Oleh Muhammad A.B.*

Tanggal 31 Agustus sampai 5 September yang lalu berlangsung The 3rd Jogja Arts Festival di Gedung Societet Militaire Taman Budaya Yogyakarta. Acara ini menampilkan beberapa kelompok dan koreografer tari dari beberapa negara Asia dan satu kelompok yang datang dari Yunani, Eropa. Seperti dua kali penyelenggaraan JAF sebelumnya, para penampil kebanyakan berasal dari Jepang dan Korea Selatan. Salah satu kelompok yang tari dari Jepang yang ikut tampil di JAF adalah Dinyos Dance Company yang datang bersama pendiri sekaligus Direktur Artistiknya; Takashi Watanabe.

Dinyos didirikan oleh Takashi Watanabe tahun 1990 di Kyoto, Jepang, sampai sekarang mereka sudah sering tampil di beberapa negara Eropa, berkeliling Asia, serta beberapa kali tampil di beberapa panggung pertunjukan di New York, Amerika Serikat. Takashi Watanabe belajar Ballet dan Modern Dance di The Boston Conservatory of Music. Ia sudah terlibat dengan banyak penari, koreografer, dan sutradara teater di Jepang sejak tahun 1970-an.

New York Times (14 November 1994) dalam liputannya mengani penampilan Dinyos di Riverside Church, menggunakan kata “miraculously” (penuh keajaiban) untuk lima repertoar yang dianggap mampu membuat panggung pertunjukan sempit yang mereka gunakan, menjadi terasa begitu luas dan sensual. Takashi Watanabe disebut berhasil mencampur berbagai unsur dalam tari menjadi sebuah pertunjukan gerak yang menarik.

skAnA berkesempatan menonton pertunjukan Dinyos malam tanggal 4 September 2007. Malam itu Dinyos akan membawakan dua repertoar dengan judul “Water Planet-A Story of Water” dan “Pray For Peace”. Dalam dua repertoar yang panjang itu, Dinyos menampilkan 12 orang penari perempuan dengan kekompakan dan kerjasama tim yang luar biasa, membentuk berbagai komposisi dengan presisi yang hampir sempurna dalam masing-masing pertunjukan yang berdurasi 60 menit.

Ke-12 penari ini tampil dibalut gaun putih yang anggun pada repertoar pertama, di repertoar kedua mereka mengenakan gaun panjang biru yang lalu ditanggalkan. Dalam tariannya para penari Dinyos selalu tampil sebagai wanita anggun, terutama lewat kostum-kostum yang mereka pakai.

Menurut Takashi Watanabe sendiri, pertunjukan Dinyos selalu membawa sensualitas dan rasa, untuk memberikan inspirasi dan drama kepada para penonton. Dan malam itu skAnA yang duduk di salah satu kursi paling belakang di Gedung Societeit, agak tergagap-gagap kaget juga ketika di akhir pertunjukan semua penonton malam itu berdiri dan memberi tepuk tangan selama kurang lebih lima menit. Sebuah penghormatan yang diberikan penonton Jogja pada Dinyos dan Takashi Watanabe.

*Muhammad AB, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 05, November 2007-Maret 2008)

*****


Dinyos Dance Company

Direktur Artistik: Takashi Watanabe Penari : Myu Enami, Ai Fukami, Bella Kai, Mana Fuji, Ren Arimizu, Reina, K. Maki, Keika Ishii, Sachie, Miki Kakiuchi, Rena Komatsu, dan Miki Hyuga.

Komentar Penonton

“benar-benar suatu hiburan menarik..” (Inong, swasta, 25 tahun)

“kompak banget, mereka kok bisa bergerak bersama seperti itu ya..?kelihatannya kok ga ada yang ketinggalan atau gerakannya salah.. wah hebat..” (Dini, penari, 23 tahun)