Oleh: Andy Sri Wahyudi*

Di tengah belantara rimba tempat kesunyian dan keterasingan bernaung. Seorang Pertapa bersila di depan sebuah gua, ia  berada jauh dari gegap-gempita keramaian dunia. Namun ia dapat mendengar suara rintih dan jerit kesedihan dari jauh. Suara itu berseliweran dalam telinganya dan menyusup dalam relung-relung perasaannya. Suara-suara itu adalah tragedi bencana alam dan kehidupan manusia.

Tubuh dekil telanjang dada dengan rambut kumal itu menggeliat perlahan-lahan, diikuti suara-suara dan sorot cahaya yang redup terang.  Sementara itu, seorang Pelukis yang tengah mencari inspirasi telah berada di tempat yang sama. “Siapa kamu” berkali-kali sang Pelukis bertanya pada Pertapa, namun tak kunjung mendapat jawaban. “Apa yang membuatmu terbangun?” lagi, Pelukis itu bertanya. Dari sinilah percakapan perihal kehidupan dan kemanusian dimulai. Ketidakadilan, keserakahan, kesewenangan antar manusia dan manusia dengan alamnya, menjadi carut-marut perdebatan yang mencari titiknya. Hakekat manusia, alam dan sang Pencipta.

“Apa yang harus dilakukan di tengah bencana alam dan kemanusiaan yang menyedihkan?” Pertanyaan itu yang membuat sang Pertapa bingung.

Sesosok perempuan muncul tiba-tiba dan semakin menggelisahkan Sang Pertapa. Kehadirannya tak diketahui oleh Pelukis sebab Perempuan itu merupakan bagian diri Sang Pertapa. Ia selalu memberikan petunjuk kepadanya.

Rupanya Pelukis memberikan jalan pada Sang Pertapa, bahwa dirinya harus meninggalkan pertapaannya dan pergi menolong manusia. Sedangkan sosok Perempuan beranggapan lain; Manusia harus berusaha menyadarkan dan menolong dirinya sendiri dari bencana. Ternyata Sang Pertapa tak memilih keduanya. Ia memilih jalan kematian bagi dirinya setelah tubuhnya dilumuri cat oleh Pelukis menjadi Lukisan Tubuh. Lukisan tentang kehidupan yang terus dirundung gelisah.

Lukisan Tubuh merupakan drama yang dibawakan oleh kelompok Teater Terjal pada tanggal 27 Mei 2007 di Gedung Societet Militer, Taman Budaya Yogyakarta. Cerita berlatar hutan rimba, setting ditata memenuhi panggung dengan teknis seni rupa yang kuat. Hutan itu hanya diam menjadi tempat yang bisu di antara lalu-lalang  akting dan dialog. Sementara, dialog antar tokoh yang bermuatan nilai filsafat itu terasa berat dan tegang. Agak susah untuk dipahami, membuat jidat mengkerut dan akhirnya lepas dalam kelelahan.

Kedua aktor yang berperan menjadi Pelukis dan Pertapa berusaha membangun suasana lewat kekuatan akting dan dialog, meski kadang irama permainannya terasa datar dan intonasinya terdengar monoton penuh penekanan. Akan tetapi, kemunculan tokoh Perempuan membuat warna baru dalam permainan dengan irama dialog yang berkarakter.

Kelompok Teater Terjal ini berisikan orang-orang gelisah yang guyub dalam satu rumah. TERJAL  menyatakan berhak dan berkewajiban untuk hidup, berkembang, dan mengalir dalam dunia teater dengan segala tawaran “kemiskinan materi” dan “kekayaan kreasi”. Juga berkeyakinan untuk mampu hidup, berkreasi, berekspresi, dan berinovasi dengan segala himpitan dan rintangan dalam rimba teater Indonesia.

Demikianlah Teater Terjal dalam Lukisan Tubuh-nya.

* Andy Sri Wahyudi, reporter skAnA, aktor dan sutradara Bengkel Mime Theatre

(terbit di skAnA volume 04, Juli-November 2007)

***

Pimpinan Umum: Abizar Purnama, Pimpinan Produksi: Indra Dwi Fitrianto, Sutradara dan Penulis Naskah: Wiwid W. Setiawan, Penata Artistik: Tsaibun Nuhud, Penata Panggung dan Properti: Rahmad Kurniawan, Penata Cahaya: Ahmad Fauzan. Penata Musik: Fahrie Shiam, Penata Rias dan Kostum: A.A.A.I. Kusumah Dewi, Listiarini, Ika Kumala Sari, Utami. Manajer Panggung: Andika Satria Perdana. Aktor: Ibnu Karim Aziz (Petapa) Wahyu Budi Utomo (Pelukis) Yorsi Nuzulia (Wanita)

Komentar Penonton:

Duh, ceritanya berat jadinya bosenin deh, nangkepnya susah. Eh, tapi artistiknya aku suka. Lebih bagus dibanding aktornya.” (Onald, 24 tahun, Mahasiswa Sadhar, Jurusan Akuntansi.)

“Suka aja untuk konsumsi pribadi.” (Fatwa, 25 tahun, Mahasiswa UMY, Jurusan HI)

“Bagus, Ekspresif, Bahasanya kena.” (Adlian, FIB UGM, 20 tahun)

“Bagus, Suka yang cewek karena suaranya bagus. Sayang, tokoh utamanya, suaranya datar dan intonasinya gak jelas. Musik efeknya gak pas atau emang disengaja?” (Rini, FIB UGM, 22 tahun)

“Bagus, Waktu Break lampu ke penonton panggung jadinya gelap.” (Wahyu, SMA Ngawi, 20 tahun)

“Bagus, Filosofis, ada yang saya sepakati dan ada yang tidak. Ada tiga hal: sejarah diri, Pencarian hidup, Keputusan yang harus dipilih.” (Ina, FIB UGM, 22 tahun)

“Teaternya menggugah untuk berpikir hidup, mencari sesuatu, titik utama pada pencerahan.” (Asih, Sastra Inggris, 23 tahun)

“Settingnya bagus, terus maksud jelasnya kita kurang paham. Bahasanya cukup, maksud ceritanya gak dong, habis kita kan bukan anak sastra. He..he..hii..hi.. tapi cukup keren. Eh, tambahan lagi Pemainnya sedikit. Jadi bikin boring, keluar masuk pemain gak ada, tak pikir kayak di tv-tv gitu.” (Erna, Latif, Jurusan Farmasi. Winda dan Nasya. jurusan Psikologi. Universitas Ahmad Dahlan atau UAD)

Advertisements