.

Apriyanti sebagai narator

Pada bagian tengah ruang bagian belakang tepat di depan pintu keluar-masuk, seorang aktor telah duduk layaknya presenter di sebuah acara televisi. Pertunjukan pun dimulai. Aktor tersebut berperan sebagai narator dalam pertunjukan ini. Ia memperkenalkan tokoh-tokoh yang berperan dalam cerita. Karakter narator yang seksi dan “panas” dimainkan secara apik oleh Apriyanti, beberapa kali ia membuat penonton cukup heboh karena kegenitannya meniru gerak dan bahasa laiknya presenter infotainment di televise.

Teater Gardanalla berhasil menyuguhkan pertunjukan ini berdurasi kurang-lebih satu jam ini dalam dua kali permainan semalam. Cerita cinta yang biasa terjadi dan perihal perselingkuhan yang sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari dimainkan dalam pola akting realis; pola ucap, kostum dan properti, semua dihadirkan ke panggung agar kesan keseharian muncul di sana. Adegan-adegan diupayakan mendekati kenyataan seperti yang ada dalam cerita. Misalnya, cerita yang melibatkan dua aktor yang tegah bercakap dengan telepon seluler di dua tempat yang berbeda ditampilkan dalam panggung yang sama. Meskipun keduanya bersisian tapi seolah-olah berada di ruang yang berbeda. Penonton diajak membayangkan bahwa ruang peristiwa terbelah. Tentu saja ruang peristiwa terbelah itu tidak biasa dalam kehidupan sehari-hari.

Cerita yang biasa ini juga menjadi tidak biasa ketika penonton diajak mendengarkan penggalan dialog para actor yang direkam saat penonton berperan. Penggalan percakapan yang direkam itu membawa penonton memasuki pikiran tokoh yang dimainkan aktor. Seperti berkata dalam hati tapi penonton mengetahuinya. Di beberapa bagian tertentu para aktor tetap menyampaikan dialognya secara verbal di panggung. Namun sayang, beberapa aktor terkesan tergesa-gesa dalam mengucap dialognya yang secara langsung itu.

Penggalan cerita yang direkam, dan di satu sisi ada cerita yang berlangsung di panggung itulah yang dimaksud dengan konsep cerita ‘ada cerita di benak’ dan ‘ada cerita di panggung’ dalam pertunjukan ini, jika membaca kata pengantar dalam booklet pertunjukan.

Ini seperti ibu yang mendongeng. Pertama, ada sesuatu yang didongengkan. Kedua, ada peristiwa di mana ibu mendongeng. Yang pertama kurang lebih adalah yang dimaksud dengan ‘cerita di benak’ dan yang kedua yang dimaksud dengan ‘cerita di panggung’. Yang membedakan hal tersebut dengan pentas pembacaan cerpen misalnya, adalah karena adegan-adegan di dalam panggung beserta seluruh kompleksitas seni pertunjukannya, demikian menurut Joned Suryatmoko, sutradara pementasan Jam Sembilan Kita Bertemu.

* Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor Teater Garasi

(terbit di skAnA volume 05, November 2007-Maret 2008)

***


Kerabat Kerja Pertunjukan:

Produser HJ Sriyanto & Joned Suryatmoko Pimpinan Produksi Aniek Rusmawati Staf Produksi Iwan Imam Stage Manager Novindra Diratara Penata Rias Heru Salon & Production Foto Publikasi Indra Pak Jepret Foto Teater Gardanalla DUTA Foto Penata Pangung Syarifudin Penata Lampu Johan Didik Penata Suara Ari Wulu Penulis naskah Puthut EA Sutradara Joned Suryatmoko

Komentar Penonton:

“Format baru dalam pertunjukan teater, kreatif dan inovatif buat sutradara dan musik. Cirinya Joned kan ada unsur sensualitasnya. Settingnya modern. Aktornya relatif bagus. Cuma, ehm, apa ya? Ya udah, itu aja deh.” (Nelfi, 27 Tahun, Pekerja Bank Mandiri)

“Menurutku oke sih. Cukup menghibur, lumayanlah. Ceritanya biasa, metropolis. Kostumnya bagus. Aktor yang oke si Narator itu. Adegan ranjangnya lumayan bikin bergidik, iiih. Oh ya, dialognya agak kelibet-libet. Masih grogi kali, ya?” (Dian, 22 tahun, Mahasiswi Interior ISI)

“Ceritanya biasa, ending ketebak. Adegan di sofa itu garing. Naratornya cukup ngangkat, cukup berkesan. Selain narator itu, aktor yang lain kesannya buru-buru. Banyak dialognya yang kesrimpet-srimpet. Ehm, kemasan pertunjukan lumayanlah.” (Sandi, 24 Tahun, Komikus)