July 2007


Oleh: Andy Sri Wahyudi*

Aduh, benarkah sebegitu bencinya orang-orang ini kepada orang Tionghoa? Saya memang keturunan Tionghoa, tapi apa salah saya dengan lahir sebagai orang Tionghoa? Saya orang Indonesia.

Begitulah kata Clara, seorang perempuan warga negara Indonesia keturunan Tionghoa, korban kekerasan tragedi Mei ’98 di Jakarta. Sebuah peristiwa yang menjadi catatan penting dalam sejarah bangsa Indonesia. Bangsa yang mengedepankan nilai kebhinekaan dan kemanusian dalam kehidupan sosial masyarakatnya.

Berkaca pada sejarah kadang seperti melihat wajah yang penuh luka. Begitu juga dengan Indonesia, banyak tragedi berdarah dalam perjalanan hidupnya. Menjadi rentetan peristiwa yang menghantui ingatan. Tapi cukupkah semua itu sekadar menjadi kenangan? Ah, terlalu banyak pelajaran yang harus kita petik untuk dipelajari dan telusuri, agar tak lagi terpelosok dalam tindakan barbar tak berprikemanusiaan.

Pementasan drama Clara diselenggarakan oleh mahasiswa kampus Ministry Universitas Atmajaya (UAJY), pada tanggal 2 Mei 2007 di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta. Karya Seno Gumira Ajidarma tersebut dikemas dalam koreografi gerak, teater, ansambel musik dan video yang berpadu dalam peristiwa pementasan. Ansambel musik berada di pojok panggung dan ruang permainan berada di tengah dengan latar bergambar kota metropolis. Dua aktor lelaki dan perempuan mendominasi permainan, sedang gerak dan gambar video sebagai penguat dan pewarna suasana cerita.

Clara adalah perempuan pengusaha yang sedang memperjuangkan pegawainya dari PHK. Gadis periang, ulet, cerdas, dan sigap itu telah dibunuh karakter kemanusiaannya secara keji dan bebal. Ia seperti onggokan sampah setelah orang-orang berwajah garang mencegat dan memperkosanya dijalan. Meski demikian, ia beranikan diri datang melapor ke kantor “petugas”, tapi naas, laporannya hanya diremehkan dan dibantah. Sebab, “petugas” itu adalah bagian dari sistem kekerasan yang  mewarnai kota Jakarta.

Suasana pertunjukan di atas panggung menjadi sebuah irama kolaborasi yang tertata. Penggarapan musik dan lagu mengalun rapi di sela permainan aktor, gambar video semakin memperdalam esensi cerita. Clara yang diperankan Monique Kartika W, berusaha memaksimalkan aktingnya dalam posisi duduk dan Hendra yang memerankan Lelaki Berseragam tampak energik dengan aktingnya yang bergaya lawas penuh penekanan. Sedangkan koreografi gerak menjelang akhir masih terlihat kurang tergarap pada gerak rampak dan (bentuk) tubuh pemain.

Tragedi Clara yang disutradarai oleh FX Tri Mulyono, telah membuka wacana bagi generasi muda tentang  nukilan sejarah kelam di Indonesia. Sebuah tragedi kemanusiaan saat mulai santernya kata reformasi disuarakan, menuntut perubahan dan tumbangnya rezim Suharto. Ironis  memang, jika etnis Tionghoa selalu menjadi kambing hitam penyebab kesenjangan ekonomi dalam sistem kekuasaan pemerintah yang korup dan bobrok. Tapi mengapa Clara yang menjadi korban? Ia diperolok dan diperkosa beramai-ramai. Tindak kekejaman semacam itu bukan semata-mata karena rasisme atau kesenjangan ekonomi, tapi ada sudut pandang lain yang menjurus pada kekuasaan dan gender. Hal tersebut masih menjadi perbincangan banyak kalangan. Dalam peristiwa ini aparat dan hukum seperti orang linglung di tengah kota besar nan modern. Akan lebih ironis lagi, jika tragedi kemanusiaan hanya dipahami kelas masyarakat tertentu saja, sementara yang lain dibiarkan tak mengerti dan mudah terprovokasi keadaan. Nah, ini menjadi tugas generasi muda tentunya!

* Andy Sri Wahyudi, reporter skAnA, aktor dan sutradara Bengkel Mime Theatre

(terbit di skAnA volume 04, Juli-November 2007)

***

Tim kerja pertunjukan:

Pimpro: Reynold Lumi, Sutradara: F.X. Tri Mulyono, Aktor: Monique Kartika W., Hendra dan Otho Sebastian, Kostum: Wahyu April Wulandari, Make-Up: Nilam Nu Raya, Dekorasi: Yohanes Fisher, Lighting: Dian Widi N., Koreografer: Sudiarto, Music Ensambel: Yudi Red’s Studio, Paduan Suara: Cristine M dan PSM UAJY.

Komentar Penonton:

“Secara umum bagus, musik, koreografi, koor, videonya  bagus. Isi cerita persis sama dengan yang ditulis Seno. Tapi mungkin satu hal perlu dekat lagi (dari isi cerita) karena ini sudah sembilan tahun mungkin perlu ditambah lalu dari situ kita bisa apa? “ (Cris, Mahasiswa Sanata Drama, Jurusan Teology semester delapan)

“Bagus  (tapi isinya gak seneng, sela seorang ibu disampingnya) penghayatannya dalam bermain, terutama Clara ya, karena memang pusatnya di Clara sehingga mempengaruhi penonton. Jadi penonton bisa menghayati dan sungguh-sungguh melihat penderitaan perempuan. Dan dengan cerita ini sebenarnya perempuan itu bukan diperlakukan seperti itu . Justru kalau kita mengenal perempuan itu adalah hidup. Gak ada perempuan di bumi ini gak ada kehidupan. Makanya bumi ini namanya bumi pertiwi khan? Karena memberi hidup!” (Suster Ines, 37 tahun dari Ordo Putri Kasih)

“Sebenarnya aku agak kecewa, soalnya ceritanya kurang panjang, kalau untuk setting bagus, penjiwaan ok. Cuman dari teater-teater yang aku tonton sebelumnya, cerita klimaksnya kelihatan, konfliknya bagus. Kalau yang ini standar aja sih, nggak kelihatan. Tapi penjiwaannya bagus. “ (Hai, SMA Bobkri dua, kelas tiga, 17 Tahun)

“Apik, bagus cukup memuaskan. Cuma mungkin, karena aku terlalu banyak hidup di dalam cerita yang mainstream jadi ya rasane bosen wae, dengan penciptaan model seperti itu. Mentok banget, jadi mungkin bisa eksplorasi lagi. “ (Bayu Prihantoro -Lemot- Mahasiswa UAJY, Jurusan Komunikasi, 22 Tahun)

“Aktingnya kurang begitu mengena karena apa ya…? Kemarin saya sempet dialog dengan aktornya, ternyata ada pembatasan mengenai tawaran-tawaran akting. Ternyata mereka tidak ada ruang untuk mengaktualisasikan kemampuan akting mereka. Jadi sangat dibatasi sekali nah itu makanya ada beberapa akting yang semestinya sukses tapi kadang pesan moral yang ingin disampaikan jadi samar, karena penghayatan teks itu penting. Nah, ketika teks itu tak dipahami secara betul maka tubuh pun tidak bisa mengungkapkan secara betul.” (Ilyas Weda alias Kirun, jebolan ISI, Pelatih teater STIE YKPN, 28 tahun)

“Bagus. Kepala saya sampai pusing menikmatinya. Bagus, kenapa gak dibuat 2-3 kali kan orang lain perlu tahu, ini kayaknya terbatas ya?” (Ibu Yopie, Ibu Rumah tangga dan tukang ojek anaknya, 39 tahun)

E….bagus sih sebenarnya, untuk saya sendiri kurang lebih greget lagi, sebenarnya agak nanggung juga sih, jadi orang kepengin nangis tapi belum sempat ke titik klimaks dah drop lagi, tapi keseluruhan panggungnya dah bagus kok.” (katanya nama gak perlu, Mahasiswi UAJY jurusan Fisip semester 2)

“Dah bagus cuman, kayaknya tadi kurang ada greget.” (Agung, Mahasiswa UAJY Jurusan Arsitektur Semester delapan)

Oleh: Hindra Setya Rini*

Sebuah pertunjukan teater yang mengutamakan silent act. Mengungkap peristiwa kecil yang sering terlewatkan dari perhatian kita. Sebuah fenomena unik tentang orang-orang yang menahan hasrat buang air kecil karena harus antri. Desakan fisik yang ternyata bisa memunculkan banyak absurditas.

Children First (sebuah introduksi). Lakon pembuka tiga repertoar pendek yang digelar oleh aktor-aktor Saturday Acting Club (SAC) dalam memainkan naskah karya Samuel Beckett dengan Rossa R Rosadi, S. Sn, sebagai sutradara. Dipertunjukkan tanggal 18 April 2007 di Kedai Kebun Forum Yogyakarta.

Pertunjukan dimulai, seorang aktor hadir di tengah panggung. Ia duduk pada sebuah bangku panjang. Satu-satunya benda yang ada di tengah ruang pertunjukan. Tak lama kemudian ia mulai menggerak-gerakkan tubuhnya tanpa henti; menggeliat, gemetar, tangannya kadang mengepal dan sesekali ia merapatkan kedua kakinya rapat-rapat. Seperti menahan sesuatu. Lalu, tetap dengan tubuhnya yang bergerak itu ia membacakan judul lakon yang akan dimainkan pada malam itu beserta nama-nama pemain, sutradara, dan para pendukung pertunjukan. Setelah itu, adegan bergulir. Masuk beberapa aktor lain yang juga tak lebih sama dengan pemain pertama. Dengan caranya masing-masing menggerak-gerakkan anggota tubuhnya. Tak ada percakapan. Hanya tubuh para aktor yang saling merespons gerak. Mencoba mewujudkan aktivitas orang-orang yang layaknya sedang antri di WC Umum menunggu giliran untuk bisa segera pipis. Di akhir adegan, mereka mengeluarkan satu teriakan yang tak tertahankan karena hasrat buang air kecil sudah sampai pada puncaknya. Tak tahan lagi karena menunggu anak-anak yang harus didahulukan kemudian tanpa keharusan mengantri. Seperti yang diucapkan oleh salah satu pemain, Children First.

Children First (foto dok. SAC)

Dua lakon berikutnya setelah Children First, yaitu Come and Go dan Catasthrophe. Setiap pergantian repertoar selalu diberi jeda yang diisi dengan mendengarkan iringan musik yang mengajak penonton untuk istirahat sejenak, lalu layaknya penyiar di salah satu stasiun radio yang sedang “on air”, narator membacakan sekelumit pengantar yang menggiring penonton untuk memasuki lakon berikutnya. Suara perempuan itu mengumandang sebagai berikut (memasuki repertoar Come and Go):

Kita selalu datang dan kita selalu pergi, kita melewati peron-peron dari banyak stasiun dan kita tidak tahu apakah kita akan kembali atau kita tak pernah tahu apakah akan kembali atau takkan pernah tahu apakah akan kembali dan mengenali yang pernah kita tinggalkan. Perjalanan akan selalu membengkokkan pelintasannya untuk menemukan jalan lagi. Lintasan hati, lintasan pikiran, lintasan hidup, dan kemudian kesepian menunggu lagi di stasiun berikutnya. Ke dalam sisi manusia selalu terkorbankan oleh kebutuhan luar manusia. Kebutuhan yang dibungkus oleh warna-warna, ideologi, idialisme, dan segala tetek bengek yang bergantungan dan menjadi lambang kehormatan semu. Akankah kita akan kehilangan peron pertama yang kita lewati dengan penuh cinta?

Berbeda dengan dua lakon lainnya, Come and Go dimainkan dalam dua versi. Versi pertama dimainkan oleh tiga pemain wanita, yang kedua oleh tiga pemain laki-laki. Setting tak ada yang berubah. Hanya ada sedikit tambahan, tepat di belakang bangku  berdiri lima ikat kumpulan bambu yang menyerupai batang pepohon. Adegan  berlangsung di atas bangku, tiga aktor duduk saling mengaitkan tangan antara satu sama lain seperti tiga sahabat yang tak terpisahkan.Tak banyak percakapan; dialog terjalin sepenggal-sepenggal, diiringi musik yang sendu menambah suasana terasa ngelangut. Dalam adegan ini para aktor membicarakan satu sama lain dengan berbisik secara bergantian. Terakhir, ketiga aktor tersebut menutup adegan dengan kembali saling mengaitkan dan menggenggam tangan teman masing-masing.

Repertoar selanjutnya, Catasthrophe.  Setelah mendengarkan sebuah musik sebagai pengisi jeda, pengantar repertoar pun dibacakan kembali.

Kekuasaan selalu memainkan cakarannya di mana pun ia berada. Keringat, keluh, ketakutan, penghormatan, bunga-bunga, bahkan darah dan kematian menjadi bagian dari jejak-jejak kekuasaan. Siapa yang memainkan dengan cakaran yang terlalu dalam akan meninggalkan goresan tajam beraroma tragedi.

Panggung kosong. Bangku sudah tak ada lagi. Seseorang masuk sambil melakukan gerak olahraga atau senam pagi. Lalu satu, dua, tiga orang, masuk lalu lalang melintas membawa benda-benda; kursi, kabel, tape,  level. Dan seseorang yang lain seolah-olah sibuk mengatur para kru dalam mempersiapkan sebuah even. Musik Rock ‘n Roll menggema riang ke seluruh ruangan. Selanjutnya para kru sibuk mendandani orang yang tadi senam pagi, menjadikannya sebagai model.

Ia diberi cahaya yang pas, jas, topi, lalu kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku kanan-kiri dan ia terlihat lebih trendi. Siap dipajang. Lalu seorang lelaki yang terlihat dan bergaya lebih seperti perempuan ketimbang laki-laki, masuk menilai model yang dipajang. Melalui perdebatan dengan asistennya  yang cerewet, si Tuan tersebut tetap tak menerima dan merasa kurang puas atas pilihan-pilihan yang dikenakan pada si  Model. Ia harus diubah di sana-sini. Akhirnya para kru kembali mendandani si Model menjadi seseorang yang terlihat amat tersiksa. Seluruh tubuh diputihkan dengan bedak bubuk agar menampilkan kesan pucat, celana digulung dan singlet yang dipakaikan menunjukkan tubuhnya yang ringkih, dengan kedua tangan terikat di depan dada serta cahaya yang fokus pada kepalanya yang setengah botak semakin memperlihatkan bahwa ia renta dan tak berdaya. Tetapi menurut si Tuan, itu adalah karya yang luar biasa dan menakjubkan.

Demikianlah tiga repertoar pendek yang dimainkan SAC pada malam itu. Ruang pertunjukan dihadiri sekitar kurang dari seratus penonton dengan durasi pertunjukan satu jam. Set dan properti yang sedikit, juga tata cahaya yang minim dalam pertunjukan ini membangun kesan pada penonton atas ruang yang minimalis. Selain itu, para pemain juga memakai kostum keseharian yang sederhana dan biasa. Dalam permainan ini pemain seperti benar-benar hendak mempertaruhkan kepiawaiannya dalam menyampaikan pesan yang ingin disampaikan melalui akting.

Seperti dalam prolog yang ditulis; sebagai bagian dari dunia teater, SAC menyadari bahwa teater tidak pernah menggoreskan tanda baca “titik”. Sehingga perkembangannya tidak bisa hanya dilewatkan dengan perdebatan karena teater juga harus dilakoni jika tidak ingin mengalami ketumpulan otak dan hati. Kejelian, kecermatan, kesabaran, keuletan, kepekaan bahkan kegilaan dalam mencari dan menyampaikan pesan akan menjadi tolak ukur bergulirnya sebuah karya teater. Untuk itu SAC akan ambil bagian dalam menciptakan sejarah pertumbuhannya. Yap. Saturday Acting Club. Semoga Teater Jogja semakin hidup!

* Hindra Setya Rini, reporter skAnA, aktor Teater Garasi

(terbit di skAnA volume 04, Juli-November 2007)

***


Tentang SAC

Saturday Acting Club (SAC) adalah kelompok kajian akting, yang semula bernama Saturday Acting Class. Nama Saturday diambil dari nama hari yang berarti Sabtu sebagai hari pertemuan. Club ini telah dimulai sejak tahun 2002. Club ini juga mengeksplorasi gaya akting dari berbagai -isme yang tidak terbatas. Keanggotaan SAC sendiri terdiri dari mahasiswa dan non-mahasiswa Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang konsen pada akting. SAC hingga kini mempunyai anggota tetap tidak kurang dari 25 orang.

Tim Kerja Pertunjukan:

Aktor: Muhamad Djunaedi Lubis, Surie Inalia, Intan, Rio Aldanto, R. Edja Fahlevi, Jamal Abdul Naseer, Daniel Exaudi, Rendra, Indah Kusuma Winahyu, Joehana Dyah N, Mariya Yulita Savi, Nanik, Mahbuh Qurtuby, Fery Ludiyanto Sopawiro, S. Sn. Sutradara: Rossa R Rossadi, S. Sn. Penata Cahaya: Noegroho/Nunu. Penata Musik: Bagus. Kostum: Indah.

Oleh: Muhammad A.B.*

Hari Minggu sore tanggal 3 Juni 2007 yang lalu, di Alun-Alun Utara, di tengah panas yang menyengat dan berdebu digelar pertunjukan teater boneka dengan judul “Kreteg (The Bridge)”. Pertunjukan ini menampilkan boneka-boneka berbagai ukuran, mulai dari seukuran orang dewasa hingga yang tingginya hampir 5 meter, mirip dengan ondel-ondel. Pertunjukan ini merupakan hasil dari workshop selama dua minggu yang melibatkan 36 peserta dari berbagai disiplin kesenian maupun non-kesenian.

Pertunjukan ini melibatkan Snuff Puppet, kelompok teater boneka dari Australia yang telah menggunakan bentuk pertunjukan ini di berbagai Negara Asia, Eropa, dan Amerika Latin. Di dalam website resminya, Snuff Puppet menyebut trademark yang dipertahankan di dalam karya-karya proses mereka adalah: humor-humor politik satir yang berbahaya, karya kerajinan tangan yang bebas dari nilai-nilai estetik, populis, bebas, dan mengutamakan sebuah kegembiraan seni, seniman, dan penonton. Snuff Puppets menjadi fasilitator dan inisiator dalam proses workshop sampai dengan pemanggungan. Selama workshop di Yayasan Bagong Kussudiardjo, mereka menemani para peserta workshop mulai dari menentukan konsep, membuat boneka, menentukan cerita hingga persiapan-persiapan untuk menuju ke panggung pertunjukan.

Program ini merupakan lanjutan dari program tahun lalu, yang terhenti di tengah jalan karena bencana gempa bumi yang melanda Yogyakarta dan Jawa Tengah. Snuff Puppet sendiri sangat berkeinginan untuk melanjutkan program ini. Pada pertengahan Mei 2007 mereka datang kembali ke Yogyakarta untuk memulai lagi proses yang tertunda tahun lalu.

Boneka-boneka raksasa dalam pertunjukan 'Kretek (The Bridge)'

Pertunjukan teater boneka ini berjudul Kretek (The Bridge). Di awal munculnya boneka-boneka rasksasa sebelum naik ke panggung selalu menghadirkan kekaguman atau gelak tawa dari para penonton. Boneka-boneka ini sepenuhnya merupakan kreasi para peserta workshop, bentuk-bentuknya unik dan karikatural. Selama permainan di atas panggung, boneka-boneka itu digerakkan oleh para aktor yang ada di dalamnya sehingga memunculkan gestur-gestur boneka raksasa yang seringkali memancing gelak tawa . Sementara itu, dialog antar tokoh dalam pertunjukan ini disuarakan oleh seorang narator.

Kretek (The Bridge) bercerita tentang peresmian jembatan di sebuah desa di Yogyakarta yang dihadiri oleh Presiden  Petruk, dan Ibu Negara Cangik, ikut datang pula para Menteri dan penasihat Gareng, Bagong, dan Semar, dalam pewayangan mereka tergabung dalam kelompok Punakawan. .Jembatan baru yang akan diresmikan ini ternyata tidak disetujui masyarakat. Tapi para Punakawan penguasa negara tetap harus meresmikan jembatan. Sementara itu, dhemit-dhemit bermacam bentuk dan ukurannya, datang dan protes terhadap warga desa karena jembatan itu berdiri tepat di atas rumah mereka.

Para warga kebingungan, terjepit diantara keinginan para penguasa dan protes para dhemit, hingga akhinya seorang warga mempunyai ide untuk mempertemukan para punakawan dan para dhemit. Dua kelompok yang berkuasa itu harus mengadu ayam jago milik mereka. Bila salah satu ayam jago kalah, maka kelompok itu pula harus mengalah dan mengikuti keinginan kelompok yang menang. Ternyata setelah bertarung, kedua ayam jago jatuh kalah. Tak ada yang menang. Jembatan yang belum jadi diresmikan itu malah tiba-tiba meledak. Punakawan yang menanggung malu pergi meninggalkan desa itu, begitu juga para dhemit. Mereka berjanji tak akan mengganggu warga desa lagi.

Akhirnya, para warga bersuka cita dan bernyanyi bersama. Mereka menang tanpa harus mengikuti para penguasa atau para dhemit. Narator menceritakan: warga desa akhirnya  membangun jembatan di tempat yang mereka tentukan sendiri. Pertunjukan berakhir sampai disitu, para boneka turun dari panggung berfoto bersama para penonton. Anak-anak kecil yang menonton pertunjukan ini bergantian menyentuh boneka-boneka itu dan sebagian lainnya menangis ketakutan ketika boneka-boneka dhemit berada di sekitarnya.

Panggung pertunjukan ini sederhana saja, hanya sebuah panggung kosong yang diisi oleh tujuh pemain musik yang memainkan gamelan dan perkusi selama  pertunjukan. Di belakang panggung, di sepanjang tembok pembatas pohon beringin, ditempelkan kain berlukiskan sebuah jembatan besi raksasa. Di akhir pertunjukan, kain itu dijatuhkan ke tanah, menggambarkan hancurnya jembatan besi itu.

Pertunjukan ini merupakan salah satu acara untuk mendukung Festival Kesenian Yogyakarta yang berlangsung mulai 7 Juni hingga 7 Juli 2007. Pertunjukan yang merupakan kerjasama antara Yayasan Bagong Kussudiardjo dengan panitia Festival Kesenian Yogyakarta 2007, juga dihadiri oleh Duta Besar Australia untuk Indonesia Bill Farmer.

*Muhammad A.B., reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 04, Juli-November 2007)

***

Snuff Puppet:

Ian Pidd (Sutradara), James Wilkinson (Penata Musik), Daniele Poidomani (Direktur Teknis), Andy Freer (Direktur Artistik)

Peserta Workshop People’s Puppet Project:

Linda Mayasari, Johan Didik, Wawan Dwi Santosa, B. Verry Handayani, Erwan HS, Gaung Kayan Renantya S., I Ketut Idep S., Izzu Dinil Qoim, Iwan Effendi, Maria Tri Sulistyani, Purwanta, Puthut Buchori, Suwarjiya, “Cempluk” Tri Lestari, Wibowo, Afifa, AV. Metana Yustisia, Azizah, Desi Derius P., Doni Agung Setiawan, Ikhwan Nudin, Iwan Iman Suja’I, Jhoni Freedrikus Sikant, Richi V. Rantee, Rio gisnar, Tegar Jati P., Dwi Wahyuni, Yudi Ariesmawati, Yulius Budi Wijayanto, Septi Asri Finanda, Isti Cholifah, Irnawati, dan Dhini Widyantika Ariesta.

Manajer Program: Jeannie Park Koordinator Workshop: Galuh Asti Wulandari

Oleh: Andy Sri Wahyudi*

Siapa bilang Gurit yang biasa disebut puisi bahasa Jawa itu, tidak diminati kaum muda? Buktinya, pertunjukan pembacaan Gurit  pada tanggal 7 April 2007 di Gedung Societeit Militer Taman Budaya Yogyakarta, tidak hanya dihadiri oleh orang-orang tua saja, tapi banyak para muda remaja yang masih duduk di bangku SMP dan SMA menghadiri pertunjukan tersebut sampai selesai. Geguritan yang biasanya hanya dibacakan dengan gaya monoton tanpa setting dan sepi gerak,  malam itu menjadi lebih seru dan ramai.

Awal yang Sarat Makna

Saat musik menghentak membuka pertunjukan, penonton belum begitu peduli, masih ada yang baru masuk dan berseliweran mencari tempat duduk. Tak ketinggalan suara kemresek para ABG yang sedang ngerumpi. Musik mengalun pelan, lalu melantun sebuah gurit berjudul ilir-ilir dan perlahan layar terbuka.  Penonton mulai terbawa suasana, seperti berusaha menangkap sesuatu.

Manungsa punika asalipun saking Pangeran//Bali marang Pangeran//Aja dumeh! Aja dumeh! Aja dumeh!

Gurit yang singkat namun padat dan mendasar ini membuka pembacaan Geguritan Don’t Cry Mama (Anak Wengis Ibu Nangis). Tertangkap pesan moral tentang asal muasal kehidupan manusia dan peringatan akan kekuasaan manusia yang tak peduli dengan kehidupan ini. Mengingatkan bahwa manusia itu hanyalah mahkluk kecil yang tak berdaya dihadapan semesta.

Tiba-tiba muncul anak-anak yang bergulingan dan bermain-main di atas panggung. Adegan ini cukup menyegarkan dan membuat penonton tertawa cekikikan.

Ibu…. Seorang anak berteriak memanggil ibunya dan siapakah anak-anak itu? Mereka bukan sekadar mencuri fokus penonton, tapi kostum yang berwarna-warni (merah, kuning, hijau, kelabu, ungu, dan berbagai warna lain) menggambarkan kehidupan beragam. Benih kehidupan yang tumbuh dengan budaya berbeda-beda. Mereka hidup di atas tanah Ibu Pertiwi: INDONESIA.

Kemasan Muda

Pembacaan Geguritan itu bukan semata-mata dibaca di atas panggung kosong dan hanya mengandalkan kekuatan vokal. Pembacaan gurit yang ditulis oleh Akhir Luso No menjadikan sebuah tawaran bentuk pembacaan Geguritan. Setting panggung mencoba mengeksplorasi ruang, dengan menata benda-benda yang berbentuk dadu. Dari sudut pandang penonton, di sebelah kiri panggung penataan dadu terkesan seperti tumpukan tidak rapi namun tertata. Di sebelah kanan tertumpuk vertikal, lebih langsing dan beberapa tergantung di atas panggung. Pada bagian tengah ada kain membentang bergambar lingkaran putih.

Musik  mengiringi gurit yang dilantunkan para aktor dengan paduan irama berwarna. Kadang menghentak, lamban, dan lirih. Dalam pertunjukan ini aktor tidak membaca teks, tapi mengucap layaknya pemain drama dengan berbagai bentuk gerak meskipun beberapa aktor masih tampak kaku dalam olah tubuh. Gurit diucapkan dengan nada dan tempo bervariasi. Ada yang dibaca cepat, lantang, lembut, marah dengan sambil berjoget semi nge-rap dan jumpalitan. Adegan menjadi kesatuan dalam pementasan dengan kemasan muda. Berusaha mengikuti selera anak muda. Pertunjukan ini dirangkai oleh Hari Leo AR dan Akhir Luso No.

Sebuah Akhir yang Sunyi

Robohnya dekorasi, teriakan perempuan yang diperkosa anaknya dan taburan “hujan” dari atas panggung seperti menyiratkan air mata Ibu Pertiwi. Adalah babagan akhir yang terlihat ramai namun terasa sunyi. Kesunyian memasuki ruang perenungan akan keadaan yang sedang menimpa negeri ini, yang kaya tapi masyarakatnya bermental miskin, penjilat dan tak dapat berpikir sehat (gerah uteg). Negeri yang larut dalam praktik penindasan bertumpuk-tumpuk.

Pertunjukan ini didukung oleh Pusat Pengembangan Dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Seni dan Budaya (PPPG Kesenian Yogyakarta).

* Andy Sri Wahyudi, reporter skAnA, aktor dan sutradara Bengkel Mime Theatre

(terbit di skAnA volume 04, Juli-November 2007)

***

Tim Kerja:

Penulis naskah: Akhir Luso No, Sutradara: Hari Leo Aer dan Akhir Luso No, Artistik: Wahyana Giri MC, Pemain: Nita, Nurul, Dinar, Andi “Pepok” dan Titi Renggani, Lighting: Edo Nurcahyo, Musik: Kartiman MS, Tim kreatif: Ki Parjaya SSn, Purwadmadi Admadipurwa dan Eny Esita  Kolopaking.

Komentar Penonton:

“Absurd yang konvensional, tema-tema yang dibawakan sudah biasa…”(Hasta Indriana, Penyair muda, 30 tahun)

“Bagus bagus bagus…terus apa ya itu. karakter tokohnya baguslah pokoknya.” (Tiwi, SMA Kalasan, 17 tahun)

“Emm…yang jelas bagus banget, rangkaian pesannya untuk kita agar bisa mencintai ibu pertiwi ini.” (Anis, Mahasiswi UNY semester 8 jurusan seni kerajinan)

“Biasa aja ha..ha..ha..” (Cesa, kelas 8 SMP 5 Yogyakarta, 14 tahun)

“Ee, yaa lumayan bagus, keren kok. Unik ya tadi aku lihat tariannya modern tapi pakai gamelan jadi langka banget kalau menurutku.” (Manda kelas 2 SMP 5 YK, 14 tahun)

“Ya keren..keren keren…dari blokingnya juga lumayan teratur.” (Sandy, Mahasiswa UAD)

“Bagus banget apalagi…musiknya tuh keren, terus gerakannya juga keren!” (Ayuk, Ami, Tiwi, kelas 8 SMP 5 Yogyakarta)

“Wah tapi bahasa Jawa ya? jadi aku gak ngerti. Kerennya adegannya.” (Riko, ISI jurusan musik semester 6)

“Sae. Ya itulah apa namanya..kalau saya bilang memang situasi sekarang, buat seorang ibu itu berat untuk membesarkan anak-anaknya dengan lingkungan dan pengaruh-pengaruh dari luar. Bagus cara penyampaiannya dengan cara begini.” (Ibu Feri dari Jakarta, 50 tahun diajak suaminya yang sedang liburan di Jogja)

“Mungkin yang menjadi menarik bagi saya adalah pertanyaan: sejauh mana ekstrimnya itu? Ekstrimitas itu kan ada beberapa tingkatan, artinya ekstrim menurut siapa dan ekstrim yang bagaimana? Ekstrim bagi si A belum tentu ekstrim bagi si B apalagi C. Apalagi C!” (Catur Stanis, 30 tahunan lebih)

“Ya baguslah, menarik aja, koreonya dan gerak-geraknya” (Tia, kelas 1 SMKI Yogyakarta Jurusan Teater, 15 tahun)

Oleh: Muhammad A.B. *

Siang, tanggal 24 Mei 2006, skAnA bertandang ke kantor Jurusan Teater ISI Yogyakarta. Di sana awak skAnA bertemu dengan Rukman Rosadi, salah seorang staf pengajar di Jurusan Teater ISI, yang juga salah seorang motor dari sebuah klub yang baru saja diluncurkan di Yogyakarta. Klub itu bernama Saturday Acting Club (SAC), yang mengkhususkan diri dalam pengemabangan akting. Dalam kesempatan wawancara ini skAnA juga berkesempatan untuk berbincang dengan Muhammad Junaedi Lubis (Manajer Program SAC) yang akrab dipanggil Ucok, dan Surie Inalia (Head of  Management SAC) atau akrab dipanggil Cuwie’. Selama kurang lebih dua jam kami berbincang dengan ditemani es teh dan beberapa bungkus rokok. Berikut adalah petikan wawancara skAnA dengan ketiga tokoh SAC tersebut.

Bisa cerita sedikit tentang asal mula SAC?

Rosa:

Sebenarnya sudah lama. Sebagian diantara kami sudah berkumpul dan bertemu sejak 2002. Waktu itu wadahnya bernama Saturday Acting Class, waktu itu kami dan beberapa teman yang ingin belajar tentang akting lebih dalam, membentuk wadah sendiri di luar jurusan teater. Saat itu kami sudah terbuka, kami tidak mengkhususkan diri pada orang-orang teater saja. Siapa saja yang ingin belajar akting; ada teman dari jurusan desain, ada teman dari Atamajaya, dan Psikologi UGM.

Ucok:

Yah, sebenarnya kami sudah lama berkumpul. Kami punya kegelisahan dan keinginan untuk belajar lebih dalam mengenai akting, mungkin kami merasa kurang dengan apa yang sudah kami pelajari mengenai teater dan akting. Cuma waktu itu memang kami lebih banyak mempelajari berbagai pendekatan yang banyak dibantu oleh Mas Rosa (Rukman Rosadi, pen)

Cuwie’:

Sebenarnya saya dulu malah tidak tahu ada Saturday Acting Class, walaupun saya di Jurusan Teater ISI. Saya malah usul sama teman-teman, “Ayo bikin apa yuk, kumpul-kumpul belajar teater bareng…” Eh, ternyata malah sudah ada Saturday Acting Class, terus saya mulai masuk ketika perencanaan untuk membuat Saturday Acting Club.

Saturday Acting Club. Namanya agak berbeda dengan nama-nama kelompok teater yang biasa saya dengar, sepertinya SAC mewakili semangat yang berbeda dari kelompok-kelompok teater lain?

Rosa:

Gimana ya, kami sejak awal memang menitikberatkan pada pembelajaran akting, untuk belajar berbagai bentuk akting. Dan karena kita memang sama-sama punya waktu luang di hari Sabtu, walaupun sebenarnya berkumpul di Hari Sabtu sudah menjadi kewajiban bagi kami (tertawa….). Kalau ada kesibukan lain harus ditinggal (tertawa lagi…).

Kenapa memilih club? Bukan course misalnya…

Cuwie’:

Karena dulu class itu kesannya formal ya, dan jadi kelihatan sangat akademik. Kemudian kami bersepakat untuk mengganti menjadi club, karena ia menjadi lebih terbuka, dan posisi kita semua menjadi sama di dalam wadah club. Saya dan Mas Rosa misalnya. Ya saya boleh berbeda pendapat dan mengusulkan sesuatu pada dia. Walaupun tetap dibutuhkan pengurus yang aktif, ada struktur kekuasaan yang menentukan program-program SAC.

Ucok:

Dulu waktu class, Mas Rosa memang jadi agak dominan. Sementara kalau di club, kami kesannya jadi cair gitu. dia sudah tidak kami anggap sebagai dosen lagi(tertawa). Kami posisinya sama saja, saling memberi pendapat dan memberi usulan, misalnya dalam proses pengadeganan. Juga Mas Rosa sebagai sutradara misalnya, ia tidak bisa seenaknya memerintah, “Kamu kaya gini, jalan kesana…”, kalau seperti itu pasti ditanya balik, “loh, kenapa? Apa alasannya..?”(tertawa)

Dan kenapa acting? Bukan actor atau theatre misalnya…..

Ucok:

Karena memang kami memang fokus ke bagaimana akting itu. Kami ingin mencoba segala macam bentuk akting, menembus batasan-batasan akting yang ada sekarang; mencoba mengeksplorasi bentuk, gagasan, ide,  sampai pada kemungkinan-kemungkinan yang bisa kami capai. Yang kami tekankan memang bagaimana ber-akting itu. Kami percaya tiap karakter punya konsekuensinya sendiri untuk diperankan, dan tiap aktor harus mempunyai kesadaran untuk itu. Karena saya melihat aktor-aktor yang gaya dan bentuknya sama dalam tiap karakter yang diperankannya. Lah, itu kan berarti dia tidak ber-akting. Berarti kan, dia hanya memindahkan dirinya sendiri ke atas panggung. Cuma sekedar memakai kostum dan mengucapkan apa yang tertulis.

Rosa:

Di sini (SAC-pen), kami semua punya komitmen untuk mempelajari akting seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Bagi kami di SAC, akting berarti Akting dengan A kapital. Walaupun tidak semua yang terlibat di sini (SAC-pen) aktor, kami terbuka pada siapa saja yang ingin belajar akting. Karena menurut kami dunia akting itu sangat luas sekali. Dan bagi kami SAC adalah wadah untuk menjelajahi dunia itu. Untuk itu SAC tidak memilih satu gaya pertunjukan sendiri yang tetap, kami ingin bisa berakting dalam bentuk pertunjukan apa saja, baik yang tradisional maupun kontemporer.

Cuwie’:

Dan kami juga sebenarnya tidak hanya berkutat dengan akting di dalam teater, kami juga mencoba bagaimana toh akting di dalam film itu? SAC juga tidak menutup kemungkinan nanti ke depannya akan membuka kursus akting untuk umum.

Pada kesempatan launching bulan lalu (bulan April 2007-pen) SAC memilih untuk memanggungkan tiga naskah pendek karya Samuel Beckett. Ada alasan khusus nggak, kenapa teman-teman memilih naskah Beckett?

Rosa:

Sebenarnya tak ada alasan khusus ya. Karena kami tidak mau terikat pada satu genre tertentu. Lebih karena saat ini SAC ingin memainkan naskah-naskah pendek dengan durasi kurang dari satu jam, dan Beckett punya jenis naskah pendek itu. Ya, waktu itu kami bersepakat untuk memainkan tiga naskah itu.

Ucok:

Semua orang di SAC mempunyai obsesi tentang keaktoran. Biasanya mereka ingin bermain dalam satu peran tertentu, misalnya peran orang sakit jiwa, atau peran pembunuh, atau peran romantis. Dalam kasus kemarin, mungkin kami melihat naskah Beckett cukup mewadahi keinginan-keinginan kami untuk memerankan satu karakter tertentu. Dan seperti yang tadi sudah dikatakan, ya kami selalu menggunakan kesempatan pertunjukan ini dengan mencoba untuk bertemu dengan sesuatu yang berbeda. Bagaimana sih naskahnya Beckett? Karena pasti berbeda memainkan naskah Beckett dengan memainkan naskah lain oleh penulis lain. Ya bagi saya seperti itu sih. Sepertinya waktu itu memang tidak ada alasan khusus ya.

SAC dalam sebuah pertunjukan.

Oke, menurut teman-teman sendiri, apa sih yang membedakan SAC dengan kelompok-kelompok lain? Paling tidak apa yang membuatnya beda?

Cuwie’:

Formulasi ilmu…

Maksudnya?

Cuwie’:

Ya karena bagi kami bukan hanya akting di atas panggung yang penting. Tapi, bagaimana jalan yang ditempuh untuk menuju akting di atas panggung itu…

Rosa:

Maksud Cuwie’ adalah bagi kami proses untuk menuju akting di atas panggung itu jauh lebih penting. Bagaimana proses penemuan, metode-metode yang ditempuh untuk mencapai suatu karakter. Mungkin itu yang membuat kami merasa perlu mendalami akting lebih jauh lagi, karena makin jauh kami memasukinya, ternyata hal ini  sangat luar biasa luas. Menurut kami metode seorang aktor untuk mencapai sebuah bentuk akting itu adalah satu bentuk ilmu juga, dan si aktor harus bisa memformulasikannya.

Ucok:

Ya semangat itu yang kami pegang di SAC. Karena percuma saja kalau seorang aktor bisa berakting dengan bagus diatas panggung tanpa tahu metode-metode untuk mencapai bentuk akting itu. Sayangnya kami melihat hal ini tak begitu disadari, sehingga banyak aktor yang hanya bisa memainkan satu tipe karakter saja. Bagi kami ya hal ini sama saja berarti si aktor belum lepas dari dirinya sendiri.

Rosa:

Karena di sini orang-orang teater sendiri masih menganggap aktor atau akting itu berdasarkan hal-hal yang abstrak. Mereka tak bisa memformulasikannya, hanya berhenti di “teater ya begini ini….” Karena itu saya melihat banyak kelompok pada akhirnya hanya tergantung pada sosok sutradara. Sutradara menjadi sosok yang mengetahui segalanya dan ia tak membaginya pada orang lain. Karena tak ada kesadaran bahwa akting adalah satu bentuk ilmu yang bisa dipelajari semua orang. Jadi yang sering terjadi, ketika sutradara meninggalkan sebuah kelompok teater, maka kelompok teater itu akan mati.

Jadi akting itu bisa dipelajari, lalu bagaimana teman-teman mempelajarinya? Punya metode-metode tertentu yang baku bagi para aktor di SAC ?

Rosa:

Karena para anggota SAC mepunyai komitmen untuk mempelajari akting, maka cara mereka untuk mempelajari akting berbeda-beda sebenarnya. Tapi semua punya kecenderungan untuk mencari referensi-referensi sendiri. Jadi memang aktor-aktornya itu dituntut untuk pintar dan cerdas. Tapi bukan berarti kami tidak memperhitungkan improvisasi atau ekplorasi, itu kami jaga karena itu bagian dari metode untuk mencapai bentuk akting.  Lewat forum-forum di SAC kami berdiskusi soal akting, dan seringkali malah anggota SAC dari disiplin berbeda memberi masukan-masukan yang segar dan berharga.

Lalu kami juga mencoba untuk mengeksplorasi diri kami sendiri; bagaimana seorang aktor bermain dalam karakter yang berbeda-beda, lalu teman-teman akan memberi masukan-masukan dan membicarakannya bersama. Lewat forum itu SAC membantu para aktor anggotanya untuk memformulasikan metode-metode yang telah dicapainya.

Ngomong-ngomong, apa sih program SAC selanjutnya ?

Ucok:

Bulan Juni nanti kami akan pentas di KKF, kami mencoba eksplorasi akting dalam bentuk-bentuk pertunjukan tradisional. Pertunjukannya tiga buah seperti pada saat launching. Saat ini kami sedang berkonsentrasi pada pertunjukan-pertunjukan pendek saja dulu. Lalu Bulan September rencananya kami akan pentas di KKF lagi. Naskah pendek juga, tapi kali ini naskah yang kami buat sendiri. Terus Februari tahun depan rencananya kami akan memproduksi sebuah film.

Cuwie’:

Selain itu kami juga punya agenda rutin di luar pertunjukan, misalnya pertemuan tiap Sabtu yang wajib untuk semua anggota. Terkadang ada workshop-workshop untuk anggota. Kami juga memberikan workshop-workshop mengenai akting. Kemarin (minggu ketiga Mei-pen) kami baru saja memberi workshop akting pada anak-anak SMP di ISI. Para anggota punya kewajiban untuk memberikan materi-materi pada saat workshop itu. Yang paling akhir ya penerimaan anggota. Kemarin kami baru saja menerima dan menyeleksi anggota baru untuk SAC, yang diterima ada 11 orang.

Ketika jarum jam menunjukkan pukul empat sore, gelas-gelas es teh yang tadi penuh sudah kosong. Siang itu memang sangat panas. Tapi berbincang dengan tiga orang awak SAC membuat siang itu terasa berlalu dengan cepat. Sebenarnya masih banyak hal yang ingin dibicarakan dengan SAC, misalnya tentang rencana-rencana pertunjukan mereka, tentang film yang akan mereka buat, atau ide mereka tentang akting. Akhirnya, waktu jualah yang membatasi pertemuan kami. Saat masing-masing dari kami harus beranjak dan bergerak meninggalkan tempat di mana kami bertemu. Sukses buat SAC!!!

*Muhammad A.B., reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 04, Juli-November 2007)

Komik skAnA volume 04: PERGURUAN TITER by Asita

« Previous Page