July 2007


Oleh: Andy Sri Wahyudi*

Sedikit tentang Tokoh kita

Pedro Soejono. Nama itu tak asing lagi dalam sejarah Teater Yogyakarta, bahkan Indonesia. Para pekerja dan penggemar seni teater di Yogya era 60-80an pasti – akrab –mengenalnya. Ia  salah satu motor penggerak Teater Muslim. Kiprahnya dalam jagad teater khususnya di Yogyakarta tak diragukan lagi. Tokoh teater yang lahir di Bondowoso 31 Desember 1932 ini sebelum aktif di teater Muslim sempat bergabung dengan kelompok Aplaco (1957-1959) di Yogyakarta. Kemudian menjadi penggerak awal teater Muslim pada tahun 1961 bersama Mohammad Diponegoro. Menariknya lagi, selain bergerak di dunia seni Teater ternyata Pedro Soejono seorang Pengusaha Tempe yang dikenal dengan nama produk Tempe Pedro.

“Pedro Soejono adalah dramawan moncer tatkala realisme masih dominan di Indonesia,” kata Bakdi Soemanto dalam pengantarnya yang berjudul Sang Tempe. Sayang, Pedro Soejono  telah meninggalkan kita semua, tapi ia telah menorehkan jejak yang tak mungkin terhapus oleh gerak jaman. Semangatnya akan terus hidup dan menyala.

Mencerahkan Realisme Konvensional di Yogya.

Di tengah gegap-gempitanya pertunjukan teater non konvensional  dengan berbagai macam konsep dan aliran, rupanya teater realis masih tetap ada dan tidak ditinggalkan. Teater Muslim membuktikannya dengan mementaskan Naskah Pedro Dalam Pasungan yang aslinya berjudul Rencana Setan karya Pedro Soejono di Gedung Societeit Militer Yogyakarta,  pada tanggal 14 – 15 April 2007.

Pedro dalam Pasungan adaptasi dari Rencana Setan

Sebuah cerita tentang hidup yang disikapi dengan pikiran pragmatis, picik dan penuh strategi jahat. Perkawinan tanpa harta adalah tragedi kesedihan. Pandangan itulah yang membuat Ningsih (Sita) rela kawin dengan Pedro (Brisman HS), duda tua pemilik pabrik teh dan tuan tanah. Hal itu telah direncanakan dengan Karno (Ucok), pacarnya yang juga keponakan Pedro. Mereka mengira umur Pedro tak bakal lama, namun kehadiran anak (Dea) dalam rumah tangganya  menumbuhkan daya hidup Pedro. Lalu Ningsih membuat rencana hendak meracun Pedro tetapi digagalkan Mbok Ijah (Santi) dengan tidak sengaja. Rencana kedua kembali disusun, Ningsih meneror Pedro dengan meragukan Dea sebagai anaknya, hingga Pedro frustasi, meracau dan berprilaku tanpa kontrol. Lantas ia menuduh Pedro telah menjadi gila. Ia mengundang dokter Ahmad (Masroom Bara) yang masih sahabat Pedro untuk memperkuat tuduhannya. Pedro berakhir dalam pasungan yang dibawa dokter Ahmad.

Panggung penuh dengan setting dan properti. Penataan setting tak sekadar memenuhi panggung tapi penuh perhitungan dan penyiasatan. Terlihat pada paduan warna benda, tata letak properti dan penciptaan ruang. Setting menggambarkan sebuah ruangan rumah keluarga kaya, semuanya terlihat jelas dan detail dari berbagai sudut pandang. Sorotan lampu mematangkan warna benda dan memunculkan karakter suasana. Panggung yang berbentuk prosenium terbagi menjadi beberapa ruang; kamar tamu, ruang santai (seperti bar) dan bagian tengah adalah tangga berselimut karpet berwarna hijau yang menandakan rumahnya bertingkat.

Para tokoh yang sebagian diperankan aktor senior (Brisman H.S., Masroom Bara, dan Santi) ternyata tidak menyurutkan stamina permainan. Brisman H.S bermain dengan prima dari awal hingga akhir pertunjukan. Dua aktor lain, Masroom Bara dan Santi memainkan karakternya dengan kuat. Sementara itu, aktor muda tak ketinggalan mewarnai pertunjukan dengan aktingnya yang dinamis.

Perkembangan drama realis di Yogyakarta menginjak tahun 2000-an memang tak dapat lepas dari peran Teater Gardanalla yang menggeluti realisme hingga melahirkan konsep baru. Beberapa bulan lalu pementasan drama realis juga diselenggarakan oleh Institut Seni Indonesia (ISI) lewat Parade Teater Realita, juga Teater Garasi lewat program Aktor Studio. Akan tetapi, drama realis produksi Teater Muslim, hadir tiba-tiba di tengah jagad Teater Jogja yang dilanda krisis bentuk realis konvensional. Teater Muslim turut meramaikan sekaligus mencerahkan drama realis konvensional di Yogyakarta.

Semangat Muda

Kelompok Teater Muslim sebenarnya sudah lama berkiprah dalam jagad teater sejak tahun 1961, khususnya di Yogyakarta. Arifin C Noer, salah satu sutradara film dan teater terkemuka di Indonesia juga pernah bergiat dalam Teater Muslim bersama Mohammad Diponegoro. Teater Muslim telah mementaskan banyak naskah lakon, diantaranya: Iblis (1961), Surat pada Gurbernur (1963), Prabu Salya (1964), Si Bakhil (1982), Sekeras Karang (1984), dan Abu Dar (1985).

Sepeninggal Mohammad Diponegoro Teater Muslim dipimpin oleh Pedro Soejono.  Kelompok ini sering mengisi acara di TVRI Yogya pada tahun 80-an. Kini teater Muslim seperti sedang menggeliat bangun dari tidur panjangnya. Merajut cita-cita dengan semangat muda.

* Andy Sri Wahyudi, reporter skAnA, aktor dan sutradara Bengkel Mime Theatre

(terbit di skAnA volume 04, Juli-November 2007)

***

Tim Kerja Pertunjukan:

Manager Produksi: Brohisman. Sutradara: Liek Suyanto. Desain Artistik: Drs. Agus Layloor, Yono Milo. Musik: Nono Diono, Edy.S dkk. Make Up: Trisulo Pemain: Briman H.S., Mbok Mas Santi, Titik Rengganis, Dian Agnesita Dewi. A, Ucok ISI, Masroom Bara, Kadir ISI, dan Dea.

Komentar penonton:

“Bagus, penyutradaraannya keren. Pemeran utamanya juga bagus.” (Dara, SMA Muh II, 17 Tahun)

“Bagus, cuman untuk remaja belum paham. Ga begitu suka dengan tokohnya, temanya bukan tema remaja.” (Danis, kelas 3 SMA Muh II, 16 Tahun)

“Bagus, nostalgia sama karya Pedro, masih layak untuk dipentaskan, sarat akan pesan. Penggarapan disesuaikan zaman juga tokohnya.” (Ibu Ikarini, Pekerja TVRI, 44 Tahun)

“Kesan sebuah Prinsip atau Ideologi memang tak boleh mati, harus diperjuangkan untuk hidup.” (Satmoko Budi Santoso, Penulis, 31 Tahun)

Oleh: Andy Sri Wahyudi*

Di tengah belantara rimba tempat kesunyian dan keterasingan bernaung. Seorang Pertapa bersila di depan sebuah gua, ia  berada jauh dari gegap-gempita keramaian dunia. Namun ia dapat mendengar suara rintih dan jerit kesedihan dari jauh. Suara itu berseliweran dalam telinganya dan menyusup dalam relung-relung perasaannya. Suara-suara itu adalah tragedi bencana alam dan kehidupan manusia.

Tubuh dekil telanjang dada dengan rambut kumal itu menggeliat perlahan-lahan, diikuti suara-suara dan sorot cahaya yang redup terang.  Sementara itu, seorang Pelukis yang tengah mencari inspirasi telah berada di tempat yang sama. “Siapa kamu” berkali-kali sang Pelukis bertanya pada Pertapa, namun tak kunjung mendapat jawaban. “Apa yang membuatmu terbangun?” lagi, Pelukis itu bertanya. Dari sinilah percakapan perihal kehidupan dan kemanusian dimulai. Ketidakadilan, keserakahan, kesewenangan antar manusia dan manusia dengan alamnya, menjadi carut-marut perdebatan yang mencari titiknya. Hakekat manusia, alam dan sang Pencipta.

“Apa yang harus dilakukan di tengah bencana alam dan kemanusiaan yang menyedihkan?” Pertanyaan itu yang membuat sang Pertapa bingung.

Sesosok perempuan muncul tiba-tiba dan semakin menggelisahkan Sang Pertapa. Kehadirannya tak diketahui oleh Pelukis sebab Perempuan itu merupakan bagian diri Sang Pertapa. Ia selalu memberikan petunjuk kepadanya.

Rupanya Pelukis memberikan jalan pada Sang Pertapa, bahwa dirinya harus meninggalkan pertapaannya dan pergi menolong manusia. Sedangkan sosok Perempuan beranggapan lain; Manusia harus berusaha menyadarkan dan menolong dirinya sendiri dari bencana. Ternyata Sang Pertapa tak memilih keduanya. Ia memilih jalan kematian bagi dirinya setelah tubuhnya dilumuri cat oleh Pelukis menjadi Lukisan Tubuh. Lukisan tentang kehidupan yang terus dirundung gelisah.

Lukisan Tubuh merupakan drama yang dibawakan oleh kelompok Teater Terjal pada tanggal 27 Mei 2007 di Gedung Societet Militer, Taman Budaya Yogyakarta. Cerita berlatar hutan rimba, setting ditata memenuhi panggung dengan teknis seni rupa yang kuat. Hutan itu hanya diam menjadi tempat yang bisu di antara lalu-lalang  akting dan dialog. Sementara, dialog antar tokoh yang bermuatan nilai filsafat itu terasa berat dan tegang. Agak susah untuk dipahami, membuat jidat mengkerut dan akhirnya lepas dalam kelelahan.

Kedua aktor yang berperan menjadi Pelukis dan Pertapa berusaha membangun suasana lewat kekuatan akting dan dialog, meski kadang irama permainannya terasa datar dan intonasinya terdengar monoton penuh penekanan. Akan tetapi, kemunculan tokoh Perempuan membuat warna baru dalam permainan dengan irama dialog yang berkarakter.

Kelompok Teater Terjal ini berisikan orang-orang gelisah yang guyub dalam satu rumah. TERJAL  menyatakan berhak dan berkewajiban untuk hidup, berkembang, dan mengalir dalam dunia teater dengan segala tawaran “kemiskinan materi” dan “kekayaan kreasi”. Juga berkeyakinan untuk mampu hidup, berkreasi, berekspresi, dan berinovasi dengan segala himpitan dan rintangan dalam rimba teater Indonesia.

Demikianlah Teater Terjal dalam Lukisan Tubuh-nya.

* Andy Sri Wahyudi, reporter skAnA, aktor dan sutradara Bengkel Mime Theatre

(terbit di skAnA volume 04, Juli-November 2007)

***

Pimpinan Umum: Abizar Purnama, Pimpinan Produksi: Indra Dwi Fitrianto, Sutradara dan Penulis Naskah: Wiwid W. Setiawan, Penata Artistik: Tsaibun Nuhud, Penata Panggung dan Properti: Rahmad Kurniawan, Penata Cahaya: Ahmad Fauzan. Penata Musik: Fahrie Shiam, Penata Rias dan Kostum: A.A.A.I. Kusumah Dewi, Listiarini, Ika Kumala Sari, Utami. Manajer Panggung: Andika Satria Perdana. Aktor: Ibnu Karim Aziz (Petapa) Wahyu Budi Utomo (Pelukis) Yorsi Nuzulia (Wanita)

Komentar Penonton:

Duh, ceritanya berat jadinya bosenin deh, nangkepnya susah. Eh, tapi artistiknya aku suka. Lebih bagus dibanding aktornya.” (Onald, 24 tahun, Mahasiswa Sadhar, Jurusan Akuntansi.)

“Suka aja untuk konsumsi pribadi.” (Fatwa, 25 tahun, Mahasiswa UMY, Jurusan HI)

“Bagus, Ekspresif, Bahasanya kena.” (Adlian, FIB UGM, 20 tahun)

“Bagus, Suka yang cewek karena suaranya bagus. Sayang, tokoh utamanya, suaranya datar dan intonasinya gak jelas. Musik efeknya gak pas atau emang disengaja?” (Rini, FIB UGM, 22 tahun)

“Bagus, Waktu Break lampu ke penonton panggung jadinya gelap.” (Wahyu, SMA Ngawi, 20 tahun)

“Bagus, Filosofis, ada yang saya sepakati dan ada yang tidak. Ada tiga hal: sejarah diri, Pencarian hidup, Keputusan yang harus dipilih.” (Ina, FIB UGM, 22 tahun)

“Teaternya menggugah untuk berpikir hidup, mencari sesuatu, titik utama pada pencerahan.” (Asih, Sastra Inggris, 23 tahun)

“Settingnya bagus, terus maksud jelasnya kita kurang paham. Bahasanya cukup, maksud ceritanya gak dong, habis kita kan bukan anak sastra. He..he..hii..hi.. tapi cukup keren. Eh, tambahan lagi Pemainnya sedikit. Jadi bikin boring, keluar masuk pemain gak ada, tak pikir kayak di tv-tv gitu.” (Erna, Latif, Jurusan Farmasi. Winda dan Nasya. jurusan Psikologi. Universitas Ahmad Dahlan atau UAD)

Oleh: Andy Sri Wahyudi*

Aduh, benarkah sebegitu bencinya orang-orang ini kepada orang Tionghoa? Saya memang keturunan Tionghoa, tapi apa salah saya dengan lahir sebagai orang Tionghoa? Saya orang Indonesia.

Begitulah kata Clara, seorang perempuan warga negara Indonesia keturunan Tionghoa, korban kekerasan tragedi Mei ’98 di Jakarta. Sebuah peristiwa yang menjadi catatan penting dalam sejarah bangsa Indonesia. Bangsa yang mengedepankan nilai kebhinekaan dan kemanusian dalam kehidupan sosial masyarakatnya.

Berkaca pada sejarah kadang seperti melihat wajah yang penuh luka. Begitu juga dengan Indonesia, banyak tragedi berdarah dalam perjalanan hidupnya. Menjadi rentetan peristiwa yang menghantui ingatan. Tapi cukupkah semua itu sekadar menjadi kenangan? Ah, terlalu banyak pelajaran yang harus kita petik untuk dipelajari dan telusuri, agar tak lagi terpelosok dalam tindakan barbar tak berprikemanusiaan.

Pementasan drama Clara diselenggarakan oleh mahasiswa kampus Ministry Universitas Atmajaya (UAJY), pada tanggal 2 Mei 2007 di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta. Karya Seno Gumira Ajidarma tersebut dikemas dalam koreografi gerak, teater, ansambel musik dan video yang berpadu dalam peristiwa pementasan. Ansambel musik berada di pojok panggung dan ruang permainan berada di tengah dengan latar bergambar kota metropolis. Dua aktor lelaki dan perempuan mendominasi permainan, sedang gerak dan gambar video sebagai penguat dan pewarna suasana cerita.

Clara adalah perempuan pengusaha yang sedang memperjuangkan pegawainya dari PHK. Gadis periang, ulet, cerdas, dan sigap itu telah dibunuh karakter kemanusiaannya secara keji dan bebal. Ia seperti onggokan sampah setelah orang-orang berwajah garang mencegat dan memperkosanya dijalan. Meski demikian, ia beranikan diri datang melapor ke kantor “petugas”, tapi naas, laporannya hanya diremehkan dan dibantah. Sebab, “petugas” itu adalah bagian dari sistem kekerasan yang  mewarnai kota Jakarta.

Suasana pertunjukan di atas panggung menjadi sebuah irama kolaborasi yang tertata. Penggarapan musik dan lagu mengalun rapi di sela permainan aktor, gambar video semakin memperdalam esensi cerita. Clara yang diperankan Monique Kartika W, berusaha memaksimalkan aktingnya dalam posisi duduk dan Hendra yang memerankan Lelaki Berseragam tampak energik dengan aktingnya yang bergaya lawas penuh penekanan. Sedangkan koreografi gerak menjelang akhir masih terlihat kurang tergarap pada gerak rampak dan (bentuk) tubuh pemain.

Tragedi Clara yang disutradarai oleh FX Tri Mulyono, telah membuka wacana bagi generasi muda tentang  nukilan sejarah kelam di Indonesia. Sebuah tragedi kemanusiaan saat mulai santernya kata reformasi disuarakan, menuntut perubahan dan tumbangnya rezim Suharto. Ironis  memang, jika etnis Tionghoa selalu menjadi kambing hitam penyebab kesenjangan ekonomi dalam sistem kekuasaan pemerintah yang korup dan bobrok. Tapi mengapa Clara yang menjadi korban? Ia diperolok dan diperkosa beramai-ramai. Tindak kekejaman semacam itu bukan semata-mata karena rasisme atau kesenjangan ekonomi, tapi ada sudut pandang lain yang menjurus pada kekuasaan dan gender. Hal tersebut masih menjadi perbincangan banyak kalangan. Dalam peristiwa ini aparat dan hukum seperti orang linglung di tengah kota besar nan modern. Akan lebih ironis lagi, jika tragedi kemanusiaan hanya dipahami kelas masyarakat tertentu saja, sementara yang lain dibiarkan tak mengerti dan mudah terprovokasi keadaan. Nah, ini menjadi tugas generasi muda tentunya!

* Andy Sri Wahyudi, reporter skAnA, aktor dan sutradara Bengkel Mime Theatre

(terbit di skAnA volume 04, Juli-November 2007)

***

Tim kerja pertunjukan:

Pimpro: Reynold Lumi, Sutradara: F.X. Tri Mulyono, Aktor: Monique Kartika W., Hendra dan Otho Sebastian, Kostum: Wahyu April Wulandari, Make-Up: Nilam Nu Raya, Dekorasi: Yohanes Fisher, Lighting: Dian Widi N., Koreografer: Sudiarto, Music Ensambel: Yudi Red’s Studio, Paduan Suara: Cristine M dan PSM UAJY.

Komentar Penonton:

“Secara umum bagus, musik, koreografi, koor, videonya  bagus. Isi cerita persis sama dengan yang ditulis Seno. Tapi mungkin satu hal perlu dekat lagi (dari isi cerita) karena ini sudah sembilan tahun mungkin perlu ditambah lalu dari situ kita bisa apa? “ (Cris, Mahasiswa Sanata Drama, Jurusan Teology semester delapan)

“Bagus  (tapi isinya gak seneng, sela seorang ibu disampingnya) penghayatannya dalam bermain, terutama Clara ya, karena memang pusatnya di Clara sehingga mempengaruhi penonton. Jadi penonton bisa menghayati dan sungguh-sungguh melihat penderitaan perempuan. Dan dengan cerita ini sebenarnya perempuan itu bukan diperlakukan seperti itu . Justru kalau kita mengenal perempuan itu adalah hidup. Gak ada perempuan di bumi ini gak ada kehidupan. Makanya bumi ini namanya bumi pertiwi khan? Karena memberi hidup!” (Suster Ines, 37 tahun dari Ordo Putri Kasih)

“Sebenarnya aku agak kecewa, soalnya ceritanya kurang panjang, kalau untuk setting bagus, penjiwaan ok. Cuman dari teater-teater yang aku tonton sebelumnya, cerita klimaksnya kelihatan, konfliknya bagus. Kalau yang ini standar aja sih, nggak kelihatan. Tapi penjiwaannya bagus. “ (Hai, SMA Bobkri dua, kelas tiga, 17 Tahun)

“Apik, bagus cukup memuaskan. Cuma mungkin, karena aku terlalu banyak hidup di dalam cerita yang mainstream jadi ya rasane bosen wae, dengan penciptaan model seperti itu. Mentok banget, jadi mungkin bisa eksplorasi lagi. “ (Bayu Prihantoro -Lemot- Mahasiswa UAJY, Jurusan Komunikasi, 22 Tahun)

“Aktingnya kurang begitu mengena karena apa ya…? Kemarin saya sempet dialog dengan aktornya, ternyata ada pembatasan mengenai tawaran-tawaran akting. Ternyata mereka tidak ada ruang untuk mengaktualisasikan kemampuan akting mereka. Jadi sangat dibatasi sekali nah itu makanya ada beberapa akting yang semestinya sukses tapi kadang pesan moral yang ingin disampaikan jadi samar, karena penghayatan teks itu penting. Nah, ketika teks itu tak dipahami secara betul maka tubuh pun tidak bisa mengungkapkan secara betul.” (Ilyas Weda alias Kirun, jebolan ISI, Pelatih teater STIE YKPN, 28 tahun)

“Bagus. Kepala saya sampai pusing menikmatinya. Bagus, kenapa gak dibuat 2-3 kali kan orang lain perlu tahu, ini kayaknya terbatas ya?” (Ibu Yopie, Ibu Rumah tangga dan tukang ojek anaknya, 39 tahun)

E….bagus sih sebenarnya, untuk saya sendiri kurang lebih greget lagi, sebenarnya agak nanggung juga sih, jadi orang kepengin nangis tapi belum sempat ke titik klimaks dah drop lagi, tapi keseluruhan panggungnya dah bagus kok.” (katanya nama gak perlu, Mahasiswi UAJY jurusan Fisip semester 2)

“Dah bagus cuman, kayaknya tadi kurang ada greget.” (Agung, Mahasiswa UAJY Jurusan Arsitektur Semester delapan)

Oleh: Hindra Setya Rini*

Sebuah pertunjukan teater yang mengutamakan silent act. Mengungkap peristiwa kecil yang sering terlewatkan dari perhatian kita. Sebuah fenomena unik tentang orang-orang yang menahan hasrat buang air kecil karena harus antri. Desakan fisik yang ternyata bisa memunculkan banyak absurditas.

Children First (sebuah introduksi). Lakon pembuka tiga repertoar pendek yang digelar oleh aktor-aktor Saturday Acting Club (SAC) dalam memainkan naskah karya Samuel Beckett dengan Rossa R Rosadi, S. Sn, sebagai sutradara. Dipertunjukkan tanggal 18 April 2007 di Kedai Kebun Forum Yogyakarta.

Pertunjukan dimulai, seorang aktor hadir di tengah panggung. Ia duduk pada sebuah bangku panjang. Satu-satunya benda yang ada di tengah ruang pertunjukan. Tak lama kemudian ia mulai menggerak-gerakkan tubuhnya tanpa henti; menggeliat, gemetar, tangannya kadang mengepal dan sesekali ia merapatkan kedua kakinya rapat-rapat. Seperti menahan sesuatu. Lalu, tetap dengan tubuhnya yang bergerak itu ia membacakan judul lakon yang akan dimainkan pada malam itu beserta nama-nama pemain, sutradara, dan para pendukung pertunjukan. Setelah itu, adegan bergulir. Masuk beberapa aktor lain yang juga tak lebih sama dengan pemain pertama. Dengan caranya masing-masing menggerak-gerakkan anggota tubuhnya. Tak ada percakapan. Hanya tubuh para aktor yang saling merespons gerak. Mencoba mewujudkan aktivitas orang-orang yang layaknya sedang antri di WC Umum menunggu giliran untuk bisa segera pipis. Di akhir adegan, mereka mengeluarkan satu teriakan yang tak tertahankan karena hasrat buang air kecil sudah sampai pada puncaknya. Tak tahan lagi karena menunggu anak-anak yang harus didahulukan kemudian tanpa keharusan mengantri. Seperti yang diucapkan oleh salah satu pemain, Children First.

Children First (foto dok. SAC)

Dua lakon berikutnya setelah Children First, yaitu Come and Go dan Catasthrophe. Setiap pergantian repertoar selalu diberi jeda yang diisi dengan mendengarkan iringan musik yang mengajak penonton untuk istirahat sejenak, lalu layaknya penyiar di salah satu stasiun radio yang sedang “on air”, narator membacakan sekelumit pengantar yang menggiring penonton untuk memasuki lakon berikutnya. Suara perempuan itu mengumandang sebagai berikut (memasuki repertoar Come and Go):

Kita selalu datang dan kita selalu pergi, kita melewati peron-peron dari banyak stasiun dan kita tidak tahu apakah kita akan kembali atau kita tak pernah tahu apakah akan kembali atau takkan pernah tahu apakah akan kembali dan mengenali yang pernah kita tinggalkan. Perjalanan akan selalu membengkokkan pelintasannya untuk menemukan jalan lagi. Lintasan hati, lintasan pikiran, lintasan hidup, dan kemudian kesepian menunggu lagi di stasiun berikutnya. Ke dalam sisi manusia selalu terkorbankan oleh kebutuhan luar manusia. Kebutuhan yang dibungkus oleh warna-warna, ideologi, idialisme, dan segala tetek bengek yang bergantungan dan menjadi lambang kehormatan semu. Akankah kita akan kehilangan peron pertama yang kita lewati dengan penuh cinta?

Berbeda dengan dua lakon lainnya, Come and Go dimainkan dalam dua versi. Versi pertama dimainkan oleh tiga pemain wanita, yang kedua oleh tiga pemain laki-laki. Setting tak ada yang berubah. Hanya ada sedikit tambahan, tepat di belakang bangku  berdiri lima ikat kumpulan bambu yang menyerupai batang pepohon. Adegan  berlangsung di atas bangku, tiga aktor duduk saling mengaitkan tangan antara satu sama lain seperti tiga sahabat yang tak terpisahkan.Tak banyak percakapan; dialog terjalin sepenggal-sepenggal, diiringi musik yang sendu menambah suasana terasa ngelangut. Dalam adegan ini para aktor membicarakan satu sama lain dengan berbisik secara bergantian. Terakhir, ketiga aktor tersebut menutup adegan dengan kembali saling mengaitkan dan menggenggam tangan teman masing-masing.

Repertoar selanjutnya, Catasthrophe.  Setelah mendengarkan sebuah musik sebagai pengisi jeda, pengantar repertoar pun dibacakan kembali.

Kekuasaan selalu memainkan cakarannya di mana pun ia berada. Keringat, keluh, ketakutan, penghormatan, bunga-bunga, bahkan darah dan kematian menjadi bagian dari jejak-jejak kekuasaan. Siapa yang memainkan dengan cakaran yang terlalu dalam akan meninggalkan goresan tajam beraroma tragedi.

Panggung kosong. Bangku sudah tak ada lagi. Seseorang masuk sambil melakukan gerak olahraga atau senam pagi. Lalu satu, dua, tiga orang, masuk lalu lalang melintas membawa benda-benda; kursi, kabel, tape,  level. Dan seseorang yang lain seolah-olah sibuk mengatur para kru dalam mempersiapkan sebuah even. Musik Rock ‘n Roll menggema riang ke seluruh ruangan. Selanjutnya para kru sibuk mendandani orang yang tadi senam pagi, menjadikannya sebagai model.

Ia diberi cahaya yang pas, jas, topi, lalu kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku kanan-kiri dan ia terlihat lebih trendi. Siap dipajang. Lalu seorang lelaki yang terlihat dan bergaya lebih seperti perempuan ketimbang laki-laki, masuk menilai model yang dipajang. Melalui perdebatan dengan asistennya  yang cerewet, si Tuan tersebut tetap tak menerima dan merasa kurang puas atas pilihan-pilihan yang dikenakan pada si  Model. Ia harus diubah di sana-sini. Akhirnya para kru kembali mendandani si Model menjadi seseorang yang terlihat amat tersiksa. Seluruh tubuh diputihkan dengan bedak bubuk agar menampilkan kesan pucat, celana digulung dan singlet yang dipakaikan menunjukkan tubuhnya yang ringkih, dengan kedua tangan terikat di depan dada serta cahaya yang fokus pada kepalanya yang setengah botak semakin memperlihatkan bahwa ia renta dan tak berdaya. Tetapi menurut si Tuan, itu adalah karya yang luar biasa dan menakjubkan.

Demikianlah tiga repertoar pendek yang dimainkan SAC pada malam itu. Ruang pertunjukan dihadiri sekitar kurang dari seratus penonton dengan durasi pertunjukan satu jam. Set dan properti yang sedikit, juga tata cahaya yang minim dalam pertunjukan ini membangun kesan pada penonton atas ruang yang minimalis. Selain itu, para pemain juga memakai kostum keseharian yang sederhana dan biasa. Dalam permainan ini pemain seperti benar-benar hendak mempertaruhkan kepiawaiannya dalam menyampaikan pesan yang ingin disampaikan melalui akting.

Seperti dalam prolog yang ditulis; sebagai bagian dari dunia teater, SAC menyadari bahwa teater tidak pernah menggoreskan tanda baca “titik”. Sehingga perkembangannya tidak bisa hanya dilewatkan dengan perdebatan karena teater juga harus dilakoni jika tidak ingin mengalami ketumpulan otak dan hati. Kejelian, kecermatan, kesabaran, keuletan, kepekaan bahkan kegilaan dalam mencari dan menyampaikan pesan akan menjadi tolak ukur bergulirnya sebuah karya teater. Untuk itu SAC akan ambil bagian dalam menciptakan sejarah pertumbuhannya. Yap. Saturday Acting Club. Semoga Teater Jogja semakin hidup!

* Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor Teater Garasi

(terbit di skAnA volume 04, Juli-November 2007)

***


Tentang SAC

Saturday Acting Club (SAC) adalah kelompok kajian akting, yang semula bernama Saturday Acting Class. Nama Saturday diambil dari nama hari yang berarti Sabtu sebagai hari pertemuan. Club ini telah dimulai sejak tahun 2002. Club ini juga mengeksplorasi gaya akting dari berbagai -isme yang tidak terbatas. Keanggotaan SAC sendiri terdiri dari mahasiswa dan non-mahasiswa Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang konsen pada akting. SAC hingga kini mempunyai anggota tetap tidak kurang dari 25 orang.

Tim Kerja Pertunjukan:

Aktor: Muhamad Djunaedi Lubis, Surie Inalia, Intan, Rio Aldanto, R. Edja Fahlevi, Jamal Abdul Naseer, Daniel Exaudi, Rendra, Indah Kusuma Winahyu, Joehana Dyah N, Mariya Yulita Savi, Nanik, Mahbuh Qurtuby, Fery Ludiyanto Sopawiro, S. Sn. Sutradara: Rossa R Rossadi, S. Sn. Penata Cahaya: Noegroho/Nunu. Penata Musik: Bagus. Kostum: Indah.

Oleh: Muhammad A.B.*

Hari Minggu sore tanggal 3 Juni 2007 yang lalu, di Alun-Alun Utara, di tengah panas yang menyengat dan berdebu digelar pertunjukan teater boneka dengan judul “Kreteg (The Bridge)”. Pertunjukan ini menampilkan boneka-boneka berbagai ukuran, mulai dari seukuran orang dewasa hingga yang tingginya hampir 5 meter, mirip dengan ondel-ondel. Pertunjukan ini merupakan hasil dari workshop selama dua minggu yang melibatkan 36 peserta dari berbagai disiplin kesenian maupun non-kesenian.

Pertunjukan ini melibatkan Snuff Puppet, kelompok teater boneka dari Australia yang telah menggunakan bentuk pertunjukan ini di berbagai Negara Asia, Eropa, dan Amerika Latin. Di dalam website resminya, Snuff Puppet menyebut trademark yang dipertahankan di dalam karya-karya proses mereka adalah: humor-humor politik satir yang berbahaya, karya kerajinan tangan yang bebas dari nilai-nilai estetik, populis, bebas, dan mengutamakan sebuah kegembiraan seni, seniman, dan penonton. Snuff Puppets menjadi fasilitator dan inisiator dalam proses workshop sampai dengan pemanggungan. Selama workshop di Yayasan Bagong Kussudiardjo, mereka menemani para peserta workshop mulai dari menentukan konsep, membuat boneka, menentukan cerita hingga persiapan-persiapan untuk menuju ke panggung pertunjukan.

Program ini merupakan lanjutan dari program tahun lalu, yang terhenti di tengah jalan karena bencana gempa bumi yang melanda Yogyakarta dan Jawa Tengah. Snuff Puppet sendiri sangat berkeinginan untuk melanjutkan program ini. Pada pertengahan Mei 2007 mereka datang kembali ke Yogyakarta untuk memulai lagi proses yang tertunda tahun lalu.

Boneka-boneka raksasa dalam pertunjukan 'Kretek (The Bridge)'

Pertunjukan teater boneka ini berjudul Kretek (The Bridge). Di awal munculnya boneka-boneka rasksasa sebelum naik ke panggung selalu menghadirkan kekaguman atau gelak tawa dari para penonton. Boneka-boneka ini sepenuhnya merupakan kreasi para peserta workshop, bentuk-bentuknya unik dan karikatural. Selama permainan di atas panggung, boneka-boneka itu digerakkan oleh para aktor yang ada di dalamnya sehingga memunculkan gestur-gestur boneka raksasa yang seringkali memancing gelak tawa . Sementara itu, dialog antar tokoh dalam pertunjukan ini disuarakan oleh seorang narator.

Kretek (The Bridge) bercerita tentang peresmian jembatan di sebuah desa di Yogyakarta yang dihadiri oleh Presiden  Petruk, dan Ibu Negara Cangik, ikut datang pula para Menteri dan penasihat Gareng, Bagong, dan Semar, dalam pewayangan mereka tergabung dalam kelompok Punakawan. .Jembatan baru yang akan diresmikan ini ternyata tidak disetujui masyarakat. Tapi para Punakawan penguasa negara tetap harus meresmikan jembatan. Sementara itu, dhemit-dhemit bermacam bentuk dan ukurannya, datang dan protes terhadap warga desa karena jembatan itu berdiri tepat di atas rumah mereka.

Para warga kebingungan, terjepit diantara keinginan para penguasa dan protes para dhemit, hingga akhinya seorang warga mempunyai ide untuk mempertemukan para punakawan dan para dhemit. Dua kelompok yang berkuasa itu harus mengadu ayam jago milik mereka. Bila salah satu ayam jago kalah, maka kelompok itu pula harus mengalah dan mengikuti keinginan kelompok yang menang. Ternyata setelah bertarung, kedua ayam jago jatuh kalah. Tak ada yang menang. Jembatan yang belum jadi diresmikan itu malah tiba-tiba meledak. Punakawan yang menanggung malu pergi meninggalkan desa itu, begitu juga para dhemit. Mereka berjanji tak akan mengganggu warga desa lagi.

Akhirnya, para warga bersuka cita dan bernyanyi bersama. Mereka menang tanpa harus mengikuti para penguasa atau para dhemit. Narator menceritakan: warga desa akhirnya  membangun jembatan di tempat yang mereka tentukan sendiri. Pertunjukan berakhir sampai disitu, para boneka turun dari panggung berfoto bersama para penonton. Anak-anak kecil yang menonton pertunjukan ini bergantian menyentuh boneka-boneka itu dan sebagian lainnya menangis ketakutan ketika boneka-boneka dhemit berada di sekitarnya.

Panggung pertunjukan ini sederhana saja, hanya sebuah panggung kosong yang diisi oleh tujuh pemain musik yang memainkan gamelan dan perkusi selama  pertunjukan. Di belakang panggung, di sepanjang tembok pembatas pohon beringin, ditempelkan kain berlukiskan sebuah jembatan besi raksasa. Di akhir pertunjukan, kain itu dijatuhkan ke tanah, menggambarkan hancurnya jembatan besi itu.

Pertunjukan ini merupakan salah satu acara untuk mendukung Festival Kesenian Yogyakarta yang berlangsung mulai 7 Juni hingga 7 Juli 2007. Pertunjukan yang merupakan kerjasama antara Yayasan Bagong Kussudiardjo dengan panitia Festival Kesenian Yogyakarta 2007, juga dihadiri oleh Duta Besar Australia untuk Indonesia Bill Farmer.

*Muhammad A.B., reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 04, Juli-November 2007)

***

Snuff Puppet:

Ian Pidd (Sutradara), James Wilkinson (Penata Musik), Daniele Poidomani (Direktur Teknis), Andy Freer (Direktur Artistik)

Peserta Workshop People’s Puppet Project:

Linda Mayasari, Johan Didik, Wawan Dwi Santosa, B. Verry Handayani, Erwan HS, Gaung Kayan Renantya S., I Ketut Idep S., Izzu Dinil Qoim, Iwan Effendi, Maria Tri Sulistyani, Purwanta, Puthut Buchori, Suwarjiya, “Cempluk” Tri Lestari, Wibowo, Afifa, AV. Metana Yustisia, Azizah, Desi Derius P., Doni Agung Setiawan, Ikhwan Nudin, Iwan Iman Suja’I, Jhoni Freedrikus Sikant, Richi V. Rantee, Rio gisnar, Tegar Jati P., Dwi Wahyuni, Yudi Ariesmawati, Yulius Budi Wijayanto, Septi Asri Finanda, Isti Cholifah, Irnawati, dan Dhini Widyantika Ariesta.

Manajer Program: Jeannie Park Koordinator Workshop: Galuh Asti Wulandari

« Previous PageNext Page »