Oleh: Muhammad AB *

Sebuah ruangan kafe, tiga buah meja berjajar dengan kursi-kursi yang mengelilinginya. Beberapa pengunjung duduk di kursi memesan sesuatu pada dua orang pelayan yang selalu bersiap melayani. Suasana Resto Bar yang menjadi latar dalam pertunjukan benar-benar dibangun sebagai sebuah resto di panggung pertunjukan Gedung F Benteng Vredeburg Yogyakarta. Bahkan lengkap dengan  hidangan dan minuman yang disajikan pada para aktor di atas panggung.

Pentas Pakaian dan Kepalsuan berasal dari terjemahan Achdiat Kartamihardja atas naskah karya Arkady Timofeevich Averchenko, yang dalam bahasa Inggris berjudul The Man in Grey Suit. Terjemahan ini terbit dengan pada tahun 1956 dengan judul Pakaian dan Kepalsuan. Teater Tangga Universitas Muhammadiyah Yogyakarta  memanggungkannya pada Senin malam, 5 Maret 2007.

Kostum yang dipakai para aktor merujuk pada mode pakaian di masa awal kemerdekaan Indonesia. Suasana restoran dan mode pakaian sengaja ditonjolkan untuk mendukung alur cerita yang memang berkisah tentang masa awal kemerdekaan Indonesia, dimana banyak orang yang tiba-tiba mengaku menjadi pahlawan, pamer gagah keberanian di medan perang di hadapan orang lain, termasuk yang terjadi di sebuah kafe dalam pertunjukan Pakaian dan Kepalsuan.

Pada awalnya di kafe tersebut segalanya berjalan biasa saja. Pengunjung dating memesan minuman lalu bercakap-cakap dengan sesame teman maupun pelayan. Percakapan tentang perang, perjalanan, sampai hubungan pertemanan pun dibicarakan di sana. Mereka berkumpul dalam satu meja. Lalu, identitas mereka di masa lalu pun mulai terkuak. Mereka semua mengaku sebagai orang-orang yang sukses di bidangnya dimasa kini. Ketika Sumantri (diperankan oleh Raden Bagus Ariwibowo) datang bersama istrinya (diperankan oleh R.R. Wiwara), suasana menjadi makin ramai. Tampak mereka jarang bertemu dengan Sumantri, yang saat itu menunjukkan diri sebagai orang yang paling dihormati dan paling sukses diantara mereka kini.

Rusman menodongkan pistol kepada Sumantri dkk

Tiba-tiba, Hamid (Ita Sudradjat) dan Rusman (Nurkholis “Brekele”) berdiri dari kursi dan mendatangi mereka. Munculnya Hamid yang menekan mereka dengan sebuah pistol, membuat suasana berubah menjadi tegang. Hamid dan Rusman memaksa mereka untuk mengakui kebohongan-kebohongan mereka sebagai orang-orang sukses, lalu memaksa mereka untuk mengakui identitas mereka sebagai penjual obat, tukang sulap, dan pengangguran.

Akhirnya Sumantri mengakui bahwa istri yang dibawanya itu adalah seorang pelacur. Tetapi, yang menarik justru pelacur inilah yang melawan Hamid dan Rusman. Tak disangka, Hamid malah mengakui bahwa pistol yang dibawanya tidak berisi peluru. Tapi Sumantri dan kawan-kawannya sudah lari ketakutan.

Hanya si istri yang berani melawan intimidasi Hamid dan Rusman

Ternyata Hamid dan Rusman hanya sekedar menakut-nakuti dan mempermainkan Sumantri dan kawan-kawannya. Namun, Hamid dan Rusman pun lari ketakutan di akhir pertunjukan. Pada akhirnya penonton tahu bahwa hanya pelacur itu dan kedua pelayan resto itulah yang tidak membohongi orang lain dengan kepalsuan-kepalsuan yang mereka buat.

Pertunjukan ini bisa menjadi contoh untuk pertunjukan kecil dengan bentuk teater kamar. Gedung F Benteng Vredeburg dengan ruangnya yang kecil namun cukup representatif bisa menjadi tempat pertunjukan alternatif untuk pertunjukan-pertunjukan kecil dengan penonton yang terbatas.

Teater Tangga membawa pertunjukan ini dalam bentuk realis. Membawa suasana masa awal kemerdekaan Indonesia sesuai dengan naskah terjemahan Achdiat Kartamihardja pada masa itu. Satu kekurangan pertunjukan ini adalah bahasa lisan para aktor yang menggunakan bahasa lisan masa kini. Tidak menggunakan bahasa lisan di masa yang sama dengan ruang latar yang mereka bangun.

*Muhammad AB, reporter skAnA, pernah aktif di Teater Gadjah Mada

(terbit di skAnA volume 04, Juli-November 2007)

*****

Pimpinan Produksi: Nurcholis Stage Manager: M. Najhan Pubdok: M. Reza Penata Set dan Musik: M. Nur Qomarrudin Penata Lampu: Riez P.. M. Reza Penata Kostum: S Asya Supervisor: Tri Tata Raharja Aktor: Ita Sudrajat, Nurcholis, Kusuma AK, R. Bagus A.B., M. Ferdhy T,   Riyez, R.R. Wiwara

Komentar Penonton

“Settingnya bagus, ceritanya bagus, pelayannya lucu, hehehehe.” (Nita, 19 tahun, Mahasiswi UMY)

“Yang bawa pistol kurang meyakinkan. Ceritanya dia jadi tentara bukan sih? Model pakaiannya retro keren, ceritanya terlalu panjang.” (Nono, -)

“Katanya perabotan di kafe-nya itu dibangun sendiri sama mereka, wah keren-keren. Aktornya bagus-bagus, tapi suaranya kurang keras. Sayang aku dapat tempat agak di belakang.” (Arnita, 20 tahun, mahasiswi UMY)

Advertisements